Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*27
Setelah seharian mereka berduaan saja di rumah. Malamnya, pasangan pengantin baru itu tidur terpisah. Iya, Irza tidur di sofa yang ada di kamar mereka. Sedangkan Asha, ia tidur di ranjang. Ini kesepakatan yang Irza buat agar Asha merasa nyaman. Katanya, biar Asha gak canggung dan terganggu karena kehadirannya.
Awalnya Sha merasa tak enak hati. Tapi pada akhirnya, keputusan itu ia terima juga. Karena memang, kehadiran Irza masih belum sepenuhnya bisa ia terima. Dia masih butuh waktu untuk menerima kehadiran suami gemulainya ini.
Entah sejak kapan Sha terlelap tadi malam, saat membuka mata, tau-taunya saja hari sudah pagi. Jam digital yang ada di atas nakas samping ranjang malah sudah menunjukkan angkat enam empat puluh enam.
Dengan tubuh yang masih terasa malas karena nyawa belum sepenuhnya terkumpul, Sha membalikkan tubuh untuk melihat kearah yang berlawanan. Dan, saat itu, saat mata Asha melihat sofa yang ada di sudut kamar, Irza sudah tidak ada lagi di sana. Sofa itu kini sudah terlihat rapi. Yang menempatinya tadi malam sudah tidak lagi di sana. Bahkan, tanda-tanda akan keberadaannya juga tidak terlihat.
Asha beranjak bangun. "Ke mana dia?"
Matanya melihat pintu kamar mandi. Tidak, pria itu juga tidak di sana. Karena sekarang, pintu kamar mandi juga kosong. Tidak ada bunyi percikan air, dan pintu tidak tertutup.
Asha pun beranjak bangun dari tempat tidur. Entah kenapa, tidak menemukan Irza saat bangun membuat pikirannya terusik.
"Irza."
Satu panggilan namun tidak ada jawaban. Saat kaki Asha keluar dari kamar, baru juga ia ingin ke dapur, pintu dari apartemen mereka langsung terbuka.
"Sha .... " Suara lembut langsung menyapa Asha duluan. "Sudah bangun?"
"Hm. Kamu ... dari mana?"
"Belanja," ucapnya singkat sambil mengangkat kantong plastik yang ada di tangannya.
"Belanja?"
"Hm. Aku belanja kebutuhan kita pagi ini saja. Nanti, untuk kebutuhan bulanan, kita pergi berduaan entar siang kalo kamu gak keberatan, Sha."
"Ha?"
Irza yang sedang berjalan menuju dapur langsung menoleh. "Kenapa? Gak mau ya? Kalo gak mau, gak papa, Sha. Kamu tunggu di rumah saja. Biar aku yang pergi."
"Ah, bukan begitu. Maksud aku, kamu yakin mau belanja, Za?"
Irza mengangguk. "Mm. Tentu saja. Aku suka belanja, Sha. Biasanya, kalo hari libur, aku sering ikut si bibi belanja."
Penjelasan itu membuat Sha melonggo.
"Ha? Bisa gitu ya kamu?"
"Iya ... iya gitu deh. Asha kenapa? Aku aneh ya?"
"Eng-- enggak juga sih. Kamu sedikit unik. Aku aja nggak pernah ikut mama atau bibi belanja. Sekalipun gak pernah."
"Benarkah? Ayok! Coba ikut aku belanja nanti siang. Pasti rasanya menyenangkan, Sha. Karena dengan belanja kebutuhan rumah, kamu jadi bisa masak apapun yang kamu inginkan."
Sekali lagi Sha terkejut akan apa yang baru saja Irza ucap. Sungguh, suami gemulainya ini terlalu banyak kejutan ternyata.
"Masak?" Sha berucap dengan wajah bingung dan tak percaya. "Kamu ... bisa masak, Za?"
Irza mengangguk mantap. "Iya. Bisa sedikit. Kalo untuk biar gak kelaparan sih, aku bisa," ucapnya santai sambil tersenyum.
Lalu, tangan lentik itu mengambil celemek setelah meletakkan belanjaan yang dia bawa sebelumnya. Sha terus memperhatikan gerakan Irza yang tidak sedikitpun ada keraguan saat melakukan semua itu.
"Kamu ... mau masak apa sekarang, Za?"
"Nasi goreng aja, Sha. Yang simpel untuk sarapan pagi."
Sha menaikkan sedikit alisnya.
"Nasi goreng simpel?"
"Iya. Nasi goreng lebih simpel dari bubur soalnya."
"Oo .... " Sha merasa sedikit takjub akan kejutan dari suami gemulainya. Cukup banyak kejutan yang pria itu punya.
"Sha duduk saja di meja makan. Tunggu aku selesai masak," ucap Irza sambil sibuk melakukan tahap demi tahap untuk memasak nasi goreng yang akan ia persembahkan pada istri tercinta untuk yang pertama kalinya.
Iya. Tidak sepenuhnya pertama kali sebenarnya. Karena sebelumnya, dia juga pernah memberikan nasi goreng pada Asha. Tapi saat itu, dia tidak yakin kalau apa yang ia berikan Asha makan. Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa melihat ekspresi Sha saat menikmati masakan yang ia buat. Sekarang, dia akan memasak dengan sepenuh hati untuk ia persembahkan pada istri tercintanya ini.
"Ada yang bisa aku bantu, Za? Iya ... walaupun aku gak bisa masak. Tapi setidaknya, jika kamu beri petunjuk, aku bisa mengerjakan sesuai perintah."
Irza tersenyum sambil menoleh ke arah Asha.
"Enggak perlu, Sha .... Asha duduk saja di sana. Masakan untuk sarapan pagi, biar aku sendiri yang sediakan."
"Tapi-- "
"Aku ingin bikin yang murni dari sentuhan tangan ku untuk yang pertama kalinya, Sha. Aku ingin siapkan sesuatu yang memang aku sendiri yang membuatnya untukmu. Bolehkan, Ashanti?"
Sha tidak langsung menjawab. Ia terdiam sambil menatap wajah Irza selama beberapa saat. Manik mata hitam bercahaya yang penuh dengan harapan. Sungguh, semakin dilihat, Asha semakin merasa ada getaran aneh yang menyusup ke dalam hatinya. Entah salahnya di mana, tapi perasaan itu terlalu nyata.
"Ee ... Sha .... "
"Ah, iy-- iya. Iya, boleh. Aku tunggu hasil dari masakan mu ini, Za."
Irza kembali tersenyum lebar. "Aku gak akan kecewain kamu, Sha."
Benar saja, setelah menunggu selama beberapa menit, nasi goreng dengan telur mata sapi mateng selesai dihidangkan ke atas meja. Asapnya mengepul pelan. Aroma harum dari masakan tersebut tercium ke hidung, membuat selera makan langsung bangkit.
"Silahkan, Nona muda. Sarapannya sudah siap. Ayo di coba," ucap Irza dengan manik mata yang bahagia.
"Te-- terima kasih. Tampilannya cukup cantik," ucap Sha agak canggung untuk memuji.
Asha mengambil satu suapan untuk dia makan. Nasi goreng yang Irza buat langsung menyentuh lidah. Dan rasanya, wow, sangat lezat. Asha sangat suka dengan rasa dari nasi goreng tersebut, sampai ia lupa untuk memuji makanan yang sedang ia makan. Padahal ia yakin, manusia yang ada di depannya sedang menunggu pujian dari bibirnya atas apa yang telah manusia itu suguhkan untuk lidahnya barusan.
"Ee ... Sha. Gimana?"
"Ah, iya. Enak. Rasanya enak, Za."
"Beneran?"
"Hm. Iya. Beneran enak. Kamu beneran pintar masak ya."
Irza langsung tersipu malu. "Iya ... hanya sedikit. Aku bisa hanya sedikit saja."
"Ini bukan hanya sedikit, Za. Ini udah level beneran pintar. Kalah nih rasa nasi gorengnya si bibi yang aku bilang enak selama ini."
Irza semakin tersipu karena pujian yang Asha lontarkan. "Kamu bisa aja, Sha .... Jangan gitu mujinya. Aku jadi malu."
"Lho, enggak kok. Aku beneran ngasi review jujur ini tau gak sih? Masakan kamu beneran enak."
"Asha ... jangan muji lagi," ucapnya dengan nada manja. Nada khas pria gemulai yang sepertinya, Sha harus benar-benar terbiasa akan hal tersebut.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi