NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 - Hendra Juga Kehilangan Nama Ayah

Hendra datang ke kantor Siska dengan marah.

Ia tidak datang sendiri. Clara ikut di belakangnya, memakai kacamata hitam meski mereka berada di dalam gedung. Wajahnya dibuat tenang, tapi jari-jarinya terus meremas tali tas.

"Apa maksudmu menyebarkan isu gila?" Hendra langsung menunjuk Ratna begitu pintu ruang rapat dibuka. "Kamu mau balas dendam sampai anak sendiri kamu seret?"

Ratna duduk di sisi meja. Arga ada di sebelahnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Hendra makin panas. Siska berdiri di dekat papan kaca dengan map berisi dokumen.

"Duduk, Pak Hendra," kata Siska. "Kalau Bapak berteriak, saya minta security."

"Saya tidak bicara dengan Anda."

"Di ruangan ini, semua bicara lewat saya."

Hendra tertawa menghina. "Sekarang kamu pakai pengacara untuk mengatur mulut mantan suami?"

Ratna menatapnya lama.

"Duduk, Hendra."

Nama tanpa Mas itu membuat Hendra terdiam sebentar. Dulu Ratna selalu menjaga sopan, bahkan saat marah. Hari itu ia terdengar seperti perempuan yang sudah menutup pintu rumah lama.

Hendra akhirnya duduk.

Clara memilih kursi paling ujung. Ia tidak memandang siapa pun.

Siska membuka pembicaraan. "Kami sudah melakukan pemeriksaan awal antara Ratna dan Raka. Hasilnya tidak mendukung hubungan biologis ibu-anak."

Hendra memukul meja. "Saya tidak percaya."

"Bagus," kata Ratna dingin. "Aku juga tidak percaya. Karena itu kamu harus tes."

"Untuk apa?"

"Untuk membuktikan kamu ayahnya."

Hendra membuka mulut, lalu menutupnya.

Keheningan itu terlalu singkat, tapi Ratna melihatnya. Arga juga.

"Kenapa diam?" tanya Ratna.

"Karena ini penghinaan."

"Lebih menghina mana? Dites atau dua puluh delapan tahun hidup dalam kebohongan?"

Clara tiba-tiba bersuara. "Mas Hendra, lakukan saja. Kalau Raka memang anakmu, selesai."

Hendra menoleh tajam. "Kamu diam."

Clara tersenyum tipis. "Aku diam terlalu lama. Makanya sekarang semua orang duduk di sini."

Ratna memandang Clara. Perempuan itu bukan korban. Ia licik, penuh hitungan, dan masih mengejar keuntungan. Namun hari itu ada sesuatu di wajahnya yang membuat Ratna paham: Clara juga takut Hendra menghabisinya setelah rahasia keluar.

Tes resmi dilakukan sore itu di laboratorium swasta yang direkomendasikan Siska. Raka datang dengan Maya. Ia tidak bicara kepada Hendra. Hendra mencoba memegang bahunya, tapi Raka mundur.

"Jangan dulu, Pa."

Hendra terlihat tersinggung. "Kamu percaya mereka?"

Raka menatapnya dengan mata merah. "Aku percaya kertas yang kemarin menghancurkan Mama."

Hendra tidak punya jawaban.

Maya berdiri di samping Raka. Ia membawa Bima yang tertidur di gendongan. Wajahnya letih, tapi sikapnya tegas.

"Apa pun hasilnya," kata Maya pelan kepada Ratna, "Bima tetap cucu yang memanggil Mama Eyang."

Ratna hampir menangis lagi.

"Terima kasih."

Maya mengangguk. "Saya marah pada Raka, bukan pada keluarga yang membesarkannya."

Hasil Hendra keluar dua hari kemudian.

Kali ini Ratna tidak menunggu di apartemen. Ia menunggu di ruang rapat Wijaya Group karena Arga harus menyelesaikan tanda tangan kontrak besar. Ratna tidak ingin mengganggu, tapi Arga menolak membiarkannya sendirian.

"Aku bisa menunggu di rumah."

"Aku tahu kamu bisa," kata Arga. "Tapi aku ingin kamu di tempat yang mudah kutemukan."

"Kamu mulai suka mengatur?"

"Sedikit."

Ratna meliriknya.

Arga mengangkat tangan menyerah. "Aku belajar pelan-pelan."

Kalimat ringan itu hampir membuat Ratna tersenyum, sampai Siska datang membawa hasil.

Raka ikut masuk. Wajahnya sudah seperti orang yang tidak tidur beberapa malam.

Hendra datang terakhir. Mama Sulastri bersamanya.

Perempuan tua itu memakai kebaya sederhana dan kerudung tipis. Biasanya ia suka mengeluh, menyalahkan Ratna, dan membela Hendra dalam setiap hal. Hari itu ia tidak banyak bicara. Tangannya terus memegang tasbih kecil.

Siska meletakkan hasil di meja.

"Hasil pemeriksaan resmi menunjukkan Hendra juga bukan ayah biologis Raka."

Raka tertawa satu kali.

Suara itu membuat semua orang membeku.

"Jadi aku benar-benar bukan anak siapa-siapa di ruangan ini?"

"Raka," Ratna berdiri.

Raka mundur. "Jangan. Aku takut kalau Mama peluk aku, aku malah tidak bisa napas."

Hendra meraih kertas itu. Matanya bergerak cepat. "Tidak mungkin. Ini pasti salah."

Siska berkata, "Laboratorium terakreditasi. Kalau Bapak ingin pembanding, silakan. Tapi hasil ini cukup kuat untuk membuka penyelidikan."

Hendra menoleh kepada Mama Sulastri. "Ma?"

Mama Sulastri menunduk.

Ratna menangkap gerakan itu.

"Mama tahu sesuatu."

"Aku tidak tahu apa-apa," kata Sulastri cepat.

"Aku belum tanya apa-apa."

Sulastri menggenggam tasbih lebih kuat. "Jangan bongkar masa lalu. Sudah lewat. Anak yang dibesarkan tetap anak. Untuk apa cari-cari darah? Nanti semua sakit."

Ratna berjalan mendekat. "Anakku di mana?"

"Aku bilang aku tidak tahu!"

Suara Sulastri melengking. Terlalu keras untuk orang yang tidak tahu.

Hendra memegang lengan ibunya. "Ma, jawab."

"Kamu diam!" Sulastri memukul tangannya. "Semua ini gara-gara kamu tidak bisa menjaga rumah. Kalau kamu tidak bawa perempuan itu, Ratna tidak akan menggali semuanya."

Clara tidak hadir, tapi namanya seperti duduk di kursi kosong.

Raka menatap nenek yang membesarkannya dari jauh. "Nek, aku anak siapa?"

Sulastri menutup telinga. "Jangan panggil aku begitu."

Kalimat itu lebih kejam dari hasil tes.

Raka pucat. Maya langsung menggenggam tangannya.

Ratna tidak lagi bisa menahan diri.

"Selama ini kamu menyuruhku melayani keluarga ini, menerima hinaan, menerima Hendra pulang larut, menerima Raka marah kepadaku. Kalau kamu tahu sesuatu dan diam, kamu bukan hanya mencuri anakku. Kamu mencuri hidup kami semua."

Sulastri menangis, tapi tangisnya bukan penyesalan. Tangisnya seperti orang yang takut pintunya didobrak.

"Dulu semua orang susah," katanya. "Kalian tidak mengerti."

Arga yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Kesusahan tidak memberi hak menukar anak orang."

Sulastri menatapnya benci. "Ini urusan keluarga kami."

"Bukan lagi," jawab Arga. "Ada kemungkinan tindak pidana."

Hendra terduduk. Untuk pertama kalinya ia terlihat bukan seperti laki-laki sombong, melainkan anak yang ibunya sembunyikan sesuatu terlalu lama.

Ratna menatap Siska.

"Cari Bu Nanik."

Siska mengangguk. "Saya sudah kirim orang ke Depok."

Sulastri langsung berdiri. "Jangan ganggu Nanik. Dia sudah tua."

Semua mata beralih kepadanya.

Ratna mendekat satu langkah.

"Jadi kamu ingat namanya."

Sulastri menutup mulut. Terlambat.

Di ruangan itu, tidak ada lagi yang bisa berpura-pura bahwa rahasia Clara hanya gosip perempuan simpanan.

Ada bayi yang hilang.

Dan seseorang di keluarga Hendra tahu jalan menuju kubur hidup itu.

Raka keluar dari ruangan lebih dulu. Maya menyusul sambil menggendong Bima yang mulai terbangun. Di lorong, Raka berhenti di depan jendela besar dan memukul pelan bingkainya.

"Aku tidak tahu harus sedih sebagai siapa," katanya.

Maya berdiri di sampingnya. "Sebagai dirimu dulu."

"Diriku yang mana?"

Maya tidak langsung menjawab. Ia menggeser Bima ke bahu lain, lalu berkata, "Yang sedang bingung. Itu cukup untuk hari ini."

Raka menatap anaknya. Bima membuka mata dan tersenyum mengantuk.

"Ayah," gumam anak itu.

Raka hampir menangis lagi.

Di belakang mereka, Ratna melihat punggung Raka dan memahami sesuatu yang membuat lukanya makin rumit. Kebenaran tidak hanya mengembalikan anak yang hilang. Kebenaran juga mengguncang anak yang selama ini ada di depannya.

Ia harus mencari satu tanpa melepaskan yang lain.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!