NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pengakuan Terpendam

Malam turun menyelimuti kawasan perkantoran Gedung Artha Mas. Lampu-lampu di dalam ruangan sudah banyak yang padam, menyisakan cahaya temaram dari lorong-lorong utama dan lampu jalan di luar sana. Di lantai dasar, dekat taman dalam gedung yang sepi dan dingin, hanya ada satu sosok wanita yang duduk sendirian di bangku panjang kayu. Itu Naya.

Wajahnya tampak pucat dan lesu. Sejak perintah ayahnya untuk menjaga jarak, hari-hari Naya terasa berat dan hampa. Ia melihat Bagas setiap hari di ruang rapat, di koridor, atau di lobi. Pemuda itu kini tampak gagah, berwibawa, dan selalu dikelilingi rasa hormat dari semua orang. Dan Bagas pun berubah menjadi sosok yang dingin, kaku, dan sangat jauh. Bagas tidak lagi menatapnya dengan pandangan hangat itu. Bagas tidak lagi tersenyum diam-diam. Bagas hanya memberi hormat sopan layaknya staf kepada atasan, lalu berlalu pergi.

Rasa rindu, rasa bersalah, rasa marah, dan rasa ragu bercampur aduk menjadi satu kekacauan besar di dalam dada Naya. Gosip-gosip jahat yang beredar terus berputar di kepalanya.

"Dia mendekatimu demi harta...

dia memanfaatkanmu...

dia cuma cari keuntungan..."

Suara-suara itu seolah berbisik di telinganya terus-menerus, membuatnya sakit hati sekaligus takut. Ia ingin percaya Bagas, ia tahu hati Bagas baik, tapi ketakutan seorang diri yang selama ini hidup dalam kemewahan dan selalu diincar orang itu perlahan merayap masuk.

Ia tidak tahan lagi. Ia butuh kepastian. Ia butuh kebenaran murni, tanpa pembalut kata-kata halus, tanpa rasa hormat jabatan. Ia harus bertanya, walau jawabannya mungkin akan menghancurkan hatinya.

Dari kejauhan, ia melihat sosok yang dicarinya berjalan melintasi taman itu. Bagas baru saja selesai memeriksa laporan akhir hari. Ia berjalan sendirian, langkahnya tegap namun tampak berat, seolah memikul beban dunia di pundaknya.

"Bagas!" panggil Naya pelan, namun suaranya cukup terdengar di keheningan malam.

Bagas berhenti melangkah. Ia menoleh, terkejut melihat Naya ada di sana sendirian. Ia ragu sejenak, teringat perintah Pak Ardiansyah, teringat gosip yang beredar. Ia sempat berniat berpura-pura tidak mendengar dan pergi begitu saja. Tapi saat melihat raut wajah Naya yang sedih dan kacau, kakinya tak sanggup bergerak maju. Ada sesuatu di mata wanita itu yang memohon, yang menuntut penjelasan.

Bagas perlahan berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depan bangku tempat Naya duduk. Ia tetap menjaga jarak, tetap memasang wajah tenang dan sopan.

"Masih belum pulang, Nona?" tanyanya lembut, nada bicaranya dingin dan formal.

Panggilan "Nona" itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Naya. Dulu, kata itu terdengar penuh kasih sayang dan rasa hormat. Sekarang, kata itu terdengar sebagai tembok pemisah yang tebal dan dingin.

Naya bangkit berdiri, menatap tajam ke arah Bagas. Matanya berkaca-kaca, napasnya sedikit memburu karena gugup dan emosi yang meluap. Ia tidak mau lagi basa-basi. Ia langsung menembakkan pertanyaan yang selama ini mengganjal keras di tenggorokannya, pertanyaan yang paling ia takuti jawabannya.

"Katakan jujur, Bagas..." suaranya bergetar, rendah namun penuh penekanan. "Semua gosip itu... benarkah?

Kamu mendekatiku,

kamu bersikap baik,

kamu berjuang mati-matian seperti itu... semuanya hanya karena aku kaya?

Hanya karena aku anak tunggal pemilik perusahaan besar?

Kamu mengincar harta dan kekuasaanku, bukan?"

Hening seketika. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di atas kepala mereka. Pertanyaan itu begitu tajam, begitu kejam, dan begitu menyakitkan. Itu adalah tuduhan terburuk yang bisa diterima Bagas, tuduhan yang menginjak-injak semua pengorbanan dan ketulusan hatinya selama ini.

Wajah Bagas yang tenang perlahan berubah. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada pembelaan diri yang keras. Hanya ada kesedihan yang dalam, rasa sakit yang nyata, dan tatapan mata yang mendalam sekali. Ia menatap Naya lekat-lekat, menembus sampai ke dasar jiwa wanita itu.

Bagas menghela napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang sangat tenang, sangat rendah, namun sangat jujur dan lugas—sejujur-jujurnya, tanpa ada lagi rahasia yang disimpan.

"Kalau aku mendekatimu demi harta, Naya... aku tidak akan berdiri di hadapanmu sekarang sebagai Staf Ahli. Dulu, saat aku dapat bayaran besar dari ide pertamaku, saat uang itu cukup untuk membuatku dan ibuku hidup enak selamanya tanpa harus bekerja berat... aku bisa saja pergi. Aku bisa membawa ibuku ke tempat jauh, membuka usaha sendiri, dan melupakan gedung ini selamanya. Tapi aku tetap tinggal. Aku tetap bertahan, tetap menyapu lantai, tetap diam di sudut ruangan yang sepi."

Bagas melangkah maju selangkah, matanya tak lepas dari wajah Naya yang mulai gemetar menahan tangis.

"Dan kalau aku mengejar kekayaanmu...

aku tidak akan pernah berjuang sekeras ini untuk menyamakan kedudukan. Orang yang mau mengincar harta, dia akan diam saja di bawah, dia akan membiarkanmu tetap jauh di atas, supaya kamu terlihat lebih tinggi dan dia terlihat lebih rendah, supaya kamu kasihan dan memberinya uang.

Tapi aku? Aku berjuang mati-matian naik ke atas. Aku belajar, aku berpikir, aku bekerja sampai habis tenaga.

supaya aku bisa sejajar denganmu. Supaya saat aku bicara padamu, aku bicara sebagai laki-laki yang punya harga diri, bukan sebagai peminta-minta."

Suara Bagas sedikit pecah, ada rasa sakit yang mendengar keluar dari bibirnya.

"Kamu tanya aku mendekatimu karena kamu kaya? Dengarkan baik-baik, Naya...

Aku menyukaimu, aku mengagumimu, aku mencintaimu...

Sejak hari pertama aku melihatmu masuk ke gedung ini, saat aku masih si OB yang kotor, lusuh, dan tidak berharga. Saat itu kamu sudah kaya, kamu sudah anak orang besar, kamu sudah punya segalanya.

Dan aku cuma pemuda miskin yang tidak punya apa-apa. Saat itu aku sadar betul perbedaannya. Aku sadar betul aku tidak pantas menatapmu lebih dari sedetik pun. Aku sadar betul kalau aku mencintaimu, itu dosa besar bagiku karena perbedaan itu."

Air mata mulai menetes di pipi Naya. Kata-kata itu... kata-kata itu menghancurkan pertahanan terakhirnya sekaligus menyentuh hatinya paling dalam.

"Aku mencintaimu meski aku tahu aku tidak pantas," lanjut Bagas pelan, suaranya penuh kepedihan terpendam yang akhirnya tumpah. "Aku mencintaimu bukan karena apa yang kau punya, tapi karena siapa dirimu. Caramu tersenyum, caramu bicara, caramu peduli pada orang lain, kebaikan hatimu, ketegasanmu... itulah yang membuatku jatuh hati, jauh sebelum aku tahu betapa kayanya keluargamu. Uangmu, jabatanmu, kekayaanmu... itu semua hanyalah beban berat bagiku. Itulah yang menjadi tembok paling tinggi yang harus aku panjat. Itulah alasan kenapa aku harus bekerja dua kali lebih keras, tiga kali lebih sabar, seribu kali lebih cerdas... hanya supaya aku boleh berharap sedikit saja untuk berada di dekatmu."

Bagas menghentikan ucapannya. Ia menundukkan wajah, tak sanggup lagi menatap mata wanita itu.

"Kalau saja kamu bukan anak pemilik perusahaan ini...

Kalau saja kita sama rata. Mungkin aku sudah berani bilang ini sejak dulu. Tapi keadaan tidak begitu. Dan sekarang... aku dituduh memburu apa yang kamu punya, padahal yang aku buru selama ini hanyalah hatimu, Naya. Hanya hatimu."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya terdengar isak tangis halus dari Naya. Semua keraguan, semua ketakutan, semua gosip jahat itu lenyap seketika tertiup angin oleh kejujuran yang begitu murni dan menyakitkan itu.

Naya sadar sekarang. Ia sadar betapa salahnya ia sempat ragu. Ia sadar betapa kejamnya dunia yang menilai segala sesuatu dari materi. Ia sadar betapa besar pengorbanan yang dilakukan laki-laki di hadapannya ini. Bagas tidak mendekat karena dia kaya. Bagas justru menjauh dan berjuang mati-matian karena dia kaya. Bagas merasa dirinya tidak pantas, merasa dirinya rendah, dan berjuang keras mengubah nasibnya hanya demi satu hal: supaya pantas mencintainya.

Hati Naya terasa hancur berkeping-keping karena rasa bersalah yang luar biasa, tapi di saat yang sama, hatinya terasa penuh meluap oleh rasa cinta dan kekaguman yang tak terbatas.

Ia berjalan mendekat perlahan, menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia berdiri tepat di depan Bagas, begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat tubuh pemuda itu. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, perlahan menyentuh pipi Bagas, memaksanya mengangkat wajah dan menatapnya.

Di mata Bagas, Naya melihat luka yang dalam, rasa lelah yang menggunung, tapi juga cinta yang tak tergoyahkan.

"Maafkan aku..." bisik Naya lirih, suaranya penuh penyesalan dan kasih sayang. "Maafkan aku karena percaya omongan orang. Maafkan aku karena meragukanmu. Maafkan aku karena membuatmu merasa harus berjuang seberat itu sendirian."

Air mata bahagia dan sedih menetes kembali dari mata Naya, jatuh membasahi jari-jarinya yang menempel di pipi Bagas.

"Kamu benar, Bagas... kita terpisah oleh status, oleh pandangan orang, oleh aturan dunia. Tapi kamu tahu apa yang paling berharga dari semua itu? Bahwa kamu mencintaiku saat kamu masih tidak punya apa-apa. Kamu mencintaiku saat kamu masih menjadi OB.

Dan itu...

itu jauh lebih mahal, jauh lebih nyata, dan jauh lebih abadi daripada harta kekayaan sebesar apa pun di dunia ini."

Malam itu, di bawah remang cahaya taman gedung, segala rahasia terbongkar. Pengakuan terpendam yang selama ini ditahan rapat-rapat akhirnya terucap. Fitnah jahat Rian telah gagal. Keraguan ayahnya perlahan mulai runtuh. Dan yang paling penting, tembok pemisah antara hati mereka berdua akhirnya roboh sepenuhnya.

Bagas dan Naya berdiri berhadapan, mata mereka saling bertautan, penuh janji dan keyakinan. Mereka tahu perjuangan belum selesai, dunia masih kejam, dan rintangan masih banyak. Tapi satu hal yang pasti, kini mereka tahu kebenaran. Kini mereka tahu bahwa cinta mereka bukan didasari emas atau jabatan, tapi didasari ketulusan hati yang murni, yang mampu bertahan melewati segala keterpurukan, penghinaan, dan ujian berat apa pun.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!