NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Sebab Kebencian

"Kamu kenal siapa dia ?" Aku menanyakan tentang bocah laki-laki tinggi besar yang pernah berkelahi denganku saat suatu hari Erwin datang main ke rumah dinas Bapak.

"Oh si Raden Pramono, " Erwin menyebutkan nama yang kumaksud, "dia cucu juragan cengkeh yang nyebelin," ujarnya lagi.

Seperti Erwin, ... Aku tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi kemudian setelah perkelahian kami di pintu gerbang SD Bruderan dulu.

Kami berdua tetap dengan keriangan masing-masing. Berangkat sekolah jalan kaki, les, bermain dan semua kesenangan masa kecil kami.

Sampai kemudian Bapak pindah tugas ke kantor barunya tepat ketika Aku masuk SMP.

Dari rumah dinas Bapak di rumah sakit, Aku kini tinggal di rumah dinas Bapak yang baru di Mersi. Kampung yang ada di pinggiran kota Purwokerto.

Lalu Erwin dan Arin pindah ke Purbalingga kota kecil yang berbatasan dengan kota Purwokerto dan melanjutkan SMP-nya di sana.

Eliza, dan Bogi masih tetap satu kota denganku hanya mereka memilih bersekolah di SMP Bruderan tak jauh dari sekolahku.

Aku sendiri diterima di SMP Negeri yang kata orang-orang adalah SMP favorit di Purwokerto.

Tentang Raden Pramono yang kusinggung di atas, kini malah muncul dalam cerita masa kecilku kemudian .... Saat bocah memuakkan itu ternyata sekarang malah satu kelas denganku di SMP ....

***

"Raden Pramono Suparmadi !" Bocah yang duduk di deretan belakang kelasku mengangkat tangannya saat bu guru Denok mengabsen satu-satu murid kelas satu SMP-ku.

Bertatapan lagi dengan Raden sialan itu setelah duduk dalam ruang kelas yang sama menjadi sesuatu yang aneh bagiku.

Tidak takut sih, ... justru Aku ingin tahu lebih banyak tentang si Raden itu. Dan bocah itupun sepertinya punya rencana tersembunyi setelah mengetahui kehadiranku.

Jika dulu dia tak punya sekutu untuk membalas sakit hatinya di kampung lamaku sebelum Aku pindah ke kampung Mersi .... Kini Aku mulai merasakan kusak kusuk persekongkolan di kelasku setelah si Raden itu juga menyadari siapa diriku.

Sepertinya kini Aku harus menghadapi si Pram nama yang lebih gampang kusebutkan daripada menyebutnya lengkap dengan kemasan embel-embel Raden yang selalu dibanggakannya.

Yang jelas, menyadari Aku ada dalam ruang yang sama, si Pram tak bisa lagi petantang petenteng mengumbar aura bully dalam dirinya di hadapanku.

Walau Aku tahu nyali Si Pram dan gerombolan-nya hanya sebatas petantang petenteng mem-bully bocah yang lebih kecil dan tak punya keberanian, dan lalu lari tunggang langgang terkena batunya ketika berhadapan dengan kenekatan perlawanan diriku, Erwin dan Arin dulu, ... kini Aku tak boleh lengah.

Semula Aku hanya tahu si Pram hanyalah cucu juragan cengkeh yang rumahnya paling besar di kampung Sokanegara dengan motor dan mobil colt di garasinya .... Dan sekarang Aku harus tahu dengan siapa dia dekat di sekolah baruku.

Berjaga-jaga saja, siapa tahu dia masih menganggapku bedebah yang menghalangi hasrat bully-nya .... Seperti yang terjadi dulu saat Aku, Erwin, dan Arin nekat menghadapi ulahnya.

Tak bisa kubayangkan jika kami membiarkannya saat itu, ... bisa saja Aku dan teman Cina-ku di SD dulu akan selalu jadi bulan-bulanan si Pram dan gerombolannya ....

Dan kini di SMP baruku, teman sebangkuku justru bocah Cina saat kami berkenalan di hari pertama masuk sekolah.

"Juli." Bocah putih bermata sipit itu menyebutkan namanya.

"Pras." Aku membalas perkenalannya....

***

Sejak kecil Aku tahu ada sesuatu yang berbeda di luar sana.

Tak hanya tentang sebutan orang Belanda, Cina, Batak, Padang, Sunda, atau Jawa yang kudengar sejak TK, ... keluarga besar Bapak dan Ibu juga mengenalkanku tentang sesuatu yang berbeda itu.

Bapak bungsu dari sepuluh bersaudara, dan Ibu anak ke dua dari delapan bersaudara.

Kata Bapak dan Ibu, ... masa kecil sampai muda mereka penuh lika liku susahnya perjalanan hidup.

"Bapak dulu mbecak sambil sekolah waktu di Bandung," kata Bapak ketika Aku menanyakan tempat kelahiranku, "ibu-mu ikut teman Bapak jualan nasi rames dekat sekolah Bapak." Bapak meneruskan lagi cerita asal mula pertemuannya dengan Ibu.

Kesuraman sosial di akhir tahun 1965 menjadikan keluarga besar Bapak dan Ibu tercerai berai meninggalkan kampung mereka supaya tak mati konyol jika terus berdiam di sana.

Kata Bapak, tak ada yang dapat dilakukan di kampung saat harga bahan pokok tak terjangkau dengan tensi tinggi penuh kecurigaan dan ketidaktahuan penyebabnya di sana sini.

Salah mengambil sikap dan kata-kata, bisa saja membuat seseorang menghilang tanpa jejak.

Pak dhe, bu Dhe, pak Lik, sampai bu Lik dari garis kakak adik Bapak dan Ibu memilih berpencar merantau ke Sumatra, Kalimantan dan bahkan ada pak Dhe kakak Bapak yang akhirnya terdampar sampai Irian Jaya -kini Papua- untuk menghindari kekacauan kesuraman itu.

Bapak dan Ibu memilih mencari penghidupan di kota Bandung yang lalu mempertemukan keduanya dan menikah di tahun 1970 seperti yang diceritakan Bapak tadi.

"Lalu kamu lahir di Bandung Pras, tepat ketika Bapak menyelesaikan sekolah."

"Berarti Bapak dan Ibu bisa bahasa Sunda ya?" tanyaku menanggapi cerita masa lalu Bapak dan Ibu.

Bapak tertawa sambil mengangguk membenarkan dugaanku, "Bapak sengaja memilih sekolah perawat yang ada di Bandung supaya mudah bekerja setelah lulus," lanjut Bapak lagi.

Lalu Bapak menyinggung tahun-tahun berat itu, yang menjadikan keluarga besar Bapak dan Ibu mempunyai keyakinan dengan caranya masing-masing setelah berhasil melewatinya.

Tak heran pak Dhe, bu Dhe, pak Lik, dan bu Lik ada yang bersimpuh di masjid, gereja, atau keheningan batin masing-masing untuk tetap mempercayai adanya tangan langit yang menuntun keberhasilan mereka melalui kesuraman gelap kala itu.

"Pokoknya jaman itu jangan sampai terulang lagi Pras ..... Makanya kamu sekolah yang bener. Jangan main-main biar tidak susah kayak Bapak dan Ibumu dulu."

Cerita Bapak tentang perbedaan dan kesusahan itu sangat membekas, terutama saat tiba waktunya berkumpul dengan keluarga besar Bapak atau Ibu di rumah Kakek saat lebaran, ... membahas hadiah Natal dari pak Dhe, bu Dhe, pak Lik, dan bu Lik yang memenuhi rumah dinas Bapak, ... atau ikut Sedekah Bumi di kampung pak Dhe atau bu Lik salah satu kakak dan adik Bapak menjadi puncak kesenangan batinku mengenal warna warni langit yang tetap membumi, ... berpijak pada tanah yang sama tanpa pernah mempermasalahkan warna apa yang terindah.

Hal itulah yang masih gagal kupahami ketika begitu mudahnya kebencian terhadap perbedaan meletup tanpa pernah melalui kesusahan sebab perbedaan itu.

Apa standar kebencian yang dipakai si Pram ketika kutahu kakek dan nenek-nya justru menjual lagi cengkeh di gudangnya ke pengepul Cina yang mendatanginya ? Bukankah keluarganya tak pernah kekurangan sebab kedatangan pengepul Cina itu ?

***

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!