Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Ayah, Ibu..." Raka memberanikan diri. "Aku ingin berhenti sekolah. Dengan begitu biaya kuliahku bisa dipakai untuk adik-adik."
Belum usai kalimat itu, Ibu Mira langsung menolak tegas meski suaranya parau, "Jangan bicara begitu. Kau juga pelajar berprestasi. Siapa tahu tahun ini kau lulus ujian dan menjadi pejabat. Bertahanlah sedikit lagi. Ibu baik-baik saja, sebentar lagi Ibu bisa bangun dan memasak lagi."
"Anak-anak sudah menyiapkan semuanya, Bu," bisik Yohan menahan isak tangis.
Barulah Ibu Mira terdiam, tak lagi memaksakan diri untuk bangkit.
Raka berlutut di hadapan mereka. Wajahnya teguh, tak goyah sedikit pun.
"Aku tahu Ibu melakukan ini demi masa depanku. Tapi aku sadar diri, aku tak sepandai adik Ketiga. Biarkan dia yang melanjutkan pendidikan. Aku anak sulung, sudah selayaknya aku yang membantu meringankan beban Ibu dan Ayah."
Melihat ketegasan kakaknya, Damar pun ikut berlutut. "Aku juga tak ingin sekolah lagi. Aku ingin belajar menempa besi bersama Ayah. Tubuhku kuat, aku bisa bekerja dan menafkahi adik-adik."
Tak lama kemudian, Galang dan Arga pun turut berlutut menyatakan hal yang sama. Hanya Niko yang tak tahu apa-apa karena sedang memanggil tabib.
Seina berdiri di sudut ruangan, matanya perlahan memerah. Ia kira hubungan manusia hanya berputar pada kepentingan semata, namun di sini ia melihat kasih sayang yang tulus tanpa pamrih.
Terbayang kembali masa lalunya di kediaman keluarga Hartono. Dulu ia menyisihkan seluruh gajinya bertahun-tahun hanya untuk membeli satu toko kecil. Ia berjuang sekuat tenaga hingga seluruh rumah tangga bergantung padanya. Baru setelah ia menggunakan seluruh koneksi dan hartanya untuk mengangkat derajat suaminya, barulah mereka memperlakukannya sedikit lebih baik.
Hal yang sama terjadi saat ia menikah di Keluarga Bangsawan. Awalnya ia dipersulit dalam segala hal, disalahkan atas kesalahan orang lain, hingga ia mengeluarkan seluruh mas kawinnya demi menyelamatkan keuangan keluarga itu. Baru setelah suaminya berubah menjadi lebih baik, perlahan pandangan mertuanya pun berubah.
"Cukup salah satu dari kalian yang berhenti sekolah. Kalian yang harus memutuskan siapa," ucap Yohan akhirnya.
"Tapi Yan..." Ibu Mira menatap suaminya tak percaya.
Yohan menghela napas panjang. "Mereka sudah dewasa dan punya pemikiran sendiri. Sudah saatnya kita memberi kepercayaan."
Ibu Mira akhirnya terdiam, tak sanggup lagi menahan kehendak anak-anaknya.
"Adik Kedua," ucap Raka menatap tajam. "Aku kakakmu, sudah kewajibanku menjaga kalian semua. Kau tetaplah belajar dengan tekun."
"Kakak tahu sendiri kemampuanku," balas Damar tak mau kalah. "Aku tak pandai menggores pena sepertimu. Mungkin aku takkan pernah lulus ujian kerajaan. Tapi kau pintar, kau harus melanjutkan. Lagipula, apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh yang tak sekuat ini?"
Wajah Raka memerah menahan amarah. Aku ini sehat walafiat! Tidak semua orang harus bertubuh besar dan kekar namun kosong kepala seperti kau!
"Cukup. Kalian nanti bicarakan sendiri. Tabib sebentar lagi tiba, jangan terus berlutut begini," tegur Yohan pelan.
Rasa bersalah kembali menghujam dadanya. Ia tahu betapa kecilnya penghasilannya, tak cukup untuk menyekolahkan kelima putranya sekaligus.
Setelah berdiri, keduanya masih saling memandang dengan kepala tegak, tak ada yang mau mengalah.
Seina menyaksikan semuanya dengan hati yang terenyuh. Ia pun merasa sedih, mengingat di masa lalu ia bisa memulai usaha bermodal besar, namun di kehidupan ini keluarganya bahkan sulit memenuhi perut.
'Sehebat apa pun juru masak, tak bisa memasak tanpa beras. Jika aku ingin membangun usaha seperti dulu, aku harus mencari jalan sendiri. Untuk sekarang... sepertinya aku hanya bisa melihat dan menunggu waktu yang tepat.'
cerita nya juga seru