Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23
Seiring dengan napas yang kian memburu, tangan kanan Riven bergerak dari bawah merayap naik, menyusup ke balik piyama Angie. Lembar kain itu terangkat, dan saat menyadari gadis itu tidak mengenakan bra, telapak tangan Riven langsung menangkup payudara polos yang kenyal di baliknya.
Ukurannya yang penuh membuat satu tangkupan tangan Riven yang besar bahkan tidak mampu menyembunyikan.
“Aahmm… Ehmmhh…”
Sentuhan posesif dan remasan lembut Riven di sana seketika meloloskan desahan pelan dari belahan bibir Angie, sebuah kode tersirat bahwa ia menikmati setiap sentuhan itu seolah memohon agar Riven tidak berhenti.
Riven, yang biasanya selalu mengedepankan akal sehat dan logika rasional, kini benar-benar kehilangan kewarasannya.
Selama 29 tahun hidupnya, ia tidak pernah mengenal, apalagi menyentuh seorang wanita sedekat ini. 29 tahun lamanya ia hidup terkekang, hanya demi memenuhi ekspektasi dan obsesi gila sang ayah.
Namun malam ini, ada seorang gadis yang begitu cantik di bawah kungkungannya. Gadis yang berulang kali menyalakan alarm tanda bahaya di kepalanya, kini justru menjadi satu-satunya alasan mengapa kontrol diri Riven runtuh tak tersisa.
Dalam satu gerakan impulsif, Riven menarik piyama Angie melewati kepala gadis itu dan mencampakkannya begitu saja ke lantai. Ia kemudian menyusupkan lengannya di bawah tubuh Angie, mengangkat tubuh ringan itu ke dalam gendongannya.
Angie langsung melingkarkan kedua kaki jenjangnya di pinggang kokoh Riven, mengunci tubuh mereka tanpa memutuskan ciuman panas yang terus bertaut, mengiringi langkah lebar Riven yang bergerak menuju kamar tidur.
Riven membaringkan tubuh Angie ke atas ranjang dengan sisa-sisa kelembutan yang ia miliki. Kini, gadis itu hanya mengenakan celana dalam, sementara Riven menyentak kausnya hingga terlepas, menyisakan celana panjang yang masih melekat di pinggangnya.
Ciuman mereka kian membara dan menuntut. Suara saling sesap mereka bahkan terdengar memekakkan isi ruangan kamar.
Tangan kiri Riven bergerak aktif menangkup dan meremas salah satu payudara penuh Angie dengan sentuhan lembut namun posesif, sementara bibirnya turun memburu puncak dada sang gadis. Riven menyesapnya perlahan, mengulum dan mempermainkannya dengan sapuan lidah yang memabukkan.
“Aahhh… Ahhmmm… Nggghhh… Ahhh… Riv… Riven.”
Desah pasrah meloloskan diri dari celah bibir Angie. Jemari lentiknya meremas rambut Riven, menyusup ke sela-sela untaian rambut pria itu seiring dengan sensasi nikmat yang kian membubung tinggi.
“Aahhhh… Ehmmm…”
Namun, tepat saat atmosfer di kamar itu semakin memanas, Riven menghentikan gerakannya. Ia menegakkan tubuh, menyisakan jarak beberapa senti untuk menatap Angie dalam-dalam.
Sepasang netra mereka saling mengunci. Tatapan sayu Angie yang sarat akan kabut gairah seolah bertanya tanpa kata; kenapa berhenti?
“Aku baru pertama kali melakukannya,” bisik Riven jujur, suaranya terdengar serak dan tenggelam.
Mendengar pengakuan tak terduga itu, sudut bibir Angie berkedut. “Pfftt…” Gadis itu refleks terkekeh pelan.
Riven mengernyitkan alis. “Apa ada yang lucu?”
“Tidak…” Angie tersenyum manis, jemarinya bergerak mengusap rahang tegas Riven yang masih mengukungnya. “Aku hanya terkejut. Benarkah ini yang pertama bagimu? Karena sejak tadi... kau terlihat sangat menguasai medan.”
Riven mengembuskan napas pendek, tatapannya melembut namun tetap intens. “Ini naluri alami seorang laki-laki. Selama 29 tahun, aku hidup hanya untuk ayahku, memenuhi semua keinginan, obsesi, dan menaklukkan apa pun di depanku demi kepuasannya. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku melakukan hal yang ingin ku lakukan.”
“Baiklah, karena ini yang pertama bagimu, berarti aku pemenangnya, bukan?” goda Angie di sela napasnya yang memburu, sebelum menarik tengkuk Riven untuk mencium bibir pria itu.
Riven tidak membiarkan Angie memegang kendali. Ia langsung membalas ciuman itu, kali ini jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh intensitas yang membakar.
Pergulatan penuh gairah di antara mereka resmi dimulai. Riven kembali memburu leher jenjang Angie, menyesap kulit halusnya dan meninggalkan jejak-jejak kepemilikan yang memerah kontras. Pria itu menuruni lekuk tubuh Angie dengan kecupan-kecupan panas, mengulum puncak dadanya, dan menghiasi sekujur payudara penuh itu dengan tanda kemerahan yang kian banyak.
Sementara bibirnya memanjakan tubuh bagian atas Angie, tangan kanan Riven bergerak liat merayap turun. Jemarinya menelusup ke balik selembar kain terakhir yang melekat di tubuh Angie, menyentuh pusat keintiman sang gadis yang mulai menghangat.
Angie melenguh, refleks merenggangkan kedua kakinya demi memberikan akses bagi jemari Riven untuk bergerak lebih bebas di sana.
Sentuhan awal itu terasa begitu lembut, bergerak pelan mengikuti ritme pagutan bibir mereka yang kian memabukkan.
“Eemmhhh… Emhhh…” Angie melenguh panjang, mencengkeram bahu kokoh Riven saat sensasi nikmat mulai merambat naik hingga ke ubun-ubunnya.
Gerakan konstan di area sensitif itu perlahan memanas. Keintiman Angie yang kian basah mempermudah jemari Riven untuk menyusup lebih dalam, menembus dinding kehangatan yang mendamba.
Pria itu menggerakkannya perlahan, membiarkan cairan tubuh Angie kian melimpah, sebelum perlahan tapi pasti, ia menaikkan tempo gerakannya.
“Kau berbohong… Ahh… Ini tidak mungkin yang pertama bagimu…. aahhmmm Aahh…” Angie meracau tak keruan, melingkarkan kedua tangannya di leher Riven dengan erat, menjadikannya satu-satunya pegangan di tengah badai gairah.
“Aahhh… ahhhh… Riven, aku… aku akan keluar……”
Mendengar bisikan parau itu, Riven justru menambah satu jari lagi ke dalam kehangatannya, lalu mempercepat ritme tusukannya dengan presisi yang mematikan.
Sebuah sentakan hebat seketika menghantam kesadaran Angie. Seperti dialiri sengatan listrik berkekuatan tinggi, seluruh tubuh Angie bergetar hebat. Kedua kaki jenjangnya mendadak kaku, dan mengapit, perutnya menegang, dan puncak kenikmatan itu meledak tanpa ampun.
“Aaahhh… Eemhh…” Jemari Angie meremas keras tengkuk Riven, menumpahkan seluruh sisa tenaganya di sana.
Riven membiarkan Angie terengah-engah menikmati sisa-sisa orgasmenya yang dahsyat.
Menggunakan kesempatan itu, Riven dengan cekatan menyentak turun celana dalam Angie yang sudah basah kuyup, lalu beralih menanggalkan celana panjangnya sendiri hingga mereka benar-benar polos tanpa sekat.
Tatapan Riven menggelap menyaksikan pemandangan di bawahnya. Ia kembali merunduk, mengecupi perut rata Angie yang masih kembang kempis meraup oksigen, terus turun menyusuri lekuk molek sang gadis menuju inti kehangatan yang sudah menantinya sejak tadi.
Angie menatap samar-samar siluet tubuh tegap dan kekar milik Riven di bawah temaram lampu kamar. Lengan kokoh itu terlihat begitu kuat, namun ada bagian lain yang jauh lebih berbahaya yang tertangkap oleh penglihatan Angie.
Ukuran milik Riven yang luar biasa seketika membuat sepasang matanya membulat sempurna.
“Kurasa... aku harus berjuang ekstra keras untuk bertahan malam ini,” gumam Angie dengan napas tertahan. Mermikirkan apa yang akan terjadi pada detik berikutnya, hanya dengan melihat tubuh Riven saja Angie tahu betapa kuat pria di hadapannya.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor