Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rodiah
"Oh iya, maaf. Silahkan...." Arkan melangkah mundur. "Nanti sore saya ke rumah Damang ya. Boleh ikut?"
Dayang mengangguk kecil. Lalu terburu-buru masuk ke dalam kelas, tempat dimana anak-anak masih menunggunya.
Jantungnya berdegub kencang, dan wajahnya memucat.
Arkan memperhatikan punggung Dayang hingga menghilang di balik pintu kelas.
Ada yang aneh. Anjing di warung sebelah melolong pelan saat Dayang melintas.
Arkan beranjak pergi, sedangkan Dayang meliriknya dari jendela kelas yang terbuka.
Tepat pukul sebelas siang, Dayang sudah pulang dari mengajar.
Saat akan memasuki rumahnya yang tak jauh dari dari Damang—Atoknya yang sedang memimpin ritual untuk memanggil jasad yang sudah dua hari belum juga di remukan.
ia melihat banyak warga masih setia untuk melihat prosesi ritual dan doa yang di kumandangkan untuk memanggil jasad Anto yang hilang di telan Sungai Mahakam.
Damang sebagai pemimpin ritual sedang membaca mantra.
Sedangkan ujung mata Dayang melirik Arkan yang berada di sana, ikut melihat proses pemanggilan jasad Anto. Lensa cameranya tak berhenti membidik setiap momen yang ia anggap sangat berharga.
Saat bersamaan, Pak Salim melantunkan doa yang penuh pengharapan. Mendadak tubuh Dayang terasa panas. Ia tak menyukai doa-doa dan ayat suci saat di bacakan.
Tak berselang lama, jasad Anto mengapung. Warga berteriak histeris, termasuk Aminah dan Salim.
Ketika jasad itu diangkat, kondisinya sudah sangat pucat.
Jasad diangkat ketepian, terlihat di bagian ubun-ubunnya berlubang, seperti di hisap oleh sesuatu.
Tangis sedih dan haru saat jasad itu berhasil ditemukan pecah. Dan warga langsung memakamnya, tanpa melaporkannya ke Polisi.
Sementara itu, Dayang meremas ujung syalnya, ia membuang pandangannya. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Lalu memilih untuk naik ke rumahnya.
*****
Waktu memperlihatkan pukul empat sore. Langit mulai meredupkan cahaya mentari. Tak asa lagi suara tawa anak-anak yang bermain di tepian sungai. Mereka akan di panggil pulang sebelum jam empat sore.
Para orangtua trauma karena peristiwa yang mencekam.
Sedangkan Arkan sudah duduk bersama Damang dan juga Pak Lurah di Balai Desa.
"Jadi menurut Bapak, ini bukan kecelakaan?" tanya Arkan, dan mulai mencatat hal yang dianggapnya sangat penting.
Damang menghela napas. "Tidak ada jejak. Tidak ada buaya. Air juga terlihat tenang."
"Lalu apa, Tok?" Arkan memanggil Damang dengan sebutan akrab.
Damang terdiam lama. "Kita... sedang dijaga oleh sesuatu yang lama terikat. Sangat lama sekali."
"Ini masalah hal ghaib?" Arkan mengernyit. "Maaf, Kek. Saya jurnalis. Saya butuh fakta." ia menyela.
Saat bersamaan, pintu dibuka. Dayang masuk dengan membawa termos teh. "Ini, Tok. Buat tamu." ucapnya dengan lembut.
"Terima kasih, Cu." Damang tersenyum. "Ini Arkan, jurnalis dari Jakarta."
Dayang dan Arkan saling pandang.
"Bu Dayang, tadi pagi saya lihat Ibu mengajar. Anak-anak suka Ibu ya?" tanya Arkan. Dan pertanyaan itu membuat Dayang sedikit salah tingkah.
Lalu mengangkat teko berisi teh panas. "Iya." jawab Dayang pendek. Dia menuang teh. Tangannya sedikit gemetar sedikit.
Arkan melihatnya. Tetes teh tumpah ke punggung tangan Dayang, dan membuat kulit putihnya merah.
"Bu, panas!" Arkan refleks memegang tangan Dayang.
Dayang langsung menarik tangannya. "Maaf!" Dia berdiri. "Saya ke dapur dulu."
Arkan terdiam. Ia mengangguk pelan. Tetapi entah mengapa ia merasakan bulu kuduknya meremang.
Sedangkan Atok Damang tak melanjutkan ucapannya, sebab Arkan sudah mematahkan ucapannya terlebih dahulu.
Ya... Orang kota tidak akan mepercayai ucapannya.
****
Waktu memperlihatkan pukul dua belas malam. Desa sudah sangat sunyi. Hany saja, suara lolongan anjing tidak pernah berhenti. Seolah mereka merasakan kehadiran sosok lain yang sangat berbahaya.
Dayang Sari berdiri di depan cermin yang menempel di lemari kayu.
Ia membuka syalnya dengan cukup pelan.
Garis berwarna merah itu kini sudah cukup kentara.
Saat bersamaan, ia mendengar suara yang sedang berbisik. "Lapar..." suara itu muncul di kepalanya. Itu berasal dari sesuatu yang sudah mengikat jiwa Dayang, dan menuntut untuk di beri makan.
"Berikan aku satu. Hanya satu saja. Maka kau bebas untuk satu bulan." suara berat dan serak itu seolah sedang mendesaknya.
"Tidak!" Dayang menutup telinga. "Aku seorang guru! Aku sayang anak-anak!" bantahnya. Ia tidak ingin mendengarkan perintah dari suara yang sudah mengacaukan hidupnya.
"Maka kau yang akan mati. Aku akan ambil alih tubuhmu." sura ancaman yang semakin jelas terdengar di telinganya.
Dayang Sari langsung merasakan kakinya lemah tak bertulang. Kemudian terisak dalam keheningan malam. Tangannya meraih gunting yang tak jauh dari tempatnya terduduk di lantai. Ia Ingin memotong garis keloid di lehernya.
Tetapi tangannya berhenti, dan seolah da yang sedang menahannya.. Gunting terjatuh di lantai kayu.
Sedangkan di luar sana, suara anjing melolong lagi, dan sangat panjang.
Tok. Tok. Tok.
Ada yang sedang mengetuk jendela kamarnya.
Dayang Sari menoleh. Di balik kaca jendela yang berembun, ada bayangan kepala yang melayang tanpa tubuh. Rambut panjangnya menjuntai.
Dan lidahnya... Terlihat sedang menjilati kaca jendela yang basah.
Mendadak aroma amis darah menguar di ruang kamar Dayang Sari. Dimana rasa mual langsung mendesak hingga ke lehernya.
Dayang menjerit tertahan. Dia berlari ke bawah ranjang. Tetapi tubuhnya tak dapat di kendalikan untuk mengikuti apa tang diinginkan.
****
Rodiah terlihat sangat gelisah. Ia sudah berusaha untuk memejamkan kedua matanya, tetapi tak juga dapat ia pejamkan. Sedangkan suaminya sudah tertidur lelap di sampingnya.
Suara lolongan anjing di luar saat kembali bersahutan. Ayam peliharaannya berisik, dan bulu kuduknya meremang karena seolah sedang merasakan kehadiran sesuatu yang tak kasat mata.
Mendadak perutnya memulas dan merasa ingin buang air besar.
Melihat suaminya yang mendengkur, ia tak lagi dapat menahan rasa sakitnya.
Tangannya meraih senter, dan keluar dari kamar dengan terburu-buru.
Saat tiba di anak anak belakang rumah, sebab kamar mandi berada di bagian bawah, rada mulasnya semakin kuat.
Ia terduduk di anak tangga, dan saat bersamaan, satu sosok kepala terbang dengan membawa organ tubuhnya melayang mendekatinya.
Rodiah tersentak kaget. Wajahnya memucat, dan ia ingin berteriak, tetapi rasa semakin cukup kuat, dan cairan pekat darah mengalir dari liang rahimnya.
Tubuh Rodiah menggigil ketakutan. Tubuhnya bergetar. Ia melihat wajah yang dari sosok yang mengerikan itu, dan ia mengenalnya.
Sosok itu langsung menuju selangkanya. Menjilat darah yang mengalir deras, dan meloloskan pakaian dalam Rodiah dengan menggunakan giginya.
Dengan rakus ia menyesap cairan pekat darah yang mengalir deras, dan bayi di dalamnya tersedot keluar.
Sruuuuppt!
Ia menyeruput isi dalamnya, dan gumpalan daging sekepalan tangan orang dewasa sudah berada di mulutnya, dan menguyahnya dengan lahap.
Sedangkan Bu Rodiah terlihat mengejang, tubuhnya kehabisan darah, dan sangat pucat.
Sedangkan sosok itu melesat pergi, sebelum waktu fajar tiba.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺