NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan

Perlahan Chantika mulai menyusun seluruh fakta yang diperolehnya.

"Fakta pertama. Saras masuk ke hotel bersamaku," kata Chantika tenang. "Fakta kedua. Saras keluar lebih dulu dengan alasan mengambil berkas yang berada di mobil Bryan."

Kepala Keamanan dan operator mendengarkan dengan seksama.

"Fakta ketiga," lanjut Chantika. "Saras menyerahkan sesuatu yang diduga kunci kepada seorang pria di lobby."

Kepala Keamanan dan operator tidak menyela.

"Fakta keempat," Chantika menatap salah satu kamera di parkiran. "Setelah itu, Saras meninggalkan hotel menggunakan mobilnya sendiri, dan tidak ke mobil Bryan.

Tatapan Chantika beralih pada kamera di lobby. "Fakta kelima. Beberapa menit kemudian, Saras justru kembali ke hotel dan meminta pihak keamanan membantu mencari saya."

"Benar," tegas Kepada Keamanan.

Chantika melanjutkan. "Fakta keenam. Setelah pencarian tidak membuahkan hasil, Saras kembali masuk ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya."

Chantika menyipitkan matanya. "Rekaman CCTV tidak bisa sepenuhnya menjelaskan apa yang terjadi."

"Benar, Bu." Operator mengangguk setuju.

Meski yang terlihat di kamera, Saras sempat berusaha mencarinya penuh kepanikan. Tetapi itu belum cukup untuk menjadi bukti bahwa Saras tidak memiliki niat jahat padanya.

Dan sebagai seorang penyidik, Chantika tahu bahwa rangkaian peristiwa yang tampak wajar sekalipun bisa saja merupakan bagian dari skenario yang disusun dengan rapi.

Tatapannya kembali mengarah ke layar.

"Kalau memang Saras bersekongkol dengan Bryan... maka pria yang menerima kunci di lobby kemungkinan besar menerima kunci mobil Bryan."

"Itu masuk akal, Bu," sahut Kepala Keamanan. "Dengan begitu, Tuan Bryan tidak perlu keluar dari kamar untuk mengambil kunci mobilnya. Sementara Nona Saras dapat meninggalkan hotel menggunakan mobilnya sendiri tanpa dicurigai."

Chantika menambahkan. "Lalu kembali lagi beberapa menit kemudian untuk menciptakan kesan seolah-olah ia benar-benar sedang mencariku."

Chantika menarik napas pelan. "Ada sesuatu yang belum masuk akal."

Kepala Keamanan dan operator saling pandang.

"Rekaman CCTV memang tidak membuktikan bahwa Saras sengaja menjebakku." Mata Chantika menyipit. "Tapi, tindakan Saras yang berusaha mencariku malah menimbulkan pertanyaan baru."

Kepala Keamanan langsung menoleh. "Mengapa Nona Saras mencari Ibu setelah kembali dari meninggalkan Anda di hotel, tanpa mencari ke kamar Tuan Bryan lebih dulu?"

"Tepat," kata Chantika.

Apakah Saras benar-benar merasa panik karena kehilangan dirinya?

Atau...

Ada sesuatu yang terjadi di dalam kamar Bryan yang membuat rencana mereka berubah?

Sebagai penyidik, Chantika tahu satu hal. Rekaman CCTV hanya menunjukkan apa yang terjadi di luar ruangan. Yang terjadi di dalam kamar... Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Tatapan Chantika kembali mengeras. "Berarti masih ada satu orang yang harus dimintai penjelasan."

Sorot matanya berubah semakin tajam.

"Bryan... Kini hanya dia yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu."

***

Sementara Chantika masih menyelidiki kejadian di hotel, Saras mengetuk pintu ruang kerja Rahardja sambil membawa sebuah map di tangannya.

Tangannya terangkat mengetuk pintu dari kayu jati yang berukir motif sulur itu.

Tok! Tok!

"Masuk," terdengar suara Rahardja dari dalam.

Saras membuka pintu lalu melangkah masuk.

Rahardja tampak duduk di balik meja kerjanya. Sebuah berkas terbuka di hadapannya.

"Pa," sapa Saras sambil tersenyum. "Aku sudah mendapatkan investornya."

Ia meletakkan sebuah map di atas meja.

"Sesuai janji Papa, kalau aku berhasil mendapatkan investor, Papa akan mengangkatku menjadi manajer."

Rahardja melirik map itu sekilas. Namun, ia tidak langsung mengambilnya.

Pria paruh baya itu lebih dulu mengangkat wajah, menatap Saras yang tampak begitu percaya diri, bahkan sedikit bangga dengan pencapaiannya.

Beberapa saat kemudian, barulah ia meraih map tersebut dan membukanya.

Lembar demi lembar ia baca dengan saksama. Tatapannya kemudian berhenti pada nama investor.

"Bryan Adi Jaya?"

Rahardja mengangkat kepala menatap Saras.

"Benar, Pa," jawab Saras mantap.

Rahardja menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan investasi darinya?"

Nada suaranya tetap tenang, tetapi penuh selidik. Sebagai pebisnis yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia usaha, Rahardja mengenal reputasi Bryan dengan baik.

Pria itu memang dikenal berani menggelontorkan dana dalam jumlah besar. Namun, di balik setiap investasinya, hampir selalu ada kepentingan pribadi yang harus dipenuhi. Banyak rumor beredar bahwa Bryan kerap memanfaatkan posisi tawarnya untuk mendekati perempuan yang menarik perhatiannya.

Karena itulah Rahardja merasa heran saat Saras bisa membujuk pria itu menjadi investor dalam proyek mereka.

Saras tersenyum tipis. "Prospek proyek kita memang sangat menjanjikan, Pa. Wajar kalau dia tertarik berinvestasi."

Ia menambahkan dengan nada meyakinkan, "Sudah beberapa hari aku melakukan pendekatan dan meyakinkannya. Akhirnya siang tadi dia setuju."

Rahardja tidak langsung menjawab. Ia kembali membaca isi kontrak dengan teliti.

Sebagian besar klausul tampak wajar. Nilai investasi, pembagian keuntungan, hingga jadwal pencairan dana tidak menunjukkan kejanggalan.

Namun, tatapannya tiba-tiba berhenti pada salah satu poin. Keningnya langsung berkerut. Ia mengangkat kembali pandangannya ke arah Saras.

"Apa maksud klausul ini?"

Jari telunjuk Rahardja menunjuk salah satu bagian kontrak.

Di sana tertulis bahwa selama masa kerja sama berlangsung, Saras wajib memberikan prioritas kepada setiap permintaan Bryan yang berkaitan dengan proyek tersebut, bahkan di atas pekerjaan lain yang sedang ditanganinya.

Rahardja menatap putrinya lekat-lekat. "Kamu sudah membaca bagian ini? Apa kamu benar-benar paham arti klausul yang kamu tanda tangani?"

Ruangan itu mendadak hening. Tatapan Rahardja tetap tertuju pada Saras, menunggu jawaban putrinya.

Saras sempat terdiam sesaat. Tatapannya turun ke bagian kontrak yang ditunjuk Rahardja.

"Itu..." Ia berusaha tersenyum. "Mungkin cuma klausul standar, Pa."

"Standar?" Rahardja mengangkat sebelah alis.

"Iya. Maksudnya, selama proyek berjalan aku harus lebih memprioritaskan kebutuhan investor."

Rahardja tidak langsung menjawab. Ia kembali membaca kalimat itu perlahan.

"Lalu kenapa tidak ditulis 'kepentingan proyek'?" tanyanya tenang. "Kenapa yang tertulis justru 'setiap permintaan pihak investor'?"

Saras kehilangan kata-kata.

Rahardja menutup map itu perlahan. "Kalimat dalam kontrak tidak pernah dibuat tanpa tujuan."

Ia menatap putrinya lekat-lekat. "Satu kata saja bisa mengubah makna seluruh isi perjanjian."

Saras mulai merasa gugup. "Papa terlalu khawatir."

"Bisa jadi." Rahardja mengangguk pelan. "Tapi sebagai orang yang sudah puluhan tahun berbisnis, tugas Papa memang mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu disadari orang lain."

Ia menggeser map itu ke tengah meja. "Papa akan meminta tim legal memeriksa kontrak ini lebih dulu."

Wajah Saras langsung berubah. "Pa... tapi Papa sudah janji. Papa masih ingat 'kan? Kalau aku berhasil mendapatkan investor, Papa akan mengangkat aku jadi manajer."

 

...🔸🔸🔸...

..."Kebohongan yang paling berbahaya bukanlah yang tampak jahat, melainkan yang terlihat begitu masuk akal."...

..."Kontrak bisa ditandatangani dengan tinta, tetapi niat seseorang hanya bisa dibaca dari tindakannya."...

..."Semakin rapi sebuah skenario disusun, semakin kecil kesalahan yang boleh dilakukan. Dan sering kali, satu detail kecil sudah cukup untuk meruntuhkan semuanya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Oma Gavin
gas enzo prepare dari sekarang keluar dari rumah mertua mu hidup mandiri bersama chantika minimal mengurangi resiko eama rubah betina saras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!