Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Matahari sore di Desa Tidar tak pernah benar-benar panas. Cahayanya keemasan, tapi angin dari arah gunung selalu membawa dingin yang menusuk tulang. Raka sudah terbiasa. Setelah berminggu-minggu tidur di lantai tanah dan mandi di sungai belakang desa, suhu ekstrem jadi teman lama yang tak perlu disambut dengan keluhan.
Hari itu, ia memilih mandi lebih sore dari biasanya. Laras sibuk menumbuk ramuan di dapur, dan Maya—yang belum dikenalnya saat itu—belum pernah muncul di desa. Air sungai mengalir jernih dan dingin, terasa seperti tamparan ringan di kulitnya yang penuh memar. Ia membiarkan air mengalir di punggung, melepas lelah dari latihan simulasi semalam yang masih terasa di otot-otot kaki.
Ia tak mendengar langkah kaki di atas bebatuan. Tak menyadari kehadiran orang lain sampai sebuah bayangan jatuh di permukaan air di depannya.
Raka menoleh.
Seorang wanita berdiri di tepi sungai, sekitar tiga meter darinya. Jubahnya abu-abu tua, panjang hingga pergelangan kaki, terbuat dari kain yang jelas bukan untuk warga desa biasa. Rambut hitam legamnya diikat longgar ke belakang, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat pria setengah telanjang di sungai.
Raka tak panik. Ia hanya menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap sabun.
“Kamu Raka?”
Suaranya rendah namun tegas, datar seperti orang yang terbiasa memberi perintah tanpa perlu mengulang.
Raka mengerjapkan mata. Air masih menetes dari rambutnya. “Siapa kamu?”
“Nama saya Maya.” Wanita itu tak bergerak. “Saya teman gurumu.”
Otot-otot di punggung Raka menegang. Kata “guru” jarang terdengar sejak kepergian Si Tua. Setiap kali disebut, selalu ada urusan rumit yang menyertainya.
“Guru saya sudah pergi,” katanya hati-hati.
“Aku tahu.” Maya mengangguk pelan. “Dia pergi karena saya. Atau lebih tepatnya, karena orang yang mengejar saya.”
Raka meraih baju kotor yang tergantung di dahan dekat sungai dan memakainya cepat. Air masih menetes dari ujung rambutnya, membasahi kerah bajunya. “Ada yang mengejar kamu?”
“Bukan saya.” Maya akhirnya melangkah mendekat, kakinya nyaris tak meninggalkan jejak di tanah basah. “Mereka mengejar artefak yang ada di sabukmu.”
Tangan Raka secara refleks menutupi sabuk. Artefak segitiga itu masih tersembunyi di balik lipatan kain. Sejak insiden tekanan spiritual beberapa minggu lalu, benda itu diam total. Ia nyaris lupa keberadaannya.
“Artefak ini?”
“△404.” Maya berhenti dua langkah darinya. Matanya menatap sabuk itu dengan intensitas aneh—bukan nafsu, bukan ketakutan, tapi semacam pengakuan. “Salah satu dari tujuh pecahan artefak kuno. Gurumu membawanya dari Benua Tengah.”
“Benua Tengah?”
Maya menunjuk ke arah timur, ke pegunungan yang menjulang di balik desa. “Jauh dari sini. Tempat penguasa istana langit mengendalikan segalanya. Tempat artefak seperti ini diburu.”
Raka diam. Ia biarkan kata-kata itu meresap. Banyak pertanyaan muncul, tapi ia sudah belajar bahwa bertanya terlalu cepat hanya membuat orang menjawab terlalu sedikit.
Maya tersenyum tipis—cukup untuk menunjukkan bahwa ia menghargai sikap Raka. “Gurumu pergi karena aku muncul. Aku membawa kabar bahwa utusan Penguasa Benua Tengah sudah menemukan jejak artefak ini. Dia tak ingin kalian bertemu, karena itu akan menarik perhatian lebih besar. Jadi dia memilih pergi, membawa mereka ke arah lain.”
Tenggorokan Raka terasa kering meski baru saja mandi. “Jadi guru saya… mengorbankan dirinya?”
“Entah itu pengorbanan atau strategi.” Maya mengangkat bahu tipis. “Tapi aku di sini untuk memastikan kamu tetap aman. Itu pesannya.”
Aroma masakan Laras mulai tercium dari kejauhan—bawang dan ikan asin yang digoreng dengan minyak kelapa. Perut Raka keroncongan. Percakapan ini sudah berlangsung terlalu lama di tepi sungai.
“Kita bicara lagi di rumah,” katanya. “Laras sudah masak.”
Maya mengangguk. “Baik.”
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju gubuk. Rumput di pinggir jalan menguning karena musim kemarau, debu menempel di ujung jubah Maya yang berkibar tertiup angin.
Laras sedang mengaduk sayur di dapur darurat saat mereka tiba. Wajahnya langsung berubah begitu melihat sosok asing di samping Raka. Matanya menyipit, meneliti Maya dari ujung kepala hingga kaki, bibirnya mengerucut seperti mencium bau busuk.
“Siapa itu?” tanyanya datar.
Raka hendak menjawab, tapi Maya lebih cepat. “Maya. Teman gurunya Raka.”
Laras menatap Raka, lalu Maya, lalu kembali ke Raka. “Kamu kenal dia?”
“Baru saja,” jawab Raka jujur. “Dia muncul di sungai pas aku mandi.”
“Ah.” Laras mendengus. “Jadi sekarang cewek-cewek misterius suka muncul pas orang lagi mandi. Catat.”
“Laras, dia punya informasi penting—”
“Informasi penting bisa nunggu sampe makan selesai.” Laras berbalik ke arah dapur. “Kalau mau makan, cuci tangan dulu. Dan tamu misterius juga boleh cuci tangan, tapi saya nggak punya piring ekstra.”
Raka menoleh ke Maya. Wanita itu tersenyum tipis, kali ini dengan sedikit geli di sudut matanya. Ia mengeluarkan piring kayu kecil dari tas pinggang. “Aku bawa sendiri.”
Laras melirik sekilas, lalu mendengus lagi. “Orang misterius ternyata persiapan. Bagus.”
Mereka makan di teras depan gubuk. Meja kayu lapuk ditutupi daun pisang. Laras memasang ekspresi ketus sepanjang makan, tapi tetap menyendokkan nasi untuk Maya tanpa diminta. Raka memperhatikan Maya makan dengan gerakan rapi, diam, sesekali menatap gunung di kejauhan.
Setelah makan malam, saat langit berubah oranye gelap, Laras membersihkan meja dengan gerakan agak kasar. Maya hendak membantu, tapi tangannya disibak dengan lembut.
“Kamu tamu,” kata Laras singkat. “Duduk saja.”
Maya tak memaksa. Ia duduk di kursi kayu di sudut teras, memandang langit yang perlahan dihiasi bintang. Raka duduk di sampingnya, tak terlalu dekat, tak terlalu jauh.
“Kamu belum cerita semuanya,” kata Raka pelan.
“Memang belum.” Maya menoleh, matanya menangkap pantulan cahaya bulan. “Tapi malam ini bukan waktu yang tepat. Cerita ini panjang, dan kalau aku cerita sekarang, kamu mungkin nggak bakal tidur nyenyak.”
Raka tersenyum kecil. “Dulu guru saya juga suka bilang gitu.”
“Karena dia murid saya.”
Raka menoleh cepat. “Apa?”
Maya tak mengulang. Ia hanya menatap Raka sejenak, lalu kembali ke langit. “Besok pagi, di bawah pohon beringin di belakang desa. Aku akan jelaskan semuanya. Tapi malam ini—” ia berhenti, menoleh ke arah Laras yang masih sibuk di dapur, “—kamu perlu menjelaskan keberadaanku pada temanmu. Dia terlihat tidak suka.”
Raka tertawa kecil. “Dia selalu tidak suka sama orang asing.”
“Tapi dia tetap memberiku makan.”
“Ya.” Raka menatap Laras yang masih membilas piring dengan gerakan kasar. “Dia memang begitu.”
Malam semakin larut. Raka membentangkan tikar tambahan untuk Maya di sudut gubuk, sementara Laras sudah berguling ke sisi lain dengan punggung menghadap mereka. Maya tidur tenang, tanpa suara, seperti benda mati yang kebetulan bernapas.
Raka tak bisa tidur. Ia duduk di teras, menatap bulan. Artefak di sabuknya terasa hangat, seolah mengingatkannya bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari desa ini.
“Besok,” gumamnya pelan. “Besok aku akan tahu semuanya.”
Angin malam berhembus, membawa aroma tanah kering dan daun-daun yang mulai gugur. Di kejauhan, seekor burung hantu bersuara panjang, lalu hening.
Raka memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya. Besok akan menjadi hari yang panjang.
Bersambung.