Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Obsesif
Malam berganti pagi, namun langit tak kunjung cerah. Awan kelabu menutupi seluruh cakrawala, dan sejak fajar menyingsing, hujan turun dengan derasnya — memukul kaca jendela dengan suara berisik yang tak putus-putus. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon tinggi di halaman rumah yang luas itu. Langit yang tadinya remang-remang perlahan berubah gelap kembali, seolah siang pun takut mendekat ke tempat ini.
Aiden belum beranjak dari sisinya semalaman. Matanya masih terjaga, meski ada bayang-bayang kelelahan yang mulai tampak di wajahnya. Tangannya tak pernah berhenti mengusap rambut Alesha, sesekali menyentuh kening gadis itu — suhunya perlahan turun, meski masih terasa hangat. Napas Alesha kini lebih teratur, namun wajahnya masih tampak pucat dan tidak tenang.
Alesha pun mulai membuka mata nya perlahan, yang pertama kali Alesha ada sosok seorang Aiden, Alesha pun mengucek mata nya pelan dan kembali menatap Aiden
"Pagi sayang, gimana badan kamu membaik hmm ,?
"Hem, " jawab Alesha haya menganggukkan kepala nya , kemudian iya pun duduk dan melihat ada banyak bekas kompres san yang ada di atas meja
"Apa Alesha demam,?
" Hmm kamu demam semalam, kenapa gak bilang sama Aku hmm,?
"Alesha juga gak tahu, kalau Alesha demam, " jawab Alesha menunduk , Alesha bisa merasakan nya bahwa iya pasti akan kena marah
"Lain kali jangan seperti itu sayang , Aku khawatir, Aku akan marah kalau sampai kamu terjadi sesuatu sama orang yang Aku suruh jaga kamu, " ujar Aiden
"Maaf kak Aiden Alesha salah hiks hiks, " jawab Alesha menangis
"Siapa yang menyuruh mu menangis gadis manis ku, tatap Aku Alesha jangan terus menunduk, atau kamu mau aku patah kan leher kamu biar nunduk terus hmm, " ujar Aiden penuh penekanan
"Dedy hiks hiks , Alesha pengen ikut Dedy hiks, " ujar Alesha pelan
Alesha merasa iya sudah sangat depresi dengan hidup nya, iya sudah hilang akal sehat nya iya trauma, penyakit itu seakan kambuh lagi
"Stop ucapkan itu Alesha, Aku gak suka, Aku gak akan pernah biarkan kamu pergi dari hidup ku, atau aku akan menghancurkan kan semua yang kamu puya dengar kan itu baik baik hmm gadis ku, " ujar Aiden,
Aiden pun beranjak dari duduk kemudian iya keluar dari dalam kamar Alesha, iya pun menyuruh pelayan wanita untuk memandikan gadis nya karena kali ini iya sungguh benar benar lelah, bayangin iya tidak tidur semalam di tambah di kantor iya tidak istirahat karena meeting terus menerus
................
Di sore hari nya, Alesha sedang duduk di kursi roda sembari melihat kearah jendela kamar, ia memerhatikan hujan turun begitu lebat sedari tadi pada sampai sekarang tidak kunjung reda , di tambah suara petir yang masih terdengar jelas
"Dedy sama Mami pasti di sana sangat bahagia kan, Alesha kangen kalian berdua, Alesha pengen peluk kalian berdua lagi, " ujar Alesha dengan mata yang berkaca kaca
"Kenapa hidup Alesha jadi seperti ini , ini bukan kehidupan yang Alesha mau, kenapa Alesha harus bertemu dengan orang sejahat kak Aiden hiks hiks, " ucap Alesha kemudian iya pun mengeluarkan air mata nya
"Andai aja Alesha hidup seperti boneka kesayangan Alesha ini, pasti hidup Alesha gak akan seperti ini, pasti banyak orang yang begitu sayang dan baik sama Alesha, seperti Mami dan Dedy, " ujar Alesha terisak
"Kenapa kamu menangis hmm,?
Mendengar suara itu Alesha pun buru buru menghapus air mata nya kemudian memeluk boneka nya erat dan menunduk
Aiden pun menghampiri Alesha dan kemudian mengambil kursi dan duduk di depan Alesha
"Tidak mau menjawab pertanyaan ku sayang hmm, atau kamu mau bisu bilang saja, Aku bisa kok buat suara mu hilang detik ini juga.
Alesha pun menggelengkan kepala nya gemetar,dengan keringat dingin mulai menyerang nya.
"kenapa gak di jawab gadis ku, Aku sudah dua kali menanyakan pertanyaan nya, " ujar Aiden yang kemudian mengangkat dagu Alesha hingga mata mereka bertemu, mata bulat indah Alesha langsung sirna ketika menatap mata Aiden yang tajam bak seekor elang akan menerkam bangsa nya
"Maaf kak Aiden Alesha gak kenapa napa kok, " jawab Alesha gemetar, membuat Aiden begitu gemas
"Sayang kenapa meminta maaf, kamu kan gak salah kan.
" Gak Alesha salah gak jawab pertanyaan kak Aiden maafin Alesha hiks hiks.
"shut jangan nangis sini peluk Aku biar Aku maafin.
Alesha pun agak ragu, tapi demi tidak di hukum iya pun mendekat setelah itu masuk kedalam pelukan hangat tapi menyeramkan Aiden
"Bau tubuh dan rambut kamu begitu enak sayang, Aku suka rasa Aku gak mau lepas, " ujar Alesha yang mengelus rambut panjang Alesha serta sesekali mencium rambut nya
Aiden mempererat pelukannya, seakan tak ingin memberi ruang sekecil apa pun di antara tubuh mereka. Hidungnya menyusuri pangkal leher Alesha, menarik napas dalam-dalam seolah ia sedang menghirup udara satu-satunya yang bisa membuatnya tetap bernapas.
"Aku takkan pernah melepaskan mu, Alesha. Dengar baik-baik... Kamu milikku. Hanya milik Aku seorang. Tak ada Dedy, tak ada Mami, tak ada siapa pun di dunia ini yang boleh memisahkan kita. Kamu paham?" bisik Aiden berat, suaranya rendah namun penuh penekanan yang membuat tulang punggung Alesha merinding hebat.
Alesha hanya bisa mengangguk pelan di dalam pelukan itu, tubuhnya masih gemetar halus. Aiden perlahan melepaskan pelukannya sedikit, lalu kembali menangkup wajah mungil Alesha dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Ibu jarinya mengusap lembut sisa air mata di pipi gadis itu, tatapannya begitu dalam seolah ingin menelan seluruh jiwa Alesha.
"Sekarang, biarkan Aku memeriksa suhu tubuhmu, sayang..." ucap Aiden pelan. Ia kembali menempelkan punggung tangannya ke kening Alesha, lalu ke pipi dan ke leher gadis itu, memeriksa dengan teliti seolah takut ada yang terlewat sekecil apa pun.
"Suhu tubuhmu sudah turun, tapi masih sedikit hangat. Kamu harus tetap minum obat agar benar-benar sembuh," ujar Aiden lembut. Ia meraih gelas berisi air putih dan sebutir obat yang sudah disiapkan pelayan di meja samping tempat tidur.
"Minumlah, sayang. Pelan-pelan saja. Jangan sampai tumpah," perintah Aiden lembut namun tak bisa dibantah. Ia menyuapi Alesha perlahan, menatap setiap gerakan bibir gadis itu dengan tatapan yang tak berpaling sedetik pun. Saat Alesha menelan obat itu, Aiden tersenyum tipis — senyum yang justru membuat hati Alesha makin berdebar tak menentu.
"Pintar. Hanya dengan begitu Aku takkan merasa khawatir berlebihan padamu. Kamu harus sehat, Alesha. Kamu harus tetap di sini, di sisiku. Selamanya," ucap Aiden sambil kembali mengusap kepala Alesha dengan penuh kasih sayang yang terasa menyesakkan.
Belum sempat Alesha membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba langit di luar seakan terbelah. Cahaya menyilaukan seketika menyusul suara guntur yang menggelegar begitu dahsyat — BRAK!!! — seketika menggetarkan seluruh bangunan mewah itu.
"AAAAAA!!! KAK AIDEN!!!"
Alesha menjerit sekuat tenaga, wajahnya langsung pucat pasi. Ia melompat ketakutan dan seketika itu juga memeluk erat pinggang Aiden, menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki itu seakan takut langit akan runtuh menimpanya. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin kembali membasahi pelipisnya, tangannya mencengkeram erat kemeja Aiden.
"Aku di sini, Alesha... Jangan takut... Aku di sini..."
Aiden langsung merengkuh tubuh mungil itu sekuat tenaga, melingkarkan kedua lengannya erat seakan tak ingin membiarkan angin sekalipun menyentuh kulit Alesha. Ia membiarkan kepala Alesha bersandar di dadanya, lalu menangkap kepala gadis itu dan mendekapnya sangat rapat di dada. Tangannya mengelus punggung dan rambut panjang Alesha berulang kali, suaranya terdengar lembut namun matanya menatap tajam ke arah jendela yang tertutup rapat, seakan ia sedang menatap musuh yang berani menakuti gadis kesayangannya.
"Hiks... hiks... Alesha takut, Kak Aiden... Alesha takut sekali..." isak Alesha, tangannya semakin merapat ke dada Aiden, suaranya terdengar parau dan ketakutan. "Suara itu... suara itu keras sekali... Alesha takut gelap... Alesha takut..."
"Tak perlu takut, sayangku. Selama Aku di sisimu, tak ada yang boleh menyakiti atau menakut-nakuti mu. Bahkan langit sekalipun tak berani menyentuhmu," ucap Aiden tegas, lalu ia menangkup wajah Alesha yang basah oleh air mata, menatap lurus ke dalam mata yang berkaca-kaca itu dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh obsesi. "Dengar baik-baik, Alesha. Satu-satunya tempat yang aman bagimu hanyalah di pelukan Aku. Di mana pun kamu berada, siapa pun yang ada di dekatmu, tak ada yang bisa melindungi mu sebagaimana Aku melindungi mu. Kamu paham?"
Alesha mengangguk lemas, tak berani melepaskan pelukannya sedikit pun.
"Ucapkan. Katakan bahwa hanya Aku pelindungmu. Katakan!" tekan Aiden, jarinya mencubit lembut namun menuntut di dagu Alesha.
"Hanya... hanya Kak Aiden yang melindungi Alesha..." jawab Alesha terbata-bata.
"Bagus. Itu baru gadis manisku," Aiden tersenyum puas, lalu kembali menarik Alesha masuk ke dalam pelukannya yang tak memberi celah sedikit pun. Ia mengangkat tubuh Alesha dengan mudah, lalu membawanya duduk di pangkuannya sendiri, membiarkan kepala gadis itu bersandar nyaman di ceruk lehernya.
"Jangan pernah berpikir untuk lari dari pelukan ini, Alesha. Karena jika kamu takut pada petir, gelap, atau apa pun di luar sana... maka Aku akan pastikan kamu takkan pernah lagi melihat dunia luar itu. Kamu akan tetap di sini, di dalam ruangan ini, di dalam pelukan ini... selamanya. Hanya milikku. Tak akan ada lagi yang bisa menakuti mu selain Aku sendiri. Apakah itu sudah cukup membuatmu merasa aman, sayang?"
Suara Aiden terdengar begitu lembut, namun setiap kata yang keluar begitu mematikan dan mengikat tak bersisa. Alesha hanya bisa diam, terbungkus dalam kehangatan sekaligus jerat yang dibuat khusus untuknya. Ia menutup matanya rapat, membiarkan detak jantung Aiden menjadi satu-satunya suara yang ia dengar, sementara di luar sana hujan dan petir masih terus mengamuk — sama seperti perasaan Aiden yang takkan pernah membiarkan siapa pun, bahkan takdir sekalipun, mengambil Alesha darinya.
"Aku takkan pernah melepaskan mu, Alesha. Ingatlah itu... Sampai nyawaku habis pun, tangan ini takkan pernah melepaskan mu..." bisik Aiden pelan di telinga Alesha, lalu mengecup lembut pelipis gadis itu dengan penuh kepemilikan yang tak terbantahkan
Bersambung
Thank you yang sudah baca cerita oyen😊