NovelToon NovelToon
Pernikahan Ke2

Pernikahan Ke2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratika

"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: BENTENG YANG RUNTUH DI DEPAN IBU

Perjalanan pulang itu bergulir dalam keheningan yang mencekam. Di atas roda dua yang membelah jalanan Pesisir Selatan, Arman memilih bungkam. Dia tidak memacu motornya dengan amarah yang meledak-ledak; dia berkendara dengan kecepatan biasa, menutup rapat mulutnya karena tahu bahwa samudra hati istrinya sedang dilanda badai yang hebat.

Namun, bagi Aini, diamnya Arman justru menjadi ruang hampa yang menyiksa. Di sepanjang jalan beraspal itu, air mata Aini luruh tanpa suara, menganak sungai di pipinya. Dia telah kehilangan seluruh pasokan kata-kata, lumpuh dalam rasa kesal yang membumbung tinggi ke langit senja.

Setibanya di rumah di ambang pintu, Ibu Naya berdiri tegak. Langkahnya mendadak terkunci saat melihat sepasang netra anak perempuannya yang basah kuyup oleh air mata.

Sore itu, Bapak Farhan belum pulang kerja, dan Natan, sang adik yang masih duduk di kelas 5 SD, yang kini belum pulang dari les nya.

Hanya ada Ibu Naya, kesunyian rumah, dan sepotong luka yang dibawa pulang.

Aini tidak menoleh sedikit pun pada ibunya. Dengan langkah yang mengentak-hentak bumi—seolah ingin menumpahkan seluruh beban yang menghimpit dada—Aini bergegas masuk ke dalam kamar.

Braaakkk!

Pintu kamar itu dibanting keras, memutus dunia luar dengan rasa sakitnya sendiri. Ibu Naya hanya terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu, lalu perlahan memalingkan wajahnya ke arah Arman. Sang menantu berdiri membeku di ruang tengah, sebelum akhirnya mengempaskan tubuhnya di atas sofa. Arman menunduk dalam, kedua tangannya memegang kepala dengan erat, seolah-olah kepalanya akan pecah oleh tekanan yang tak kasat mata.

"Ada apa, Nak?" tanya Ibu Naya lembut, mendekati menantunya dengan sejuta tanda tanya di dalam hati.

"Tidak tahu, Bu," jawab Arman pendek, sebuah jawaban pelarian yang terdengar hambar dan pasrah.

Ibu Naya menghela napas, lalu melangkah menuju kamar anaknya. Ketukan demi ketukan mendarat di daun pintu. Di dalam kamar, dada Aini semakin membara. Isak tangisnya pecah menjadi sesenggukan yang menyayat hati.

"Ai, kenapa, Nak? Ada apa?" bujuk Ibu Naya di ambang pintu.

"Aini capek, Bu... Capeeeekkk!" teriak Aini dari dalam, sebuah jeritan dari jiwa yang sudah terlalu lama ditekan dan terlantar secara mental.

"Ayo bicara, Nak. Buka pintunya," panggil ibunya lagi dengan suara keibuan yang menenangkan.

"Aku tidak mau, Bu! Aku mau sendiri!"

Mendengar penolakan itu, Ibu Naya akhirnya berbalik dan memilih duduk di sebelah Arman yang masih membisu seperti patung di atas sofa.

"Nak Arman, katakan pada Ibu, ada apa yang sebenarnya terjadi?"

Arman mengembuskan napas berat, wajahnya ditekuk penuh ketidakpuasan. "Aini tersinggung cuma gara-gara Ibu ngomong biasa, Bu. Ibuku kan sudah tua, ngapain dimasukkan ke dalam hati? Namanya juga orang tua," ujar Arman, mulai membela sang ibu dan memosisikan Aini sebagai pihak yang egois.

Mendengar suara Arman yang dengan begitu mudahnya menyepelekan rasa sakitnya di depan sang ibu, dada Aini naik turun dengan hebat di balik pintu. Darahnya mendidih.

Klek!

Gagang pintu ditarik dengan kasar dari dalam. Aini muncul dengan mata yang merah menyala. "Apa, Mas? Biasa?! Asal kamu tahu ya, Ibu dan Ayahku membesarkan aku dengan penuh kasih sayang! Tidak pernah mereka menginjak-injak harga diriku seperti yang dilakukan keluargamu!"

Duaarrr!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, ini adalah pertama kalinya bagi Ibu Naya mendengar dan melihat langsung pertengkaran hebat anak dan menantunya tepat di hadapan matanya sendiri. Jantung sang ibu berdegup kencang melihat badai pernikahan yang selama ini disembunyikan Aini kini meledak tanpa sensor.

"Aini..." panggil Ibu Naya, berusaha mendinginkan atmosfer yang mulai terbakar. Namun Aini sudah mati rasa. Tatapannya tertuju lurus pada suaminya.

"Mas, aku juga sayang sama ibumu, aku juga menghormati keluarga kamu! Tapi sayang apa yang aku dapatkan di keluargamu"

"Aku tidak habis pikir sama kamu, Mas! Sempat-sempatnya kamu masih membela ibumu di depan ibuku sendiri! Tadinya, di rumah ibumu, aku mengira kamu membuka suara karena ingin membelaku. Aku sempat berharap kamu berdiri sebagai pelindungku! Tapi kiranya apa? Yang kamu lihat tetap aku yang salah, dan ibumu yang selalu memegang kebenaran!" cecar Aini, suaranya bergetar hebat menahan perih.

"Salah ibu dimana ai? Kan adat istiadat kita memang begitu, Ai! Wajar Ibu bicara begitu soal rantang batandang, cuman cara penyampaian ibu aja yang salah, maklumi aja namanya juga orang tua" balas Arman, egonya yang keras menolak untuk mengalah. Dia merasa Aini adalah istri yang pembangkang karena berani melawan ibunya.

"Kita kan sudah jelaskan soal keuangan kita. Walaupun Ibu ngomong begitu tadi sama kamu, nanti juga bakal baik sendiri kok. Kamu jangan apa-apa dimasukkan ke dalam hati, Ai." Pelan Arman mencoba memberi pengertian agar istrinya tidak ke kanak-kanakan.

"Dimasukkan ke dalam hati?!" Aini tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih menyakitkan dari pada tangisan.

"Kamu sadar tidak, Mas? Aku dibesarkan oleh Ibu dan Ayahku tanpa patriarki, tanpa kekerasan! Aku dijaga bagai permata di rumah ini! Sekarang, kalau kamu merasa ibumu yang serba benar dan aku yang selalu salah, silakan kamu pergi ke jalan yang benar itu! Pergi dan pulanglah ke rumah ibumu yang serba benar, dan tidak usah tinggal dengan orang yang selalu salah ini! Pergi, Mas!" Bantak dan teriak Aini yang sudah muak dengan segalanya, selama ini dia boleh diam , dia boleh mengalah. Kali ini dia tak mampu lagi sesabar itu.

Di antara pusaran badai itu, Ibu Naya hanya diam membisu. Tidak ada pembelaan yang keluar dari bibirnya, tidak ada pula usaha untuk melerai. Sebagai seorang ibu, hatinya terkoyak melihat anak perempuannya hancur berkeping-keping. Ibu Naya tahu betul, anaknya sudah terlalu banyak menelan luka dan rasa sakit dari menantunya.

Maka sore itu, sang ibu memilih diam; dia membiarkan anak perempuannya melepaskan seluruh racun dan rasa sakit yang selama ini mengendap di dalam batinnya.

Perdebatan itu semakin memuncak hingga membakar habis sisa wibawa pernikahan mereka. Arman tahu istrinya terluka, namun baginya, ketegasan Aini adalah sebuah pembangkangan yang tidak bisa ia toleransi. Merasa posisinya tersudut dan tak lagi dihargai, Arman akhirnya mengalah. Rasa hambar merayap di hatinya. Pria itu berpikir bahwa Aini hanya sedang diselimuti emosi sesaat.

"Bu, Arman izin keluar dulu untuk menenangkan situasi," pamit Arman pada ibu mertuanya dengan suara datar.

Ibu Naya hanya mengangguk pelan, mengiyakan tanpa sepatah kata pun. Setelah deru motor Arman berlalu dan menghilang, rumah itu kembali sunyi.

Namun, sunyi kali ini terasa berbeda. Ibu Naya perlahan mendekati Aini yang berdiri gemetar di tengah ruangan. Tanpa sepatah kata, sang ibu merengkuh tubuh rapuh anaknya ke dalam pelukan yang erat. Dalam pelukan hangat itu, Ibu Naya bisa merasakan getaran rasa sakit yang teramat dalam dari tubuh anaknya.

Tangis Aini pecah seutuhnya di pundak sang ibu. Di sana, dia menumpahkan segala rona kelam yang selama ini dia simpan sendiri. Dia menceritakan segalanya; tentang mahar yang dipotong, tentang makian tersembunyi, dan tentang rasa kesepian menjadi seorang istri tanpa pembelaan suami.

Ibu Naya mengusap punggung Aini, memberikan dukungan yang menguatkan jiwanya.

"Anakku... kamu adalah wanita yang berharga. Jangan pernah menjatuhkan air matamu untuk orang yang tidak tahu cara menghargaimu," bisik ibunya, menyuntikkan motivasi ke dalam hati Aini.

"Aku tidak menangisi dia, Bu... Tapi aku menangisi nasibku..." ratap Aini lirih.

Sebab, hal yang paling menyakitkan dalam hidup bukanlah saat kita kekurangan materi, melainkan saat kita sadar bahwa kita sedang memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak pernah peduli apakah jiwa kita sedang hidup atau mati.

Malam pun berlalu, dan gemuruh gempa sore tadi perlahan mereda menjadi puing-puing yang dingin. Larut malam, Arman kembali ke rumah. Aini menyambut kepulangannya dengan keheningan yang absolut. Sebagai seorang istri yang tahu akan kewajiban, Aini tetap menyiapkan keperluan suaminya secara fungsional. Namun, ada yang mati di dalam dirinya. Dia tak lagi banyak bicara, tak ada lagi senyuman, dan tidak ada lagi sapaan hangat.

Hari-hari pun berganti menjadi lembaran waktu yang kaku. Aini sama sekali tidak ingin lagi berbicara dengan anak dari seorang wanita yang telah mencaci maki harga dirinya. Di setiap detik kesendiriannya di kamar, di saat rumah sedang sepi, layar pikirannya secara otomatis memutar kembali film dokumenter kelam sepanjang satu tahun pernikahannya.

Bayangan itu datang silih berganti tanpa bisa dia hentikan: memori uang mahar yang dipotong sehari sebelum akad karena status pendidikannya, ucapan sinis suaminya yang selalu menginterogasi ke mana uang nafkah delapan ratus ribu itu pergi dan mengapa cepat habis, wajah mertuanya yang tidak pernah bersyukur atas apa pun pemberiannya, hingga kebiasaan Arman yang pulang larut malam bahkan pernah tidak pulang sama sekali dengan alasan gaji yang sedikit—padahal nominal gajinya biasa saja dan konstan seperti itu. Yang paling menghancurkan batinnya adalah kenyataan bahwa Arman tidak pernah sekalipun berdiri membelanya, baik di depan teman-temannya, di depan mertua, maupun di depan ipar-iparnya.

Setahun ini, Aini sadar dia telah berjalan di atas kerikil tajam seorang diri.

Air mata Aini kembali luruh di pipinya yang kian tirus. Di dalam kesunyian kamar yang gelap, dia berbisik pada dirinya sendiri, sebuah pertanyaan yang paling dia takuti namun harus dia hadapi.

"Selama ini... apakah aku yang terlalu bodoh karena kebanyakan cinta sendiri? Ataukah memang sudah saatnya aku memilih untuk berpisah saja?" gumam Aini dalam bisikan kesendiriannya.

Rasa depresi dan luka batin yang teramat dalam mulai mengubah fisik dan kebiasaannya. Akhir-akhir ini, Aini menjadi sosok yang rapuh. Dia jarang makan, tubuhnya kian kurus, dan dia bahkan jarang mandi. Jiwanya seolah sedang berlayar di tengah lautan kabut, kehilangan arah, lelah, dan sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan terakhir untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.

1
falea sezi
🤣🤣 arka arka lu sendiri ketus ehh masak. minta di baikin🤣 ngelunjak lu
Ratika duri: tau nih si arka 😅
total 1 replies
falea sezi
bner g usa ngurus orang g jelas sini 🤭 fokus krja aja biar aja ulet bulu dan si ceo g jelas itu bkin perkarw
falea sezi
lanjut
Ratika duri: oke kak😁
total 1 replies
falea sezi
wanita oon ngapain. g ngajuin cerai sendiri😒 stts gantung emank. enak bloon ya
Ratika duri: sabar kakak ku 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!