NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nafas Dalam Selimut

Lampu meja di ruang kerja lantai bawah berpendar kekuningan, memantulkan bayangan Reza yang duduk diam di balik meja jati besarnya.

Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi sisa wine merah bergoyang pelan. Matanya menatap kosong ke arah deretan dokumen proyek yang berserakan, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Suara Gita yang tajam beberapa malam lalu kembali terngiang, menggema di dinding kepalanya seperti lonceng yang terus bertalu.

“Dia menjadi sangat dingin, Rez. Cuek. Jangan sampai... dia berniat merebutmu dariku.”

Reza mendengus pahit, meneguk sisa wine-nya hingga tandas. Rasa hangat yang membakar tenggorokannya tidak mampu mengusir rasa dingin yang merayap di hatinya.

Gita cemburu? Itu menggelikan. Tetapi yang membuat Reza tidak tenang adalah kesadaran bahwa perkataan Gita ada benarnya.

Alya berubah. Terlalu berubah.

Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap langit-langit ruang kerja.

Sudah hampir tiga minggu sejak malam kebrutalan itu, dan Alya bertingkah seolah-olah dirinya tidak lebih dari sekadar hantu di rumah ini. Gadis itu tidak pernah lagi menangis.

Tidak pernah memohon untuk pulang ke rumah ibunya. Tidak pernah menuntut penjelasan, apalagi meminta maaf. Ia terlalu tenang.

Kepasrahan atau ketundukan total biasanya menyisakan gurat depresi, namun pada Alya, Reza melihat sebuah kekosongan yang rapi.

Dan yang paling membuat Reza terusik: Alya selalu "tidak ada" setiap kali ia pulang. Kamar utama di lantai atas selalu terkunci dari dalam sebelum jam sembilan malam.

Di atas meja makan, piring Alya sudah bersih dan ia selalu melewatkan jam kepulangan Reza dengan alasan sudah tertidur lelap akibat kelelahan kelas aerobik sore hari.

Rasa penasaran yang bercampur dengan kegelisahan aneh mendadak meledak di dalam dada Reza. Ia melirik jam dinding.

Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Biasanya, ia akan terus mengunci diri di ruang kerja ini, menghabiskan malam dengan sisa wine atau tontonan video dari Gita, baru naik ke kamar utama setelah tengah malam saat matanya sudah benar-benar mengantuk.

Di jam seseram itu, ia hanya akan melihat Alya sudah membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal yang dililit rapat dari ujung kaki hingga dagu—sebuah benteng kain yang seolah menegaskan garis batas tak terlihat di antara mereka.

Namun malam ini, Reza memutuskan untuk melangkah naik lebih cepat. Ia meletakkan gelas kristalnya, berdiri, lalu melangkah keluar ruang kerja menuju tangga marmer.

Di lantai atas, di dalam kamar utama, suasana baru saja mendingin setelah ketegangan pelarian. Alya baru saja mengunci kembali pintu geser balkon dan membuka kunci pintu koridor dalam dengan napas yang masih menyisakan lelah dari perjalanan ojek daringnya.

Ia berjalan menuju lemari pakaian raksasa, berniat menanggalkan kemeja flanel dan celana jin hitamnya untuk berganti pakaian tidur. Tubuhnya baru saja terlepas dari pakaian kasual tersebut, menyisakan setelan pakaian dalam katun berwarna putih polos yang melekat di kulitnya, ketika telinganya yang tajam menangkap sebuah suara yang paling ia takuti di rumah ini.

Ketuk. Ketuk. Ketuk.

Langkah kaki yang berat, lambat, namun tegas terdengar menaiki anak tangga marmer menuju lorong kamarnya.

Jantung Alya seketika mencelos, melompat ke tenggorokan. Reza.

Pria itu naik ke atas di jam segini? Ini di luar kebiasaan. Pikiran Alya langsung diserang kepanikan instan. Sisa-sisa pakaian tidurnya—sepotong daster hitam panjang—masih tersampir di gantungan lemari. Ia belum sempat mengenakannya.

Ia belum sempat mengancingkan apa pun, belum sempat memakai celana kain panjang pelindungnya. Langkah kaki itu semakin dekat, kini sudah melewati batas kamar mandi luar.

Tanpa berpikir panjang, dengan gerakan yang teramat buru-buru, Alya melompat ke atas ranjang king-size. Ia menarik selimut tebal berwarna krem dengan kasar, lalu melemparkan tubuhnya menghadap dinding, membelakangi pintu masuk.

Namun karena waktu yang terlalu sempit, ia tidak sempat melilitkan selimut itu dengan rapat seperti biasanya. Kain tebal itu hanya menutupi separuh tubuh bagian bawahnya, sementara bagian punggung atasnya yang hanya terbalut tali bra putih dan kulit mulusnya yang terekspos masih menyembul di balik lipatan kain yang berantakan.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur napasnya agar terdengar dalam dan teratur, berpura-pura telah tenggelam dalam tidur yang lelap.

Klik.

Gagang pintu bergerak. Pintu kamar utama berayun terbuka perlahan.

Reza melangkah masuk ke dalam kamar yang temaram, hanya diterangi oleh lampu tidur sudut ruangan yang redup.

Pandangannya langsung lurus tertuju ke arah ranjang besar di tengah ruangan. Langkah kakinya mendadak terhenti di sisi tempat tidur.

Matanya yang dingin melebar seketika.

Malam ini, benteng kain tebal yang biasa membungkus istrinya tidak ada. Di hadapannya, Alya berbaring miring membelakangi pintu. Selimut krem itu melorot, jatuh di batas pinggang.

Punggung mulus Alya yang seputih pualam terpampang jelas di bawah temaramnya cahaya lampu sudut, kontras dengan helai-helai rambut hitam panjangnya yang tersebar berantakan di atas bantal putih.

Tali pakaian dalam katun putihnya yang tipis melingkari punggung atasnya, memperlihatkan lekuk ramping seorang gadis delapan belas tahun yang masih sangat ranum namun sarat akan keindahan yang rapuh.

Udara di dalam kamar itu mendadak terasa menebal dan panas.

Reza menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Darahnya yang semula tenang seketika berdesir hebat, bergejolak naik menuju kepala. Sudah lebih dari satu minggu ia menahan hasratnya.

Gita yang berada di Singapura hanya bisa ia lihat melalui layar kotak ponsel—foto-foto seksi dan video call manja yang dikirimkan Gita justru menjadi bahan bakar yang membakar habis daya tahannya tanpa ada pelampiasan yang nyata.

Melihat pemandangan di depannya—kulit putih yang terekspos, keheningan malam, dan status sah wanita ini sebagai istrinya di atas kertas—membuat iblis di dalam dada Reza kembali menggeliat bangun.

Hasrat purba laki-lakinya mendesak kuat, menuntut untuk melangkah maju, merenggut raga mungil itu lagi ke dalam kuasanya.

Di balik selimut, tubuh Alya gemetar halus yang ia sembunyikan dengan sekuat tenaga. Setiap sel di tubuhnya menegang kaku, waspada di tingkat tertinggi.

Jantungnya bertalu begitu keras hingga ia takut Reza bisa mendengar degupnya di dalam kesunyian ini. Ia bisa merasakan tatapan mata Reza yang membakar punggung telanjangnya, merasakan kehadiran pria itu yang berdiri begitu dekat di sisi ranjangnya.

Jangan sentuh aku... tolong, jangan sentuh aku... jerit Alya dalam hati, jemarinya di bawah selimut mencengkeram erat ujung bantal hingga memutih.

Trauma malam kelam itu seolah kembali membayangi kulitnya, membuat bulu kuduknya meremang ketakutan.

Reza menggerakkan kakinya. Ia melangkah maju, mendekati tepi kasur. Tangannya terangkat perlahan di udara, jari-jarinya berjarak beberapa sentimeter dari bahu Alya yang terbuka.

Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh kulit halus itu, sebuah kilatan ingatan tentang monolog malamnya sendiri dan tatapan kosong Alya pasca-kekerasan tempo hari mendadak menahan lengannya.

Kata-kata ibu kandungnya, juga ikut menyelinap: “Dia hanya sebuah pajangan sementara.” Dan yang paling utama, bayangan wajah Gita yang angkuh seolah sedang menatapnya penuh ancaman dari balik kegelapan jendela.

Reza memejamkan matanya, menghembuskan napas panjang yang sarat akan frustrasi. Ia menarik tangannya kembali dengan sentakan kasar, lalu memasukkannya ke dalam saku celana.

Rasa bersalah, harga diri, dan ketakutan akan kehilangan Gita mengalahkan gejolak birahi yang sempat menguasai kepalanya.

Pria itu berbalik, berjalan menuju sofa ruang ganti untuk melepaskan kemeja dan dasinya dengan gerakan yang sengaja dibuat kasar untuk melampiaskan kekesalan badannya.

Setelah berganti dengan celana pendek katun santai tanpa kaus, Reza kembali ke ranjang.

Matras bergetar pelan saat beban tubuh besar Reza naik ke atas kasur. Ia merebahkan dirinya di sisi ranjang yang kosong, mengambil jarak sekitar satu meter dari tubuh Alya, lalu menarik sebagian selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri hingga dada.

Alya merasakan kelegaan yang luar biasa mengalir di sekujur tubuhnya saat menyadari tidak ada sentuhan kasar yang mendarat di kulitnya. Namun, ketegangannya belum berakhir.

Reza meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur. Layar gawai itu menyala terang di tengah kegelapan kamar, menampilkan ruang obrolan dengan Gita.

Pria itu mulai mengetik sesuatu, lalu menghapusnya lagi. Ia membuka galeri foto, menatap potret-potret Gita yang glamor, mencoba memindahkan fokus hasratnya yang salah sasaran tadi kembali ke tempat yang seharusnya.

Suara ketukan jemari Reza di atas layar sentuh ponsel terdengar konstan di dalam kamar yang sunyi. Tik. Tik. Tik.

Satu jam berlalu dalam siksaan keheningan yang mencekam bagi Alya.

Gadis itu tetap mempertahankan posisinya—membeku, menghadap dinding, membelakangi suaminya.

Matanya yang terpejam terasa perih karena dipaksa untuk tidak bergerak sedikit pun. Ritme napasnya yang diatur sedalam mungkin mulai membuatnya lelah secara fisik.

Setiap kali Reza bergerak sedikit atau mengubah posisi tidurnya di belakangnya, jantung Alya akan kembali berdegup kencang karena was-was, mengira detik-detik mengerikan itu akan dimulai.

Kapan dia akan mematikan ponselnya? Kapan dia akan tidur? tanya Alya dalam hati, dadanya terasa sesak oleh kombinasi rasa takut dan kelelahan setelah seharian dihantam aktivitas aerobik yang menguras fisik serta konsentrasi penuh di kelas kuliah pertamanya tadi.

Di sampingnya, Reza terus membolak-balik ponselnya dengan napas yang sesekali terdengar berat dan tidak puas.

Hubungan transaksional jarak jauh ini benar-benar menyiksanya, namun ia menolak untuk mengalah pada tubuh di sebelahnya.

Lambat laun, kelelahan biologis yang teramat sangat mulai menguasai tubuh mungil Alya. Energi tubuhnya yang terkuras habis sejak sore hingga malam ini memaksa sistem sarafnya untuk melonggar.

Ketakutan dan kewaspadaannya yang semula setajam silet perlahan-lahan mengabur, ditarik oleh pusaran rasa kantuk yang tidak bisa ia bendung lagi.

Kesadarannya mulai melayang, menjauh dari suara ketukan ponsel Reza, menjauh dari rasa dingin lantai marmer, dan menjauh dari neraka Blok C-12.

Akhirnya, dengan tangan yang masih menggenggam erat ujung bantal di bawah selimut, Alya menyerah pada rasa lelahnya.

Ia terlelap dalam tidur yang sesungguhnya—sebuah tidur defensif dari jiwa yang terlalu lelah untuk terus berjaga di dalam sangkar emas yang penuh duri.

Di sampingnya, cahaya dari layar ponsel Reza masih terus berpendar hingga larut malam, menerangi dua sisi ranjang yang sama namun dipisahkan oleh jurang rahasia yang semakin hari semakin menganga lebar.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!