Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Scarlett Pendragon
"Kau... siapa?" tanya Elara heran, nadanya sarat akan kewaspadaan.
Scarlett tidak langsung menjawab pertanyaan itu dengan ketus. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyum ramah dan mengulurkan telapak tangannya dengan sopan di depan Elara. "Aku Scarlett Pendragon. Cucu dari Raja Elf Hutan, pemilik istana megah ini. Kalau boleh tahu, Kakak cantik ini siapa?"
Elara menatap ragu uluran tangan tersebut selama beberapa detik, sebelum akhirnya membalas jabatannya dengan pelan. "Elara," jawab sang Siren singkat, lalu bergegas menarik kembali tangannya demi menjaga jarak aman.
"Mari, Kak, biar kubantu," ucap Scarlett tanggap.
Tanpa menunggu persetujuan, ia langsung mengambil inisiatif memapah tubuh ringkih Elara, menyampirkan lengan gadis itu ke atas pundaknya yang kokoh untuk menopang berat badannya.
Elara sempat tersentak kaget akibat kontak fisik yang mendadak itu. Namun, menyadari bahwa fisiknya memang sudah berada di ambang batas, ia memilih untuk tidak menolak kebaikan tersebut. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa syukur terukir di bibirnya yang pucat.
"Terima kasih banyak. Kau sangat baik."
"Iya, sama-sama, Kak," sahut Scarlett riang sembari menuntun langkah tertatih Elara menyusuri koridor sunyi.
Namun, rasa penasaran yang sejak tadi membakar benak sang cucu Raja Elf akhirnya tidak bisa dibendung lagi. "Ngomong-ngomong... kenapa Kakak bisa tersesat di Alfheim, lalu berakhir di dalam salah satu kamar kosong bersama Kakek Jacob?"
Pertanyaan frontal itu seketika membuat Elara menegang. Jantungnya berdegup kencang karena panik. "Hah?! Dari... dari mana kau tahu tentang semua itu?"
Scarlett hanya terkekeh pelan, mengusap tengkuknya dengan ekspresi tanpa beban. "Hehe. Maaf, Kak. Aku tadi sama sekali tidak sengaja mendengarnya di balik pintu. Apakah Kakak ini... benar-benar kekasih Kakek Jacob?"
"Ti-tidak! Maksudku, bukan! Sama sekali bukan!" bantah Elara secepat kilat dengan wajah memanas hebat karena malu. Berusaha mengalihkan rasa bersalahnya, ia balik menginterogasi dengan tatapan menyelidik.
"Lalu... apa saja yang sebenarnya sudah kau dengar di depan pintu tadi?"
"Emm... semuanya," jawab Scarlett polos, tanpa merasa berdosa sedikit pun atas aksi mengupingnya.
Melihat raut wajah Elara yang seketika berubah pias dan ketakutan, Scarlett buru-buru menepuk pundak sang Siren dengan lembut untuk menenangkannya. "Tapi Kakak tenang saja. Aku berjanji rahasiamu akan aman bersamaku. Aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun!"
Demi apa pun, lidah Elara seketika kelu. Ia tidak bisa lagi mengelak, apalagi membantah ucapan jujur Scarlett. Sungguh, demi apa pun yang ada di dunia ini, ia merasa sangat malu setengah mati. Sensasi panas membakar wajahnya, membuat Elara ingin rasanya menceburkan diri ke dalam palung lautan terdalam saat ini juga jika ia bisa.
"Sebaiknya kau tepati janjimu itu, gadis baik. Dan kau... jangan pernah salah paham. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan kakekmu itu," bisik Elara dengan sisa kekuatannya, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh.
Di sela kepanikannya, Elara sempat tersentak terkejut saat menyadari bahwa Scarlett memanggil Jacob dengan sebutan 'kakek'. Otomatis, gadis berambut putih perak ini memiliki hubungan darah yang sangat dekat dengan sang Raja Vampir. Terlebih, begitu mendengar marga Pendragon terucap dari bibir Scarlett, memori kelam masa lalu langsung menghantam benak Elara dengan keras.
Marga Pendragon sangat terkenal di seluruh penjuru dunia imortal, dan Elara tahu persis silsilah berdarah dingin tersebut. Gadis di sampingnya ini pasti adalah putri kandung dari Alan Pendragon—sosok mengerikan yang dulu pernah membantai habis ras Siren dalam sebuah insiden tak terduga saat pria itu masih berusia sangat belia. Akibat insiden serangan kaum Siren terhadap Alan di masa lalu itulah, kedua orang tua Elara ikut tewas mengenaskan, dibunuh tanpa ampun oleh bocah ajaib berkekuatan hebat tersebut.
Kenyataan pahit itu membuat tubuh Elara mendadak menegang di dalam papahan Scarlett. Gadis yang kini menolongnya dengan penuh ketulusan, ternyata adalah putri dari pembunuh kedua orang tuanya.
"Sebaiknya kau tidak usah membantuku," ucap Elara dingin, sembari menarik paksa lengannya dari pundak Scarlett.
Tubuh sang Siren semakin bergetar hebat seiring memori kelam tentang pembantaian orang tuanya yang kian berputar liar di kepala. Di dalam benak Elara, baik silsilah keluarga Salvatore yang penuh dengan predator malam maupun keluarga Pendragon yang bertangan besi, keduanya tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya sama saja: kejam dan membawa kehancuran bagi hidupnya.
"Aku bisa berjalan sendiri," tegas Elara lagi.
Ia memaksakan kakinya yang lemas untuk melangkah dengan tergesa, mengabaikan rasa perih yang mendera demi bisa menjauh dari putri Alan Pendragon tersebut.
"Hei, Kak! Memangnya kenapa? Aku hanya ingin membantumu, sama sekali tidak berniat buruk padamu," seru Scarlett heran.
Gadis berambut perak itu segera berlari kecil, mengejar langkah sang Siren hingga posisinya kembali sejajar di samping Elara. "Kak Elara, kenapa kau mendadak tampak begitu ketakutan? Apa wajahku ini terlihat jahat atau justru menyeramkan bagimu? Tenang saja, Kak, aku ini bukan ras imortal predator sejenis monster pengisap darah seperti Kakek Jacob atau Paman Justin. Di dalam tubuhku mengalir darah ras campuran Pegasus dan Elf Hutan. Jadi, aku dijamin sama sekali tidak akan menggigitmu!"
Elara yang mendengar penuturan itu hampir saja menyemburkan tawa. Namun, karena tidak ingin terlihat konyol di hadapan Scarlett, ia mati-matian menahan diri dan berusaha memasang wajah sedatar mungkin.
"Begitukah?" Bibir Elara berkedut samar, menahan geli sekaligus ironi. "Ya sudah. Namun, aku akan tetap berjalan sendiri. Lagi pula, kakekmu bilang sudah mengutus seseorang untuk membantuku dan mengantarku pulang ke rumah Tuan Cedric di Kota Luminara."
Mendengar nama itu, sepasang mata ungu Scarlett seketika berbinar cerah. "Oh! Jadi Kakak akan pulang ke rumah Tuan Cedric? Pria tampan pemilik restoran terkenal itu, 'kan? Kalau itu, aku tahu persis di mana rumahnya! Bagaimana kalau aku saja yang mengantarmu sampai ke sana?"
"Tidak usah," tolak Elara cepat, enggan berurusan terlalu jauh dengan garis keturunan Pendragon.
"Kau yakin?" Scarlett menaikkan sebelah alisnya, memandang Elara dengan senyum jahil.
"Memangnya Kakak tidak takut pada Paman Matteo?"
Langkah kaki Elara melambat. Ia menoleh sekilas dengan dahi berkerut. "Siapa itu Matteo?"
Tepat setelah pertanyaan itu terlontar, keduanya tiba di depan pintu gerbang utama Istana Elf Hutan. Tanpa membuang waktu, Scarlett langsung mengacungkan telunjuknya ke arah seorang pria tegap yang sejak tadi berdiri berjaga di sana. Pria itu adalah Matteo, panglima perang sekaligus tangan kanan setia sang Raja Vampir.
Postur tubuhnya tinggi besar, memiliki kulit pucat khas kaum pengisap darah, serta rambut hitam panjangnya yang diikat rapi ke belakang, menambah kesan dingin dan berbahaya.
"Itu dia orangnya," tunjuk Scarlett tanpa ragu.
Pandangan Elara sontak beralih mengikuti arah telunjuk Scarlett. Matanya menyipit tajam saat mengamati aura pekat yang menguar dari penampilan pria asing tersebut. Firasatnya mendadak tidak enak.
"Jangan bilang... pria itu juga seorang Vampir?"