NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Pesona Erlang yang Tak Terbendung.

Kemegahan tembok batu hitam Kota Kadipaten menyambut kedatangan rombongan Erlang, Sekar Arum, dan Gusti Ayu Kenanga. Kereta pengganti yang dikirim oleh pihak kadipaten setelah menerima isyarat darurat melalui merpati pos, akhirnya membawa mereka melewati gerbang utama dengan pengawalan ketat berlapis perisai perak. Sebagai putri bungsu dari Ki Tumenggung Haryo Subroto, Kenanga memiliki kekuasaan yang luar biasa besar di wilayah barat ini. Apalagi setelah kejadian penyerangan harimau siluman di hutan mahoni tadi, posisi Erlang dan Sekar langsung dinaikkan menjadi tamu agung kelas satu yang tidak boleh diusik oleh siapa pun.

Begitu memasuki pelataran istana kadipaten yang luas dan sejuk oleh rimbunnya pohon beringin kembar, Kenanga langsung turun dari kereta. Wajah cantiknya yang dihiasi tusuk konde bunga kenanga emas itu tampak berseri-seri, matanya tidak pernah lepas memandangi Erlang yang turun sembari memanggul kembali pikulan bambu tuanya dengan gaya yang sangat santai.

"Kangmas Erlang, Nimas Sekar, mari silakan masuk ke paviliun timur," ajak Kenanga dengan suara yang teramat sangat manis, bahkan tangannya secara refleks bergerak hendak menyentuh lengan baju Erlang sebelum Sekar Arum mendadak melangkah maju memotong jarak di antara mereka.

Sret.

Sekar Arum berdiri tepat di antara Erlang dan Kenanga, caping bambunya diturunkan sedikit untuk menutupi wajah kusamnya yang kini diam-diam sedang ditekuk sangat ketus. "Terima kasih atas sambutannya, Gusti Ayu Kenanga. Kami sangat menghargai keramahan ini. Karena tugas kami mengawalmu sampai gerbang kota sudah selesai dengan aman, kami mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan mencari penginapan biasa di luar tembok kadipaten."

"Lho? Kok buru-buru sekali toh, Nimas Sekar?" potong Kenanga cepat, sepasang mata bulatnya yang indah langsung menyipit, memancarkan ketegasan khas darah bangsawan yang tidak biasa dibantah. "Panjenengan berdua ini sudah menyelamatkan nyawa saya dari terkaman siluman. Kalau sampai ayahanda tahu saya membiarkan penolong saya luntang-lantung di pasar luar, harga diri keluarga Tumenggung Haryo Subroto bisa jatuh. Saya tidak mengizinkan panjenengan berdua pergi dari istana ini, paling tidak sampai perayaan keselamatan selesai diadakan besok malam."

Erlang yang sedang sibuk merapikan ikatan buntalan kain lusuhnya di atas bambu mendongak polos. "Waduh, Gusti Ayu... eh, Nimas Kenanga. Sebenarnya kami ini beneran buru-buru nggih. Ada urusan mendesak mencari sahabat paman saya yang kabarnya ada di sekitar wilayah ini. Kalau harus menginap di paviliun mewah begini, rasanya kok kurang pas dengan dompet saya yang cuma sisa dua koin tembaga."

Kenanga tertawa merdu, suara tawanya sengaja dibuat kian manja sembari matanya menatap lekat pada gurat wajah rupawan Erlang. Pesona ketulusan, kepolosan, dan kesaktian mutlak yang diperlihatkan Erlang di hutan mahoni tadi beneran telah membuat jantung putri tumenggung ini berdegup tidak keruan. Kenanga telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada si musafir lusuh ini, dan sebagai seorang putri penguasa, apa yang diinginkan oleh hatinya harus ia dapatkan dengan cara apa pun.

"Masalah koin tembaga tidak perlu dipikirkan, Kangmas Erlang yang baik," ujar Kenanga dengan nada suara yang kian melembut, melangkah memutari Sekar Arum agar bisa berdiri lebih dekat di samping Erlang. "Seluruh keperluan Kangmas, mulai dari makanan terbaik, pakaian sutra pengganti, hingga informasi tentang siapa pun yang Kangmas cari di kota ini, akan saya perintahkan seluruh jaringan telik sandi kadipaten untuk mencarinya dalam sekejap. Tapi syaratnya... Kangmas harus tetap tinggal di paviliun timur ini bersamaku."

Sekar Arum mendengus sangat keras dari balik caping bambunya. Udara di sekeliling jubahnya mendadak terasa kian dingin akibat gejolak batin yang menahan rasa cemburu yang amat sangat. Ia teringat akan janji saling menjaga yang mereka ikrarkan di dalam Goa Langse semalam. “Baru juga semalam berjanji setenang itu, sekarang si ulat sutra ungu ini sudah mau mengurung pelindungku di dalam sangkar emasnya!” batin Sekar kian dongkol.

"Gusti Ayu Kenanga," kata Sekar Arum dengan nada suara yang sengaja dibuat kaku, dingin, dan penuh penekanan batin. "Pelindungku ini... maksud saya, Erlang ini adalah seorang musafir bebas yang hatinya beraliran angin bebas. Dia tidak cocok dikurung di dalam tembok kadipaten yang penuh aturan protokol. Informasi yang kami cari bisa kami temukan sendiri di warung-warung pasar luar tanpa perlu merepotkan pasukan perisai perakmu."

Kenanga tidak mau kalah. Ia mengangkat dagunya yang indah, menatap Sekar Arum dengan pandangan menantang khas perempuan keraton yang menyadari adanya persaingan memperebutkan hati seorang lelaki. "Nimas Sekar, kota Kadipaten ini sedang dalam kondisi darurat setelah serangan siluman tadi. Perintah penjagaan ketat telah dikeluarkan langsung oleh ayahanda. Tanpa surat izin resmi dengan cap segel dari saya, tidak akan ada satu pun penginapan atau warung di luar sana yang berani menerima tamu asing yang tidak jelas silsilahnya. Jadi, suka atau tidak suka, jalan terbaik bagi Kangmas Erlang untuk mendapatkan petunjuk adalah tetap berada di sini di bawah perlindungan kekuasaan saya."

Erlang mengedipkan matanya berkali-kali, memandangi Kenanga dan Sekar Arum bergantian dengan wajah yang kelewat polos dan canggung. "Waduh... waduh... kok suasananya mendadak jadi kian panas begini toh? Padahal angin sorenya lumayan adem. Nimas Sekar, bagaimana ini nggih? Penjelasan Nimas Kenanga tadi kedengarannya beneran masuk akal juga. Kalau kota ini sedang dijaga ketat, kita yang penampilannya asing begini pasti bakal sering ditangkap ronda malam kalau nekat tidur di emperan pasar luar."

Sekar Arum melirik Erlang dengan tatapan mata yang sangat tajam seolah ingin menusuk dahi pemuda itu. "Kau ini beneran bodoh atau pura-pura tidak peka toh, Erlang! Dia itu sengaja menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menahanmu di sini karena ada maunya!"

Kenanga tersenyum kemenangan, melihat Erlang mulai goyah oleh tawarannya. "Kangmas Erlang, saya beneran tulus mau membantu. Malah, sore ini saya sudah memerintahkan pelayan dapur utama untuk memasakkan tahu bacem bumbu madu khusus, lengkap dengan wedang jahe sereh hangat kesukaan Kangmas seperti yang Kangmas sebutkan di kereta tadi. Apakah Kangmas beneran tega menolak hidangan yang sudah di siapkan dengan segenap hati saya ini?"

Mendengar kata 'tahu bacem bumbu madu' dan 'wedang jahe hangat', perut Erlang secara tiba-tiba langsung mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring. Pemuda itu tersenyum melas sembari meraba perutnya sendiri dengan canggung. "Aduh... Gusti Allah, beneran godaannya berat sekali ini. Nimas Sekar... bagaimana kalau kita mengalah saja dulu semalam ini? Kita makan tahu bacemnya dulu, sekalian menunggu hasil pencarian informasi tentang Mbah Wiro dari telik sandinya Nimas Kenanga. Bagaimana?"

Sekar Arum menghela napas panjang penuh keterpaksaan, menyadari bahwa pelindung polosnya ini beneran sangat mudah ditaklukkan jika urusannya sudah menyerempet masalah makanan kesukaannya. "Terserah kau sajalah, Erlang! Tapi ingat janji kita semalam ya! Jangan sampai kau sengaja berlama-lama mengobrol berdua dengan ulat sutra ungu ini sampai melupakan tugas utamamu!"

"Nggih, Nimas Sekar! Janjinya tetap saya simpan rapat di dalam dada kok, tidak akan lupa seujung rambut pun," sahut Erlang ceria, memamerkan senyuman polosnya yang menenangkan batin Sekar seketika.

Kenanga yang melihat interaksi akrab di antara mereka langsung merasakan sebersit rasa iri yang tipis di lubuk hatinya, namun ia mengabaikannya demi rasa gembira karena berhasil menahan Erlang di dalam istananya. "Nah, kalau begitu sudah putus nggih urusannya. Mari, Kangmas Erlang, saya sendiri yang akan mengantarkan Kangmas ke paviliun timur. Pelayan! Segera bawakan air mandi hangat dan pakaian terbaik untuk tamu agung saya!"

Dengan langkah riang penuh wibawa kekuasaan, Kenanga menuntun Erlang berjalan menyusuri selasar jembatan kayu di atas kolam teratai menuju bangunan paviliun timur yang mewah. Sekar Arum berjalan membayangi di belakang mereka dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan keras ke lantai papan, matanya terus mengawasi setiap pergerakan Kenanga dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi.

Malam pertama mereka di pusat Kota Kadipaten ini akhirnya dimulai bukan dengan pertarungan senjata besi murni, melainkan dengan ketegangan batin baru yang dipicu oleh pesona polos Erlang yang tak terbendung, mengunci langkah kedua pengembara muda itu di dalam lingkaran kekuasaan tembok istana sembari menunggu tabir misteri pasukan bayaran Gagak Hitam terbuka kian lebar di hari esok.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!