NovelToon NovelToon
Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Pelakor / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adzana Raisha

Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.

Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ponsel

Waktu seolah berhenti berputar. Untuk beberapa saat gadis cantik berlesung pipi itu terdiam, sekaligus menata jawaban yang menurutnya paling tepat hingga tak meninggalkan kecurigaan di benak sahabatnya itu.

"Aku tidak sengaja bertemu dengan suami Nona Anastasya di jalan, hinga supir pribadinya berinisiatif memberikan tumpangan kepadaku." Zara ragu untuk membalas tatapan tajam sang sahabat yang terlihat begitu mengintimidasinya.

Gadis bernama Kiara itu menautkan kedua alisnya, setengah berfikir.

"Kenapa momennya bisa pas seperti itu? Nona bahkan masih belum datang ketoko bunga ini," celoteh Kiara sembari masih terlihat berfikir.

Jadi Nona belum datang, atau memang sengaja tidak datang.

Zara berfikir keras, pasalnya sang sahabat tak akan berhenti mencecarnya dengan bertubi-tubi pertanyaan sebelum sahabatnya itu benar-benar paham. Hingga mengalihkan topik pembicaraan, dirasa menjadi jalan keluar yang paling tepat.

"Hei, bagaimana keadaan toko selama beberapa hari aku tinggal dan siapa yang menghendel semuanya?" Zara sebisa mungkin menutupi rasa gugupnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Kiara terdiam. "Kau sedang berusaha mengalihkan arah pembicaraan? Apa yang kutanyakan dan apa pula jawabanmu." Gadis itu berdecak dan mengelengkan kepalanya beberapa kali.

"Tetapi karna kau sahabat terbaikku, maka aku maklumi semua sikap tidak sopanmu itu," goda Kiara dengan memanyunkan bibirnya. "Kau tenang saja, Nona Anastasya sudah mempersiapkannya dengan baik. Mulai dari kebersihan toko dan makanan para penjaga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau masih lelah setelah perjalan beberapa jam dari kampung, kau bisa istirahat dan libur lebih dulu untuk hari ini." sambung gadis itu kemudian.

Nona Anastasya memang sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.

"Tapi aku merasa tidak nyaman dengan Nona. Apa beliau tidak akan marah padaku," ucap Zara seakan meminta pertimbangan.

"Tidak nyaman apanya, bukankah kampung halamanmu cukup jauh? Tidak akan ada salahnya jika hari ini kau istirahat lebih dulu. Toh aku yakin, jika Nona Anastasya sampai tau pun beliau pasti tidak akan marah." Kiara menaikkan sedikit nada bicaranya, untuk menyakinkan gadis yang tengah bersamanya itu.

"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Zara sekali lagi.

Kiara berdecak. "Astaga, kau masih tidak percaya juga. Apa perlu aku yang memintanya langsung pada Nona," gertak Kiara dengan menahan rasa kesal.

"Tidak-tidak. Baik, aku percaya padamu," jawab Zara cepat.

"Nah, tunggu apa lagi. Istirahat sana," titah Kiara sementara pandangannya tertuju pada tangga penghubung lantai atas.

Engan mendapatkan ocehan dari sang sahabat, gadis mungil itu berjalan cepat menyusuri anak tangga menuju lantai dua di mana kamar yang biasa ia gunakan berada.

Zara membuka gagang pintu dan menutupnya kembali. Memandang sekeliling, kamar yang beberapa hari ia tinggalkan. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, gadis itu terduduk dan bersandar di sudut ranjang.

Berawal dari niat untuk berkunjung kekediaman Nonanya dengan membawa sebuket bunga, justru malam membawanya pada masalah pelik yang tak seharusnya gadis itu tanggung.

Buliran kristal menitik dari sudut netra beningnya, betapa pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, namun setelah beberapa hari terlalui, gadis itu merasakan ada sesuatu tak kasat mata di dalam hati yang semakin tumbuh subur seiring dengan berjalannya waktu.

Akan tetapi lagi-lagi gadis itu sadar, Arka tak sepantasnya ia cintai. Anastasyalah yang lebih berhak dan pantas bersanding bersamanya.

Gadis itu merangkak menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya dalam kasur empuk yang membuatnya nyaman. Menarik selimut hingga keleher, menatap nanar langit-langit kamar yang memvisualisasikan wajah teduh seseorang yang tengah tersenyum kearahnya. Disela tangisnya, gadis itu tersenyum getir dan merapalkan satu nama hingga gadis itu perlahan terbuai menuju alam mimpi.

Arka....

************

Arka menatap Arloji yang bertengger di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul 05:00 sore hari. Seorang sekertaris pribadinya menyodorkan berkas terakhir yang ditandangani Tuannya untuk hari ini.

"Apa masih ada yang perlu ditandatangani," tanya Arka yang tengah serius menatap lembaran kertas di tangannya.

"Sudah Tuan. Ini berkas terakhir yang perlu anda tanda tangani," jawab sekertaris pria itu tegas.

"Baiklah."

"Baik, saya permisi Tuan." Pria itu menundukan kepala dan meninggalkan ruang CEO dengan map dalam gengaman tangannya.

Arka menghela nafas dalam dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi putarnya yang nyaman.

Kenapa aku sangat merindukan istri mungilku itu.

Arka tersenyum samar, mengingat beberapa momen indah liburan kilat yang masih terpatri jelas dalam ingatannya.

Satu tangannya meraih satu buah benda semacam remote dan menekan satu tombol yang tertera. Tak berapa lama pintu ruangan terbuka samar, dan seseorang pria berbadan tegap muncul dari pintu bercat abu-abu itu.

"Selamat sore Tuan. Apa ada sesuatu yang Tuan butuhkan?" Sam yang selalu bersiaga itu mendekat.

"Aku merindukan Zara," balas Arka secara terang-terangan.

Apa? Sam terbelalak mendengarkan ucapan sang Tuan.

Jadi hanya untuk mengatakan itu anda memangil saya, Tuan.

"Bukankah Tuan bisa menelfon Nona Zara jika tengah merindukannya." Sam memberikan solusi.

Sang Tuan berfikir sejenak kemudian berucap, "Tetapi aku tidak menyimpan nomor ponselnya."

Apa? Sam dibuat kebingungan.

"Sam, apa kau mempunyai nomor ponsel Zara?" tanya Arka dengan sorot mata penuh harap.

Jika Tuan saja tidak menyimpannya, apalagi saya.

"Tida Tuan. Saya juga tidak menyimpannya."

Arka terlihat kecewa, terlihat dari raut wajahnya yang mulai berubah.

"Lalu bagaimana aku bisa menghubunginya?"

tanya Arka sekali lagi. Pria itu sudah terlihat mulai gusar.

Sam tak langsung menjawab, ia memutar otak hingga menemukan sebuah ide cemerlang.

"Tuan bisa menghubungi telepon toko bunga Nona Anastasya. Bukankah Nona Zara tinggal disana?"

Kedua netra Arka berbinar seketika mendengar jawaban yang teucap dari bibir Sam. Rasa senangnya meluap, layaknya menemukan harta karun paling berharga dalam hidupnya.

Sam dengan cekatan meraih telpon kantor dan menekan satu nomor kontak. Beberapa detik panggilan tersambung. Arka yang tak sabaran lekas menyambar telpon tersebut dan mengarahkannya ketelinga kiri.

Harap-harap cemas menunggu jawaban suara dari seberang, namun sayang panggilan lebih dulu terputus sebelum sempat terdengar suara renyah sang pujaan hati.

"Kenapa tidak diangkat," ucap arka setengah geram seakan hendak membantong telpon di tangannya.

Sam menghela nafas dalam dan lebih mendekat lagi kearah sang Tuan.

"Bagaimana jika sekali lagi, mungkin Nona sedang berada di kamar mandi atau di dapur," jawab Sam untuk menenangkan Tuannya.

"Aku coba." Arka menekan ulang kontak itu sekali lagi. Menahan rasa geram yang mulai menjalar di sekujur tubuh.

Dalam dering ketiga, suara lembut seorang gadis membuat pria yang hampir frustrasi itu seketika berwajah sumringah.

"Halo Zara, kenapa lama sekali mengangkat telponnya?"

"Saya tertidur Tuan, maaf"

"Tidak masalah. Zara aku belum menyimpan nomor ponselmu, bisakah kau sebutkan sekarang?"

"Nomor ponsel?"

"Iya. Aku lupa memimtanya kepadamu."

"Tetapi Tuan."

"Kenapa? Apa kau tidak ingin memberikannya pada suamimu sendiri?"

"Bukan begitu, hanya saja."

"Hanya saja kenapa?"

"Hanya saja, saya tidak mempunyai ponsel Tuan."

"Apa? Kenapa kau tak pernah mengatakannya?"

"Tuan juga tidak pernah bertanya, mana mungkin aku mengatakannya."

"Astaga, baiklah. Nanti akan kucarikan ponsel untukmu." Arka mengakhiri sampungan panggilanya, dengan menyisakan senyum tipis di sudut bibirnya. Tak habis fikir dengan tingkah sang istri yang semakin membuatnya tergila-gila.

1
Surati
bagus
sinta febrianti
udah bisa di tebak pas Zara nyuruh suaminya ngelepasin sandy pasti bkln kya gni. hrusnya arka wlaupun Zara ngmng sruh lepaskan hrusnya dia ttep nyuruh bodyguard nya buat beresin sandy biar gak bkin ulah lgi.. lah ini malah di bebasin yo wis jdinya begitu sandy berulah lgi
Rikawaii San
Luar biasa
Retno Elisabeth
menarik ceritanya thor
Inaqn Sofie
knp manggilnya tuan trs ya
Adeva Rizky
kok Zara,ngomong sama arka msh aj formal.gk cocok
Lena Sari
masa lalu seperti apa yg nona Anastasya sembunyikan???
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trusvsukses
fifid dwi ariani
trus sehat
Murwa Malefy
heheeee puncak kepala thor...😀 semangaattt thor..
YK
memang lebih baik dengan Ken yg didewasakan dengan cobaan. bukannya rangga yg lari dari cobaan dan meminta sahabatnya yg bertanggungjawab atas permasalahan yg disebabkan oleh dirinya sendiri...
YK
noh, siapa yg kemaren sibuk menghujat arka????
YK
cowok kere aja belagu...
YK
apakah tasya sakit? HIV mungkin?
Sri Wahyuni
kan s zara msih punya bpk knp pke wali y hakim
Sri Wahyuni
hrus nya s tasya itu memprbaiki dri dn hrs bersyukur msih ada yg mau mengeluarkn dri dunia lmbah hitam s arka mau menikahi nya hrs hidup lah yg lbih baik nikmati yg udah d sdiakan suami nya the real az hidup dn hnya krn cinta yg blm d dpt jd tmbah hilng arah cp tau dngn bnyk bersyukur dn brsbar akn tba wktu y yg d ingin kn tpi ini klkuan bkin jengah suami az
Sri Wahyuni
mungkin tdi y tasya itu jalang yg taubat..dan s zara skrng az blng ga mau k dpn y pasti bucin merem melek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!