Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
buku yang tidak pernah menghakimi
Malam turun perlahan, membawa keheningan yang sudah terlalu akrab bagi rumah itu.
Jam dinding terus berdetak, mengisi ruang-ruang kosong yang dahulu dipenuhi suara tawa. Dari dapur tak lagi terdengar suara ibu memanggil anak-anaknya untuk makan malam. Dari kamar sebelah tak ada lagi suara Husna yang bersenandung pelan sambil melipat pakaian. Bahkan suara langkah kaki Zafran yang biasanya terburu-buru kini hanya tinggal kenangan.
Rumah itu masih berdiri seperti biasa.
Namun, rasanya bukan lagi rumah yang sama.
Setelah memastikan abah terlelap, haseenaa segera pergi ke kamar untuk istirahat, namun tidak benar-benar istirahat
Haseena menutup pintu kamarnya perlahan. Ia menyandarkan punggung ke daun pintu beberapa saat, menarik napas panjang sebelum berjalan menuju meja belajar.
Lampu kecil di sudut meja menyala redup, menerangi tumpukan buku pelajaran dan beberapa naskah video yang belum sempat ia rapikan.
Tatapannya berhenti pada sebuah laci paling atas.
Tangannya meraih gagangnya, lalu membukanya dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang sangat berharga.
Di dalamnya terdapat sebuah buku bersampul cokelat tua. Sudut-sudutnya telah mengelupas, kertasnya mulai menguning, dan beberapa halamannya menggulung karena terlalu sering dibuka.
Buku itu bukan sekadar tempat menulis.
Buku itu adalah satu-satunya tempat Haseena merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Tak pernah menyela.
Tak pernah menghakimi.
Tak pernah menyuruhnya menjadi kuat.
Ia membuka halaman kosong berikutnya. Jemarinya menggenggam pulpen beberapa detik sebelum akhirnya tinta hitam mulai memenuhi kertas.
Bu...
Tulisan itu berhenti.
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia mengusapnya lebih dulu dengan punggung tangan.
Ia melanjutkan.
Bu... sekarang semua pekerjaan ibu aku kerjakan.
Aku sudah belajar masak, belajar ngurus rumah, belajar nyuci, belajar nyiram kebun yang ibu sayang banget itu.
Aku usahain semuanya tetap rapi... meskipun hasilnya belum sebagus ibu.
Pulpen itu kembali berhenti.
Haseena menatap keluar jendela. Angin malam menggerakkan tirai tipis di samping meja belajarnya.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Ia kembali menulis.
Bu... Kak Husna juga belum pulang.
Aku nggak tahu sekarang kakak di mana.
Kalau ibu ada, ibu pasti juga lagi nyariin kakak, ya?
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh tepat di atas tulisan itu hingga tintanya sedikit melebar.
Ia membiarkannya.
Seolah noda itu memang menjadi bagian dari isi hatinya.
Pulpen kembali bergerak.
Bu... abang sekarang berubah.
Aku tahu sebenarnya abang juga capek.
Aku cuma berharap suatu hari nanti abang pulang... bukan cuma badannya, tapi hatinya juga.
Haseena menarik napas panjang.
Dadanya mulai terasa sesak.
Namun ia memaksa dirinya tetap menulis.
Bu...
Aku ternyata nggak sekuat ibu.
Aku nggak sanggup ngurus Abah sendirian.
Tangannya mulai melemah.
Ia menggenggam pulpen lebih erat.
Abah sekarang beda.
Beliau udah nggak seberisik dulu.
Jarang bercanda.
Jarang cerita.
Kadang cuma duduk lama di teras sambil ngelihatin jalan depan rumah.
Aku tahu... Abah lagi nunggu seseorang pulang.
Haseena tersenyum kecil.
Senyum yang lebih mirip usaha untuk bertahan daripada rasa bahagia.
Pulpen kembali menari di atas kertas.
Bu...
Aku sekarang jadi content creator.
Alhamdulillah penghasilannya lumayan.
Sekarang Abah nggak perlu terlalu capek lagi ke sawah.
Tapi setiap aku kerja... Abah jadi lebih sering sendirian di rumah.
Kalimat berikutnya jauh lebih lama ditulis.
Seolah setiap huruf membutuhkan keberanian.
Sebenernya aku capek, Bu...
...