NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Diantara 2 Hati

Malam turun perlahan di atas Kota Valerika.

Dari balik dinding kaca The Obsidian, ribuan lampu kota berpendar seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan yang bergerak seperti aliran cahaya tanpa akhir.

Namun di dalam penthouse mewah itu, suasana justru terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Adrian berdiri sendirian di depan jendela.

Tangannya masuk ke saku celana.

Tatapannya kosong menembus hamparan gedung-gedung tinggi.

Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana tanpa bergerak.

Pikirannya terlalu penuh.

Terlalu kacau.

Terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya.

Aurora.

Arsip 17.

Pesan terakhir George Corisand.

Ancaman yang belum sepenuhnya berakhir.

Dan yang paling mengganggu...

Alea.

Serta Clarissa.

Nama itu kembali muncul di kepalanya seperti bisikan yang tak bisa dibungkam.

Adrian mengembuskan napas panjang.

Beberapa hari terakhir, semuanya berubah terlalu cepat.

Awalnya Alea hanyalah sebuah kewajiban.

Sebuah nama dalam surat wasiat.

Sebuah perjanjian bisnis.

Sebuah tanggung jawab.

Tidak lebih.

Namun sekarang...

Ia mulai terbiasa mendengar suara wanita itu setiap pagi.

Terbiasa melihat Alea duduk di meja makan sambil membaca laporan perusahaan.

Terbiasa berdebat dengannya.

Terbiasa melihat ekspresi kesal yang selalu muncul ketika Adrian menggodanya.

Terbiasa merasa tenang ketika Alea berada di dekatnya.

Dan itulah yang membuat Adrian mulai merasa takut.

Karena semua itu tidak pernah ada dalam rencana awal.

Sebuah getaran dari ponselnya membuyarkan lamunannya.

Layar menampilkan sebuah nama.

Clarissa.

Adrian memejamkan mata sesaat.

Lalu mengangkat panggilan itu.

"Halo."

Suara lembut Clarissa terdengar dari seberang.

"Maaf mengganggumu malam-malam."

"Kau tidak mengganggu."

Ada jeda beberapa detik.

Kemudian Clarissa berbicara pelan.

"Aku sedang berada di studio."

Adrian menatap pantulan dirinya di kaca.

"Lalu?"

"Aku hanya... ingin bertemu."

Suara wanita itu terdengar rapuh.

"Aku tidak sedang baik-baik saja, Adrian."

Kalimat itu membuat Adrian terdiam.

Dulu.

Jika Clarissa mengatakan hal seperti itu...

Ia akan langsung pergi.

Tanpa berpikir.

Tanpa ragu.

Namun malam ini berbeda.

Sangat berbeda.

Karena sekarang ada seseorang lain yang muncul di pikirannya.

Seseorang yang tidak seharusnya ada di sana.

"Aku akan datang," jawab Adrian akhirnya.

Studio seni milik Clarissa masih sama seperti terakhir kali Adrian datang.

Ruangan luas.

Langit-langit tinggi.

Bau cat minyak memenuhi udara.

Lukisan-lukisan abstrak memenuhi setiap sudut ruangan.

Namun malam ini ada sesuatu yang berbeda.

Clarissa terlihat jauh lebih kurus.

Matanya sembab.

Dan senyum yang biasanya hangat kini tampak dipaksakan.

"Aku senang kau datang."

Adrian mengangguk pelan.

"Kau terlihat lelah."

Clarissa tertawa kecil.

"Lelucon yang bagus."

"Kau memang terlihat lelah."

"Aku memang lelah."

Wanita itu menatap salah satu lukisan di hadapannya.

Kemudian berkata pelan.

"Aku lelah kehilanganmu sedikit demi sedikit."

Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih sunyi.

Adrian tidak langsung menjawab.

Clarissa melanjutkan.

"Aku tahu kau terus mengatakan bahwa pernikahan itu hanya kontrak."

Ia tersenyum pahit.

"Tapi aku tidak bodoh, Adrian."

Tatapan wanita itu perlahan beralih kepadanya.

"Aku melihat caramu menatap Alea."

Jantung Adrian berdetak sedikit lebih keras.

"Kau salah paham."

"Benarkah?"

Clarissa tersenyum.

Namun senyum itu penuh kesedihan.

"Aku mengenalmu selama bertahun-tahun."

"Lebih lama daripada siapa pun."

"Aku tahu kapan kau peduli pada seseorang."

Adrian memalingkan wajah.

Entah kenapa ia merasa tidak nyaman.

Sangat tidak nyaman.

Karena sebagian dari dirinya mulai mempertanyakan apakah Clarissa benar.

"Aku hanya bertanggung jawab atasnya."

Clarissa tertawa lirih.

"Dulu kau juga mengatakan hal yang sama tentangku."

Adrian membeku.

"Apa maksudmu?"

"Dulu kau selalu bilang kau menjagaku karena merasa bertanggung jawab."

Clarissa menatapnya lurus.

"Padahal kenyataannya kau menyayangiku."

Ruangan kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Adrian tidak tahu harus menjawab apa.

Sementara itu.

Di sisi lain kota.

Alea duduk sendirian di ruang kerjanya.

Lampu ruangan diredupkan.

Hanya layar laptop yang masih menyala.

Namun perhatian Alea sama sekali tidak tertuju pada laporan yang sedang terbuka di hadapannya.

Pikirannya terus mengembara.

Terutama setelah Adrian mengatakan bahwa ia harus keluar malam ini.

Tanpa menjelaskan apa pun.

Tanpa memberi alasan.

Biasanya Alea tidak akan peduli.

Benar-benar tidak peduli.

Namun malam ini berbeda.

Ia justru terus memikirkan ke mana Adrian pergi.

Dan itu membuatnya kesal.

Sangat kesal.

"Apa yang salah denganku?"

gumamnya pelan.

Ia menutup laptop.

Lalu berdiri.

Berjalan menuju jendela.

Langit malam tampak gelap.

Angin perlahan menggoyangkan tirai.

Dan tiba-tiba...

Ponselnya berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Alea membuka pesan itu.

Lalu membeku.

Karena yang muncul adalah sebuah foto.

Foto Adrian.

Bersama Clarissa.

Mereka berdiri berhadapan di studio seni.

Jarak mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

Dan dari sudut pengambilan gambar itu...

Siapa pun akan mengira mereka adalah pasangan yang sedang bertengkar karena cinta.

Napas Alea tertahan.

Perasaannya langsung jatuh.

Aneh.

Tidak masuk akal.

Tapi nyata.

Ia memperbesar foto itu.

Menatapnya lebih lama.

Dan untuk pertama kalinya...

Sebuah rasa sakit yang belum pernah ia rasakan muncul di dadanya.

Sebuah rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Tidak bisa dianalisis.

Tidak bisa diselesaikan dengan strategi bisnis.

Karena rasa itu bernama cemburu.

Alea langsung mematikan layar ponselnya.

Namun bayangan foto itu tetap tertanam di kepalanya.

Mengganggu.

Menyiksa.

Dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Satu jam kemudian.

Adrian kembali ke The Obsidian.

Begitu pintu lift privat terbuka...

Ia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Lampu ruang tengah masih menyala.

Namun suasananya terasa dingin.

Tidak nyaman.

Alea sedang duduk di sofa.

Membaca sebuah majalah.

Setidaknya itu yang terlihat.

Karena sejak Adrian masuk...

Wanita itu bahkan tidak mengangkat kepala.

"Aku pulang."

Tidak ada jawaban.

Adrian mengernyit.

Biasanya Alea pasti akan melontarkan komentar sinis.

Atau minimal menatapnya sekali.

Namun sekarang...

Tidak ada apa-apa.

"Alea?"

Tetap diam.

Adrian berjalan mendekat.

"Kau baik-baik saja?"

Alea akhirnya mengangkat kepala.

Tatapannya dingin.

Terlalu dingin.

"Aku baik."

Jawaban singkat.

Formal.

Kaku.

Persis seperti cara mereka berbicara di awal pernikahan.

Dan itu membuat Adrian merasa aneh.

"Ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak."

"Kau yakin?"

"Aku bilang tidak."

Nada suara Alea mulai tajam.

Adrian menghela napas.

Ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.

Namun sebelum ia sempat bertanya lagi...

Alea berdiri.

Lalu berjalan melewatinya.

"Aku lelah."

"Aku mau tidur."

Dan begitu saja wanita itu pergi.

Meninggalkan Adrian yang berdiri kebingungan di ruang tengah.

Malam semakin larut.

Namun Alea tidak bisa tidur.

Ia berguling ke kanan.

Kemudian ke kiri.

Lalu kembali menatap langit-langit.

Pikirannya penuh.

Terlalu penuh.

Foto itu terus muncul.

Adrian.

Clarissa.

Studio seni.

Tatapan mereka.

Jarak mereka.

Semuanya terus berputar di kepalanya.

Sampai akhirnya...

Sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu kamar.

Tok.

Tok.

Tok.

Alea langsung duduk.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Dan Adrian muncul di sana.

Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama.

Ekspresinya terlihat lelah.

"Aku mengganggumu?"

"Tidak."

Jawaban Alea terlalu cepat.

Adrian masuk.

Lalu berdiri beberapa langkah dari tempat tidur.

"Kau marah padaku?"

Pertanyaan itu membuat Alea membeku sesaat.

"Apa?"

"Kau marah."

"Aku bisa melihatnya."

Alea mengalihkan pandangan.

"Aku tidak marah."

"Kau berbohong."

Jantung Alea berdetak lebih cepat.

Adrian menatapnya beberapa saat.

Lalu berkata pelan.

"Karena Clarissa?"

Kalimat itu menghantam tepat sasaran.

Alea langsung menoleh.

Dan ekspresi itu sudah cukup menjadi jawaban.

Untuk pertama kalinya malam itu...

Adrian tertawa kecil.

Bukan mengejek.

Bukan merendahkan.

Melainkan benar-benar tertawa.

Dan entah kenapa itu membuat Alea semakin kesal.

"Kenapa kau tertawa?"

"Aku hanya tidak menyangka."

"Tidak menyangka apa?"

Adrian menatapnya.

Lama.

Sangat lama.

Lalu berkata pelan.

"Aku tidak menyangka kau akan peduli."

Kalimat itu membuat udara di ruangan mendadak terasa lebih berat.

Alea tidak mampu menjawab.

Karena sebenarnya...

Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia peduli.

Sementara di dalam hati Adrian...

Kebingungan yang sama justru semakin besar.

Karena saat melihat Alea cemburu...

Alih-alih merasa terganggu...

Ia justru merasa senang.

Dan perasaan itulah yang paling menakutkan.

Sebab untuk pertama kalinya...

Adrian mulai menyadari bahwa dirinya mungkin sedang berdiri di persimpangan yang berbahaya.

Di satu sisi ada Clarissa.

Wanita yang telah bertahun-tahun mengisi hidupnya.

Wanita yang selalu ada ketika ia membutuhkannya.

Wanita yang pernah ia yakini sebagai masa depannya.

Namun di sisi lain...

Ada Alea.

Wanita yang awalnya hanyalah sebuah kontrak.

Sebuah kewajiban.

Sebuah kesepakatan bisnis.

Tetapi perlahan-lahan berhasil masuk ke dalam hidupnya tanpa izin.

Tanpa peringatan.

Tanpa bisa dihentikan.

Dan yang paling berbahaya...

Adrian masih belum tahu ke mana sebenarnya hatinya ingin pergi.

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!