NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: Sang Raja Merangkak Turun

Suara langkah kaki yang terburu-buru dan berat terdengar menaiki anak tangga kayu ruko.

Pintu kayu lantai dua yang biasanya tertutup rapat, kini didorong kasar dari luar. Devan Santoso melangkah masuk dengan napas yang memburu, disusul oleh Amanda yang wajah cantiknya tampak kaku, serta Hendra yang memeluk erat tas kerja kulitnya seolah benda itu adalah pelampung darurat di tengah badai.

Doni Salman tidak membalikkan badannya seketika. Ia menyelesaikan goresan titik terakhir pada lingkaran kata TARGET ACQUISITION di papan tulis putihnya, meletakkan spidol hitamnya dengan ketukan pelan, baru kemudian memutar tubuh tegapnya.

Sepasang mata sumur tuanya menatap tiga figur penguasa Menara Thamrin itu dengan kekosongan yang mematikan.

"Ruangan ini tidak memiliki kursi yang cukup untuk menampung seluruh ego keluarga Santoso, Pak Devan," kata Doni,

Suaranya mengalir datar, dingin, tanpa ada riak keterkejutan sedikit pun.

Ia berjalan santai menuju kursi kulit di balik meja jatinya lalu duduk, membiarkan para tamunya berdiri di ambang pintu.

Devan Santoso melangkah maju hingga ujung sepatu pantofel mahal yang berdebu itu menyentuh pinggiran meja jati Doni.

Pria paruh baya itu mencengkeram tepi meja dengan kedua tangannya yang gemetar menahan amarah yang bercampur dengan kehancuran harga diri.

"Doni... jangan bermain teka-teki lagi denganku! Berapa banyak dana tunai yang kamu miliki di dalam Salman Group hingga kamu berani membeli seluruh piutang logistik perusahaanku?!"

Doni Salman bersandar rileks, melipat jemari tangannya di atas pangkuan.

"Uang bukan masalah di tempat ini, Pak Devan."

"Masalahnya adalah seberapa cepat perputaran uang itu bisa mengunci leher orang-orang yang serakah seperti Anda."

Doni melirik Hendra yang berdiri di belakang Devan dengan wajah pucat.

"Pak Hendra, selaku kepala tim legal, saya yakin Anda sudah menjelaskan kepada Direktur Utama Anda mengenai implikasi hukum dari akta cessie notariil yang baru saya terima sejam lalu."

"Mulai hari ini, Salman Holdings di bawah Bendera Salman Group adalah kreditur utama atas utang dagang logistik PT Santoso Karya sebesar lima belas miliar rupiah."

"Dan sesuai hukum yang berlaku, jika tagihan tersebut tidak dilunasi secara tunai dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam... kami memiliki hak konstitusional untuk mengajukan permohonan sita jaminan atas aset yang melekat pada proyek Sektor Utara."

"Sita jaminan?!"

Amanda Santoso menjerit kecil, melangkah maju dengan mata yang melebar penuh kepanikan.

"Doni, kamu gila?! Tanah di Marunda itu adalah aset masa depan korporasi kami! Kami sudah menanam modal ratusan miliar untuk fondasi tol di sana! Kamu tidak bisa menyitanya hanya karena utang belasan miliar!"

Doni mengalihkan pandangan sedingin es miliknya kepada Amanda, membuat wanita sosialita itu seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat karena intimidasi psikologis yang begitu pekat.

"Aku bisa, Nona Amanda."

"Hukum niaga tidak peduli seberapa banyak air mata yang Anda teteskan di dalam gaun sutra Anda. Yang hukum peduli adalah hitam di atas putih. Dan saat ini, hitam di atas putih itu berada di dalam laci mejaku."

Devan Santoso memejamkan matanya selama beberapa saat, mencoba meredam detak jantungnya yang kian berdegup kencang.

Di kehidupan pertamanya, ia adalah sosok titan yang mampu melumat hidup Doni Salman hanya dengan satu lambaian tangan.

Namun hari ini, di ruko Pluit yang sederhana ini, ia menyadari dengan kengerian yang mendalam bahwa seluruh taktik korporatnya telah tumpat.

Ia tidak sedang berhadapan dengan mantan kuli gudangnya; ia sedang berhadapan dengan sesosok iblis finansial yang tahu setiap kelemahan dan langkah mati perusahaannya.

"Doni..." Devan membuka matanya, suaranya melunak, berubah menjadi sebuah bisikan serak yang sarat akan permohonan sebuah pemandangan yang mustahil disaksikan oleh para staf Menara Thamrin.

"Mari kita bicarakan ini sebagai sesama pemegang saham."

"Kamu memegang dua persen opsi saham kami. Jika PT Santoso Karya dinyatakan pailit atau asetnya disita oleh Pengadilan Niaga, nilai sahammu juga akan menguap menjadi abu."

"Kita berada di dalam perahu yang sama, Doni. Bantu aku mencairkan kemacetan ini. Berikan kami perpanjangan waktu pelunasan selama tiga puluh hari."

Doni Salman menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman kemenangan yang sangat kejam.

Jiwa sang CEO berusia empat puluh enam tahun di dalam tubuh mudanya tahu betul bahwa ini adalah momen di mana umpan catur finansialnya harus ditarik untuk melakukan skakmat total.

"Perahu yang sama?"

Doni terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat hampa dan mengerikan di dalam ruangan sepi itu.

"Anda salah, Pak Devan."

"Perahu Anda sudah bocor sejak Anda memutuskan untuk menyimpan seluruh uang operasional di Bank Nusa Sentosa demi mengejar bunga haram dua belas persen."

"Sementara perahu saya... Salman Holdings, saat ini sedang berlayar di atas lautan likuiditas tunai yang tidak akan pernah bisa Anda bayangkan."

Doni membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah dokumen baru yang masih bersih tanpa noda, lalu melemparkannya ke tengah meja kaca hingga mendarat tepat di depan dada Devan Santoso.

"Saya tidak akan memberikan perpanjangan waktu sepeser pun," kata Doni, suaranya bergetar dengan otoritas mutlak yang mengunci takdir musuhnya.

"Tetapi, saya memberikan Anda satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan nama besar keluarga Anda dari sel tahanan Pengadilan Niaga."

Devan dengan tangan yang gemetar meraih dokumen tersebut, membacanya di bawah tatapan cemas Amanda dan Hendra.

Di halaman pertama dokumen tersebut, tertulis sebuah judul yang membuat jantung Devan seolah berhenti berdetak:

SURAT PERJANJIAN PENGALIHAN ASET DAN PENINGKATAN SAHAM (DEBT-TO-EQUITY SWAP).

"Skema konversi utang menjadi saham," Hendra berbisik dari balik bahu Devan, suaranya bergetar hebat.

"Pak Devan... dokumen ini menyatakan bahwa jika kita tidak bisa membayar utang lima belas miliar secara tunai, kita dipaksa untuk menyerahkan tambahan delapan persen saham pengendali PT Santoso Karya kepada Salman Holdings sebagai kompensasi pelunasan utang darurat."

"Delapan persen?!" Amanda berteriak histeris, wajah cantiknya kini dipenuhi oleh air mata frustrasi yang merusak riasannya.

"Ditambah dua persen opsi saham minggu lalu... itu artinya Doni Salman akan memiliki sepuluh persen saham total di perusahaan kita!"

"Dia akan menjadi pemegang saham minoritas terbesar di luar keluarga kita, Papa! Dia bisa mengacaukan rencana IPO kita tahun depan!"

Devan Santoso tidak mendengarkan jeritan putrinya. Pandangannya terpaku pada baris penalti di bagian bawah dokumen.

Jika ia menolak menandatangani surat ini hari ini, esok pagi Salman Holdings akan mendaftarkan gugatan pailit secara resmi di Pengadilan Niaga, dan seluruh vendor logistik di Jakarta akan tahu bahwa PT Santoso Karya telah kehabisan uang tunai sebuah berita yang akan langsung meruntuhkan kredibilitas korporasinya hingga ke dasar bumi.

"Kamu... kamu sudah merencanakan ini semua sejak makan malam di Menteng itu, bukan, Doni?" tanya Devan,

Suaranya terdengar sangat lemah, matanya menatap Doni dengan tatapan kosong seorang raja yang baru saja kehilangan takhtanya.

Doni Salman berdiri dari kursinya, merapikan letak kemeja katun hitamnya, lalu menatap Devan dari posisi yang lebih tinggi dengan pandangan yang sedingin es.

"Tanda tangani dokumen itu, Pak Devan," perintah Doni, nadanya tidak lagi mengandung ruang untuk negosiasi.

"Tanda tangani, atau saksikan Menara Thamrin yang Anda banggakan itu berubah menjadi debu di tangan para kurator pengadilan esok pagi."

"Pilihan ada di tangan Anda, dan waktu Anda terus berjalan mundur."

Di dalam keheningan ruang kerja lantai dua ruko Pluit, di bawah saksikan badai finansial yang mulai mengguncang perbankan Jakarta, sang raja kontraktor akhirnya merangkak turun dari singgasananya.

Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, Devan Santoso meraih pulpennya, bersiap menorehkan tanda tangan yang akan menyerahkan sepuluh persen dari kekaisaran bisnisnya ke dalam cengkeraman dingin Doni Salman sebuah awal dari keruntuhan mutlak yang tidak akan pernah bisa dihentikan oleh siapa pun lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!