Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagalnya Jebakan Pertunangan
Ini adalah sebuah zaman perang ketika para penguasa saling berebut kekuasaan. Nama negaranya adalah Ye, dikenal sebagai Yeguang.
Yeguang telah berdiri lebih dari empat ratus tahun. Namun, bagian dalamnya telah lama membusuk. Penguasa yang berkuasa saat ini hanyalah seorang bocah berusia dua belas tahun.
Bocah itu merupakan satu-satunya putra mendiang kaisar. Setelah sang kaisar wafat, ia pun secara wajar mewarisi tahta. Akan tetapi, sejak naik tahta pada usia empat tahun hingga kini, ia tidak pernah sekalipun menghadiri sidang istana. Seluruh urusan pemerintahan berada di tangan *Raja Shezheng, Yelu Yunxiao. (*gelar untuk wali kaisar)
Di kalangan rakyat telah lama beredar desas-desus bahwa kaisar saat ini kemungkinan adalah seorang bodoh. Sebab itulah ia tidak pernah menampakkan diri di hadapan para pejabat maupun rakyat.
Dalam kehidupan kali ini, identitas Xue Yao adalah sepupu dari kaisar muda tersebut, keponakan kandung dari ibu suiri saat ini, serta putri dari Adipati Wen Chang'an peringkat pertama.
Meski ibu kandungnya telah lama wafat, ia tetap dibesarkan dengan penuh kemuliaan dan kemewahan.
Sebagai putri dari keluarga bangsawan besar dan kerabat kekaisaran, seharusnya pemilik tubuh asli ini memiliki kehidupan yang mulus dan tenteram.
Namun kini, zaman telah berubah menjadi zaman kekacauan.
Dinasti telah lapuk, para penguasa daerah bangkit satu per satu, hampir setiap orang memiliki ambisi untuk merebut kekuasaan dunia.
Seorang Nona bangsawan dari dinasti yang membusuk, kegunaan terbesarnya tampaknya hanyalah sebagai alat untuk mempererat hubungan dengan para penguasa daerah.
Pemilik tubuh asli pun tidak luput dari nasib tersebut.
Ia dijodohkan dengan putra tunggal Marques Wu Yuan, Cheng Zhilan, seorang jenderal berjubah putih yang namanya termasyhur di seluruh negeri.
Marques Wu Yuan menguasai wilayah Kabupaten Ping beserta daerah sekitarnya, dengan pasukan seratus ribu orang. Ia merupakan kekuatan yang sama sekali tidak bisa diremehkan.
Pada awalnya, ini adalah sebuah pernikahan yang sepadan dan serasi.
Namun sayangnya, Cheng Zhilan tidak menginginkannya.
Ia memiliki seorang sepupu perempuan yang sejak kecil ia kagumi. Pada tahun terakhir masa pemerintahan mendiang kaisar, sepupu itu dipanggil masuk ke istana. Ia tidak pernah mendapatkan perhatian kaisar. Tetapi setelah kaisar wafat, sebuah titah justru turun, memerintahkannya untuk ikut dikorbankan sebagai pendamping arwah.
Sejak saat itu, Cheng Zhilan membenci keluarga kekaisaran, dan terlebih lagi membenci keluarga Xue.
Karena ia telah berusaha keras mencari tahu bahwa sepupu perempuannya itu pernah menyinggung Ibu Suri, yang saat itu masih menyandang gelar Selir Agung.
Daftar orang yang harus ikut dikorbankan awalnya tidak mencantumkan nama sepupunya. Namun, justru ibu suri Xue yang menambahkan namanya.
Keluarga Cheng mengincar kekuasaan dan wilayah. Kematian seorang selir yang bahkan tidak sepenuhnya berasal dari keluarga inti, sama sekali tidak dipedulikan oleh Marques Wu Yuan.
Namun Cheng Zhilan peduli.
Karena itulah, ia memutuskan untuk membalas dendam pada pada keluarga Xue.
Dan pemilik tubuh asli ini, menjadi korban tak bersalah dari rencana tersebut.
Setelah pertunangan ditetapkan, Chen Zhilan menyuruh orang lain menuliskan surat atas namanya, menggunakan nama kecil "Pei'an" , dan mulai menjalin korespondensi rahasia dengan pemilik tubuh asli.
Nama kecil Pei'an itu sendiri adalah nama yang diucapkan Cheng Zhilan secara langsung pada hari pertunangan, ketika ia pertama kali bertemu dengan pemilik tubuh asli.
Pemilik tubuh asli mempercayainya sepenuhnya. Tanpa menyadari bahwa sejak awal, nama kecil itu adalah palsu.
Dalam surat-surat tersebut, keduanya telah saling berjanji sehidup semati. Pemilik tubuh asli bahkan dengan penuh ketekunan menyulam pakaian pengantin setiap hari, menantikan hari ia akan menikah dengan lelaki yang ia cintai.
Namun, ketika waktu pernikahan tinggal tiga bulan lagi, Cheng Zhilan tiba-tiba berbalik menyerang. Dengan alasan bahwa pemilik tubuh asli telah lama menjalin hubungan terlarang dengan pria lain, ia menuntut pembatalan pertunangan.
Buktinya adalah surat-surat yang semuanya ditandatangani dengan nama Pei'an.
"Jika Nona Xue dari Keluarga Xue sudah lama saling mencintai dengan Tuan Muda Pei'an ini, lalu mengapa masih menerima pertunangan dengan Keluarga Cheng kami? Atau jangan-jangan mengira Keluarga Cheng mudah dihina?"
Pada hari itu, seluruh kebahagiaan pemilik tubuh asli hancur berkeping-keping.
Ia tidak mengerti. Ia telah menyuruh orang menyelidiki, dan nama kecil Cheng Zhilan memang benar Pei'an. Lalu mengapa kini semua orang berkata bahwa mereka sama sekali tidak mengenal siapa Pei'an itu?
Pada saat itulah ia tersadar, bahwa di sekelilingnya telah lama ada seorang pengkhianat.
Hari itu, pemilik tubuh asli ditampar di depan umum oleh ayahnya sendiri.
Demi meredakan amarah Marques Wu Yuan, ayah Xue Yao berjanji di hadapan semua orang bahwa ia akan mengirim putrinya ke kuil Dao untuk menjalani pertapaan, demi memulihkan nama baik Keluarga Xue.
Pada saat yang sama, demi mempertahankan aliansi antara Keluarga Cheng dan Keluarga Xue, sang ayah memutuskan untuk menikahkan putri lain—Xue Rou, putri yang dilahirkan oleh selir tercintanya, Nyonya Ruyue—sebagai pengganti.
Tentu saja, untuk menunjukkan ketulusan, sang ayah menambahkan banyak keuntungan dalam mas kawin Xue Rou.
Bagaimanapun, di mata dunia luar, ini hanyalah pernikahan antara Keluarga Cheng dan Keluarga Xue. Putri siapa yang menikah, bukankah sama saja?
Adapun siapa yang telah menyuap para pelayan, kini jawabannya sudah sangat jelas.
Ibu kandung Xue Yao telah lama wafat. Selama bertahun-tahun, Nyonya Ruyue mendapat limpahan kasih sayang. Sementara Xue Yao selalu menghindari ketajaman ibu dan anak itu.
Tak disangka, pada akhirnya ia tetap menjadi batu pijakan bagi mereka untuk menapaki jalan kejayaan.
Awalnya, perkara ini seharusnya sudah berakhir disitu.
Namun Ayah Xue Yao meremehkan kebencian Cheng Zhilan terhadap Keluarga Xue, dan terlalu melebihkan posisi dirinya di mata Keluarga Cheng.
Keluarga Cheng tidak mengingkan putri Keluarga Xue mana pun.
Maka pada jamuan hari ini, Cheng Zhilan secara terbuka mengumumkan pembatalan pertunangan. Bahkan dengan sengaja menyebut bahwa Nona Xue bernama Yao adalah perempuan yang pada dasarnya penuh nafsu, sehingga keluarga Cheng tidak diberkahi untuk menerimanya.
Pemilik tubuh asli baru saja hancur karena pembatalan pertunangan, kini harus menghadapi kehancuran nama baiknya pula.
Sasaran utama Cheng Zhilan adalah Keluarga Xue, tetapi apa yang ia lakukan sudah cukup untuk menghancurkan hidup pemilik tubuh asli sepenuhnya.
Sementara itu, tekad serpihan kesadaran ada dua hal: pertama, keluar dari situasi genting ini; kedua, menjadi sosok yang membuat semua orang hanya bisa memandangnya dari kejauhan.
Membuat Cheng Zhilan yang tega menjadikan perempuan tak bersalah sebagai alat permainan, membuat ayah Xue yang tak pernah peduli pada putrinya sendiri, dan membuat Nyonya Ruyue beserta putrinya yang sengaja menyuap pelayan untuk menjebaknya—semuanya membayar harga yang setimpal.
Sepanjang hidupnya, di mata orang luar, Xue Yao hidup dalam kemewahan, bertumpuk emas dan sutra.
Namun ia lahir di dinasti yang tengah runtuh. Kecantikan dan latar belakangnya justru menjadikannya sekadar bidak yang bisa dimanfaatkan sesuka hati oleh para lelaki.
Ibu kandungnya wafat lebih awal, ayahnya dingin dan tak peduli. Ia tumbuh dengan hati-hati di kediaman belakang yang dikuasai selir kesayangan, hanya berharap bisa melarikan diri lewat pernikahan dan memulai kehidupan baru.
Tak disangka, yang menantinya justru mimpi buruk.
Setelah menerima seluruh ingatan itu, Xue Yao menatap perempuan pelayan di hadapannya—yang tampak khawatir di permukaan, tetapi jelas menyimpan niat menonton pertunjukan—dan langsung memahami segalanya.
"Bibi Sun, kamu adalah orang tua yang ditinggalkan ibuku untukku. Kini aku menghadapi pembatalan pertunangan dan kehancuran nama baik. Apakah kamu punya cara untuk membantuku keluar dari kesulitan ini?"
Pelayan bermarga Sun itu tertegun sejenak, lalu menunduk dan berkata,
"Nona, dalam keadaan seperti ini, sepertinya sudah tidak ada jalan keluar. Mungkin Nona sebaiknya memohon pada Nyonya Ruyue. Ia sangat disayang, setidaknya masih bisa menjamin keselamatan Nona."
"Benar-benar pelayan yang setia."
Xue Yao berdiri, menatap perempuan itu, hanya merasa geli.
"Kau dibeli oleh ibuku. Jika bukan karena ibuku, kamu sudah mati di luar sana sejak lama. Budi penyelamatan nyawa lebih besar dari langit. Tetapi di hatimu, tampaknya masih kalah dibandingkan uang hadiah dari Nyonya Ruyue, bukan?"
Pelayan bermarga Sun itu terkejut dan mendongak. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, ia melihat Xue Yao menggambar sesuatu di udara di hadapannya. Seketika, sebuah cahaya terang menembus ruangan dan melintas di depan matanya.
Cahaya itu begitu menyilaukan. Hingga dalam sekejap, ia kehilangan kesadaran.
Di sertai suara ledakan keras, Xue Yao menatap dengan tenang perempuan yang lengan kanannya telah terputus akibat disambar jimat petir.
Jimat Petir adalah teknik elemen dari Sekte Yiyuan.
Teknik ini sangat sesuai dengan konstitusi tubuh ini. Ditambah lagi, ia baru saja memulihkan satu serpihan kesadaran. Sehingga kini ia masih mampu menggunakannya secara terbatas.
Meski jauh dari kedahsyatan ribuan petir yang pernah ia lepaskan dahulu, ini sudah lebih dari cukup.
"Karena telah mengambil sesuatu yang tidak seharusnya, tangan itu memang tidak perlu lagi."
Ia berbalik dan mendorong pintu terbuka. Menatap pelayan wanita di depan pintu yang ketakutan oleh keributan di dalam, ia berkata dengan suara rendah,
"Aku hendak keluar dari kediaman."
Pelayan bernama Xiangru terkejut.
"Nona, tetapi Tuan melarang anda keluar rumah."
Menatap mata Xue Yao yang tenang, teringat pula kabar dari jamuan di depan, Xiangru menggigit bibirnya.
"Kemana Nona hendak pergi? Pintu belakang sedang sepi. Aku akan mengalihkan perhatian orang-orang."
Menghitung sisa kekuatan kesadarannya, Xue Yao berkata, "Ke kediaman Raja Shezheng."
Jika Cheng Zhilan ingin menghancurkan namanya, maka lebih baik ia yang terlebih dahulu menghancurkan Cheng Zhilan.
Dalam perebutan kekuasaan di zaman kacau ini, bila seseorang kehilangan dukungan takdir dan legitimasi langit, maka jalan keluarga Cheng pun telah sampai di ujungnya.