Lia, seorang pembaca setia novel populer berjudul Cinta dan Bayang Kekuasaan, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya telah bertransmigrasi masuk ke dalam tubuh seorang tokoh figuran yang nyaris tidak disebutkan namanya dalam cerita aslinya. Tokoh ini adalah putri satu-satunya dari keluarga Adhitama—kelompok mafia sekaligus konglomerat terkaya nomor dua di dunia.
Dalam alur cerita asli, tokoh ini hanya berfungsi sebagai alat pengikat alur semata. Ia dijodohkan dengan Arjuna Dirgantara, pewaris keluarga Dirgantara, kekuasaan nomor satu di dunia yang juga dikenal sebagai sang antagonis utama yang dingin, kejam, dan dijuluki “Malaikat Maut” di dunia bawah tanah. Takdir tokoh ini sangat tragis: ia akan dibunuh secara diam-diam tak lama setelah pertunangan, menjadi korban pertikaian antar keluarga dan rencana licik tokoh-tokoh utama.
Sekarang dengan ingatan sebagai pembaca novel, Lia menyadari bahaya besar yang mengancam nyawanya. Tujuannya hanya satu: membatalkan pertunangan ini sece
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 figuran tunangan antagonis
Suasana koridor SMA Adiwangsa membeku. Kehadiran Damian seketika menekan seluruh keributan—siswa yang berbisik berhenti, langkah kaki tertahan, pandangan beralih ke sosok tinggi berjas hitam yang berdiri tenang di tengah keramaian. Aura dingin yang biasa hanya terasa di lingkungan bawah tanah kini memenuhi lorong sekolah elit itu.
Arga menunduk sedikit, gengsinya terpukul. Ia tunangan Clarissa, pewaris klan nomor tiga, tapi di hadapan Damian—nomor satu—ia tak berani bersikap sembarangan. Tangannya masih menggenggam lembar surat yang dijadikan senjata menjatuhkan Luna.
“Maksudmu apa, Damian?” tanya Arga, berusaha menjaga nada tegas meski matanya menghindar. “Tulisan ini mirip sekali gaya tulisan Luna.”
“Mirip belum tentu sama,” jawab Damian datar, matanya beralih ke kertas itu sejenak lalu ke Clarissa yang diam‑diam meremas ujung seragamnya. “Di sekolah ini ada laboratorium forensik sederhana untuk kebutuhan studi kasus. Bandingkan saja sidik jari dan gaya tulisan dengan buku harian atau tugas Luna yang ada di ruang guru. Kalau benar tulisannya, aku tidak akan bicara. Kalau palsu… kau yang tahu konsekuensinya merusak nama baik di bawah pengawasanku.”
Clarissa tersentak halus. Senyum lembutnya retak sepersekian detik, lalu ia segera mengatupkan bibir seolah terluka. “Damian, kenapa bicara begitu? Aku hanya ingin membantu Arga… Mungkin Luna memang menulisnya, tapi takut mengaku.”
“Bantu atau arahkan?” sela Elena tenang, maju selangkah berdampingan dengan Luna yang masih gemetar. “Tadi aku melihatmu menyerahkan buku catatan ke Luna, lalu sepuluh menit kemudian surat ini ada di loker Arga. Tidak ada yang melihat Luna masuk ke dekat loker itu. Coba tanya petugas keamanan, rekaman CCTV lorong sebelah jam ini—siapa yang lewat di sana?”
Arga menatap Elena, lalu ke Clarissa. Keraguan tumbuh. Biasanya Elena diam, tak pernah menentang Clarissa. Hari ini beda.
“Baik, aku akan cek CCTV,” ucap Arga singkat. “Kalau ada yang bohong, aku tidak akan memaafkan siapa pun.”
Clarissa mencoba menahan. “Arga, jangan sampai memperbesar masalah… Ini kan hanya salah paham remaja biasa.”
“Masalah menjadi besar kalau ada yang menyembunyikan kebenaran,” potong Damian dingin. “Aku yang akan mengawasi pemeriksaan. Tidak ada rekaman yang disembunyikan.”
Wajah Clarissa memucat nyata, tapi ia tak berani menolak di bawah tatapan tajam Damian.
Di Ruang Pengawas Sekolah
Beberapa menit kemudian, rekaman CCTV diputar di depan mereka—Arga, Clarissa, Elena, Luna, Damian, dan kepala sekolah yang tampak gugup.
Gambar memperlihatkan jam 07.58 pagi: sosok berkerudung lebar tapi bentuk tubuh dan gerak‑gerik tangan persis seperti Clarissa mendekati loker Arga, menyelipkan sesuatu, lalu pergi berbelok ke arah toilet perempuan. Menit berikutnya baru terlihat Luna berjalan lewat di koridor utama, tidak mendekati loker sama sekali.
“Itu… itu pasti bukan aku!” seru Clarissa, suaranya meninggi sebelum sadar. “Mungkin ada yang menyamar!”
“Bentuk gelang perak yang kau pakai hari ini—rantai tiga lapis, liontin bulan sabit—terlihat jelas di rekaman,” ucap kepala sekolah ragu‑ragu sambil menunjuk layar. “Dan rekaman lain di dekat gerbang juga menangkapmu keluar dari toilet itu tepat waktu yang sama.”
Arga menoleh tajam ke tunangannya. “Clarissa? Kau bilang pagi ini kau langsung ke kelas dari gerbang, tidak mampir ke mana‑mana.”
Clarissa terjebak. Air mata dipaksa keluar, suara bergetar penuh kepura‑puraan. “Aku… aku hanya ingin melindungimu. Luna sering mendekatimu, aku takut dia mengganggu… Aku berniat membuatmu sadar saja, bukan menuduh sembarangan.”
“Melindungi dengan menjebak orang tak bersalah?” Elena angkat bicara pelan namun tegas. “Itu bukan perlindungan, itu manipulasi. Dan Luna tidak pernah berniat merebutmu, Arga. Dia hanya ingin mengembalikan bukumu yang tertinggal—buku yang sebenarnya kau tinggalkan di meja taman, bukan di perpustakaan.”
Damian menambahkan singkat, “Temukan siapa yang memindahkan buku itu ke loker Luna kemarin sore, rantainya panjang. Sekolah ini bukan tempat permainan fitnah.”
Arga diam, rasa malu dan marah bercampur bingung. Ia menatap Luna yang berdiri diam menunduk, matanya merah tapi tak ada satu pun kata pembelaan berlebih—sifat polos yang selama ini ia anggap kelemahan.
“Maafkan aku, Luna,” ucap Arga akhirnya, berat dan tidak lancar. “Aku seharusnya mendengarkan dulu.”
Luna mengangkat wajah, terkejut tapi tidak membalas dengan kemarahan. “Tidak apa‑apa, Arga. Aku mengerti kau percaya pada apa yang kau lihat.”
Clarissa menggigit bibir dalam. Rencananya gagal total, malah membuka celah kelemahannya di depan Arga dan—yang paling berbahaya—di depan Damian.
Siang Hari: Di Kafe Tepi Kota
Setelah pelajaran selesai, Elena mengajak Luna duduk sebentar di kafe tenang dekat sekolah. Angin sore masuk lewat jendela terbuka, membawa aroma kopi dan kue kering.
“Terima kasih, Elena. Tanpa kamu dan Damian, aku pasti sudah dihukum atau dikeluarkan hari ini,” ucap Luna sambil memegang gelas cokelat hangatnya.
“Jangan berterima kasih padaku saja,” jawab Elena sambil mengaduk teh melatinya. “Yang paling penting kamu tahu siapa yang benar‑benar tulus dan siapa yang memakai topeng. Tapi hati‑hati—Clarissa tidak akan diam saja setelah ini. Dia terbiasa menang, kegagalan membuatnya lebih berbahaya.”
Luna mengangguk, matanya menyiratkan kecemasan. “Aku kadang bingung… Kenapa orang sebaik Arga bisa terpedaya begitu lama? Dan kenapa Damian—yang semua orang sebut dingin dan kejam—malah membantu kami?”
Elena tersenyum tipis. Karena ini novel, dan tokoh utama sering butuh dorongan. Tapi Damian… dia bukan tokoh utama asli. Dia musuh yang sekarang mulai berubah arah.
“Arga baik, tapi dia mudah percaya pada apa yang dia yakini sebagai kebenaran tanpa cek ulang. Sedangkan Damian… dia tidak suka ketidakadilan yang berbau kebohongan terang‑terangan. Itu saja.”
Belum sempat percakapan lanjut, ponsel Elena berdering. Nama ayahnya muncul di layar.
“Halo, Ayah?”
Suara Ayah Vareza terdengar berat, tegang. “Elena, pulang segera. Ada kabar buruk—kendaraan pengawal yang mengantar barang kiriman rahasia disergap di jalan tol lingkar luar. Barang hilang, dua pengawal terluka parah.”
Jantung Elena berdegup kencang. “Siapa yang berani menyerang pengawal Vareza?”
“Belum tahu pasti, tapi tanda serangan—cara kerja, senjata yang dipakai—mirip dengan klan yang selama ini bersaing dengan kita di Eropa. Kemungkinan besar mereka tahu pertunanganmu dibatalkan, merasa perlindungan kita melemah.”
“Aku pulang sekarang, Ayah.”
Elena menutup telepon, wajahnya berubah serius. “Luna, aku harus pulang. Ada urusan keluarga mendesak. Jangan jalan sendirian pulang sekolah hari ini, minta teman atau pengawal mengantar.”
“Baik, hati‑hatimu ya, Elena,” jawab Luna khawatir.
Malam Hari: Markas Sementara Keluarga Vareza
Ruang kerja di kediaman utama Vareza terang benderang meski malam sudah larut. Peta wilayah bisnis dan jaringan bawah tanah tergantung di dinding. Ayah Vareza berjalan bolak‑balik, Ibu Vareza duduk diam dengan wajah pucat, dan Elena duduk di kursi tamu mendengarkan laporan anak buah.
“Serangan itu terencana tepat setelah jam penggantian shift, Pak. Mereka tahu rute persis, jenis kendaraan, dan jam lewat. Ada bocoran dari dalam atau ada yang mengawasi kita lama,” lapor kapten pengawal.
“Pertunangan dibatalkan tiga hari lalu. Berita menyebar cepat ke lingkaran luar,” ucap Ayah Vareza tajam. “Mereka mengira kita lepas dari perlindungan Aditya, jadi berani menguji kekuatan kita.”
Elena berpikir cepat. Dalam cerita asli, serangan ini terjadi seminggu setelah kematiannya—sebagai pemicu perang terbuka antar klan. Tapi sekarang datang lebih awal, dan dia masih hidup.
“Apakah ada bukti yang mengarah ke seseorang di lingkaran dekat kita?” tanya Elena.
“Belum jelas, Nona. Tapi ada pesan singkat ditempel di sisa kendaraan: ‘Tanpa ikatan nomor satu, nomor dua mudah tumbang.’”
Pintu ruang kerja terbuka tiba‑tiba. Bukan pelayan, melainkan Damian. Ia masuk dengan langkah tenang, diikuti dua pengawal setianya yang tetap berdiri di ambang pintu.
“Damian?” Ayah Vareza terkejut namun tetap sopan. “Apa kabar malam ini?”
“Mendengar ada serangan di jalur pasokan Vareza,” jawab Damian langsung ke pokok masalah. “Aku datang bukan sebagai mantan tunangan, tapi kepala klan Aditya. Ada yang berani menyerang mitra lama—itu juga menyerang stabilitas wilayah kita.”
Elena menatapnya. Kenapa dia datang sendiri malam ini?
“Kau tahu siapa pelakunya?” tanya Elena.
“Belum nama spesifik, tapi pola serangan cocok dengan kelompok yang baru saja berhubungan bisnis diam‑diam dengan pihak ketiga di kota ini,” Damian meletakkan foto cetak di meja—gambar gerbang gudang tersembunyi, plat nomor disamarkan, tanda khusus di lengan pelaku. “Informasi dari jaringan bawah tanahku: ada gadis muda yang sering muncul di sana, membawa pesan tertulis.”
Elena melihat ciri‑cirinya—rambut lurus sebahu, gelang perak tiga lapis, cara berdiri sedikit miring ke kiri. Itu… ciri khas Clarissa.
“Clarissa,” ucap Elena pelan tapi pasti. “Dia tidak hanya membenci aku karena Damian, dia mungkin juga menjalin kerja sama dengan musuh kita agar posisinya makin kuat di antara Arga dan keluarga Aditya.”
Ayah Vareza mengerutkan dahi. “Anak keluarga terpandang melakukan kerja sama dengan penyusup? Sulit dipercaya.”
“Di novel… eh, di dunia kita,” Elena memperbaiki cepat, “orang yang terlihat paling lembut seringkali punya jaringan paling gelap. Dia tahu pembatalan pertunangan melemahkan kita, dan dia tahu kapan menyerang agar kita tidak bisa melapor ke Aditya.”
Damian menatap Elena lekat‑lekat. “Kau punya naluri tajam malam ini. Apa yang kau sembunyikan?”
Elena menelan ludah. Tidak bisa bilang dia pembaca novel, jadi ambil jalan aman. “Hanya mengamati lama. Di sekolah, di acara resmi, di cara dia bicara. Kebohongan sering tertinggal di detail kecil.”
Damian mengangguk perlahan. “Sementara waktu, meskipun pertunangan dibatalkan, aku akan menempatkan dua pengawal tambahan di sekitar rumah dan sekolahmu. Bukan karena ikatan lama, tapi karena musuh yang menyerang Vareza sama dengan yang ingin mengacaukan keseimbangan Aditya.”
“Terima kasih, Damian,” ucap Ayah Vareza lega. “Kami tidak akan lupa bantuan ini.”
“Jangan salah paham,” potong Damian dingin. “Bantuan ini berakhir begitu pelaku tertangkap. Aku tidak suka hutang yang panjang.”
Keesokan Pagi: Sekolah & Ancaman Baru
Di gerbang sekolah, Elena melihat Luna sudah menunggu di bawah pohon rindang. Di belakangnya berdiri seorang laki‑laki tegap—pengawal baru yang dikirim Damian.
“Elena, ada orang mencari kamu di gerbang utama tadi—pakaian gelap, wajah tertutup,” sapa Luna cemas. “Dia bilang ada pesan: ‘Berhenti mencampuri urusan yang bukan milikmu, atau kamu akan menyesal seperti buku yang dibakar.’”
Elena merinding. Buku yang dibakar… Di cerita asli, itu kode sebelum Elena diculik.
“Terima kasih sudah bilang, Luna. Jangan ikut bergerak jika ada yang memanggilmu lewat jalan sepi,” pesan Elena.
Di dalam kelas, suasana tidak tenang. Clarissa tidak masuk, tapi ada pesan singkat di meja Elena—kertas kertas tipis, tulisan cetak: “Main api, terbakar sendiri. Ingat nasib figuran yang lupa tempatnya.”
Elena menyimpan kertas itu di saku. Dia tahu: alur berubah, tapi ancaman masih ada—dan sekarang lebih cepat, lebih tajam.
Saat jam istirahat, Damian muncul di depan pintu kelas. Semua siswa hening. Dia tidak mencari siapa pun selain Elena.
“Keluar sebentar,” perintahnya singkat.
Di koridor sepi, Damian menyerahkan sebuah gawai kecil—seperti jam tangan biasa tapi ada lampu merah kecil di sisi.
“Alat pelacak dan panggilan darurat. Tekan dua kali jika ada bahaya. Pengawal akan datang dalam tiga menit. Jangan dilepas atau diberikan pada orang lain.”
“Kau benar‑benar berlebihan,” komentar Elena sambil menerima jam itu.
“Berlebihan lebih baik daripada terlambat,” jawab Damian datar. “Tadi malam ada laporan kendaraan mencurigai mengikuti mobilmu dari rumah ke sekolah. Mereka belum berani bergerak terbuka—masih takut pada simbol Aditya. Setelah resmi pembatalan diumumkan umum, mereka mungkin berani.”
Elena menatap mata hitamnya. Di balik kedinginan itu, ada kewaspadaan yang tulus—bukan sekadar kewajiban klan.
“Damian, kenapa kau melakukan ini semua? Kita sudah tidak ada ikatan.”
Damian diam sejenak, lalu menjawab tanpa menatap matanya langsung. “Karena kau satu‑satunya orang yang berani bicara padaku tanpa menyembunyikan ketakutan atau memuji berlebihan. Dan… aku tidak suka rencana orang lain yang mengatur hidupku dan orang di sekitarku.”
Belum sempat Elena membalas, suara langkah kaki cepat terdengar. Arga datang terengah, wajah bingung dan marah.
“Elena! Kau tahu di mana Clarissa? Dia tidak pulang semalam, tidak menjawab telepon. Ayahnya marah besar, menuduh ada yang menyembunyikan dia.”
Elena dan Damian saling pandang.
“Kami tidak tahu,” jawab Elena tenang. “Tapi kalau dia hilang setelah kita temukan bukti rekaman CCTV… mungkin dia sedang menghindari pertanyaan atau justru terjebak rencananya sendiri.”
Damian menambahkan tajam, “Atau dia sedang bertemu orang yang tidak boleh diketahui Arga. Cek catatan teleponnya, riwayat pembayaran kartu, dan siapa yang terakhir menghubungi dia setelah kejadian kemarin.”
Arga tertegun. Dia sadar—selama ini dia hanya mendengarkan Clarissa, tidak pernah benar‑benar melacak jejak gerak‑geriknya.
“Aku akan cek sekarang,” ucap Arga, lalu berbalik pergi dengan langkah tergesa.
Damian menoleh kembali ke Elena. “Kasus Clarissa hilang mungkin berhubungan dengan serangan ke Vareza. Hati‑hati—ketika penjahat kehilangan perlindungan, mereka sering menyerang sasaran paling dekat yang lemah.”
“Aku bukan lemah,” jawab Elena tegas. “Aku hanya baru belajar aturan main di dunia ini.”
“Kalau begitu, buktikan,” ucap Damian, lalu berjalan pergi meninggalkan Elena dengan pikiran yang makin penuh pertanyaan.
Siang itu, saat Elena berjalan menuju perpustakaan, sebuah suara berbisik dari lorong samping yang gelap.
“Nona Elena… hati‑hati dengan Malaikat Maut. Dia tidak selalu ada di pihakmu.”
Elena berbalik cepat. Tidak ada siapa‑siapa. Hanya bayang‑bayang panjang rak buku yang bergerak tertiup angin jendela.
Namun kalimat itu menancap kuat di kepalanya. Siapa yang bicara? Dan apakah benar Damian tidak sepenuhnya bisa dipercaya?
Di dalam novel asli, Damian memang membunuhnya. Tapi sekarang… segalanya berbeda. Atau apakah ini semua bagian dari rencana yang lebih besar yang belum ia pahami?
Langit di luar jendela berubah kelabu. Awan hitam tebal menutupi matahari, menandakan badai akan datang. Elena tahu—badai di langit hanyalah pertanda kecil dibandingkan badai yang sedang tumbuh di balik layar cerita ini.