Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
[ Nama Aslimu ]
Pagi itu, markas kepolisian dipenuhi ucapan selamat. Keberhasilan menangkap Vincent Lawson menjadi berita utama di seluruh negeri. Para petugas tersenyum bangga, media terus berdatangan, bahkan Komandan menerima penghargaan atas operasi yang telah disusun selama dua tahun.
Namun di tengah semua itu, Zhava Vianzya sama sekali tidak merasakan kemenangan.
Ia hanya berdiri memandangi cincin pertunangan yang masih melingkar di jari manisnya. Kilauan berlian itu terasa seperti luka yang tidak berhenti mengingatkannya pada malam kemarin.
"Letnan."
Suara Komandan membuyarkan lamunannya.
"Vincent akan dipindahkan ke tahanan pusat tiga hari lagi."
Zhava mengangkat kepalanya.
"Sebelum itu, kau diminta mengambil keterangan terakhir darinya."
"Baik, Komandan."
Jawaban itu terdengar datar.
Bukan karena ia siap bertemu Vincent.
Melainkan karena ia tahu... cepat atau lambat, pertemuan itu memang harus terjadi.
Ruang interogasi terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.
Vincent duduk dengan pakaian tahanan berwarna abu-abu. Kedua tangannya tidak lagi diborgol karena ia sama sekali tidak pernah melakukan perlawanan sejak ditangkap.
Ketika pintu terbuka dan Zhava masuk, Vincent perlahan mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada amarah.
Hanya kelelahan yang sama-sama mereka sembunyikan.
Zhava duduk di kursi seberangnya sambil membuka map berisi berkas pemeriksaan.
Tangannya gemetar.
Beberapa detik berlalu tanpa satu kata pun.
Akhirnya Vincent memecah keheningan.
"Jadi... nama aslimu Zhava Vianzya."
Zhava menundukkan kepala.
"Iya."
"Nama Rhea Azlyn juga palsu?"
"Iya."
Vincent tersenyum kecil.
Senyum yang sangat pahit.
"Lucu ya."
Zhava menatapnya.
"Apa?"
"Selama dua tahun..."
"...aku bahkan jatuh cinta kepada nama yang tidak pernah benar-benar ada."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk perlahan.
Zhava menggigit bibirnya agar tidak menangis.
Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau mengakui semua tuduhan tanpa didampingi pengacara?"
Vincent menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Aku lelah."
"Lelah?"
"Aku sudah terlalu lama hidup dengan kebencian."
Ia menatap langit-langit ruangan.
"Dulu aku berpikir uang, kekuasaan, dan balas dendam bisa membuat hidupku utuh."
"Ternyata tidak."
"Lalu setelah bertemu Rhea..."
Vincent berhenti sejenak sebelum mengoreksi ucapannya sendiri.
"Setelah bertemu... Zhava."
"Aku baru tahu rasanya ingin hidup sebagai manusia biasa."
Ruangan kembali sunyi.
Zhava merasakan dadanya semakin sesak.
Karena setiap kalimat Vincent terdengar begitu tulus.
"Aku boleh bertanya satu hal?"
Zhava mengangguk pelan.
"Silakan."
Vincent menatapnya lama.
"Selama dua tahun itu..."
"...apa benar tidak ada satu pun yang nyata?"
Pertanyaan itu membuat Zhava membeku.
Ia mencoba membuka mulut.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Vincent tersenyum tipis.
"Jawabanmu ternyata sesulit itu."
"Aku..."
Zhava akhirnya berbicara dengan suara yang bergetar.
"Awalnya memang hanya tugas."
Vincent memejamkan mata.
Kalimat itu saja sudah cukup menghancurkannya.
"Tapi..." lanjut Zhava lirih.
"...aku tidak pernah berpura-pura saat mulai mencintaimu."
Vincent perlahan membuka mata.
Untuk pertama kalinya sejak ditangkap...
Ada air mata yang jatuh dari sudut matanya.
"Aneh ya..."
Ia tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Aku seharusnya bahagia mendengar itu."
"Tapi kenapa..."
"...justru sekarang?"
Zhava menundukkan kepala.
Karena ia tahu.
Pengakuan cinta yang datang setelah sebuah pengkhianatan...
tidak akan pernah bisa mengembalikan apa pun.
Petugas di luar ruangan mengetuk pintu.
"Waktu interogasi selesai."
Zhava berdiri perlahan.
Ia menutup map di tangannya, lalu berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Vincent kembali memanggilnya.
"Zhava."
Ia berhenti, tetapi tidak berani menoleh.
"Terima kasih."
Zhava akhirnya menoleh dengan mata yang dipenuhi air mata.
"Untuk apa?"
Vincent tersenyum tipis.
"Karena selama dua tahun..."
"...meski semuanya berawal dari kebohongan."
"...kau tetap memberiku kenangan paling indah yang pernah kumiliki."
Zhava tidak sanggup menjawab.
Ia berlari keluar dari ruangan sambil menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar.
Sementara Vincent tetap duduk di kursinya.
Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.
Ia sadar...
Wanita yang dicintainya memang masih mencintainya.
Namun cinta yang terlambat diakui...
tidak pernah cukup untuk menghapus luka yang telah terjadi. 💔