NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07

Dinegeri Huancu dan beberapa kekaisaran tetangga, makan malam lazimnya dilakukan diwaktu sore hari antara pukul empat sampai lima, atau setelah semua rutinitas rampung.

Bagi para kaum old money, akan ada acara minum teh dengan didampingi aneka camilan dipetang hingga malam hari, atau dua jam sebelum mereka terlelap. Hal itu dimaksudkan, supaya kualitas tidur mereka cukup serta nyenyak sampai pagi.

"Sebaiknya kita memberitahu kepala desa soal umbi-umbian, sayuran juga buah-buahan yang bisa dimakan ini." saran Bai Dashan, setelah menelan talas yang ia kunyah.

"Iya, aku setuju. Selama masa bertani, atau musim dingin, warga desa cuma bisa makan sayuran liar juga biji-bijian kasar. Dengan adanya pengetahuan ini, mereka akan memiliki simpanan bahan pangan yang cukup." balas Chen Muwan.

"Besok saja kita kerumah kepala desa setelah aku mengolah umbi lainnya untuk dijadikan contoh." Bai Anshu menimpali.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, anggota keluarga itu makan sampai kenyang malam ini dengan hidangan lezat memanjakan lidah.

Setelah makanan tercerna dengan baik, mereka bersama memproses bunga pinus untuk dijadikan minyak.

Langkah pertama, bunga pinus digiling halus.

Setelahnya, bubuk bunga pinus itu dikukus selama satu jam, dengan dasar sarangan panci dialasi kain kasa.

Tahap berikutnya, kukusan biji pinus bersuhu suam-suam kuku dipadatkan dalam cetakan bersama kain kasa tersebut.

Selanjutnya diletakkan dalam mesin peras manual, ditindih dengan batu pemberat.

Proses itu akan mengalirkan minyak alami kedalam wadah penampung yang diletakkan dibawah mesin.

Diamkan semalaman, sampai dimana kandungan minyak benar-benar habis.

Pagi hari, tugas Bai Anshu mengurusi luka sang ayah.

Karena ada bahan pembuat sabun mandi yang tidak tersedia dihutan, Bai Anshu memutuskan untuk menjual ginseng seratus tahun guna membeli kekurangannya.

Sementara ginseng lainnya disimpan untuk stok pembuatan obat jika sewaktu-waktu diperlukan.

Selesai Chen Muwan menghangatkan makanan kemarin malam, keluarga itu sarapan bersama.

Dengan menumpang gerobak sapi milik kepala desa, Anshu dan Hanzi pergi kekota Tiankeng.

Butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai dikota jika menaiki gerobak sapi.

"Shu-ya, syukurlah kau baik-baik saja." ucap nenek Su senang.

"Ini semua berkat bantuan nenek dan kakek Su, juga paman bibi semua. Terimakasih sudah menolongku."

"Kau itu bicara apa..? kita ini dari desa yang sama, sudah sepatutnya untuk saling membantu." balas bibi Yan.

"Syukurlah kau tidak berubah menjadi bodoh." cetus bibi Gong yang memang memiliki karakter ceplas ceplos.

"Lain kali kau harus lebih berhati-hati, jangan berpergian saat hujan." sambung bibi Gong.

"Baik bibi...!"

"Kakak perempuanku tidak berubah bodoh, tapi malah mendapat berkah kepintaran." Bai Hanzi menimpali.

"Benarkah..?"

Dagu bocah lelaki tujuh tahun itu naik tinggi dengan pongahnya "kemarin kami kehutan untuk mencari herbal yang sekarang akan kami jual kekota."

Bai Hanzi menyibak kain penutup keranjang, dimana ada banyak tanaman dan ginseng berada.

"Ini ginseng...?"

"Ah, ini tanaman apa..?"

"Woah, bukankan ini biji Jinzu...?"

"Kami juga mendapat banyak buah-buahan, bumbu masakan, umbi, sayuran, jamur, yang kesemuanya bisa dimakan." sombong Hanzi lagi.

"Shu-ya, bisakah kau memberitahu kami cara membedakan tanaman beracun dan tidaknya..?" kata putra kepala desa, Pei Dayan.

"Tentu paman, nanti sore rencananya aku dan ayah akan kerumahmu untuk membicarakan masalah ini."

Para ibu-ibu didalam kabin gerobak terpekik senang.

"Nanti aku akan datang bergabung..!"

"Iya, aku juga...!"

"Aku pasti juga akan datang...!"

Tujuh wanita lintas generasi terus berbincang hangat, dengan Bai Anshu yang mengajarkan tehnik dasar pengenalan tanaman herbal.

Sesampainya dikota, mereka berpisah setelah gerobak berhenti diarea parkir yang khusus disediakan oleh pemerintah.

Tujuan pertama kakak beradik adalah menara Chenceng, salah satu klinik dan apotek terbesar di Tiankeng.

Seorang pemuda pelayan berpenampilan kurus jangkung, menyambut ramah Anshu dan Hanzi.

"Salam untuk kedua adik, selamat datang dimenara Chenceng..!"

"Salam kakak...!"

"Obat apa yang kalian butuhkan..? aku akan membantu mencarikannya."

"Kami ingin menjual tanaman obat dan ginseng, apa disini menerimanya..?" sahut Bai Anshu.

Alis pemuda pelayan merajut, menelisik penampilan kakak beradik didepannya.

Pakaian katun kasar tambalan, dengan warna memudar karena sering terpapar sinar matahari. Sandal jerami butut, rambut kuning kasar dan kulit kusam.

Mana mungkin mereka ini tahu soal tanaman herbal...?"

Pemuda pelayan berdehem, guna menyingkiran dahak yang mendadak menyumbat hidungnya.

"Em, boleh aku melihatnya terlebih dulu..?"

Bai Anshu memindahkan keranjang dipunggungnya kedepan, menyibak kain dan lumut yang membungkus ginseng serta herbal segar lainnya.

Mata pemuda pelayan terbelalak lebar. Herbal ini berkualitas bagus, terlebih dengan ginsengnya.

"Ah, kalian tunggu disana, aku akan memanggil pemilik tempat ini dulu." pemuda pelayan mengarahkan kakak-beradik kekursi kasir.

Sepuluh menit berlalu, seorang pria paruhbaya mengenakan pakaian khas dokter muncul bersama pemuda pelayan.

Tabib Kang mengernyitkan mata, begitu karyawannya menunjuk dua bocah yang duduk anteng dibangku transaksi.

Anshu dan Hanzi kompak berdiri, membungkuk hormat menyapa pemilik tempat.

"Kalian mau menjual ginseng..?"

"Benar tuan tabib..!" Anshu mengambil ginseng, dengan hati-hati meletakkannya diatas meja.

Setelahnya giliran enam macam herbal lain yang ia bawa.

Tabib Kang terperangah, janggut peraknya bergetar dengan air liur menggenang dikerongkongan.

Lelaki tua itu gegas memeriksa ginseng seukuran lengan balita gemuk sepanjang tiga jengkal orang dewasa itu.

"Ginseng seratus tahun..!" ucap tabib Kang, kala melihat visual akar yang membentuk rupa manusia tapi tanpa wajah.

Cara mendeteksi ginseng sesuai dengan umur sangat amat mudah bagi yang telah berpengalaman.

Ginseng seratus tahun keatas, bentuknya sudah menyerupai tubuh manusia tanpa wajah.

Yang usianya lima ratus keatas, visual manusianya terpahat sempurna dengan lekukan dan garis wajah terbentuk nyata.

Diatas lima ratus tahun, warnanya akan perlahan berubah menjadi lebih matang serta kusam.

"Berapa kalian mau menjualnya..?"

"Sebanyak tuan tabib berani membayarnya...?" jawab Anshu.

Tuan Kang tergelak, jawaban bocah perempuan itu sungguh menggelitik nuraninya.

Sangat menghibur sekali.

Tuan Kang kemudian mencermati tanaman obat lainnya.

"Semua ini lima puluh tael." tunjuk tuan Kang pada enam tanaman herbal dimeja.

"Untuk ginsengnya empat ratus tael, bagaimana..?"

Giliran Anshu dan Hanzi yang terjingkat melotot, dengan bibir menganga lebar.

Empat ratus lima puluh tahil hasil dari menjual herbal, apa ini nyata..?

Dalam sehari, keluarga cabang kedua Bai menjadi rumah terkaya didesa Huanshan.

Uang sebanyak itu adalah penghasilan petani yang memiliki ladang sepuluh hektare selama dua puluh tahun.

Tanpa kompromi, Anshu mengangguk cepat.

Ini berkah, ia tak mau ribet dengan aksi tawar menawar.

Tuan Kang memberikan uang kertas pecahan lima puluh tahil delapan lembar. Sisanya berupa perak senilai satu tael.

"Kalau kalian mendapatkan herbal berkualitas seperti ini lagi, bawa langsung kemari. Menara Chenceng akan membelinya dengan harga bagus."

"Baik tuan tabib, terimaksih...!"

Kakak beradik pamit, meninggalkan tuan Kang yang sedang menimang posesif ginseng sembari menari riang.

Sekarang ginseng seratus tahun sudah amat langka, bahkan balai pengobatan diIbukota Beijing saja belum tentu memilikinya.

"Kakak, kita kaya...!" bisik Hanzi setengah linglung.

Bai Anshu mengangguk, dengan otak yang masih berlarian kemana-mana.

"Ah, sayang sekali kemarin biji ginsengnya aku tanam disana." keluh menyesal Anshu menghentakkan kakinya.

"Kau bisa menggalinya lagi, mereka baru menjadi kecambah. Jika kau pindahkan kehalaman rumahmu, lalu disirami air suci setiap hari. Ginseng itu akan tumbuh lebih cepat."

Dalam batin Anshu langsung berdendang ria, begitu mendengar saran dan info dari Xingxing.

1
Datu Zahra
Anshu the best, baik hati 🫶
Datu Zahra
kuli bangunannya bisa² pada gemuk dah kerja selama sebulan ditempat Anshu 🤭
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!