Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Bab 2
Kembali ke kamar kost Lusi…
Tangan Lusi yang mengepal di atas bunga kuburan mulai berkeringat. Kelopak-kelopak bunga itu sudah remuk di genggamannya, mengeluarkan bau anyir bercampur wangi yang aneh.
Mantra terus mengalir.
"Sun amatek adjiku semar mesem... ajiku semar mesem... ajiku semar mesem..."
Semakin lama suaranya semakin dalam, semakin berat, seolah bukan lagi suara gadis dua puluh tahun, melainkan suara seorang perempuan tua yang sudah melewati puluhan tahun menjalani hidup pahit. Lusi sendiri tidak sadar dengan perubahan itu. Ia sudah masuk ke trance ringan setengah sadar, setengah melayang. Pikirannya kosong, tapi mulutnya terus melafalkan mantra yang seperti sudah dihafal oleh lidahnya sejak lahir.
“...tumancep kumanthil ono ing ati…”
Di depannya, foto Irawan mulai terlihat... berbeda.
Mungkin cuma trik cahaya lilin. Mungkin cuma halusinasi akibat puasa tiga hari. Tapi Lusi bisa bersumpah, mata Irawan di foto itu seperti berkedip. Dan senyumnya senyum yang dulu begitu ia cintai sekarang terlihat seperti senyum setan yang tertangkap basah.
"Kamu jahat, Wan..."
Lusi tiba-tiba berbicara sendiri. Suaranya kini berubah lagi. Kali ini seperti anak kecil yang merengek. Rapuh. Pecah.
"Kamu jahat banget... aku sayang kamu... tapi kamu apain aku?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tahan. Ia tidak boleh menangis. Bukan saat ini. Air mata bisa merusak energi ritual, katanya. Air mata bisa melemahkan niat.
Tapi siapa yang bisa menahan tangis ketika mengingat kembali semuanya?
Ketika setiap kali memejamkan mata, ia masih bisa merasakan tangan-tangan kasar yang menyentuhnya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Ketika ia masih bisa mendengar suara tawa mereka yang memekik di telinganya. Ketika video berdurasi delapan menit dua puluh tiga detik itu terlanjur tersimpan di otaknya, terputar berulang-ulang seperti film horor yang tidak bisa dimatikan.
"AKU SUMPAHIN KAMU, WAN!"
Lusi menjerit. Suaranya pecah. Lilin-lilin di depannya berkedip serempak, nyaris padam sebelum akhirnya menyala lagi tapi dengan warna api yang berbeda. Lebih redup. Lebih... biru.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun. Tangannya kini menggenggam foto itu, meremasnya, membuat kertasnya kusut. Wajah Irawan di foto itu kini terlipat, terdistorsi. Persis seperti jiwa Lusi yang sudah terlipat dan terdistorsi oleh pengkhianatan.
"AKU SUMPAHIN KAMU SAMA TEMEN-TEMENMU! KALIAN BAKAL NGERASAIN APA YANG AKU RASAIN! KALIAN BAKAL…”
Braakk…
Brakkkk …
Brakkk…
Pintu kamar kost Lusi tiba-tiba bergetar…
Lusi langsung membeku. Mulutnya setengah terbuka, menggantung di udara. Matanya melebar, menatap pintu kost-nya yang terbuat dari kayu triplek tipis.
Siapa?
Siapa yang mendobrak pintu tengah malam begini?
Pikirnya.
"Lus?"
Suara itu. Suara yang dikenalnya. Suara yang tidak mungkin ada di sini. Tidak mungkin ada di depan kamarnya pada pukul dua belas malam.
"Lus, kamu di dalam? Ini aku... Irawan."
Darah Lusi berhenti mengalir.
Dan foto yang ada di tangannya... mendadak terasa panas seperti bara api.
Satu tahun lalu, Universitas Adiloka, Surabaya.
Hari pertama kuliah selalu jadi neraka buat Lusi.
Bukan karena mata kuliahnya susah. Bukan karena dosennya galak. Tapi karena satu hal yang selalu membuat perutnya mual sejak bangun tidur: manusia. Terlalu banyak manusia. Terlalu banyak suara. Terlalu banyak mata yang menatap dan menurut paranoia Lusi menghakimi.
"Eh, liat deh. Itu anak baru ya? Kok jalannya aneh gitu?"
"Ck, cupu banget sih fashion-nya. Jaman sekarang masih ada yang pake jilbab warna cokelat susu gitu?"
"Sendirian mulu deh kayaknya. Nggak punya temen kali."
Lusi mendengar semuanya. Atau mungkin dia cuma mengira mendengar. Kadang-kadang dia nggak bisa bedain mana bisikan nyata dan mana bisikan di kepalanya sendiri. Tapi tetap saja, setiap kali ada segerombolan mahasiswa yang lewat dan tertawa, dia langsung merasa merekalah yang menertawakan dirinya.
Tangannya mengepal di samping tubuh. Kepalanya menunduk. Langkahnya dipercepat menuju gedung Fakultas Ekonomi bangunan tua bergaya kolonial Belanda yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, tapi tetap berdiri angkuh dengan pilar-pilar besar dan jendela-jendela tinggi.
Cepet masuk kelas. Duduk paling belakang. Jangan ngomong sama siapa-siapa. Pulang.
Itu mantra yang Lusi ucapkan pada dirinya sendiri setiap pagi. Bukan mantra warisan leluhur, cuma strategi bertahan hidup ala anak introvert dengan kepercayaan diri setipis kulit bawang.
Tapi hari itu, semesta punya rencana lain.
"WOI, ANAK BARU!"
Lusi baru saja menapaki anak tangga ketiga menuju lantai dua ketika suara itu menggelegar di belakangnya. Suara berat, penuh intimidasi, dan jelas-jelas diarahkan padanya. Kaki Lusi langsung berhenti. Punggungnya menegang. Bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri.
Jangan noleh. Jangan noleh. Pura-pura nggak denger.
"EH, LO! YANG PAKE JILBAB COKELAT! TULI YA?"
Kali ini suaranya lebih dekat. Dan lebih banyak. Lusi bisa mendengar langkah kaki beberapa pasang sepatu naik ke arahnya. Suara tawa cekikikan menyertai. Perempuan dan laki-laki.
Dengan gerakan lambat seperti robot yang kehabisan baterai, Lusi berbalik.
Empat orang.
Dua laki-laki, dua perempuan. Semuanya memakai jaket almamater yang sama dengan lambang Universitas Adiloka di dada kiri. Tiga dari mereka terlihat seperti mahasiswa biasa. Tapi satu yang berdiri paling depan yang tadi berteriak jelas bukan mahasiswa biasa.
Perempuan. Tinggi. Badannya langsing tapi kekar, seperti atlet bela diri. Rambutnya dikuncir kuda, diwarnai pirang ombre yang kontras banget sama kulit sawo matangnya. Matanya tajam, hidungnya mancung, dan bibirnya tersenyum miring senyum khas predator yang sudah menemukan mangsanya.
Namanya Ratih.
"A... ada apa, Kak?" suara Lusi bergetar. Matanya langsung menunduk, menghindari kontak mata.
"Ada apa? LO TANYA ADA APA?" Ratih tertawa keras, diikuti oleh tiga pengikutnya. "Gue cuma mau kenalan, adik kecil. Lo anak baru ya? Jurusan apa?"
"A... Akuntansi..."
"AKUNTANSI!" seru Ratih dramatis, lalu menoleh ke teman-temannya. "Denger tuh, cupu banget jurusannya. Pantesan gayanya kayak orang stress gara-gara utang."
Tawa meledak. Beberapa mahasiswa lain yang lewat di sekitar anak tangga mulai memperhatikan. Ada yang ikut nyengir, ada yang cuma melirik kasihan lalu buru-buru pergi, dan ada yang mengeluarkan ponsel. Zaman sekarang, semuanya adalah konten.
Lusi berdiri mematung di anak tangga. Tangannya yang menggenggam tali tas ransel bergetar hebat. Matanya masih menunduk, menatap ujung sepatu conversenya yang sudah kusam. Ia ingin ngomong sesuatu, apa saja, tapi lidahnya terasa mati rasa.
"Eh, ngomong dong! Lo bisu ya?!" Ratih maju selangkah. Sekarang jarak mereka cuma setengah meter. Lusi bisa mencium parfum murahan yang dipakai kakak tingkat itu. Manis, tapi menusuk. "Sini gue liat muka lo. Jilbabnya dibuka dulu kali ya biar keliatan..."
Tangan Ratih terangkat. Menjulur ke arah kepala Lusi.
Dan saat itu juga…
"RATIH."
Suara bariton yang tenang tapi tajam. Bukan teriakan. Justru karena nggak berteriak, suara itu jadi lebih mengancam. Seperti pisau yang diasah diam-diam sebelum menusuk.
Ratih berhenti. Tangannya menggantung di udara. Ekspresinya langsung berubah dari beringas jadi... waspada.
Lusi memberanikan diri mendongak.
Dari ujung koridor lantai dua, seorang laki-laki berjalan mendekat. Langkahnya santai, tangannya dimasukkan ke saku celana jeans hitam. Rambutnya hitam agak gondrong, disisir ke belakang. Kulitnya putih bersih terlalu bersih buat ukuran mahasiswa di Surabaya yang biasanya gosong kena matahari. Rahangnya tegas, alisnya tebal, dan di pipi kirinya ada lesung pipi yang muncul saat dia tersenyum tipis.
Lesung pipi itu yang pertama kali ditangkap oleh mata Lusi.
Lesung pipi itu yang entah kenapa langsung membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥