Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Aroma parfum berkelas dan hawa dingin dari pendingin udara menyambut langkahku saat memasuki Grand Indonesia, salah satu pusat perbelanjaan paling elit di Jakarta Pusat. Jam menunjukkan pukul satu siang. Setelah menyelesaikan dua rapat penting sejak pagi, aku memutuskan untuk keluar kantor sebentar bersama Siska untuk menikmati makan siang sekaligus melihat-lihat koleksi busana terbaru di butik langgananku.
Aku melangkah dengan tenang, mengenakan setelan blazer berwarna krem dan sepatu heels hitam berhak tipis yang mengetuk lantai marmer mengilap secara konstan. Siska berjalan satu langkah di sampingku, membawa tablet kerja dan tas tanganku.
"Restoran fine dining di lantai atas sudah saya reservasi untuk jam satu lewat tiga puluh menit, Bu Tita," lapor Siska dengan nada suara lugas seperti biasa.
"Bagus, Siska. Kita putar sebentar ke butik Saint Laurent sebelum ke sana," sahutku tenang.
Namun, saat kami melangkah melewati koridor atrium utama yang dikelilingi toko-toko barang bermerek, langkah Siska mendadak melambat. Tangannya yang memegang tablet agak terangkat, matanya memicing menatap ke arah salah satu butik perhiasan dan tas impor yang berada beberapa meter di depan kami.
"Bu Tita..." panggil Siska dengan nada suara memelan, namun sarat akan penekanan.
"Ada apa, Siska?" aku menghentikan langkah, menoleh padanya.
Siska mendekatkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telingaku sembari matanya melirik halus ke sudut butik tersebut. "Lihat wanita muda di depan toko aksesoris itu. Yang sedang sibuk memilih tas sambil menelepon."
Aku mengalihkan pandanganku mengikuti arah lirikan Siska.
Di depan etalase kaca yang memamerkan deretan tas mahal, berdiri seorang perempuan muda. Usianya diperkirakan baru memasuki dua puluh tahun masih sangat belia, hampir seumuran dengan mahasiswi tingkat awal.
Namun, penampilannya sungguh menyita perhatian dengan cara yang sangat keliru untuk sebuah mall elit di siang hari.
Perempuan itu mengenakan crop top berbahan rajut tipis yang sangat ketat dan minim, memamerkan bagian perut serta pinggangnya secara terbuka.
Dipadukan dengan celana jins sangat pendek dan riasan wajah yang tebal mencolok, penampilannya tampak begitu kontras dengan pengunjung butik lain yang berbusana anggun dan berkelas. Pakaiannya kekurangan bahan, memancarkan aura kegatalan dan keausan akan perhatian.
Aku memperhatikan perempuan itu dari jarak beberapa meter. Ia sedang memegangi sebuah tas dengan satu tangan, sementara tangan satunya menempelkan ponsel mahal di telinga. Wajah cantiknya yang polos dipenuhi kerutan emosi saat ia menghentakkan kakinya yang beralas sepatu hak tinggi ganjil.
"Mas Aris! Kok cuma transfer tiga puluh juta sih?!" suara perempuan itu melengking cukup keras, tak peduli pada beberapa pengunjung mall yang mulai menoleh risih padanya. "Sewa apartemen kan dua puluh juta! Sisa sepuluh juta mana cukup buat aku belanja baju baru dan treatment minggu ini! Mas kan janji mau beliin aku tas yang kemarin aku tuju! Pokoknya tambah dua puluh juta lagi sore ini, atau aku datangi rumah makan Mas yang di Tebet!"
Aku berdiri mematung di tempatku.
Bukan karena terkejut atau cemburu, melainkan karena sebuah kurva senyuman dingin yang perlahan terukir lebar di bibirku. Senyuman yang penuh akan penghinaan mendalam.
Jadi... ini perempuan yang membuat Aris rela mengorbankan rumah tangganya? Ini perempuan yang dipuja-puja Aris dan dibiayai menggunakan uang dari perusahaanku?
"Dia Larasati, Bu Tita," bisik Siska lagi, membaca perubahan raut wajahku. "Istri siri Pak Aris."
Aku terkekeh pelan, sebuah tawa tipis tanpa nada yang lolos begitu saja dari tenggorokanku. Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada, memperhatikan gaya Larasati yang memutar-mutar tubuhnya di depan cermin toko.
"Selera Mas Aris ternyata sengsara sekali ya, Siska," gumamku dengan nada suara sangat datar, hampir prihatin. "Aku pikir dia mencari wanita berkelas atau pengusaha muda jika memang ingin berselingkuh. Ternyata seleranya cuma sekelas wanita nakal yang bingung cara berpakaian di tempat umum."
"Pak Aris hanya mencari rahim muda dan wanita yang mudah dibodohi dengan uang pas-pasan, Bu," tambah Siska sinis. "Larasati itu baru dua puluh tahun. Dia mantan model toko online yang tergiur dengan gaya hidup mewah yang dipamerkan Pak Aris."
Aku memperhatikan bagian perut Larasati yang terekspos jelas akibat pakaian minimnya. Perutnya masih datar, melengkung mulus tanpa ada tanda-tanda pembengkakan sama sekali.
"Berapa usia kandungannya sekarang, Siska?" tanyaku pelan, menatap lurus ke arah perut perempuan itu.
"Hasil rekam medis dari dokter kandungan langganannya menunjukkan baru memasuki minggu kedelapan, Bu Tita. Masih dua bulan. Jadi memang belum membuncit sama sekali. Namun, Larasati selalu menggunakan alasan 'bayi di dalam perut' ini untuk memeras Pak Aris setiap hari."
"Dua bulan..." ulangku pelan. "Dua bulan usia benalu kecil yang dianggap Aris sebagai juru selamat garis keturunannya."
Tiba-tiba, Larasati mematikan panggilannya dengan kasar, membanting ponselnya kembali ke dalam tas dengan wajah bersungut-sungut. Pria di seberang telepon Aris pasti baru saja mematikan telepon atau menolak mentransfer uang tambahan karena kehabisan dana.
Larasati melangkah keluar dari toko aksesoris itu dengan wajah bersungut-sungut. Karena terlalu sibuk merutuk dan melihat layar ponselnya, ia melangkah tanpa memperhatikan jalan dan buk! bahunya tersenggol pelan oleh bahuku yang sengaja berdiri agak menutupi jalurnya.
Tas belanjaan kecil yang dipegang Larasati terlepas dan jatuh ke lantai marmer.
"Aduh! Kalau jalan pakai mata dong! Gak lihat apa orang hamil lagi jalan?!"
semprot Larasati serta-merta, suaranya meninggi tanpa melihat siapa yang ditabraknya. Ia membungkuk dengan gusar, menyambar tas belanjaannya.
Namun saat ia berdiri dan menengadah, kata-kata makian berikutnya tertahan di tenggorokannya.
Aku berdiri di hadapannya dalam postur tubuh yang sangat tegap dan anggun. Tinggi badanku yang ditopang heels mahal membuatku menjulang anggun di atasnya. Blazer kremku yang rapi, aura kepemimpinan yang dingin, serta tatapan mataku yang tajam namun penuh senyuman ramah membuat Larasati mendadak merasa kerdil.
Larasati mengerutkan kening, menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan binar mata yang memancarkan rasa iri dan inferioritas alami dari seorang perempuan muda yang tak punya apa-apa.
"Maafkan saya, Mbak," kataku dengan suara yang sangat lembut, tenang, dan berkelas suara yang biasa kugunakan saat memimpin negosiasi bisnis bernilai puluhan miliar. "Saya tidak sengaja. Mbak tidak apa-apa?"
Larasati menelan ludah, merapikan crop top minimnya yang agak terangkat dengan canggung. Aura dominanku rupanya berhasil membungkam mulut lancangnya dalam seketika.
"I-iya... Nggak apa-apa," gumam Larasati dengan nada yang mendadak melunak, berusaha bersikap tenang walau matanya tak lepas meneliti jam tangan berlian dan tas Hermes terbaruku. "Saya lagi terburu-buru saja."
"Mbak bilang tadi sedang hamil ya?" tanyaku lagi dengan binar mata yang polos dan penuh perhatian yang dipoles sempurna. Mataku melirik halus ke arah perutnya yang terbuka. "Masih muda sekali... Selamat ya. Jaga kerahasian dan kesehatannya baik-baik. Apalagi di tempat umum seperti ini, kasihan bayinya kalau ibunya terlalu stres karena urusan... transferan uang."
Deg.
Wajah Larasati seketika berubah tegang. Kataku transferan uang yang kusebutkan dengan begitu tenang membuat kedua matanya melebar panik.
"M-maksud Mbak apa ya?" tanya Larasati curiga, melangkah mundur satu pijakan.
Aku mengulas senyum paling manis yang pernah kubuat, menatapnya dengan tatapan mata yang penuh simpati beracun.
"Tidak ada maksud apa-apa, Mbak. Hanya memberi saran dari sesama wanita," jawabku lirih, melangkah satu tapak mendekatinya hingga aroma parfum mahal milikku mengoyak baunya. "Suami Mbak pasti pria yang sangat sibuk ya... sampai-sampai Mbak harus berteriak-teriak minta uang lima puluh juta di tengah mall."
Wajah Larasati memerah padam akibat malu. Ia menggigit bibirnya, merasa tersindir hebat di hadapan seorang wanita yang jelas-jelas berada puluhan tingkat di atas kelas sosialnya.
"Urusan suami saya bukan urusan Mbak ya! Nggak usah ikut campur!" desis Larasati, mencoba menutupi kegugupannya dengan kepura-puraan galak.
"Tentu saja bukan urusan saya," sahutku sangat santai, mengibaskan tangan pelan. "Saya hanya prihatin. Di zaman sekarang, banyak pria mengaku kaya padahal semua bisnisnya sebenarnya berdiri di atas uang istrinya. Kasihan kalau ada wanita muda yang mau dibodohi dan dijadikan simpanan hanya demi uang beberapa puluh juta yang ternyata hasil meminjam dari sana-sini."
Pupil mata Larasati membesar dalam horor yang nyata. Kalimatku mengenai uang hasil meminjam dan berdiri di atas uang istri menghantam kesadarannya bagaikan petir di siang bolong.
Sebelum Larasati sempat mencerna kalimatku atau menanyakan siapa aku sebenarnya, aku sudah berbalik arah.
"Ayo, Siska. Reservasi restoran kita bisa terlambat kalau melayani hal yang tidak penting," kataku anggun.
"Baik, Bu Tita," jawab Siska tegas.
Kami melangkah pergi meninggalkan Larasati yang berdiri mematung di tengah koridor mall. Dari pantulan kaca etalase toko di sampingku, aku bisa melihat Larasati masih menatap punggungku dengan wajah pucat, kebingungan, dan kepanikan yang mulai merayapi pikirannya.
Di dalam restoran fine dining yang tenang di lantai atas.
Aku duduk di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pencakar langit Jakarta. Segelas air mineral dingin berada di genggamanku.
Siska yang duduk di hadapanku meletakkan tabletnya setelah menerima laporan dari tim lapangan.
"Bu Tita, sesuai perkiraan," kata Siska sembari tersenyum tipis. "Baru saja Larasati menelepon Pak Aris kembali dengan histeris. Tampaknya kalimat Ibu di atrium tadi benar-benar menanamkan benih kecurigaan yang sangat besar di kepalanya."
Aku menyesap air mineralku perlahan. "Apa yang dia katakan pada Aris?"
"Larasati ngamuk besar di telepon, Bu. Dia menuduh Pak Aris pembohong, menanyakan apakah benar semua restoran Pak Aris itu sebenarnya milik istri sahnya, dan menuntut Pak Aris membelikannya mobil baru atas namanya sendiri sebelum sore ini sebagai bukti kalau Pak Aris tidak bangkrut."
Aku tertawa renyah, sebuah tawa dingin yang memenuhi sudut meja kami.
"Wanita muda yang haus harta memang sangat mudah diprovokasi, Siska,"
kataku memuji kecerdasan skenario ini. "Larasati tidak tahu siapa aku, tetapi kata-kataku telah menyulut rasa takut terbesar dalam dirinya: takut kehilangan sumber uangnya."
"Pak Aris pasti makin kewalahan, Bu. Di satu sisi dikejar utang suplier tujuh ratus lima puluh juta, di sisi lain dituntut Larasati untuk beli mobil baru, sementara uang hasil gadaian emas ibunya sudah habis dikuras adik dan istri sirinya sendiri."
Aku menatap pemandangan kota di luar jendela. Matahari siang memancar terik, seolah sedang membakar kota Jakarta dan membakar seluruh hidup Aris Pratama.
"Biarkan Aris terbakar oleh apinya sendiri, Siska," gumamku dingin. "Beri sedikit bocoran lagi pada Larasati sore ini melalui akun anonim kita. Buat Larasati tahu lokasi restoran utama Aris Kitchen yang sedang disegel suplier. Biarkan perempuan dua puluh tahun itu datang ke sana dan membuat keributan besar di depan para wartawan dan suplier."
Siska mengangguk mantap. "Instruksi dipahami, Bu Tita. Semuanya akan berjalan sesuai rencana."
Aku menyandarkan punggungku di kursi restoran yang nyaman, menyunggingkan senyum kemenangan.
Aris telah memilih wanita muda yang dangkal dan serakah untuk menggantikanku, dan kini, wanita muda yang sangat dia banggakan itu sendiri yang akan menjadi belati paling tajam untuk merobek-robek sisa kehormatan dan bisnisnya sampai tak berbekas.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣