NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 - Reuni yang Salah

Ratna sebenarnya tidak ingin datang.

Undangan reuni SMA itu muncul di grup lama yang sudah bertahun-tahun jarang ia buka. Biasanya ia hanya membaca sekilas, memberi jempol jika ada yang ulang tahun, lalu kembali diam.

Namun kali ini nama Hendra disebut berkali-kali.

"Hendra bawa istri, ya!"

"Dengar-dengar Hendra sukses banget sekarang."

"Ratna ikut dong. Sudah lama tidak lihat pasangan legendaris kelas kita."

Pasangan legendaris.

Ratna membaca kalimat itu dengan perasaan hambar.

Dulu, ia dan Hendra memang dikenal begitu. Teman sebangku yang akhirnya menikah. Ratna yang membantu Hendra belajar. Hendra yang katanya berjanji akan membahagiakan Ratna.

Cerita lama memang sering terdengar indah karena orang tidak melihat bagian setelahnya.

Ratna hendak mengabaikan undangan itu sampai Maya mengirim pesan pribadi.

"Ma, Papa sepertinya akan datang dengan Clara. Aku dengar dari Raka. Kalau Mama tidak datang, orang akan mengira Mama yang kalah."

Ratna menatap pesan itu lama.

Kalah.

Ia tidak sedang bertanding memperebutkan Hendra. Tapi ia juga tidak mau membiarkan Hendra membawa kebohongannya ke depan orang-orang yang mengenal masa lalunya.

Bu Laras, tentu saja, langsung bersemangat.

"Datang."

"Bu, ini reuni sekolah saya. Bukan acara penting."

"Justru penting. Orang-orang masa lalu perlu melihat kamu tidak mati setelah ditinggal laki-laki bodoh."

"Saya belum ditinggal. Saya yang menggugat."

"Lebih bagus lagi."

Ratna akhirnya datang.

Ia memakai gaun merah marun yang dulu dibelinya, dipadukan kerudung warna lembut dan sepatu nyaman. Tidak berlebihan. Tidak seperti perempuan yang ingin membuktikan sesuatu. Hanya seperti dirinya yang sudah lama tidak diberi kesempatan muncul.

Acara diadakan di restoran hotel kawasan Senayan. Saat Ratna masuk, beberapa orang langsung menoleh.

"Ratna?"

Seorang perempuan bernama Yuni berdiri dengan mata membesar.

"Ya Allah, kamu Ratna? Cantik banget!"

Ratna tersenyum.

"Kamu juga, Yun."

Teman-teman lama mengerubunginya. Ada yang memuji, ada yang kaget, ada yang langsung bertanya Hendra di mana. Ratna menjawab seperlunya.

"Belum datang."

Ia memilih duduk di meja ujung, dekat jendela. Beberapa menit kemudian, Hendra masuk.

Bersama Clara.

Ruangan mendadak berubah.

Orang-orang yang tadi tertawa mulai saling pandang. Clara tampak cantik dengan dress putih dan riasan lembut. Hendra memakai batik mahal, wajahnya dipasang tenang seolah tidak ada yang salah.

Ia melihat Ratna.

Langkahnya berhenti sepersekian detik.

Clara juga melihat Ratna. Senyumnya menegang.

Yuni berbisik, "Itu siapa?"

Ratna mengangkat gelas.

"Sekretaris Hendra."

Yuni langsung paham dari nada suara itu.

Teman laki-laki bernama Budi mencoba mencairkan suasana.

"Wah, Hendra datang juga. Lama tidak ketemu. Ini..."

Hendra tersenyum.

"Clara. Rekan kerja."

Ratna menatap gelasnya.

Rekan kerja.

Clara menunduk manis.

"Senang bertemu teman-teman Mas Hendra."

Beberapa orang tersenyum canggung.

Makan malam dimulai dengan percakapan yang dipaksakan. Hendra sengaja duduk tidak jauh dari Ratna. Clara di sampingnya. Ratna merasa beberapa mata bergantian menatap mereka seperti menonton sinetron tanpa suara.

Setelah hidangan utama, Budi mengangkat gelas.

"Dulu Hendra dan Ratna ini pasangan paling bikin iri. Ratna yang paling galak kalau Hendra malas belajar."

Tawa kecil terdengar.

Hendra tersenyum, mungkin lega karena topik kembali aman.

"Iya, Ratna memang dari dulu keras."

Ratna menatapnya.

"Kalau aku tidak keras, kamu mungkin tidak lulus."

Meja langsung tertawa lebih lepas.

Hendra ikut tertawa, tapi matanya tidak.

Yuni menimpali, "Aku masih ingat Ratna jualan kue di sekolah buat bantu biaya buku Hendra."

Teman lain berkata, "Waktu Hendra kuliah juga Ratna yang kerja, kan? Hebat banget kamu, Rat."

Ratna hanya tersenyum.

Hendra mulai tidak nyaman.

Clara menunduk, memainkan sendok.

"Masa lalu memang penuh perjuangan," kata Hendra akhirnya. "Tapi sekarang semua sudah berbeda. Setiap orang punya jalan masing-masing."

Ratna menaruh sendok.

"Betul. Ada yang jalannya ke rumah, ada yang jalannya ke apartemen rahasia."

Meja sunyi.

Clara pucat.

Hendra menatap Ratna tajam.

"Ratna."

Ratna tersenyum tipis.

"Apa? Aku hanya bicara jalan."

Yuni menahan napas. Budi pura-pura minum. Beberapa teman mulai saling kirim pandang.

Hendra menurunkan suara.

"Jangan buat keributan."

"Aku duduk tenang sejak tadi. Kamu yang membawa sekretarismu ke reuni pasangan legendaris."

Clara tiba-tiba berdiri dengan mata berkaca-kaca.

"Mbak Ratna, aku tahu Mbak tidak suka padaku. Tapi jangan mempermalukan Mas Hendra di depan teman-temannya."

Ratna menatapnya.

"Kamu datang sebagai apa?"

Clara terdiam.

"Rekan kerja?" tanya Ratna. "Kalau begitu kenapa duduk menempel seperti istri?"

Wajah Clara merah.

Hendra berdiri.

"Cukup."

Saat itu pintu restoran terbuka lagi.

Arga Wijaya masuk bersama Hanif dan dua orang rekan bisnis. Mereka tampaknya datang untuk pertemuan lain di ruang privat restoran yang sama. Namun begitu melihat Ratna, Bu Laras yang ternyata ikut di belakang langsung berseru.

"Ratna!"

Semua orang menoleh.

Bu Laras berjalan mendekat dengan senyum lebar, seolah tempat itu miliknya.

"Kamu cantik sekali malam ini."

Ratna terkejut.

"Bu Laras? Pak Arga?"

Arga tampak sama terkejutnya, meski wajahnya tetap tenang. Ia melihat Hendra, Clara, lalu suasana meja yang tegang. Dalam satu detik ia mengerti cukup banyak.

Bu Laras menggandeng tangan Ratna.

"Arga, lihat. Kalau nanti ada acara gala minggu depan, Ratna harus pakai warna seperti ini. Cocok sekali."

Teman-teman Ratna mulai berbisik.

"Itu Bu Laras Wijaya?"

"Arga Wijaya?"

Hendra tampak seperti menelan batu.

Arga menatap Ratna.

"Ibu baik-baik saja?"

Ratna mengangguk.

"Baik, Pak. Ini reuni sekolah."

Bu Laras melirik Clara.

"Oh. Reuni sekolah, tapi ada sekretaris ikut? Zaman sekarang sekolahnya fleksibel sekali."

Beberapa orang menahan tawa.

Clara hampir menangis sungguhan.

Hendra tidak bisa menegur Bu Laras. Ia hanya berdiri kaku.

Ratna menyentuh tangan Bu Laras pelan.

"Bu, tidak apa-apa."

Bu Laras menatapnya.

"Yakin?"

"Yakin."

Ratna berdiri. Ia menatap teman-teman lamanya.

"Maaf kalau suasananya jadi tidak nyaman. Aku dan Hendra sedang proses perceraian. Jadi kalau nanti ada kabar macam-macam, kalian dengar dari aku dulu. Aku tidak meninggalkan rumah karena laki-laki lain. Aku pergi karena suamiku membangun keluarga lain saat masih menikah denganku."

Ruangan hening.

Ratna tidak menangis.

Suaranya tenang.

Justru karena itu, kata-katanya terasa lebih berat.

Hendra memucat.

Clara duduk kembali, seluruh sandiwaranya runtuh.

Yuni berdiri dan memeluk Ratna.

"Kamu kuat banget, Rat."

Ratna menutup mata sebentar.

Tidak.

Ia tidak selalu kuat.

Tapi malam itu, di depan masa lalunya, ia memilih tidak lagi disembunyikan.

Arga melihatnya dari samping. Ada sesuatu yang berubah di matanya.

Bukan kasihan.

Hormat.

Dan Hendra melihatnya.

Untuk pertama kalinya, ia sadar kehilangan Ratna mungkin bukan hanya kehilangan istri.

Ia kehilangan perempuan yang dulu membuatnya terlihat berharga.

Setelah acara, beberapa teman lama menghampiri Ratna satu per satu. Tidak semuanya berani bicara banyak. Ada yang hanya memeluk, ada yang menggenggam tangan, ada yang meminta maaf karena dulu sering memuji Hendra tanpa tahu apa yang terjadi.

Yuni berbisik, "Kalau butuh saksi soal masa lalu kalian, hubungi aku. Aku masih ingat bagaimana kamu membiayai dia."

Ratna mengangguk, terharu.

"Terima kasih."

Di parkiran, Bu Laras masih mengomel soal Clara. Hanif membukakan pintu mobil, sementara Arga berdiri agak jauh menerima telepon.

Ratna melihat Hendra keluar dari restoran. Clara berjalan di belakangnya, tidak lagi menggandeng lengannya. Jarak kecil itu cukup untuk menunjukkan sesuatu telah retak.

Hendra menatap Ratna.

Dulu tatapan itu akan menariknya kembali.

Malam ini tidak.

Ratna masuk ke mobil Bu Laras. Saat pintu tertutup, ia merasa satu potong masa lalunya tertinggal di restoran itu.

Bukan terbuang.

Dikembalikan ke tempatnya.

Di dalam mobil, Bu Laras masih belum puas.

"Aku harusnya bilang satu kalimat lagi tadi."

Ratna menoleh.

"Jangan, Bu. Sudah cukup."

"Belum. Perempuan seperti Clara itu harus diberi kaca besar."

Hanif yang duduk di depan berkata pelan, "Bu Laras, tadi kaca seluruh restoran sudah cukup besar."

Ratna tertawa.

Arga yang duduk di kursi depan sebelah sopir melirik dari kaca spion. Tatapannya bertemu dengan Ratna sebentar.

Tidak ada kata.

Namun Ratna bisa membaca satu pertanyaan di sana: benar baik-baik saja?

Ia mengangguk kecil.

Arga membalas dengan anggukan yang hampir tidak terlihat.

Malam itu Ratna pulang tanpa merasa harus menjelaskan dirinya pada siapa pun. Ia sudah mengatakan kebenaran. Jika orang lain ingin mengubahnya menjadi gosip, itu urusan mereka.

Kebenaran tetap kebenaran, meski dibisikkan di meja makan.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!