NovelToon NovelToon
Akulah Sang Pemakan Takdir

Akulah Sang Pemakan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Action / Sistem / Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.

Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.

**Sistem Pemakan Takdir.**

Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.

Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.

Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Takdir Telah Memilihku Mati

Hari ini, Lin Yuan akan tahu apakah tiga tahun kerja kerasnya mampu menentang kehendak langit.

Aula Pengujian Bakat sesak oleh ribuan murid Sekte Awan Langit. Suara tawa, percakapan, dan sorakan bercampur menjadi dengungan yang memekakkan telinga.

Di pusat aula, berdiri Bola Roh setinggi dua orang dewasa. Permukaannya bening seperti kristal, di dalamnya terlihat aliran cahaya yang bergerak perlahan.

Selama tiga ratus tahun, pusaka itulah yang menentukan nasib setiap murid. Siapa yang memiliki Akar Roh kuat akan mendapat sumber daya, teknik kultivasi, dan kehormatan. Siapa yang tidak berbakat akan dibuang tanpa belas kasihan.

"Chen Hao!"

Seorang pemuda melangkah maju dan menempelkan telapak tangannya. Seketika, cahaya kuning memenuhi setengah permukaan kristal.

Penguji mengangguk pelan. "Bakat kelas menengah!"

Tepuk tangan pun terdengar.

"Liu Ming!"

Kali ini cahaya hijau menyala jauh lebih terang dari sebelumnya.

"Bakat kelas tinggi!"

Sorakan di dalam aula menjadi semakin keras. Beberapa tetua di kursi depan tampak mengangguk puas.

Tidak lama kemudian, seorang pemuda bertubuh besar maju dengan langkah penuh percaya diri.

"Wang Jie!"

BUM!

Bola Roh bergetar hebat. Cahaya biru yang menyilaukan memenuhi hampir seluruh permukaannya.

"Bakat kelas istimewa!"

Aula seketika bergemuruh. Para tetua bahkan sampai bangkit dari kursi mereka. Tatapan iri langsung tertuju pada Wang Jie.

Di tengah semua keramaian itu, Lin Yuan berdiri sendirian di barisan paling belakang.

Jubah abu-abunya telah usang, telapak tangannya dipenuhi kapalan tebal akibat tiga tahun mengayunkan pedang kayu setiap hari.

Selama tiga tahun, ia bangun sebelum matahari terbit dan baru berhenti berlatih setelah malam tiba. Saat murid lain beristirahat, ia masih bertahan di halaman belakang.

Pada saat mereka menertawakannya, ia hanya menggenggam pedangnya semakin erat.

Ia hanya percaya pada satu hal. Bakat memang penting, tetapi kerja keras seharusnya bisa memperpendek jarak itu.

"Lin Yuan."

Suara penguji menggema. Aula yang tadinya ramai mendadak menjadi sunyi. Sesaat kemudian, tawa-tawa kecil mulai terdengar dari barisan murid luar.

"Akhirnya anak desa itu dipanggil juga."

"Tiga tahun jadi penyapu halaman, ternyata masih belum sadar diri."

"Katanya dia bahkan belum bisa merasakan Qi."

Lin Yuan berjalan maju tanpa menoleh. Langkahnya terlihat tenang, namun di dalam dada jantungnya berdegup begitu cepat hingga terasa sakit.

Di sisi kanan aula, Zhao Feng berdiri dengan jubah putih yang bersih tanpa satu lipatan pun. Sebagai Murid Luar nomor satu, kedudukannya jauh di atas murid-murid lain.

Di samping Zhao Feng, berdiri seorang gadis berjubah biru muda, Mu Qingxue.

Tatapan Lin Yuan sempat terhenti pada wajah gadis itu. Selama tiga tahun, Mu Qingxue adalah alasan terbesarnya untuk bertahan.

Mereka berdua berasal dari daerah yang sama dan pernah berjanji akan menapaki jalan kultivasi bersama.

Namun sejak bakat Mu Qingxue terungkap, jarak di antara mereka semakin jauh.

Zhao Feng menatap Lin Yuan dan menyunggingkan senyum tipis.

"Lin Yuan, bakat tidak akan pernah bisa digantikan oleh keringat."

Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk didengar oleh semua orang di dalam aula.

Lin Yuan tidak menggubris. Ia berhenti tepat di depan Bola Roh dan memberi hormat kepada para tetua.

Tetua Agung membuka kitab di tangannya.

"Letakkan kedua telapak tanganmu di atas Bola Roh."

Lin Yuan menarik napas panjang. Ia mengangkat kedua tangannya. Saat kulitnya menyentuh permukaan kristal yang dingin, hawa dingin itu langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

Aula kembali hening.

Satu detik berlalu. Tidak ada yang terjadi.

Dua detik. Permukaan Bola Roh masih gelap gulita.

Tawa kembali meledak.

"Sudah kuduga."

"Bola Roh bahkan tidak bereaksi sama sekali."

"Ternyata tiga tahun kerja kerasnya hanya menjadi lelucon."

Lin Yuan mengatupkan giginya kuat-kuat. Ia memejamkan mata dan mencoba merasakan sesuatu di dalam tubuhnya.

Selama ini memang ada yang aneh. Setiap kali ia hampir merasakan Qi, kekuatan itu selalu lenyap seolah ada sesuatu yang menelannya diam-diam dari dalam.

Tepat saat ia hendak melepaskan tangannya...

DENG!

Bola Roh bergetar.

Cahaya putih yang lemah muncul dari bawah telapak tangannya. Semua tawa di aula langsung terhenti.

Lin Yuan membuka matanya. Cahaya putih itu semakin terang, namun sebelum sempat memenuhi sepersepuluh permukaan kristal, sebuah garis hitam pekat tiba-tiba muncul di tengahnya.

Tetua Agung yang tadinya duduk langsung bangkit.

"Tunggu!"

KRAAK!

Retakan pertama muncul, disusul retakan kedua. Dalam sekejap, garis-garis hitam menyebar seperti jaring laba-laba ke seluruh permukaan Bola Roh.

Lin Yuan merasakan kekuatan dingin yang asing mengalir masuk dari kristal itu ke dalam tubuhnya.

Itu bukan energi spiritual, bukan pula Qi. Rasanya seperti sebuah kehendak kuno yang telah tertidur sangat lama dan baru saja terbangun.

PRANG!

Bola Roh meledak. Pecahan kristal beterbangan ke segala arah. Gelombang energi menyapu seluruh aula hingga para murid terpaksa mundur dengan wajah pucat.

Beberapa tetua dengan cepat membentuk penghalang untuk melindungi barisan depan.

Lin Yuan terpental beberapa langkah ke belakang. Telapak tangannya terluka dan darah menetes ke lantai yang dingin.

Suasana sekejap menjadi sunyi.

Tetua Agung melangkah mendekati sisa-sisa Bola Roh yang hancur.

Ia memungut salah satu pecahan kristal dan memeriksa sisa energi yang tertinggal di dalamnya.

Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah menjadi suram.

"Aneh sekali..."

Seorang tetua lain yang berdiri di dekatnya bertanya.

"Tetua Agung, apa yang terjadi?"

Tetua Agung tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih dan tertuju pada Lin Yuan.

"Akar Roh pemuda ini bukan hanya rusak," ucapnya pelan. "Bagian dalam sepenuhnya seperti telah dikosongkan."

Beberapa tetua saling berpandangan dengan kening berkerut.

"Dikosongkan? Maksudmu ada orang yang mencuri Akar Rohnya?"

"Tidak ada bekas teknik pencabutan," Tetua Agung menggeleng.

"Tidak ada luka luar. Seolah-olah sejak awal ada sesuatu di dalam tubuhnya yang terus-menerus melahap energi Akar Roh itu hingga habis."

Kata-kata itu membuat tubuh Lin Yuan membeku di tempat.

Sesuatu yang melahap energi? Apakah itu alasan mengapa selama tiga tahun ia tidak pernah mampu merasakan Qi meski telah berlatih sampai muntah darah?

Tetua Agung akhirnya menutup kitab di tangannya dengan suara keras.

"Namun apa pun penyebabnya, hasilnya tetap tidak akan berubah."

Ia menatap Lin Yuan tanpa sedikit pun emosi.

"Akar Rohmu telah rusak total. Kau tidak memiliki masa depan di jalur kultivasi."

Kalimat itu jatuh seperti petir di siang bolong.

Seluruh aula yang sempat sunyi langsung dipenuhi ledakan tawa.

"Hahaha! Jadi Bola Roh hancur gara-gara sampah ini!"

"Bukan tidak berbakat, ternyata Akar Rohnya memang sudah kosong dari sananya!"

"Langit benar-benar membencinya! Tiga tahun berlatih hanya untuk menjadi lelucon!"

Lin Yuan mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kukunya menembus daging telapak tangannya.

Darah segar mengalir di sela-sela jarinya, bercampur dengan air hujan yang merembes dari atap aula yang bocor.

Tiga tahun. Selama tiga tahun ia menelan semua hinaan itu. Ia percaya jika terus berlatih, suatu hari hidupnya akan berubah.

Namun hari ini, langit sendiri seolah memberitahunya bahwa semua usahanya tidak memiliki arti sama sekali.

Tetua Agung kembali berkata dengan suara dingin.

"Mulai besok pagi, kau bukan lagi murid Sekte Awan Langit."

Tidak ada satu pun yang membela. Tidak ada yang menganggap keputusan itu kejam. Di dunia kultivasi, sebuah sekte tidak akan pernah memelihara orang yang tidak memiliki masa depan.

Lin Yuan mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya menyapu seluruh aula, menatap satu per satu wajah murid yang menertawakannya, para tetua yang memandangnya seperti sampah, Zhao Feng yang tersenyum tipis penuh kemenangan, dan Mu Qingxue yang hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Lin Yuan membungkuk hormat untuk terakhir kalinya.

"Terima kasih karena pernah memberiku tempat tinggal selama tiga tahun ini."

Suasana aula menjadi sedikit sunyi.

Ia kemudian berdiri tegak, punggungnya lurus.

"Hari ini kalian mengusirku karena langit menolakku," suaranya terdengar jelas di tengah aula yang sunyi.

"Suatu hari nanti, aku akan kembali. Aku akan membuat langit itu sendiri mengakui namaku."

Beberapa murid kembali tertawa dengan suara yang lebih keras, menganggapnya sebagai omong kosong orang putus asa.

Zhao Feng hanya menyipitkan matanya.

Lin Yuan tidak lagi peduli. Ia berbalik dan meninggalkan aula.

Di luar, hujan deras mulai turun. Butiran air yang dingin membasahi rambut dan jubahnya yang usang.

Saat ia menuruni tangga batu yang licin, sebuah suara lembut memanggil dari belakang.

"Lin Yuan."

Langkahnya terhenti. Mu Qingxue berdiri di bawah payung putih. Di tangannya, terdapat sebuah gelang kayu yang sederhana. Gelang itu dibuat sendiri oleh Lin Yuan untuknya sebelum mereka masuk sekte.

Mu Qingxue berjalan mendekat dan menyodorkan gelang itu.

"Dunia kultivasi tidak akan pernah memberi tempat bagi orang tanpa Akar Roh," ucapnya lirih.

Lin Yuan menatap gelang kayu itu.

"Jadi?"

"Kita sebaiknya berhenti sampai di sini saja."

Hujan turun semakin deras, mengaburkan pandangan.

Lin Yuan menerima gelang itu tanpa menunjukkan emosi apa pun di wajahnya.

"Baik."

Mu Qingxue sedikit tertegun. Ia mengira Lin Yuan akan memohon, marah, atau setidaknya menunjukkan kesedihan.

Namun ternyata pemuda itu hanya menggenggam gelang kayu itu erat-erat, lalu berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun.

Tidak jauh dari sana, di bawah atap aula, Zhao Feng berdiri sambil memperhatikan punggung Lin Yuan yang menjauh. Seorang murid bertubuh besar mendekat.

Han Lie.

"Kakak Senior Zhao," bisik Han Lie.

Zhao Feng berkata pelan tanpa mengalihkan pandangan.

"Jangan biarkan dia meninggalkan gunung dalam keadaan hidup."

Han Lie menyeringai kejam.

"Aku mengerti."

***

Senja tiba ketika Lin Yuan mencapai jalan setapak di lereng gunung. Hujan masih turun dengan lebat. Di sebelah kirinya terdapat tebing curam yang dalam, di sebelah kanannya terbentang hutan yang gelap.

Langkah Lin Yuan mendadak terhenti. Ia mendengar suara kaki yang menginjak genangan air. Satu, dua, lima orang.

Ia berbalik. Han Lie keluar dari balik pepohonan bersama empat murid lainnya. Semuanya telah menghunus senjata mereka.

"Lin Yuan," Han Lie mengangkat pedangnya.

"Jalanmu berakhir di sini."

Lin Yuan menggenggam gagang pedang kayu yang sudah retak dipinggangnya.

"Zhao Feng yang menyuruhmu?"

Han Lie tertawa keras.

"Orang mati tidak perlu tahu terlalu banyak."

Empat murid lain langsung menyebar dan menutup semua jalan mundurnya.

Lin Yuan menatap jurang menganga di belakangnya, lalu kembali menatap pedang tajam di tangan Han Lie.

Hari ini ia kehilangan sekte, kehilangan masa depan, kehilangan orang yang pernah ia percaya. Dan sekarang, mereka bahkan ingin mengambil nyawanya.

Han Lie melangkah maju. Aura Tubuh Fana Tingkat Ketiga meledak keluar dari tubuhnya.

"Matilah!"

Pedangnya menebas lurus ke arah kepala Lin Yuan dengan kecepatan yang mematikan.

Pada saat itulah, pecahan hitam kecil yang menempel di luka telapak tangan Lin Yuan mendadak mencair dan masuk ke dalam aliran darahnya.

Rasa dingin yang menusuk tulang menjalar ke seluruh tubuh.

Sebuah suara yang dingin dan kuno, bukan suara manusia, bergema langsung di dalam benaknya.

[Takdir kematian terdeteksi. Tuan telah dipilih. Sistem Pemakan Takdir Mulai Aktif.]

[Apakah Tuan bersedia memangsa takdir kematian ini?]

Waktu seolah berhenti. Pedang Han Lie hanya berjarak beberapa jari dari wajahnya, tetesan hujan bahkan berhenti di udara.

Lin Yuan mengangkat kepalanya perlahan. Tatapan mata yang tadinya putus asa kini berubah menjadi dingin dan tajam.

"Kalau takdir memang telah memilihku untuk mati..."

Tangannya menggenggam pedang kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"...maka aku akan memakan takdir itu sendiri."

Bersambung...

1
Hadi Hadi
😍😍😍💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 💪
Hadi Hadi
sikat 💪
Hadi Hadi
semangat 💪
Hadi Hadi
bunuh
Hadi Hadi
bantai 💪
nanonano
bab mengulang lagi
nanonano: ada 2 bab yang mengulang thor. judul bab beda tp isi sama dengan bab sebelumnya
total 2 replies
Cahya Laela Tsaniya
semangat Thor 💪💪
Otna Forever: Makasih, sehat selalu 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!