Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUANG TERSEMBUNYI DI KOPER BAPAK
Udin baru saja merebahkan badan di kursi usang di ruang tengah, sepulang dari pengadilan.
Bu Rukmini muncul dari dapur dengan nampan berisi teh hangat dan sepiring singkong kukus yang masih mengepulkan uap. "Bagaimana hasil sidangnya, Le?" tanyanya.
Namun belum sempat Udin menjawab, terdengar ketukan pintu dari luar. Udin pun segera bangkit lalu membukanya.
Di depan pintu berdiri seorang laki-laki tua. Usianya sekitar 60 tahun, dengan uban hampir memenuhi kepalanya. Pria tua yang mungkin saja sebaya dengan Pak Budi itu, mengenakan kemeja batik cokelat yang sudah pudar dan celana kain hitam. Di tangannya ada bungkusan berisi buah dan seikat bunga melati.
"Permisi, apa benar ini rumah nak Udin, putranya almarhum Pak Budi?"
Udin agak terkejut, tapi segera menjawab. "Iya, Pak. Saya Udin. Anda siapa?"
Pria itu mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat Udin. "Saya Pramono, teman bapakmu, dulu, di Tulungagung."
Udin menyambut jabat tangan itu. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di dada Udin. 'Tulungagung', itu tempat yang lumayan jauh. Harus naik bus berjam-jam, lalu ganti naik angkot atau ojek untuk bisa mencapai rumah Udin dari terminal. Dan orang itu rela melakukannya hanya untuk mampir ke rumah anak dari temannya yang sudah tiada.
Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Udin. Bukan karena sedih, tapi haru yang penuh. Ternyata masih ada yang ingat, masih ada yang peduli sampai datang sejauh ini, bukan karena butuh apa-apa, hanya karena dulu pernah bersahabat baik dengan ayahnya.
"Mari masuk, Pak," ucap Udin kemudian.
Mereka duduk di ruang tamu. Berbincang ringan tentang masa lalu, ditemani teh hangat dan singkong kukus buatan Bu Rukmini.
"Sekali lagi, terimakasih, karena jauh-jauh Anda menyempatkan datang ke gubuk kami, Pak." Bu Rukmini pun tak kuasa menahan haru.
Pak Pramono menatap bergantian pada Bu Rukmini, lalu berpindah ke wajah Udin. "Maaf saya terlambat datang, meski hanya untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa," ucapnya lirih. "Jika bukan karena anak saya, saya tidak tahu jika Budi...." Kalimat itu digantung, Pak Pramono menepuk pelan dadanya, berusaha mengusir sesuatu yang terasa mengganjal di sana.
"Berita di media sosial... katanya Budi...." Pramono tertunduk, pundaknya bergetar halus tak kuasa menahan tangisnya. Namun ia segera menguasai diri lagi. "Dia orang baik, Bapakmu orang jujur, Le. Benar-benar biadab si Darman itu, padahal dulu kami semua satu tim!" imbuhnya bernada geram.
Udin tersenyum simpul, jemarinya memainkan pegangan cangkir tehnya. Sementara Bu Rukmini pun tertunduk lesu, seraya memilin ujung blousenya. "17 tahun mereka menyekapnya, seolah suami saya adalah binatang buas. Lalu... lalu hukuman yang diberikan untuk penjahat itu, hanya 20 tahun." Bu Rukmini tergugu, isak pelan kembali pecah. "Rasanya tidak terima, tapi hukum tak pernah berpihak pada orang kecil seperti kami!"
Tangis itu pecah. Tak seperti sebelumnya, dimana Bu Rukmini lebih memilih diam dan menahan. Tapi kali ini, seolah semua kepedihan ia biarkan tumpah. Udin merangkul ibunya, mengelus pelan punggung renta itu.
"Maaf... saya tidak bermaksud mengungkit rasa sakit kalian, tapi sebagai teman, saya juga merasa kehilangan orang sebaik Budi." Pramono merasa tak enak hati, karena dirinya, suasana rumah itu menjadi sendu.
"Tidak apa-apa, Pak. 17 tahun kami tak tahu bagaimana dia hidup merantau di sana. Ceritakan pada kami, Pak. Bagaimana kehidupan suami saya sewaktu masih bekerja di sana."
Pramono menghela napas, rasa bersalah masih tersisa di sudut hatinya. "Ya, kedatangan Budi di hari pertama, saya sudah mendapat kesan yang baik tentangnya." Pramono mulai menerawang, memanggil kembali kenangan di hari pertama saat Pak Budi datang ke pabrik Tulungagung.
"Waktu itu adalah hari terkacau untuk saya, karena lamaran saya ditolak oleh wanita yang saya cintai. Tapi kemudian Budi datang menyelamatkan saya." Pramono mulai berkisah.
"Menyelamatkan? Memangnya apa yang dilakukan Bapak saya, Pak?"
Pramono menyeruput teh hangat, kemudian kembali meletakkan gelas itu di atas meja, barulah melanjutkan bercerita. "Jadi, Bapakmu itu, mengajariku cara melamar wanita dengan benar. Dia membantuku membuat kalimat indah yang ampuh untuk meluluhkan hati wanita."
Cerita Pramono cukup ampuh mengubah suasana. Bu Rukmini mulai tersenyum tipis. "Dia memang pandai merangkai kata-kata indah. Tapi dia tak pernah percaya diri dengan hasil tulisannya."
"Jangan-jangan ibu jatuh cinta dengan Bapak juga karena kata-kata indah yang Bapak bikin?" ledek Udin seolah lupa suasana sendu sebelumnya.
Bu Rukmini tersipu malu, sedangkan Pramono terkekeh, "Dan lebih hebatnya, Bapakmu itu bahkan menulis buku fiksi! Ditulis dengan tangannya sendiri pakai pulpen diatas buku tulis!" ujar Pramono penuh semangat tapi menghela napas bernada kecewa kemudian. "Seandainya saja buku-buku nya masih ada."
"Buku?" tanya Udin tak mengerti.
"Oh! Aku ingat sekarang!" seru Pak Pramono kemudian, kedua matanya membelalak karena bersemangat. "Dulu, aku pernah diminta bapakmu membuat satu ruangan khusus di bagian dalam kopernya. Ya! Disanalah Bapakmu menyimpannya!"
"Koper?" tanya Udin masih mencoba mencerna.
"Ya! Koper berwarna coklat tua! Apa kalian nggak tahu itu?" tanya Pak Pramono menurunkan nada bicaranya.
Udin segera bangkit, tanpa berucap apapun, ia bergegas masuk ke kamarnya, mengambil koper peninggalan Pak Budi yang ia bawa sejak diserahkan oleh Bu Rukmini.
Dua menit kemudian, Budi sudah kembali ke ruang tamu, dengan membawa koper coklat sesuai dengan deskripsi pak Pramono. "Koper ini, Pak?" tanya Udin sembari meletakkan benda usang yang sudah berkarat di beberapa bagian itu di atas meja.
Pak Pramono mengelus sejenak benda kotak di depannya itu, tanpa terasa matanya kembali mengembun oleh kenangan kebersamaan dengan sahabat yang tergali kembali. Senyum ramah dan canda tawa bersama teman kerja, terlintas kembali di ingatannya.
"Bolehkah saya buka?" ucapnya meminta ijin yang sebenarnya tak diperlukan.
"Silakan," sahut Bu Rukmini diikuti anggukan Udin.
Perlahan Pak Pramono membuka koper itu. Seragam usang kepala pabrik dengan nama dada 'Budi Hartono' masih ada di sana. Ia mengeluarkan seragam yang masih terlipat rapih itu, meletakkannya di atas meja. "Ketemu!" serunya saat menemukan benda kecil berbentuk seperti kancing yang menempel di bagian dasar koper.
"Ini diputer begini...." ucapnya sambil mempraktekkan caranya. Udin dan Bu Rukmini memperhatikan dengan degup jantung yang semakin terpacu, tak sabar untuk mendapatkan sisa kenangan yang ditinggalkan seorang ayah dan seorang suami.
Benar, setelah kancing itu diputar, otomatis, membuat penyekat setebal setengah cm itu melonggar, hingga mudah dibuka. Setelah penyekat itu dikeluarkan oleh Pak Pramono, tampaklah isi didasar koper itu, yang tak pernah diketahui oleh Bu Rukmini juga Udin.
Tiga buah buku tulis tebal, penuh dengan tulisan tangan pak Budi, dan dibagian paling bawah, ada dua keping DVD yang dimasukkan dalam plastik flip.
"Apa yang dia simpan di sini? Nggak mungkin sih ini film bajakan, atau mungkin lagu-lagu kesukaannya sih," ucap Pak Pramono. "Atau mungkin video pernikahan kalian yang dia salin disini, kan kalian LDR, bisa jadi kalau kangen tinggal putar DVD!"
Tapi Udin menangkap hal lain. Tulisan spidol di atas kepingan DVD itu, menarik perhatiannya. 'Sekar Tunggal?' batinnya merasa tak asing dengan mana itu.
...****************...
Bersambung