Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
Perlahan Chantika mulai menyusun seluruh fakta yang diperolehnya.
"Fakta pertama. Saras masuk ke hotel bersamaku," kata Chantika tenang. "Fakta kedua. Saras keluar lebih dulu dengan alasan mengambil berkas yang berada di mobil Bryan."
Kepala Keamanan dan operator mendengarkan dengan seksama.
"Fakta ketiga," lanjut Chantika. "Saras menyerahkan sesuatu yang diduga kunci kepada seorang pria di lobby."
Kepala Keamanan dan operator tidak menyela.
"Fakta keempat," Chantika menatap salah satu kamera di parkiran. "Setelah itu, Saras meninggalkan hotel menggunakan mobilnya sendiri, dan tidak ke mobil Bryan.
Tatapan Chantika beralih pada kamera di lobby. "Fakta kelima. Beberapa menit kemudian, Saras justru kembali ke hotel dan meminta pihak keamanan membantu mencari saya."
"Benar," tegas Kepada Keamanan.
Chantika melanjutkan. "Fakta keenam. Setelah pencarian tidak membuahkan hasil, Saras kembali masuk ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya."
Chantika menyipitkan matanya. "Rekaman CCTV tidak bisa sepenuhnya menjelaskan apa yang terjadi."
"Benar, Bu." Operator mengangguk setuju.
Meski yang terlihat di kamera, Saras sempat berusaha mencarinya penuh kepanikan. Tetapi itu belum cukup untuk menjadi bukti bahwa Saras tidak memiliki niat jahat padanya.
Dan sebagai seorang penyidik, Chantika tahu bahwa rangkaian peristiwa yang tampak wajar sekalipun bisa saja merupakan bagian dari skenario yang disusun dengan rapi.
Tatapannya kembali mengarah ke layar.
"Kalau memang Saras bersekongkol dengan Bryan... maka pria yang menerima kunci di lobby kemungkinan besar menerima kunci mobil Bryan."
"Itu masuk akal, Bu," sahut Kepala Keamanan. "Dengan begitu, Tuan Bryan tidak perlu keluar dari kamar untuk mengambil kunci mobilnya. Sementara Nona Saras dapat meninggalkan hotel menggunakan mobilnya sendiri tanpa dicurigai."
Chantika menambahkan. "Lalu kembali lagi beberapa menit kemudian untuk menciptakan kesan seolah-olah ia benar-benar sedang mencariku."
Chantika menarik napas pelan. "Ada sesuatu yang belum masuk akal."
Kepala Keamanan dan operator saling pandang.
"Rekaman CCTV memang tidak membuktikan bahwa Saras sengaja menjebakku." Mata Chantika menyipit. "Tapi, tindakan Saras yang berusaha mencariku malah menimbulkan pertanyaan baru."
Kepala Keamanan langsung menoleh. "Mengapa Nona Saras mencari Ibu setelah kembali dari meninggalkan Anda di hotel, tanpa mencari ke kamar Tuan Bryan lebih dulu?"
"Tepat," kata Chantika.
Apakah Saras benar-benar merasa panik karena kehilangan dirinya?
Atau...
Ada sesuatu yang terjadi di dalam kamar Bryan yang membuat rencana mereka berubah?
Sebagai penyidik, Chantika tahu satu hal. Rekaman CCTV hanya menunjukkan apa yang terjadi di luar ruangan. Yang terjadi di dalam kamar... Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Tatapan Chantika kembali mengeras. "Berarti masih ada satu orang yang harus dimintai penjelasan."
Sorot matanya berubah semakin tajam.
"Bryan... Kini hanya dia yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
***
Sementara Chantika masih menyelidiki kejadian di hotel, Saras mengetuk pintu ruang kerja Rahardja sambil membawa sebuah map di tangannya.
Tangannya terangkat mengetuk pintu dari kayu jati yang berukir motif sulur itu.
Tok! Tok!
"Masuk," terdengar suara Rahardja dari dalam.
Saras membuka pintu lalu melangkah masuk.
Rahardja tampak duduk di balik meja kerjanya. Sebuah berkas terbuka di hadapannya.
"Pa," sapa Saras sambil tersenyum. "Aku sudah mendapatkan investornya."
Ia meletakkan sebuah map di atas meja.
"Sesuai janji Papa, kalau aku berhasil mendapatkan investor, Papa akan mengangkatku menjadi manajer."
Rahardja melirik map itu sekilas. Namun, ia tidak langsung mengambilnya.
Pria paruh baya itu lebih dulu mengangkat wajah, menatap Saras yang tampak begitu percaya diri, bahkan sedikit bangga dengan pencapaiannya.
Beberapa saat kemudian, barulah ia meraih map tersebut dan membukanya.
Lembar demi lembar ia baca dengan saksama. Tatapannya kemudian berhenti pada nama investor.
"Bryan Adi Jaya?"
Rahardja mengangkat kepala menatap Saras.
"Benar, Pa," jawab Saras mantap.
Rahardja menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan investasi darinya?"
Nada suaranya tetap tenang, tetapi penuh selidik. Sebagai pebisnis yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia usaha, Rahardja mengenal reputasi Bryan dengan baik.
Pria itu memang dikenal berani menggelontorkan dana dalam jumlah besar. Namun, di balik setiap investasinya, hampir selalu ada kepentingan pribadi yang harus dipenuhi. Banyak rumor beredar bahwa Bryan kerap memanfaatkan posisi tawarnya untuk mendekati perempuan yang menarik perhatiannya.
Karena itulah Rahardja merasa heran saat Saras bisa membujuk pria itu menjadi investor dalam proyek mereka.
Saras tersenyum tipis. "Prospek proyek kita memang sangat menjanjikan, Pa. Wajar kalau dia tertarik berinvestasi."
Ia menambahkan dengan nada meyakinkan, "Sudah beberapa hari aku melakukan pendekatan dan meyakinkannya. Akhirnya siang tadi dia setuju."
Rahardja tidak langsung menjawab. Ia kembali membaca isi kontrak dengan teliti.
Sebagian besar klausul tampak wajar. Nilai investasi, pembagian keuntungan, hingga jadwal pencairan dana tidak menunjukkan kejanggalan.
Namun, tatapannya tiba-tiba berhenti pada salah satu poin. Keningnya langsung berkerut. Ia mengangkat kembali pandangannya ke arah Saras.
"Apa maksud klausul ini?"
Jari telunjuk Rahardja menunjuk salah satu bagian kontrak.
Di sana tertulis bahwa selama masa kerja sama berlangsung, Saras wajib memberikan prioritas kepada setiap permintaan Bryan yang berkaitan dengan proyek tersebut, bahkan di atas pekerjaan lain yang sedang ditanganinya.
Rahardja menatap putrinya lekat-lekat. "Kamu sudah membaca bagian ini? Apa kamu benar-benar paham arti klausul yang kamu tanda tangani?"
Ruangan itu mendadak hening. Tatapan Rahardja tetap tertuju pada Saras, menunggu jawaban putrinya.
Saras sempat terdiam sesaat. Tatapannya turun ke bagian kontrak yang ditunjuk Rahardja.
"Itu..." Ia berusaha tersenyum. "Mungkin cuma klausul standar, Pa."
"Standar?" Rahardja mengangkat sebelah alis.
"Iya. Maksudnya, selama proyek berjalan aku harus lebih memprioritaskan kebutuhan investor."
Rahardja tidak langsung menjawab. Ia kembali membaca kalimat itu perlahan.
"Lalu kenapa tidak ditulis 'kepentingan proyek'?" tanyanya tenang. "Kenapa yang tertulis justru 'setiap permintaan pihak investor'?"
Saras kehilangan kata-kata.
Rahardja menutup map itu perlahan. "Kalimat dalam kontrak tidak pernah dibuat tanpa tujuan."
Ia menatap putrinya lekat-lekat. "Satu kata saja bisa mengubah makna seluruh isi perjanjian."
Saras mulai merasa gugup. "Papa terlalu khawatir."
"Bisa jadi." Rahardja mengangguk pelan. "Tapi sebagai orang yang sudah puluhan tahun berbisnis, tugas Papa memang mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu disadari orang lain."
Ia menggeser map itu ke tengah meja. "Papa akan meminta tim legal memeriksa kontrak ini lebih dulu."
Wajah Saras langsung berubah. "Pa... tapi Papa sudah janji. Papa masih ingat 'kan? Kalau aku berhasil mendapatkan investor, Papa akan mengangkat aku jadi manajer."
...🔸🔸🔸...
..."Kebohongan yang paling berbahaya bukanlah yang tampak jahat, melainkan yang terlihat begitu masuk akal."...
..."Kontrak bisa ditandatangani dengan tinta, tetapi niat seseorang hanya bisa dibaca dari tindakannya."...
..."Semakin rapi sebuah skenario disusun, semakin kecil kesalahan yang boleh dilakukan. Dan sering kali, satu detail kecil sudah cukup untuk meruntuhkan semuanya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.