NovelToon NovelToon
GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Zombie
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.

Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.

Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?

Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.

"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"

Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.

Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"

Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Anak Panti

Keesokan hari di siang harinya, Jery dan rekannya benar-benar datang ke tempat Ruby untuk beristirahat.

Saat masuk ke dalam, Jery tertegun sejenak melihat ada banyak orang, selain dari tim Ruby.

"Masuklah! Mereka penyintas yang kami bantu tadi pagi!" ujar Jack saat melihat wajah Jery yang bingung dan penasaran.

"Oh. Kalau begitu kami duduk diluar saja. Biarkan mereka beristirahat di dalam.!" kata Jery yang menahan langkahnya untuk masuk.

"Di dalam masih luas, masuk saja!" pinta Jack. Rumah itu sudah dikosongkan, jadi mereka bisa rebahan atau duduk di mana saja.

Jery masuk dan melewati kelompok baru itu yang terdiri dari 7 orang. Mereka semua anak laki-laki yang masih berusia 10 tahun.

Ruby tidak sengaja melihat mereka sedang terdesak. Sekelompok penyintas lain ingin menculik ketujuh bocah tersebut.

Dari penjelasan, dulunya mereka tinggal di panti asuhan. Beberapa saudara mereka yang sakit tiba-tiba berubah jadi zombie dan langsung menggigit ibu panti yang sedang menjaganya.

Pengasuh lain masuk dan langsung digigit juga. Saat kekacauan itu terjadi, anak-anak panti lari berhamburan dengan berbagai arah.

Mereka terpencar, kelompok bocah ini berhasil bertemu dalam jumlah 10 orang. Dua orang pria remaja yang berumur 15 tahun.

Salah satu dari remaja itu pergi mencari perbekalan, tapi tak kunjung pulang. Sehingga remaja satunya lagi nekat mencarinya, dan ya dia tidak kembali juga.

Entah keduanya mati digigit zombie atau mati dibunuh orang, mereka tidak tahu. Lalu, Satu lagi meninggal karena sakit, mereka tidak punya obat.

"Ini makanlah!" pinta Ruby sambil meletakkan beberapa makanan dan air. "Kalian juga!" lanjutnya sambil menatap tim Jery.

"Kami datang mau numpang istirahat saja, kami masih ada makanan jatah dari kemarin.!" tolak Jery.

"Benar. Simpan kembali, atau berikan saja kepada anak-anak itu. Mereka terlihat sangat kurus!" sela yang lainnya.

Jery dan timnya makin dibuat penasaran dengan Ruby yang terlihat sangat santai memberi mereka makan, seolah-olah makanan itu bukanlah apa-apa.

Apakah pangakalan Ruby juga menyediakan perbekalan seperti Pangkalan Biru? Dia akan tanyakan nanti sebelum mereka berpisah, entah kapan mereka bertemu lagi.

Ruby tidak memaksa, tapi tidak mengambilnya kembali. "Besok, kalau kalian mau istirahat datang saja.!"

"Apa kalian sudah mau pergi?" tanya Jery seraya menebak..

"Ya. Aku mau pergi ke pangkalan Militer mencari Kakekku!" ujar Ruby.

"Oh, kalau mereka nggak ada di sana, kalian bisa cari di pangkalan 2. Dengar-dengar, di sana ada banyak orang tua dan lansia!" jelasnya.

"Baik! Terima kasih informasinya!"

"Ehh.. Ini bukan apa-apa! Lalu, bagaimana dengan mereka, kenapa mereka tidak pergi ke pangkalan?" tanya Jery sambil menatap ketujuh bocah yang tampak menyedihkan.

Ruby juga menatapnya lalu bertanya. "Kenapa kalian nggak pergi ke pangakalan terdekat?" dia juga belum menanyakan hal itu.

"Kami.... Sudah pernah ke sana, tapi kami nggak sengaja mendengar, kalau mau tinggal dan tetap bisa makan, harus memburu zombie.!" ucap bocah pria yang tampak lebih tinggi dari yang lainnya.

"Benar! Kami bertujuh nggak bisa membunuh zombie. Kami cuma bisa berlari, dan bersembunyi!" timpal yang lainnya.

Ruangan itu tiba-tiba jadi hening, Ruby dan yang lainnya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka berjuang di luar sana dengan luntang lantung.

Betapa takutnya mereka saat bertemu gerombolan zombie. Mereka tidak ingin merepotkan orang lain, jadi tidak gabung ke pangakalan.

"Kalian... Haahh...!" Ruby meraskan sangat sesak di dadanya. " Kalian pasti berpikir, semua pangakalan seperti itu kan?"

Ketujuh bocah itu mengangguk dengan tatapan penuh ketakutan. Wajah mereka yang tampak sangat lelah yang tidak disembunyikan.

"Baiklah. Setelah makan, kalian bisa istirahat dengan tenang!" kata Ruby dengan rasa simpati.

"Baik terima kasih Kakak!" balasnya dengan pelan.

Bocah yang paling tinggi mengambil sebungkus roti dan membukanya dengan ragu. Dia sebenarnya belum terlalu percaya dengan Ruby, tapi mereka sudah benar-benar lapar dan lelah.

"Tunggu!"

"Kakak! Aku cuman ambil satu!" katanya dengan takut.

Ruby jalan mendekat, dan membagikan roti itu dengan rata. "Makanlah! Jangan takut, aku sudah bilang, aku bukan orang jahat seperti mereka yang mau menculik kalian!"

"Apa kami harus membunuh zombie?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Nggak perlu. Aku cuman ingin kalian jadi anak yang baik. Dengarkan semua perkataanku, maka kalian bisa makan setiap hari!"

"Benarkah ada makanan tiap hari?" matanya terbelalak dengan penuh harapan.

Ruby tersenyum pahit, dia mengusap kepala mereka satu persatu. "Benar. Jika kalian mau ikut aku, kalian bisa punya teman yang banyak, dan bermain bersama!"

Ketujuh bocah itu menatap Ruby dengan tatapan tak percaya. Bermain? Apakah masih ada yang bermain di zaman sekarang?

Ruby tidak menjelaskan lebih lanjut, takutnya makin dijelaskan mereka makin tidak percaya. "Untuk sementara, kalian tinggal di sini dulu. Ada mereka yang akan datang setiap hari untuk beristirahat!" jelas Ruby.

"Kami bisa tinggal di sini?"

"Hmm.. Terserah kalian, mau tinggal di sini atau ikut aku ke pangakalan. Kalau kalian mau, akan ada orang yang menjemput kalian!"

Ketujuh bocah orang itu saling tatap. Mendengar ada yang menjemput membuat mereka takut kembali.

"Nggak perlu buru-buru! Kalian istirahatlah dulu!" kata Ruby sambil menunjuk salah satu ruangan.

Kety maju dan mengajak mereka masuk ke kamar. Para bocah itu sudah mandi dengan bersih di halaman, Glen juga sudah melakukan pemeriksaan, tidak ada luka ditubuh mereka.

***

Setelah beristirahat, Jery berpamitan. Dia benar-benar tidak mengambil makanan sedikitpun.. Hanya beberapa botol air minum saja.

"Boleh kah aku bertanya sesuatu?" tanya Jery pada Jack yang bersiap menutup pintu gerbang.

"Emm tanyakan lah!"

"Di tempat kalian, apakah juga harus berburu zombie untuk dapat jatah makan?" tanyanya dengan sedikit gelisah. Takut pertanyaannya merusak pertemanan mereka.

Jack tersenyum kecil, buruan sudah mulai terpancing. "Hmm.. Sebelum itu biarkan aku bertanya, sebenarnya apa tujuan pemimpin kalian memberi misi seperti itu?"

Jery terdiam, pertanyaan itu sudah sejak lama berada dalam benaknya. Tapi dia mana berani bertanya kepada pemimpin. Mereka hanya ingin makan, itu saja.

"Katanya,.kalau zombie semua dibantai, maka kita bisa memulai menata dunia kembali dari awal.!"

"Oh.. Impian yang sangat mulia. !" kata Jack sambil mengangguk.. "Di pangakalan kami tentu juga harus bekerja untuk dapat jatah makan!"

"Kalau boleh tau, kerja apa?" Tanyanya dengan penasaran.

"Kami bertani dan beternak.!" balas Jack dengan jujur. Ruby sudah mengingatkannya, jika Jery bertanya maka dia harus jawab apa adanya, tapi tidak untuk mengajaknya.

"Bertani?"

"Benarkah? Nggak perlu memburu zombie?" tanya yang lain dengan wajah tak percaya. Siapa yang masih sempat bertani?

Mereka pernah mendengar, tapi tidak sampai sejauh itu. Palingan cuman menanam sayur di rumah kaca.

"Hmm.. Bukan cuma itu. Ada banyak pekerjaan di pangkalan. Tapi tidak dengan berburu zombie!" Sambung Jack.

Jery dan rekannya saling tatap. Ini sangat sulit dipercaya. Tapi, itu bukan hal mustahil, jika pemimpin mereka sudah ada persiapan lebih awal.

"Emang sulit dipercaya! Tapi menurut kalian, roti-roti yang kami keluarkan itu berasal dari mana?"

Jery masih terdiam, tangannya terkepal erat. Benarkah cuma bertani? Atau ini hanya karangan saja?

"Baiklah.. Kami pergi dulu, entar malam kami bali lagi ke sini!" ucap Jery. Kali ini dia mengambil misi untuk satu minggu.

"Ya. Berhati-hati lah! Nyawa kalian lebih berharga!"

.

.

.

1
Dandelion
ttp masih kurang bacanya...knp sdkt amat ka up nya...
Dandelion
ohhh Tuhan...di gantung lagi sama ka othor nya...
Dandelion
next ka
Dandelion
berasa kurang banyak bacanya...😁
next ka...
Dandelion
seru2 semoga orang2 yg di tolong oleh tim ruby di bawa keperkebunan milik ruby...
next ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
lanjut kq
Dandelion
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
lanjut ka
Dandelion
next ka
Dandelion
hmmmm...nggak berasa bacanya...berasa kurang trs 😁
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
makin seru dan menegangkan ceritanya
next ka
Dandelion
lanjut ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
seru...seru...seru...
next ka
Dandelion
bener2 menegangkan ceritanya 😁
next ka..
Dandelion
knp novel ka othor yg ini bikin menegangkan...serasa ikut terbawa suasana mengerikan 😁
lebih seram dr cerita horror...next ka...
Fii: makasih kk🙏 jangan lupa ajak teman2nya mampir kk 😊
total 1 replies
Dandelion
ceritanya bikin dag dig dug ...serasa ikut jd spt ruby..😁
next ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!