Di hari ketika seluruh mimpinya hancur, Lin Yuan divonis memiliki Akar Roh Rusak Total dan diusir dari Sekte Awan Langit.
Tunangannya meninggalkannya, sahabat menjauhinya, dan musuh-musuhnya memilih membunuhnya agar tak menyisakan ancaman.
Namun di ambang kematian, sebuah sistem kuno terbangun.
**Sistem Pemakan Takdir.**
Selama mampu mengalahkan lawannya, Lin Yuan dapat melahap takdir, bakat, keberuntungan, bahkan kesempatan hidup mereka untuk menjadi miliknya.
Sejak malam itu, seorang "sampah" yang ditertawakan seluruh dunia mulai menapaki jalan yang belum pernah dilalui siapa pun.
Jika langit menolak memberinya takdir...
Maka ia akan memakan takdir langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Takdir Telah Memilihku Mati
Hujan malam ini berbau darah, bercampur aroma tanah basah yang memenuhi tebing belakang Sekte Awan Langit.
Lin Yuan berlutut di atas tanah berlumpur dengan jubah robek dan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Belasan murid berjubah putih mengepung dari berbagai arah, menutup setiap kemungkinan baginya untuk melarikan diri.
Meski napasnya berat, Lin Yuan tetap menggenggam pedang besi sambil mengamati orang-orang yang menginginkan kematiannya.
Seorang pemuda kemudian berjalan melewati para pengepung dengan payung giok melindungi tubuh dari derasnya hujan.
Zhao Feng, Murid Luar Nomor Satu Sekte Awan Langit, berhenti beberapa langkah di hadapan Lin Yuan.
"Kau sudah dikeluarkan dari sekte, Akar Rohmu rusak, dan masa depanmu juga sudah berakhir."
Zhao Feng tersenyum tipis.
"Kenapa kau tidak pergi dan keluar saja dari sekte secara diam-diam?"
Lin Yuan menyeka darah pada bibirnya, lalu memandang belasan murid yang mengepung tempat tersebut.
"Kalau hanya ingin aku pergi, kenapa kau membawa banyak orang dan menyerangku?"
Senyum Zhao Feng menegang sesaat, membuat kecurigaan yang sejak tadi dirasakan Lin Yuan semakin kuat.
Semua ini bermula beberapa jam sebelumnya, ketika ratusan murid berkumpul di Aula Pengujian Bakat.
Di tengah aula berdiri Bola Roh, pusaka berusia tiga ratus tahun untuk menguji Akar Roh para murid.
"Chen Hao!"
Seorang pemuda maju dan meletakkan telapak tangannya pada permukaan kristal yang memancarkan cahaya kuning.
"Akar Roh tingkat menengah."
Beberapa murid memberikan ucapan selamat sebelum peserta berikutnya maju untuk menjalani pengujian yang sama.
Liu Ming mendapatkan Akar Roh tingkat tinggi, sementara Wang Jie mengejutkan semua orang dengan Akar Roh tingkat istimewa.
Lin Yuan menyaksikan semuanya sambil mengepalkan tangan, berusaha menekan kegelisahan yang memenuhi dadanya sejak tadi.
Tiga tahun menjadi murid luar tidak pernah memberinya pencapaian yang dapat dibanggakan di hadapan orang lain.
Kultivasinya berkembang sangat lambat meskipun ia berlatih jauh lebih keras dibandingkan kebanyakan murid seusianya.
Hari ini adalah kesempatan terakhir membuktikan bahwa tiga tahun kerja kerasnya belum sepenuhnya berakhir sia-sia.
"Lin Yuan!"
Namanya akhirnya dipanggil, disambut beberapa tawa mengejek dari murid-murid yang sudah mengetahui reputasinya.
"Giliran tukang sapu."
Lin Yuan mengabaikan mereka dan berjalan menuju Bola Roh tanpa memberikan satu pun tanggapan.
Ia menarik napas dalam, kemudian menempelkan telapak tangannya pada permukaan kristal yang terasa dingin.
Beberapa detik berlalu tanpa perubahan, membuat suara tawa kembali terdengar dari bagian belakang aula.
Namun sebelum tetua penguji menyuruhnya mundur, Bola Roh tiba-tiba bergetar dengan sangat kuat.
DUM!
Cahaya hitam muncul dari kedalaman kristal, membuat Tetua Agung yang duduk di depan mendadak berdiri.
"Berhenti!"
Retakan pertama muncul tepat di bawah telapak tangan Lin Yuan sebelum menyebar ke seluruh permukaan kristal.
"Menjauh!"
Peringatan itu terlambat.
BOOOM!
Bola Roh meledak dan gelombang energi melemparkan Lin Yuan beberapa meter hingga menghantam lantai batu.
Ketika debu menghilang, seluruh aula terdiam melihat pusaka berusia tiga ratus tahun telah berubah menjadi serpihan.
Tetua Agung segera memeriksa pergelangan tangan Lin Yuan dengan energi spiritual selama beberapa saat.
Wajahnya perlahan berubah dingin.
"Akar Rohmu rusak total."
Lin Yuan membeku.
"Apa?"
"Tidak ada jalur spiritual yang mampu membentuk fondasi dengan benar. Melanjutkan kultivasi hanya membuang waktumu."
Tetua Agung melepaskan tangannya sebelum menjatuhkan keputusan yang menghancurkan tiga tahun perjuangan Lin Yuan.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi murid Sekte Awan Langit."
Bisikan penuh ejekan dan hinaan segera memenuhi aula, tetapi Lin Yuan hampir tidak mendengar satu pun perkataan mereka.
Tidak seorang pun memperhatikan serpihan kecil Bola Roh yang tergeletak beberapa langkah di belakangnya.
Seutas cahaya hitam keluar dari pecahan tersebut dan melesat masuk ke punggung Lin Yuan tanpa meninggalkan jejak.
Tubuhnya bergetar ringan.
Lin Yuan segera menoleh, tetapi hanya menemukan serpihan kristal berserakan di lantai aula.
Ia tidak mengetahui bahwa sesuatu baru saja memasuki tubuhnya.
Sesuatu yang akan mengubah Takdirnya selamanya.
Beberapa jam kemudian, Lin Yuan berjalan meninggalkan Sekte Awan Langit dengan pedang besi dan buntalan kecil di punggungnya.
Tiga tahun tinggal di tempat itu berakhir tanpa perpisahan, bahkan tanpa seorang pun yang mengantarnya.
Lin Yuan baru berjalan beberapa langkah
meninggalkan gerbang ketika seorang gadis berjubah putih keluar dari bawah pohon di tepi jalan.
"Lin Yuan."
Langkahnya berhenti setelah mengenali bahwa itu Mu Qingxue, gadis yang pernah berjanji akan menunggunya menjadi seorang kultivator sejati.
Mu Qingxue mendekat sambil menggenggam liontin kayu kecil yang pernah Lin Yuan berikan kepadanya dua tahun lalu.
"Kukembalikan milikmu."
Lin Yuan memandang liontin tersebut sebelum mengangkat wajah untuk menatap gadis yang berdiri di hadapannya.
"Maksudmu apa?"
Mu Qingxue terdiam sebentar, seolah telah menyiapkan kalimat ini tetapi masih kesulitan untuk mengatakannya secara langsung.
"Bulan depan aku akan bertunangan dengan Zhao Feng."
Lin Yuan tidak menjawab.
Hari ini dirinya kehilangan status sebagai murid, masa depan kultivasi, dan sekarang seseorang yang pernah dipercayainya.
Anehnya, setelah semua yang terjadi, Lin Yuan justru merasa tidak memiliki tenaga untuk mempertanyakan keputusan tersebut.
Ia mengambil liontin itu dan memasukkannya ke dalam genggaman tanpa menunjukkan sedikit pun kemarahan.
"Baik."
Mu Qingxue terlihat terkejut.
"Lin Yuan, aku sebenarnya—"
"Tak perlu dijelaskan."
Lin Yuan melewatinya dengan langkah tenang, meskipun sesuatu di dalam dadanya terasa seperti baru saja dipatahkan.
"Mulai malam ini, kau tidak berutang apa pun kepadaku. Aku juga tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi."
Mu Qingxue menoleh, tetapi Lin Yuan sudah berjalan menjauh tanpa sekali pun melihat ke belakang.
Hujan turun semakin deras ketika dirinya memasuki jalan pegunungan yang membentang di belakang Sekte Awan Langit.
Namun belum satu jam berlalu, Lin Yuan menyadari beberapa orang telah mengikutinya sejak meninggalkan wilayah sekte.
Ia sengaja meninggalkan jalan utama dan memasuki jalur sempit menuju tebing untuk memastikan kecurigaannya.
Dan ternyata benar saja.
Tujuh murid berjubah putih segera keluar dari balik pepohonan dan mengepungnya dari berbagai arah.
Lin Yuan mengenali beberapa wajah mereka sebagai orang-orang pengikut Zhao Feng di dalam sekte.
"Jadi bahkan Dia tidak berniat membiarkanku pergi."
Lin Yuan perlahan menghunus pedang besinya, sementara salah seorang pengejar tertawa sambil melangkah mendekat.
"Jangan salahkan kami. Salahkan dirimu sendiri karena membuat Kakak Zhao merasa tidak nyaman."
Pertarungan berlangsung jauh lebih buruk daripada yang diperkirakan Lin Yuan karena lawannya menyerang secara bergantian.
Ia berhasil melukai seorang pengejar, tetapi sebuah tendangan menghantam rusuknya dan membuat tubuhnya terlempar ke tanah.
Lin Yuan memaksa bangkit, lalu mundur semakin jauh hingga akhirnya mencapai tebing belakang yang tidak memiliki jalan keluar.
Saat itulah Zhao Feng datang membawa payung giok, melengkapi kejadian yang membawa Lin Yuan kembali pada keadaan sekarang.
"Masih ingin tahu kenapa aku membawa banyak orang?" tanya Zhao Feng sambil berjalan mendekat.
Lin Yuan mengencangkan genggaman pada pedangnya.
"Karena kau takut."
Tatapan Zhao Feng berubah.
Lin Yuan langsung mengetahui dugaannya tepat.
"Bola Roh meledak ketika aku menyentuhnya, dan kau ingin memastikan aku tidak akan hidup untuk mengetahui alasannya."
Zhao Feng tidak menjawab.
Namun kali ini senyumnya benar-benar menghilang.
"Bunuh dia."
Tiga murid langsung menerjang.
Lin Yuan mengangkat pedangnya dan menahan serangan pertama, lalu memutar tubuh untuk menghindari tebasan berikutnya.
Pedang ketiga masih berhasil merobek bahunya dan membuat darah segar mengalir membasahi jubah yang sudah rusak.
Lin Yuan membalas dengan satu tebasan, tetapi tubuhnya segera dihantam dari samping hingga terpental mendekati ujung tebing.
Tanah di belakangnya runtuh sedikit demi sedikit, memperlihatkan jurang gelap yang seolah tidak memiliki dasar.
Zhao Feng mengambil pedang salah seorang pengikutnya, kemudian berjalan mendekat dengan tatapan dingin tanpa keraguan.
"Sayang sekali kau cukup pintar sehingga bisa menyadarinya."
Lin Yuan menyipitkan mata.
"Berarti aku benar."
"Tapi sudah terlambat, sekarang itu tidak penting lagi."
Zhao Feng menusukkan pedangnya lurus menuju jantung Lin Yuan, sementara kondisi tubuhnya sudah tidak ada kekuatan untuk menghindar.
Pada saat itulah cahaya hitam yang memasuki tubuh Lin Yuan dari pecahan Bola Roh akhirnya bergerak.
DUM!
Dunia di sekelilingnya tiba-tiba melambat.
Hujan seperti berhenti di udara, sementara pedang Zhao Feng bergerak sangat perlahan menuju dadanya.
Lin Yuan membelalakkan mata ketika sebuah cahaya keemasan mendadak muncul tepat di atas kepala Zhao Feng.
Sebelum dirinya memahami apa yang sedang terjadi, suara dingin terdengar langsung di dalam pikirannya.
【Takdir target terdeteksi.】
【Sistem Pemakan Takdir sedang dibangunkan...】
Pedang Zhao Feng tinggal beberapa inci dari jantungnya.
...----------------...
Bersambung...