"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
Jenny malah diam mematung.
Ctek
Nathan terlihat menjentikkan jarinya, membuat lamunan Jenny seketika buyar.
"Maafkan saya, Tuan," kata Jenny dengan penuh perasaan, "masih belum ada seseorang yang mampu membuat hati saya berlabuh pada cinta. Anda yang selalu mengikuti perjalanan hidup saya, tentu paham bahwa selama ini saya juga tidak pernah berpacaran. Mari kita fokus pada pelajaran sekarang, sebelum Nyonya Vina pulang. Saya takut kalau nanti Nyonya Vina itu marah," jelas jenny dengan wajah yang terlihat serius.
Mendengar penjelasan Jenny mengenai ciuman yang terjadi karena salah paham, serta pengakuan jujur tentang belum pernah jatuh cinta, membuat hati Nathan lega. "Aku berharap Jenny selalu berkata jujur dan tidak pernah berniat untuk membohongiku," gumamnya dalam hati, berharap ada kepastian yang bisa ia genggam.
Jenny kemudian mengambil rekaman box milik tuannya, dengan langkah pasti, ia memutar kembali rekaman yang ada di dalam box itu.
Saat itulah, Nathan merasakan semakin yakin bahwa kejujuran yang diperlihatkan Jenny adalah tanda bahwa ia bisa mempercayai gadis ini. Terdapat sinar harapan yang muncul di hati Nathan, seiring melihat Jenny yang tengah serius melanjutkan pelajarannya.
"Kenapa di putar kembali rekaman itu? Aku kira kamu akan mematikannya!" keluh Nathan dengan wajah bingung, sembari menatap ke arah wajah pelayannya.
"Bu - bukankah tadi, tuan itu tidak mendengarkan rekaman itu," sahut Jenny dengan nada terbata, ia mulai merasa takut, kala tuannya itu terlihat menatapnya dengan tatapan begitu dalam.
Nathan tersenyum miring, lalu tanpa ragu ia mencium dan melumat bibir Jenny dengan sangat lembut. Ia begitu senang, kala melihat gadis yang saat ini ada di depannya itu tidak memberontak atau pun menolak ciuman yang di berikan dirinya sekarang ini.
"Mungkinkah ini tanda bahwa dia mulai merasa nyaman denganku?" batin Nathan.
Ciuman yang awalnya hanya sebuah kecupan, kini berubah menjadi ciuman yang menggetarkan jiwa. Nathan terlihat memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jenny, merasakan setiap detil di dalamnya, sementara pikirannya terus melayang tentang kemungkinan Jenny akhirnya menerima cintanya.
Tanpa Jenny sadari sendiri, ia membalas lumatan Nathan, membuat keduanya saling bertukar saliva. Melihat respon yang diberikan oleh Jenny, Nathan merasa semakin yakin bahwa tak lama lagi, Jenny pasti akan masuk ke dalam belenggu cintanya.
"Akankah sebentar lagi mimpiku menjadi kenyataan? Apakah cintaku padanya akan segera terbalas?" gumam Nathan dalam hati. Ciuman mereka berlangsung sangat lama, hingga lima menit kemudian Nathan melepaskan ciuman itu.
"Terima kasih banyak, Jenny. Kamu mau membalas ciuman yang aku berikan," kata Nathan dengan nada yang terdengar menggetarkan jiwa. "Apa arti balasan ini? Apakah ini tandanya bahwa pintu hatinya mulai terbuka untukku?" Nathan berharap demikian, seiring dengan berjalannya waktu yang semakin membuat perasaannya kepada Jenny semakin mendalam.
Jenny terdiam dan tak percaya dengan apa yang baru diungkapkan oleh tuannya, Nathan. Ia tak sadar kalau tadi, saat Nathan mencium bibirnya, tanpa disadari ia membalas ciuman dan juga lumatan tersebut.
"Apa? Apa yang baru saja aku lakukan?" gumam Jenny sembari memegang bibirnya yang masih merasakan sensasi ciuman tadi.
"Kamu tadi membalas ciuman yang aku berikan, dan ciuman itu kurang empat kali lagi. Karena sudah 5 jam kamu tidak memberikan ciuman itu lagi, seharusnya kamu mencium ku setiap satu jam, Jenny. Sekarang cium aku!" pinta Nathan dengan ekspresi serius.
"Hah..." Jenny hanya bisa terkejut, seraya menelan ludahnya yang terasa kelu.
"Kalau tidak—" Ancaman Nathan terhenti ketika Jenny tiba-tiba menciumnya.
Meskipun hanya kecupan singkat, namun cukup membuat hati Nathan merasa senang dan puas.
"Kurang empat ciuman lagi. Kalau tidak, aku yang akan menghabiskan bibirmu yang selalu menjadi candu ini," kata Nathan, memancing senyum malu dari Jenny.
kalo berkenan mampir juga ya😉