NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: MOMEN LUCU SAAT DI KLUB!

​"Nah, karena kalian udah lega atas kesalahpahaman tadi, gue join dong!" seru Aira bersemangat.

​Dimas mengedarkan pandangannya ke sekitar meja TV. "Boleh-boleh aja sih, tapi di sini gue liat cuma ada dua stick."

​Alya melempar senyuman polosnya. "Ada kok di dalam kardus, cari aja."

​"Ohh, oke."

​Dimas melangkah menghampiri kardus besar di dekat TV dan mengaduk isinya. Tak butuh waktu lama, matanya berbinar. "Wah, ada dua lagi nih!"

​"Mantap! Sini kasih gue stick-nya!" sahut Aira dengan nada antusias yang memuncak.

​"Nih." Dimas menyodorkan salah satu controller.

​"Sip, nice! Gue nyalain dulu ya," kata Aira sambil menekan tombol power di stick-nya.

​"Sip, santai aja," balas Dimas santai.

​Begitu lampu stick menyala biru, Aira menepuk tangannya girang. "Udah nih, ayo main!"

​"Baiklah!" Dimas sudah siap memegang kendali.

​Namun Raka mendadak memotong. "Eh, tunggu dulu! Masa gak ngajak Alya, sih? Parah banget kalian."

​Dimas menepuk jidatnya. "Ah... iya, Rak, gue lupa!"

​"Dasar," gumam Raka menggeleng-gelengkan kepala. Ia lalu menoleh ke arah Alya. "Alya, kamu mau ikut main?"

​Alya terkekeh pelan sambil mengibaskan tangannya. "Enggak deh... aku gak bisa mainnya. Kalian aja, hehe."

​"Ya jangan gitu dong, ayo main sama-sama! Nanti gue ajarin," bujuk Raka ramah.

​Alya tersenyum tipis. "Oke deh kalau kamu memaksa."

​Raka dengan sigap menyalakan stick untuk Alya dan membantunya masuk ke menu pemilihan mobil sport. Tak lama kemudian, arena balap sudah siap di layar TV.

​"Udah masuk pertandingan nih. Gimana cara jalanin mobilnya, Raka?" tanya Alya polos menatap tombol controller.

​"Pencet 'X' buat jalan, terus pencet 'O' buat pakai NOS," jelas Raka sabar.

​"Terima kasih. Maaf ya kalau nanti aku kalah..."

​Raka tersenyum santai. "Ya gak apa-apa, namanya juga baru pertama kali main."

​Melihat momen manis di sebelahnya, Dimas menyeringai lebar. "Wah wah... kalian malah asyik ngobrol! Lihat nih, gue udah nomor satu! Nanti kalian wajib traktir gue makan ya, hahah!"

​Namun, tepat saat Dimas menoleh kembali ke layar TV untuk pamer, sebuah mobil sport merah melesat kilat menyalip kendaraan miliknya. Pelakunya tak lain adalah Aira!

​"Hahaha! Makanya jangan sombong duluan, Mas!" gelak Aira pecah.

​Dimas melotot shock. "Aduh, gara-gara gak fokus tadi nih! Tunggu aja sampai cooldown NOS gue pulih, pasti langsung gue kejar!"

​Aira melirik Dimas dengan senyuman mengejek. "Ayo mana? Ini udah Lap 2 nih, Lu masih tertinggal di Lap 1, Mas!"

​"Tunggu aja Lu, Ra! Tinggal dikit lagi nih gue bisa pakai NOS!" seru Dimas bersemangat menatap layar.

​"Mana? Ayo keluarin kalau bisa!" tentang Aira tak mau kalah.

​"Oke, nih rasain!"

​Mobil sport Dimas mendadak melaju sangat kencang, sedikit menyenggol bagian belakang mobil sport Aira hingga oleng.

​"Duh! Hati-hati dong, Mas!" protes Aira.

​"Maaf-maaf, Lu-nya juga lambat banget, jadi ketabrak dikit," kilah Dimas santai.

​Sementara mereka berdua asyik memperebutkan posisi nomor satu dengan sengit, mobil sport Alya yang berada di posisi ketiga melaju dengan damai. Tidak ada pertengkaran sama sekali. Sebaliknya, Alya malah bercanda ria bersama Raka yang sibuk mengeluarkan jokes-jokes garingnya.

​"Aduh... gak lucu, apanya yang lucu dari jokes-nya?" kekeh Alya sambil terus menekan tombol controller.

​Raka tertawa canggung. "Hahaha... gue emang gak bisa bikin jokes sebenarnya, ini tadi mendadak aja mikirnya."

​"Pantesan..."

​"Tapi gak apa-apa kan? Daripada kita diam-diaman mulu," goda Raka.

​Alya tersenyum tipis. "Hmm... iya juga sih."

​Atmosfer canggung perlahan mulai merayap kembali. Batin Raka mendadak panik setengah mati. 'Cari topik! Cari topik cepat, Raka!' jeritnya dalam hati.

​'Hah, gue tahu!' seru batin Raka lega.

​Alya meliriknya heran. "Kenapa kamu? Kok kamu kelihatan bahagia banget?"

​"Ahh, gak apa-apa! Btw, kamu punya pelajaran favorit gak?" tanya Raka berusaha sealami mungkin.

​"Punya. Tapi sebelum aku kasih tahu... ganti dulu dong panggilannya. Jangan 'gue-lu' mulu kalau ngomong sama aku," pinta Alya dengan nada halus.

​Raka tersentak pelan. "Ohh... oke, aku ganti deh."

​"Nah, gitu dong."

​"Tapi kenapa tiba-tiba nyuruh ganti panggilan?" tanya Raka penasaran.

​Alya refleks mengalihkan pandangannya ke arah kiri, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah. "Entah... aku juga gak tahu."

​'Hmm... pasti ada yang nyuruh nih,' curiga Raka dalam hati.

​"Yaudah, apa?"

​"Hah? Apanya?" Alya bingung.

​"Pelajaran favoritmu!"

​"Ohh! Aku suka Matematika. Kalau kamu, Rak?"

​"Kalau gu—eh, maksudku kalau aku Bahasa Indonesia sih. Soalnya gampang aja, jadi gitu," jawab Raka mengoreksi panggilannya dengan kaku.

​"Ohh..." Alya mengangguk-angguk. Ia mendadak terdiam sejenak sebelum bertanya pelan, "Uhm... Raka, kamu suka gak sama PS5 dan TV ini?"

​Raka tertawa kecil. "Suka dong! Siapa juga yang gak suka dikasih fasilitas kayak gini?"

​"Kenapa kamu ngomong gitu?"

​"Ahh, gak apa-apa!"

​Alya bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Wah, ternyata bener kata Aira..."

​Raka memiringkan kepalanya. "Hah? Kamu ngomong sesuatu tadi?"

​"Gak ada! Mungkin perasaanmu aja!" potong Alya cepat dengan gugup.

​"Ohh..."

​"LIHAT! LIHAT! GUE MENANG!" TERIAK DIMAS TIBA-TIBA.

​Raka dan Alya terkejut, langsung menoleh ke arah sumber suara. Raka yang buyar dari obrolannya mulai nyerocos.

​"Aduh... gitu doang bangga Lu, Mas," cibir Raka.

​Dimas menyeringai puas. "Yeee... bilang aja Lu iri gara-gara cupu, Rak!"

​Raka memutar bola matanya. "Ya ya, gue cupu. Terus Lu mau gue traktir apa nih?"

​Mata Dimas seketika berbinar. "Nah! Ini baru dulur terbaik gue!"

​Aira terkekeh melihat tingkah Dimas. "Wah, kalau ada traktiran Lu semangat banget ya, Mas!"

​"Yaiyalah! Lah wong gratisan! Siapa sih yang gak mau gratisan, iya gak, Rak?" Dimas menyenggol-nyenggol lengan Raka berkali-kali dengan siku kakunya.

​Raka menggeser duduknya, menatap Dimas datar. "Iya, ya terserah Lu. Tapi mending Lu berhenti deh nyikut-nyikut gue, risih anjir."

​"Ohh... oke, Rak, hehe," cengir Dimas tanpa dosa.

​"Semuanya, ayo ke kantin!" seru Dimas bangkit berdiri dari duduknya dengan penuh semangat.

​Raka mendengkus panjang, menatapnya datar. "Haa... kumat lagi nih anak."

​"Kumat apanya?! Ini tuh namanya keberkahan dan kebahagiaan!" balas Dimas berkacak pinggang.

​Alya terkekeh pelan melihat tingkah mereka, lalu mengangguk. "Yaudah, yuk!"

​Mereka berempat melangkah keluar dari ruangan klub, lalu memakai kembali sepatu masing-masing di depan pintu. Setelah semuanya bersiap, mereka berjalan bersisian menyusuri koridor menuju kantin sekolah demi menunaikan janji taruhan Raka.

​Sesampainya di kantin yang cukup ramai, Dimas langsung melesat mengambil posisi di bangku paling strategis. Ia duduk bersandar dengan gaya sok elit, seketika berakting bak seorang pangeran yang sedang memerintah bawahannya.

​"Ayo, ayo, bawahanku sekalian! Segera belikan makanan lezat untuk pangeran kalian Ini!" seru Dimas sambil melambaikan tangannya sok anggun.

​Raka mengepalkan tangannya, menatap Dimas dengan tatapan tajam. "Apalah... rasanya pengin gue ceburin ke got Lu, Mas."

​Aira dan Alya cuma bisa tertawa geli melihat Raka yang menggerutu sepanjang jalan menuju stan makanan. Mereka bertiga akhirnya membelikan makanan dan minuman kesukaan Dimas sesuai janji. Tak lama kemudian, pesanan itu dibawakan dan diletakkan di meja tempat 'Sang Pangeran' bertakhta.

​Dimas menepuk tangannya girang, memandangi makanan gratis di depannya dengan mata berbinar. "Wah wah, mantap! Kerja bagus! Nanti gaji kalian bakal pangeran naikkan ya!"

​"Dih, tuman!" celetuk Aira sambil tertawa.

​Hari itu pun ditutup dengan gelak tawa di meja kantin—kebahagiaan mutlak milik Dimas yang sukses memenangkan taruhan, serta kejengkelan Raka yang harus rela dompetnya sedikit menipis. Di balik tawa dan kejahilan sederhana itu, markas klub mereka kini tak lagi sekadar ruangan kosong. Ia telah berubah menjadi rumah kecil tempat lahirnya kenangan manis yang akan selalu tersimpan di ingatan mereka.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!