Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 - Amplop yang Disembunyikan Ayah
Suasana di depan loker nomor 317 mendadak sunyi.
Riuh penumpang yang berlalu-lalang di stasiun seakan menghilang dari pendengaran Alea.
Matanya hanya terpaku pada amplop cokelat itu.
Di sudut kanan atas tertulis dengan tinta biru yang mulai memudar.
> **Untuk Alea. Jangan dibuka kecuali kamu sudah tahu siapa yang mengkhianati Ayahmu.**
Tangannya bergetar saat mengambil amplop tersebut.
"Ayah..."
Bisiknya lirih.
Tulisan tangan itu tidak mungkin salah.
Sejak kecil, ayahnya selalu menulis kartu ucapan ulang tahun dengan bentuk huruf yang sama.
Huruf "A" yang sedikit miring.
Garis panjang pada huruf "y".
Semuanya begitu khas.
"Kenapa Ayah menyimpan ini di sini?" gumam Alea.
Raka memperhatikan sekeliling.
"Kita jangan membukanya di tempat umum."
Adrian mengangguk setuju.
"Kalau isi tas ini memang penting, bisa jadi kita sedang diawasi."
Kalimat itu membuat Alea refleks menoleh ke belakang.
Puluhan orang berlalu-lalang.
Mahasiswa.
Karyawan.
Pedagang.
Semuanya tampak biasa.
Namun justru itulah yang membuatnya semakin sulit mengetahui siapa yang benar-benar mengawasi mereka.
---
Mereka memutuskan menuju ruang rapat kecil di kantor Adrian yang lokasinya tidak jauh dari stasiun.
Tas hitam itu diletakkan di atas meja.
Adrian menutup tirai jendela.
"Mulai sekarang, tidak ada yang keluar ruangan sebelum semua diperiksa."
Raka membuka map pertama.
Isinya laporan keuangan.
Puluhan lembar transaksi.
Nomor rekening.
Nama perusahaan.
Semuanya tersusun rapi.
Adrian langsung membandingkannya dengan data penyelidikan lama.
"Ini..."
"...bukti yang selama ini hilang."
Raka mengangguk pelan.
"Kalau dokumen ini asli, nama Ayah Alea bisa dibersihkan."
Alea menahan napas.
Sudah bertahun-tahun ayahnya hidup dengan tuduhan yang menghancurkan nama baiknya.
Kalau dokumen ini benar...
Akhirnya akan ada harapan.
---
Map kedua berisi foto-foto.
Foto rapat.
Foto makan malam.
Foto pertemuan di hotel.
Beberapa wajah sudah dikenali.
Dimas Wijaya.
Arga.
Om Surya.
Namun satu foto membuat Raka membeku.
Foto itu memperlihatkan Om Surya sedang menyerahkan sebuah map kepada seorang pria tua.
Pria itu mengenakan jas abu-abu.
Wajahnya hanya terlihat dari samping.
Tetapi Raka langsung mengenalinya.
"Mustahil..."
"Ada apa?" tanya Adrian.
Raka menyerahkan foto tersebut.
Adrian ikut terdiam.
"Dia masih hidup?"
"Siapa dia?" Alea mulai gelisah.
Raka menarik napas panjang.
"Namanya Leonard Mahesa."
"Sepuluh tahun lalu dia dikenal sebagai pengusaha."
"Tapi sebenarnya..."
"...dia diduga menjadi otak dari jaringan pencucian uang yang kami selidiki."
Alea mengernyit.
"Bukankah kamu bilang pelakunya menghilang?"
"Ya."
"Karena semua orang mengira dia sudah meninggal dalam kecelakaan kapal."
Raka menatap foto itu lagi.
"Kalau foto ini asli..."
"...berarti kematiannya hanya sandiwara."
Ruangan mendadak sunyi.
Musuh yang selama ini mereka cari ternyata masih hidup.
---
"Bagaimana dengan hard disk ini?" tanya Alea.
Adrian segera menyambungkannya ke komputer.
Layar menyala.
Muncul permintaan kata sandi.
"Sial."
"Masih terkunci."
Raka memperhatikan layar beberapa detik.
"Lihat petunjuknya."
Di bawah kotak kata sandi terdapat kalimat kecil.
> **Masukkan tanggal yang tidak pernah kalian lupakan.**
Tanggal yang tidak pernah kalian lupakan.
"Tanggal pernikahan?" tanya Adrian.
Raka menggeleng.
"Salah."
"Tanggal perusahaan berdiri?"
"Salah."
Mereka mencoba beberapa kombinasi.
Semuanya gagal.
Komputer memberi peringatan.
> **Sisa dua percobaan.**
Kalau salah lagi...
Kemungkinan seluruh data akan terkunci permanen.
Ruangan kembali hening.
Alea memejamkan mata.
Berusaha mengingat setiap cerita yang pernah disampaikan ayahnya.
Lalu tiba-tiba...
Ia membuka mata.
"Aku tahu."
Raka menoleh.
"Ayah selalu bilang..."
"'Ada satu hari yang tidak boleh kita lupakan seumur hidup.'"
"Hari apa?"
"Hari ketika Ibu meninggal."
Raka menatap Alea beberapa detik.
"Tanggalnya?"
"Dua belas Mei."
Adrian langsung memasukkan kombinasi angka.
Semua menahan napas.
**Enter.**
Layar diam beberapa detik.
Kemudian...
**Akses diterima.**
Hard disk berhasil terbuka.
Namun belum sempat mereka melihat isinya...
Lampu ruangan mendadak padam.
Gelap.
Bersamaan dengan itu, alarm gedung berbunyi nyaring.
**Wiu... Wiu... Wiu...**
Suara seseorang terdengar dari luar.
"Semua orang keluar!"
"Terjadi kebakaran di lantai bawah!"
Adrian langsung berdiri.
"Ini terlalu kebetulan."
Raka segera mencabut hard disk dari komputer.
"Tidak."
"Bukan kebakaran."
Tatapannya berubah tajam.
"Mereka datang mengambil kembali bukti ini."
Saat mereka hendak membuka pintu...
Gagang pintu dari luar bergerak perlahan.
Seseorang...
Sedang mencoba masuk.
**Bersambung...**