Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Isyarat yang Tidak Sampai
"Iya."
Jawaban itu sangat pelan, hampir ditelan angin sore.
Namun Lina mendengarnya.
Ia tidak langsung tersenyum. Ia hanya menatap putranya, seolah ingin memastikan bahwa kata kecil itu bukan sekadar rasa terima kasih, bukan sekadar ketergantungan pada orang yang merawatnya, melainkan sesuatu yang lebih dalam.
"Kamu yakin?" tanya Lina.
Ardian menatap dapur. Sekar sedang memindahkan piring kotor ke nampan, rambutnya diikat asal, celemeknya masih terkena noda krim kue. Darren berdiri di sampingnya, mencoba mencuri potongan kue kedua. Sekar menepuk punggung tangannya dengan sendok.
Darren langsung pura-pura terluka.
Sekar tertawa.
Ardian melihat itu, lalu berkata, "Aku tidak pernah seyakin ini."
Lina menghela napas sangat pelan. "Usiamu dua puluh tujuh. Dia dua puluh satu atau dua puluh dua?"
"Dua puluh dua."
"Selisih enam tahun."
"Aku tahu."
"Dia masih sangat muda."
"Aku juga tahu."
"Dan sangat tidak peka."
Ardian akhirnya menoleh.
Lina tersenyum tipis. "Mama melihatnya sejak tadi. Kamu menatap dia seperti orang tersesat melihat rumah, tapi dia menatapmu seperti pasien yang perlu minum obat tepat waktu."
Kalimat itu menancap terlalu tepat.
Ardian berkata datar, "Mama tidak perlu menikam anak sendiri di hari ulang tahunnya."
"Mama hanya memberi diagnosis."
"Rio cukup."
Lina tertawa kecil. Tawa itu membuat wajahnya terlihat lebih muda, tetapi di baliknya tetap ada lelah yang panjang.
"Kalau kamu sungguh menyukainya," katanya, "jangan memberi isyarat yang hanya bisa dibaca orang yang sudah tahu jawabannya. Perempuan tidak selalu ingin menebak. Apalagi perempuan seperti Sekar, yang terbiasa bekerja, menjaga keluarga, dan menghitung uang. Kalau kamu terlalu halus, dia akan mengira itu instruksi kerja."
Ardian menatap kotak gelang giok di pangkuannya. "Aku pernah mencoba."
"Dengan gelas kumur?"
Ia membeku.
Lina tersenyum lebih jelas. "Darren cerita."
"Darren terlalu banyak bicara."
"Dia adikmu. Itu tugasnya."
Ardian tidak bisa membantah.
Di dapur, Sekar memanggil, "Pak Tan! Bu Lina! Kuenya masih ada. Mau saya potong lagi?"
Lina menjawab, "Iya, sedikit saja."
Sekar datang membawa dua piring kecil. Ketika meletakkan piring di meja teras, ia melihat kotak beludru di pangkuan Ardian.
"Bu Lina, gelangnya aman? Mau saya simpan di dalam dulu?"
Lina menatap Ardian sekilas, lalu berkata lembut, "Nanti biar Ardian yang menyimpannya. Itu untuk seseorang yang sangat penting."
Sekar langsung mengangguk serius. "Berarti harus taruh di brankas. Barang keluarga begini jangan sembarangan."
Ardian memejamkan mata sebentar.
Lina menahan tawa. "Kamu benar."
Sekar, yang sama sekali tidak sadar baru saja mengubur isyarat paling jelas sore itu, menatap Ardian. "Pak Tan, jangan lupa kode brankasnya jangan tanggal lahir sendiri. Terlalu mudah ditebak."
"Kamu mengajari aku keamanan dasar?"
"Saya pernah lihat orang pakai ulang tahun kucing sebagai password."
"Itu Darren?"
Sekar diam.
Dari dapur, Darren berteriak, "Aku dengar!"
Suasana yang berat sedikit terangkat.
Lina memanfaatkan celah itu untuk mengamati mereka lebih lama.
"Sekar," panggilnya, "kalau suatu hari ada laki-laki memberimu barang yang katanya untuk orang penting, menurutmu itu artinya apa?"
Sekar berpikir serius, benar-benar serius, sampai Ardian merasa harapannya seharusnya tidak setinggi ini.
"Tergantung barangnya, Bu Lina."
"Misalnya gelang keluarga."
"Berarti dia sangat percaya pada orang itu."
"Hanya percaya?"
Sekar menatap Lina, lalu menatap Ardian. "Atau... dia ingin orang itu membantu menyimpan barang mahal?"
Darren di dapur mengeluarkan suara seperti tersedak sosis.
Ardian menatap meja.
Lina menutup mulutnya dengan punggung tangan, tetapi matanya tertawa.
"Kamu manis sekali," katanya.
Sekar bingung. "Jawaban saya salah?"
"Tidak. Hanya terlalu aman."
Ardian berkata datar, "Dia selalu begitu."
"Saya apa?" tanya Sekar.
"Aman."
Sekar mengangguk, puas. "Itu pujian untuk pekerja profesional."
Ardian tidak sanggup menjawab.
Lina meminta Sekar duduk sebentar. Awalnya Sekar menolak karena masih banyak piring, tetapi Lina menepuk kursi di sampingnya dengan cara yang tidak bisa ditolak tanpa terlihat tidak sopan.
"Kamu bisa main kartu?" tanya Lina.
Mata Sekar berbinar. "Bisa sedikit."
Darren langsung membawa kartu remi dari ruang tengah. Rio entah dari mana ikut duduk, tetapi setelah melihat Lina, Sekar, dan Ardian, ia memutuskan hanya menjadi penonton. "Aku dokter. Aku tidak berjudi dengan pasien."
"Ini bukan judi," kata Sekar. "Ini latihan strategi."
"Dengan wajahmu sekarang, aku yakin itu judi."
Mereka bermain capsa sederhana yang disederhanakan oleh Sekar agar Lina tidak terlalu lelah. Ardian duduk di samping Sekar, memberi isyarat kecil dengan matanya setiap kali ia hampir salah buang kartu.
Sekar tidak menangkap satu pun.
"Pak Tan," bisiknya panik, "tolong. Saya harus buang yang mana?"
"Pikir."
"Saya sudah berpikir. Hasilnya jelek."
Ardian menatap kartunya. "Yang kiri."
Sekar langsung membuang kartu yang kanan.
Ardian diam.
Lina tertawa.
"Kenapa?" tanya Sekar.
"Tidak apa-apa," kata Lina. "Kalian lucu."
Sekar menoleh pada Ardian. "Pak Tan, bimbing saya dong. Tuan ahli, bawa saya menang."
Ardian menatapnya lama. "Kalau mau menang, dengarkan."
"Saya mendengarkan."
"Tidak."
"Saya mendengar, tapi otak saya lambat."
Sekar akhirnya kalah telak. Namun ia kalah dengan begitu riang sampai Lina beberapa kali tertawa. Ardian yang seharusnya kesal karena semua isyaratnya gagal justru tidak bisa benar-benar marah.
Menjelang malam, Lina berdiri.
Ia tidak membuat perpisahan besar. Ia hanya meminta Ardian mengantarnya sampai mobil. Darren memeluknya lebih dulu, kali ini tanpa banyak bicara. Rio berdiri agak jauh, memberi ruang.
Sebelum keluar, Lina menyerahkan amplop tipis kepada Ardian. Di dalamnya ada beberapa kartu nama lama, nomor kontak luar negeri, dan satu catatan tulisan tangan.
"Jaringan lama keluarga besar Santoso yang penting," katanya pelan. "Mama tidak tahu kapan kamu membutuhkannya. Tapi kalau suatu hari kamu harus melawan orang yang bermain kotor, jangan hanya mengandalkan marah."
Ardian menerima amplop itu dengan tangan yang sedikit kaku.
Sekar ikut mengantar sampai teras depan.
Lina memegang tangan Sekar sebentar. "Jaga dirimu juga, Nak. Jangan hanya menjaga orang lain."
Sekar mengangguk. "Bu Lina juga. Kalau sudah sampai, kabari Pak Tan. Kalau Pak Tan pura-pura tidak menunggu, tetap kabari."
Lina tersenyum, lalu menatap Ardian.
Ia mendekat, membungkuk sedikit, dan menyentuh rambut putranya seperti saat ia masih kecil.
"Nak, Mama selalu berharap kamu bahagia."
Ardian tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu penuh.
Mobil Lina pergi perlahan melewati gerbang Rumah Tan.
Ardian tetap di teras sampai lampu belakang mobil menghilang.
Angin malam bergerak pelan.
"Aku akan bahagia," katanya lirih.
Lalu ia menoleh ke dalam rumah.
Di dapur, Sekar sedang membereskan piring sambil bersenandung kecil, sama sekali tidak sadar bahwa ia menjadi arah pandang dari janji itu.