NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Aditiar

SINOPSIS:

"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."

Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.

Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Makam Para Kaisar Abadi

BAB 33: Gerbang Makam Para Kaisar Abadi

Angin pegunungan bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus yang bergesekan di bawah cahaya fajar. Namun di ufuk utara, langit tidak lagi berwarna biru keabu-abuan.

Sebuah pilar cahaya hitam masih membelah cakrawala.

Cahaya itu tidak menyilaukan, tetapi justru menyerap sinar di sekitarnya. Burung-burung yang melintas berbalik arah sebelum mendekat. Awan membentuk pusaran raksasa mengelilinginya seolah langit sendiri sedang menjauh.

Ethan Mahendra berdiri di depan gua dengan tatapan tenang.

Di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak cepat.

"Makam Para Kaisar Abadi..."

Nama itu tidak asing.

Namun seharusnya tempat itu tidak mungkin muncul di dunia ini.

Pada kehidupan sebelumnya, Makam Para Kaisar Abadi hanyalah legenda yang bahkan diperdebatkan oleh para Raja Abadi. Konon, setiap Kaisar Abadi yang menolak bereinkarnasi akan meninggalkan jejak Dao mereka di tempat itu.

Tak seorang pun pernah membuktikan keberadaannya.

Dan kini...

Gerbangnya muncul di Bumi.

"Ekspresimu berbeda."

Suara Liu Xinya memecah keheningan.

Wanita itu menghampiri sambil menyarungkan pedangnya.

"Apa yang kau lihat?"

Ethan tetap memandang cahaya hitam itu.

"Masalah."

"Itu jawaban paling khas darimu."

Sedikit senyum muncul di wajah Liu Xinya, tetapi segera menghilang ketika melihat sorot mata Ethan yang jauh lebih serius dibanding biasanya.

"Seberbahaya itu?"

Ethan mengangguk pelan.

"Lebih berbahaya daripada Makam Kaisar Bayangan."

Ucapan itu membuat napas Liu Xinya tertahan.

Ia tahu Ethan bukan orang yang suka melebih-lebihkan sesuatu.

Jika pria itu berkata berbahaya...

Berarti kenyataannya mungkin jauh lebih buruk.

Pada saat yang sama...

Di sebuah ruang bawah tanah kompleks militer yang bahkan tidak tercantum dalam peta pemerintah.

Puluhan layar besar menyala bersamaan.

Gelombang energi spiritual memenuhi grafik.

Alarm berbunyi tanpa henti.

"Lonjakan energi melebihi batas!"

"Koordinat utara terkunci!"

"Retakan dimensi bertambah tujuh belas persen!"

Seorang ilmuwan tua berkeringat dingin.

"Ini mustahil..."

Di belakangnya berdiri seorang pria berseragam jenderal dengan rambut mulai memutih.

Dialah Jenderal Arman.

Kini wajahnya tidak lagi setenang saat bertemu Ethan.

"Apa analisis Divisi Astral?"

Seorang wanita muda berkacamata membuka data hologram.

"Kami mencocokkan pola energinya dengan seluruh arsip pemerintah."

"Hasilnya?"

"Tidak ada."

Ruangan mendadak sunyi.

"Tidak ada?"

"Ya."

"Seolah energi itu... tidak pernah tercatat dalam sejarah manusia."

Jenderal Arman memejamkan mata beberapa detik.

"Lalu aktifkan Protokol Langit Kelima."

Semua orang membeku.

"Itu protokol untuk ancaman tingkat kepunahan..."

"Aku tahu."

Suara sang jenderal terdengar berat.

"Karena firasatku mengatakan..."

"...ini baru permulaan."

Jauh di bawah markas Gerbang Hitam.

Ruangan dipenuhi cahaya merah.

Puluhan kultivator berjubah hitam berlutut mengelilingi altar.

Di tengah altar berdiri seorang pria bertopeng perak.

Aura yang dipancarkannya jauh melampaui para bawahannya.

Ia mengangkat tangan.

Api hitam muncul di atas telapak tangannya.

"Gerbang akhirnya terbuka."

Salah seorang tetua bertanya pelan.

"Pemimpin..."

"Apakah kita bergerak sekarang?"

Pria bertopeng itu menggeleng.

"Belum."

"Kita biarkan mereka saling membunuh terlebih dahulu."

"Lalu?"

Barulah suara dingin itu terdengar.

"Orang yang membawa Segel Pertama..."

"...harus hidup."

Ruangan menjadi sunyi.

"Bahkan jika seluruh dunia harus mati."

Di sisi lain.

Balairung Senja masih dipenuhi pecahan Cermin Karma.

Beberapa tetua sedang memulihkan luka mereka.

Ketua Sidang berdiri di depan jendela batu.

Tatapannya mengarah ke cahaya hitam di kejauhan.

Seorang wanita tua mendekat.

"Apakah kau juga merasakannya?"

Ketua mengangguk.

"Gerbang itu..."

"...tidak memilih dunia."

Wanita tua itu mengerutkan kening.

"Apa maksudmu?"

"Gerbang itu memilih seseorang."

Sementara itu.

Ethan telah memutuskan untuk berangkat.

Namun ia tidak bergerak terburu-buru.

Ia justru duduk kembali bersila.

Liu Xinya memandangnya heran.

"Kita tidak pergi?"

"Kita pergi."

"Lalu kenapa berhenti?"

"Karena semua orang pasti berlari ke sana sekarang."

Ethan membuka sebuah peta tua.

"Dan semua orang akan berpikir siapa yang datang lebih dulu akan mendapat kesempatan terbesar."

"Padahal?"

"Justru menjadi sasaran pertama."

Liu Xinya mengangguk perlahan.

Masuk akal.

Dengan munculnya gerbang sebesar itu, berbagai organisasi pasti sudah bergerak.

Mereka yang tiba paling cepat kemungkinan justru akan menjadi korban bentrokan pertama.

"Kita tunggu."

"Berapa lama?"

"Sampai para pemain catur mulai memperlihatkan bidaknya."

Sore hari.

Di sebuah jalan pegunungan menuju cahaya hitam.

Tiga kelompok besar saling bertemu.

Kelompok pertama mengenakan jubah putih dengan lambang bulan sabit.

Keluarga kuno Yue.

Kelompok kedua terdiri atas para pemburu iblis.

Pemimpinnya seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun dengan tombak panjang di punggung.

Kelompok ketiga...

Para kultivator berpakaian bisnis.

Jas hitam.

Dasi.

Namun aura mereka membuat udara bergetar.

Sekte Langit Astra.

Tak ada yang mau mengalah.

Pemimpin keluarga Yue melangkah maju.

"Jalan ini milik keluarga Yue."

Wanita pemburu iblis tersenyum sinis.

"Pegunungan ini bukan rumahmu."

CEO muda Langit Astra hanya tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"Kita masuk bersama."

Tak ada yang percaya.

Suasana menjadi tegang.

Beberapa kilometer di belakang mereka.

Ethan dan Liu Xinya mengamati dari puncak tebing.

"Kau sudah tahu mereka akan bertemu?"

Liu Xinya bertanya.

"Aku hanya menghitung kemungkinan."

"Dan hasilnya tepat."

Ethan memandang ketiga kelompok itu.

"Mereka semua cukup cerdas."

"Tapi terlalu ingin menjadi yang pertama."

Liu Xinya menghela napas.

"Kalau begitu kita benar-benar menunggu?"

Ethan menggeleng.

"Tidak."

"Mulai sekarang kita bergerak."

"Mereka sedang saling mengawasi."

"Justru sekarang pertahanan mereka paling lemah."

Mereka berbalik memasuki hutan.

Bukan menuju jalan utama.

Melainkan jalur sempit yang hampir tertutup lumut.

Liu Xinya mengerutkan dahi.

"Kau pernah ke sini?"

"Belum."

"Lalu bagaimana tahu jalannya?"

Ethan menyentuh salah satu batu besar.

"Formasi."

"Pegunungan ini menyembunyikan jalur kedua."

Ia menggeser batu itu beberapa sentimeter.

Tanah langsung bergetar.

Sebuah lorong batu perlahan muncul dari balik akar pohon.

Udara kuno keluar dari dalamnya.

Liu Xinya menatap Ethan dengan kagum.

"Bagaimana kau bisa..."

"Gerbang sebesar ini pasti memiliki jalan rahasia."

"Semua makam kuno dibuat seperti itu."

Mereka berjalan cukup lama.

Lorong itu gelap.

Hanya diterangi lumut bercahaya.

Semakin jauh mereka masuk...

Semakin kuat tekanan spiritual di udara.

Tiba-tiba Ethan berhenti.

Ia mengangkat tangan memberi isyarat.

Liu Xinya langsung menahan langkah.

"Ada apa?"

Ethan berjongkok.

Di lantai lorong terlihat bekas pijakan kaki.

Masih baru.

"Bukan kita."

"Bukan kelompok tadi?"

Ethan menggeleng.

"Jejak ini hanya milik dua orang."

Ia menyentuh tanah.

Masih hangat.

"Mereka lewat kurang dari lima menit yang lalu."

Liu Xinya langsung menggenggam gagang pedangnya.

"Siapa?"

"Itulah yang ingin kutahu."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan jauh lebih hati-hati.

Beberapa ratus meter kemudian...

Lorong berakhir pada sebuah ruang batu melingkar.

Di tengah ruangan terdapat pintu perunggu raksasa.

Permukaannya dipenuhi simbol naga dan bintang.

Namun perhatian Ethan tertuju pada hal lain.

Di depan pintu itu...

Dua sosok berjubah hitam sedang berdiri membelakangi mereka.

Salah satunya mengangkat tangan.

Lalu dengan mudah...

Ia membuka segel kuno yang seharusnya telah terkunci selama ribuan tahun.

Klik...

Pintu perunggu mulai bergeser.

Suara gemuruh memenuhi lorong.

Sosok berjubah itu tertawa pelan.

"Sudah kubilang."

"Darah keturunan penjaga masih bekerja."

Ethan menyipitkan mata.

"Mereka bukan dari Gerbang Hitam."

"Bukan pula Balairung Senja."

"Lalu..."

Pada saat itu, sosok berjubah yang lebih tinggi tiba-tiba berhenti.

Tanpa menoleh sedikit pun, ia berkata dengan suara tenang,

"Karena sudah sampai..."

"...kenapa kalian masih bersembunyi?"

Liu Xinya membeku.

Sementara Ethan perlahan melangkah keluar dari bayangan lorong.

Untuk pertama kalinya...

Seseorang berhasil menyadari keberadaannya sebelum ia memilih untuk memperlihatkan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!