"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Cerita Sesama Lintas Dimensi
"Daripada kita berdiri terus di sini sampai kaki pegal, lebih baik kita masuk ke dalam rumah dulu. Kita bisa mengobrol dan cerita-cerita sambil kumpul santai," usul Lalita sembari menunjuk rumah minimalis di kejauhan.
Dinda dan yang lainnya serempak mengangguk setuju. Mereka berlima lantas berjalan beriringan menapaki teras, masuk ke dalam ruang tamu yang sejuk, lalu menduduki deretan sofa-sofa minimalis yang kosong. Suasana modern di dalam rumah itu seketika membuat mereka merasa sedikit bernostalgia dengan dunia asal mereka.
"Jadi, kita mulai dari mana nih? Siapa duluan yang mau berbagi cerita?" tanya Raditya memecah keheningan sembari menyandarkan punggungnya yang tegap.
"Aku! Aku duluan yang mau cerita," seru Amanda bersemangat sembari mengangkat tangannya.
Melihat antusiasme gadis berkebaya hijau itu, yang lain lantas mengangguk setuju, mempersilakannya menjadi pembuka cerita.
"Jadi begini, waktu itu... ceritanya aku baru saja pulang kerja kantoran. Aku pulang naik bus kota, dan saat itu suasananya memang sudah larut malam. Karena aku sudah merasa capek banget, lemas, ditambah perut lapar lagi, akhirnya aku ketiduran di dalam bus," ucap Amanda memulai kisahnya.
Pandangan Amanda menerawang, mengingat kembali awal mula tragedi itu. "Tapi... anehnya, pas aku terbangun, aku dibuat kaget setengah mati. Aku sudah tidak ada lagi di dalam bus. Begitu membuka mata, aku melihat ada seorang bocah laki-laki yang duduk persis di depanku sambil terus-terusan memperhatikan aku."
"Bocah? Siapa?" tanya Lalita kepo.
"Anak itu kurus, kulitnya hitam, dekil, pokoknya kotor banget layaknya anak telantar. Yang bikin aku syok, anak itu tiba-tiba memanggilku dengan nama 'Mbak Ningsih'. Sumpah, aku sama sekali enggak paham situasi waktu itu! Tapi bocah itu bersikeras dan ngotot kalau aku ini memang sama persis dengan kakaknya yang sudah hilang tiga tahun lalu. Di situ aku panik, aku tanya sama dia, 'Ini di mana? Aku di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?' Padahal kan ingatan terakhirku masih di dalam bus. Tapi kok bisa-bisanya mendadak pindah ke dalam hutan belantara?" kata Amanda menggebu-gebu.
Yang lain masih menyimak dengan saksama tanpa menyela.
"Karena aku merasa bingung dan takut, untungnya aku meraba tas kerjaku yang ternyata masih kesampir di pundak. Aku langsung buru-buru mencari ponsel buat memeriksa Google Maps. Aku juga bertanya ke bocah itu apa nama tempat ini. Anak itu bilang, tempat itu namanya 'Wana Alas Rimbun'. Sontak aku langsung ketik nama itu di mesin pencarian ponselku. Tapi nihil... Google Maps-ku blank, sama sekali tidak memunculkan petunjuk apa pun. Anehnya lagi, ponselku mendadak bersih seperti ponsel yang baru beli dari konter, tidak ada satu pun kontak yang tersimpan kecuali nomor ponselku sendiri," lanjut Amanda.
"Sumpah, di posisi itu aku sudah bingung dan frustrasi banget. Tapi akhirnya, bocah yang ternyata namanya Danur itu mengajak aku untuk ikut pulang ke rumahnya. Nama desanya adalah Desa Tegalasri," pungkas Amanda.
Dinda yang mendengarnya langsung melebarkan mata. "Cerita kamu hampir sama persis seperti ceritaku! Aku juga langsung terdampar di tengah hutan begitu saja setelah hampir ditabrak tronton."
Amanda menoleh, memandang Dinda dengan tatapan penuh simpati. Namun, sebelum Dinda melanjutkan kalimatnya, Raditya yang sejak tadi diam mendadak menegakkan posisi duduknya. Wajah tampan sang bangsawan tampak terkejut.
"Tunggu... Desa Tegalasri?" tanya Raditya memastikan. "Itu kan desa yang berada tepat di sebelah desa tempat tinggalku sekarang."
"Oh ya?! Serius? Aku enggak menyangka loh kalau kita sedekat itu!" seru Amanda heboh. "Memangnya nama desa kamu apa, Radit?"
"Desa Wanamerta. Desa kita hanya dipisahkan oleh sebuah aliran sungai yang panjang," ucap Raditya menjelaskan. Amanda langsung mengangguk-angguk paham, merasa lega karena ternyata ada teman satu dimensi yang jaraknya sangat dekat di dunia nyata.
"Oke, sekarang giliran gue yang cerita," sahut Arya mengambil alih perhatian. Pria berbaju zirah prajurit itu menghela napas berat, wajahnya tampak sangat nelangsa.
"Kalian harus tahu, bisa-bisanya waktu awal gue datang ke dunia aneh ini, gue langsung dihadapkan sama segerombolan musuh yang salah kira! Mereka mengira gue ini adalah lawan mereka. Bayangkan saja, baru juga bangun dan buka mata, eh... tiba-tiba langsung diserang pakai pedang tajam! Mereka pikir gue ini adalah salah satu prajurit bayangan dari Keraton Martapuri. Di situ, gue terpaksa habis-habisan mengelak dan menghindar, sampai akhirnya gue gemas dan terpaksa menimpuk kepala mereka satu per satu pakai batang kayu yang kebetulan ada di dekat gue," ucap Arya dengan nada menggebu-gebu.
"Nah, gara-gara kejadian itu, entah bagaimana ceritanya gue malah benar-benar dikira sebagai prajurit Martapuri asli sampai sekarang. Gue selalu disuruh-suruh oleh atasan buat menjalankan berbagai misi aneh. Mana tugasnya sulit-sulit dan taruhannya nyawa lagi!" keluh Arya panjang lebar.
Lalita yang mendengar penderitaan Arya langsung tidak bisa menahan diri. Tawa renyahnya pecah, wanita berkemben biru itu tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya.
"Ya ampun, kasihan banget sih kamu, Arya! Jadi kalau mendengarkan cerita kalian semua, berarti di sini cuma aku dong yang takdir hidupnya paling enak dan mewah?" ucap Lalita dengan nada menggoda.
Dinda, Amanda, Arya, dan Raditya serempak menoleh ke arah Lalita, menanti kelanjutan cerita dari sang "Putri Kerajaan" gadungan ini.
"Kalian tahu enggak? Aku bisa terdampar di zaman ini gara-gara keisenganku menempelkan jari ke sebuah cermin kuno di toko barang antik. Begitu jari menempel, tubuhku rasanya seperti tersedot jatuh ke bawah. Dan byurrr! Aku langsung nyebur dan mendarat darurat di dalam kolam pemandian pribadi milik seorang Putri Agung Kerajaan!" ucap Lalita sembari mengedipkan matanya lucu.
"Untungnya, ransel yang aku bawa waktu itu jenisnya anti-air (waterproof). Jadi semua barang-barang modern milikku aman, enggak basah sama sekali," lanjut Lalita sembari membenulkan posisi kemben birunya.
"Sampai akhirnya, aku juga membuka ponsel dan menemukan aplikasi toko online ajaib ini, sama persis seperti kalian. Oh, ya... satu hal lagi. Arya, berarti sekarang kamu itu bawahanku, tahu! Secara... aku ini sekarang berstatus sebagai Putri Raja Martapuri!" ucap Lalita kemudian, sengaja melempar candaan dengan nada angkuh yang dibuat-buat.
Sontak ruang tamu itu dipenuhi gelak tawa dari Dinda, Amanda, dan Raditya. Hanya Arya yang tidak ikut tertawa, melainkan melipat kedua tangannya di dada dengan wajah masam dan dahi berkerut. "Sialan, bisa-bisanya takdir bercanda sampai sejauh ini," gerutu Arya pasrah.
Dinda kemudian mengalihkan pandangannya pada pria berwajah tenang di sebelahnya. "Kalau kamu bagaimana, Raditya?" tanya Dinda kepo.
Pria itu melipat bibirnya sejenak, lalu mengembuskan napas pendek. "Kalau kisahku... sebenarnya agak mirip-mirip dengan ceritanya Arya," ucapnya ringkas.
"Sama persis bagaimana?" tanya mereka semua berbarengan, dilanda rasa penasaran yang besar.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍