Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Titik Terendah
Matahari sudah merangkak tinggi, sinarnya yang terik menembus celah-celah gorden sutra kelabu di kamar tidur utama Mansion Moretti. Jarum jam dinding hampir menyentuh angka sebelas siang ketika Sonya Munic perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah.
Hal pertama yang menyergap kesadarannya adalah rasa sakit yang luar biasa di bagian belakang kepalanya, berdenyut-denyut seirama dengan detak jantungnya yang melemah. Seluruh tubuhnya terasa sangat lemas, seolah-olah setiap sendi dan tulangnya telah lolos dari tempatnya. Ketika dia mencoba menggerakkan ujung jemarinya, rasa dingin yang ekstrem menjalar dari telapak kaki hingga ke dadanya, membuat tubuh ringkih itu mendadak menggigil hebat di balik selimut tebal.
"Aaww... Kenapa ini sangat sakit rasanya?" bisik Sonya lirih, suaranya nyaris habis, kering dan serak.
Dia teringat kejadian semalam. Penyatuan yang brutal dan menuntut bersama Batara, di tengah kondisi tubuhnya yang telah dikuras habis dua labu darah demi menyelamatkan Jevan. Obat penambah darah dosis tinggi yang dia telan sebelumnya ternyata tidak mampu menahan syok anemia akut yang kini melanda sistem tubuhnya.
Sonya berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Dia mencengkeram pinggiran kasur sutra hitam, mencoba mendudukkan tubuhnya yang gemetar. Kulitnya yang seputih mayat tampak kontras dengan bekas gigitan kemerahan di lehernya, tanda kepemilikan Batara yang tertinggal dari malam tadi. Napasnya terengah-engah, pendek dan tersendat, akibat katup jantungnya yang mulai kewalahan memompa sisa-sisa darah yang menipis.
"Aku harus... harus ke kamar mandi... " gumamnya pada diri sendiri.
Dengan memaksakan sisa-sisa tenaga yang ada, Sonya menurunkan kedua kakinya ke lantai marmer yang dingin. Baru dua langkah melangkah menjauh dari ranjang, dunianya mendadak berputar hebat. Pandangannya menggelap seketika, dan lututnya kehilangan seluruh daya tumpu.
Bruk!
Tubuh mungil Sonya ambruk, terjatuh di samping ranjang dengan posisi terduduk lemas di atas lantai. Siku tangannya menghantam kaki meja nakas, menimbulkan rasa nyeri yang menusuk, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan ketakutan yang tiba-tiba mencengkeram dadanya.
Jantung Sonya berdebar kencang karena panik. Pikiran buruk langsung memenuhi otaknya. Bagaimana jika Tuan Batara tiba-tiba masuk? Bagaimana jika dia kembali ke kamar ini dan melihatku dalam kondisi mengenaskan seperti ini? Dia pasti akan curiga... dia akan tahu tentang donor darah itu!
Dengan tangan yang gemetar, Sonya merangkak sedikit ke arah meja kecil tempat interkom internal mansion berada. Menggunakan sisa kekuatannya, dia menekan tombol darurat yang terhubung langsung ke dapur dalam, tempat satu-satunya orang kepercayaan yang bisa dia mintai bantuan berada.
"Ibu... Ibu Yooka... tolong ke kamarku... please..." bisik Sonya ke dalam corong interkom sebelum akhirnya terkulai lemas, bersandar pada pilar ranjang king size miliknya.
Tidak sampai tiga menit, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di koridor luar, disusul oleh ketukan panik pada pintu kamar utama yang tidak terkunci rapat. Sosok wanita paruh baya berwajah keibuan dengan celemek abu-abu masuk dengan terburu-buru. Itu adalah Ibu Yooka, kepala pengurus pelayan domestik dalam di kediaman Moretti.
"Nyonya Sonya?!" Pekik Ibu Yooka, suaranya melengking sarat akan keterkejutan yang teramat sangat begitu matanya menangkap sosok Sonya yang terduduk lemas di lantai, bersandar tak berdaya pada kayu ranjang.
Ibu Yooka langsung berlari mendekat, berlutut di atas lantai marmer di hadapan Sonya. Jantung wanita tua itu serasa berhenti berdetak saat melihat wajah majikan mudanya yang seputih kain kafan, dengan bibir yang membiru pekat, sebuah pemandangan yang sangat memprihatikan.
"Ya Tuhan, Nyonya Sonya! Apa yang terjadi pada Anda? Kenapa kondisi Anda bisa seburuk ini?!" Tanya Ibu Yooka dengan suara bergetar, kedua tangannya yang hangat segera memegang bahu Sonya yang dingin dan menggigil. "Saya... saya akan segera menghubungi Tuan Besar Batara sekarang juga! Beliau harus melihat ini—"
"Ja-jangan... jangan bilang Tuan, aku mohon..." potong Sonya tergesa-gesa, tangan dinginnya yang kurus mencengkeram lengan baju Ibu Yooka dengan sisa tenaga yang dia miliki. Matanya yang sayu menatap wanita tua itu penuh permohonan.
"Tapi Nyonya... kondisi Anda sangat mengkhawatirkan! Bibir Anda membiru, tubuh Anda sedingin es! Saya... saya takut terjadi sesuatu yang buruk pada Anda, Nyonya. Saya harus melapor pada Tuan—"
"Jangan, please... jangan katakan apa pun pada Suamiku..." ucap Sonya dengan nada suara yang begitu memelas, air mata bening mulai mengalir melewati pipinya yang pucat tanpa rona. "Aku mohon padamu, Ibu Yooka... tolong sembunyikan ini dari Tuan Batara. Jangan biarkan dia tahu seujung kuku pun..."
Ibu Yooka menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata sayu Sonya. Ada ketakutan yang mendalam di mata wanita tua itu akan keselamatan Sonya, namun melihat bagaimana sang Nyonya Muda begitu memohon hingga air matanya tumpah, hati keibuannya akhirnya luluh. Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Baik... baik, Nyonya Sonya. Saya tidak akan bicara pada Tuan Besar. Tapi sekarang, tolong biarkan saya membantu Anda," ucap Ibu Yooka lembut.
"Ibu Yooka... tolong bantu saya... bantu saya ke kamar mandi," cicit Sonya, tubuhnya kian menggigil.
Dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang, Ibu Yooka melingkarkan lengan kokohnya di bawah ketiak Sonya, memapah tubuh mungil yang terasa sangat ringan dan tak bertenaga itu bangkit dari lantai. Langkah kaki Sonya terseret-seret, kepalanya yang pusing membuat setiap jengkal langkah terasa seperti berjalan di atas paku. Ibu Yooka menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi mewah yang luas, lalu mendudukkannya perlahan di atas penutup kloset duduk agar Sonya tidak perlu mengeluarkan energi untuk berdiri.
Begitu kulit tangannya bersentuhan dengan dahi Sonya saat menyeka keringat dingin, Ibu Yooka tersentak. "Nyonya... Anda demam tinggi! Tubuh Anda panas di bagian dalam tapi sedingin es di luar. Bagaimana bisa seperti ini?"
Air mata Sonya kian deras mengalir, dia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di dalam lipatan kedua tangannya yang gemetar di atas lutut. "Ibu Yooka... aku takut... aku sangat takut..." Isak Sonya, bahunya berguncang kecil.
Ibu Yooka berlutut di depan Sonya, mengambil selembar handuk kecil hangat dan mulai mengusap telapak tangan Sonya yang membeku. "Apa yang Anda takuti, Nyonya Sonya? Katakan pada saya. Apakah... apakah ini semua karena Tuan Besar? Apakah semalam Tuan Besar telah menyakiti Anda dengan sangat kejam hingga tubuh Anda seperti ini?" Tanya Ibu Yooka dengan nada penuh selidik, hatinya mendadak diselimuti rasa kecewa jika benar sang tuan besar bertindak kasar pada istri yang begitu lembut ini.
Sonya dengan cepat menggelengkan kepalanya, menyangkal tuduhan itu. "Bukan... bukan karena Suamiku. Ini bukan salah Tuan Batara, Ibu Yooka."
"Lalu kenapa, Nyonya? Tolong jangan membuat saya tebak-tebakan dalam ketakutan," desak Ibu Yooka lembut namun tegas.
Sonya menarik napasnya yang terasa sesak sejenak, menatap Ibu Yooka dengan pandangan mata yang sarat akan rahasia besar. "Semalam... semalam Tuan Jevan berada dalam kondisi kritis akibat kehabisan darah di ruang operasi. Stok darah kosong, dan hanya darahku yang memiliki kecocokan golongan. Jadi... aku memutuskan untuk mendonorkan dua labu penuh darahku secara diam-diam demi menyelamatkan nyawa Tuan Jevan."
Ibu Yooka terkesiap, tangannya refleks menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut. "Ya Tuhan... Anda... Anda mendonorkan darah di tengah kondisi jantung Anda yang lemah seperti ini? Nyonya Sonya, itu sama saja dengan menyerahkan nyawa Anda sendiri!" ucap Ibu Yooka dengan nada sedikit kecewa dan marah atas kenekatan Sonya, namun di balik itu semua, dia sangat mengerti betapa mulianya hati wanita di depannya ini yang rela berkorban di dalam situasi darurat klan.
"Aku tidak bisa membiarkan Tuan Jevan mati, Ibu Yooka. Dia adalah tangan kanan suamiku, pelindung klan ini," bisik Sonya lirih. "Dan ketakutan terbesarku saat ini... bukan tentang nasib atau keselamatan diriku sendiri. Aku... aku tidak peduli jika tubuhku harus menderita seperti ini."
"Lalu apa yang Anda khawatirkan, Nyonya?"
"Aku khawatir... jika kondisi tubuhku yang ambruk ini diketahui oleh Tuan Batara, dia akan menyelidiki segalanya. Dia akan tahu tentang donor darah ini. Dan jika dia tahu... aku sangat takut dia akan menghukum mati kepala dokter, para perawat, dan beberapa anak buah klan yang membantuku menyembunyikan rahasia ini di ruang operasi," ucap Sonya dengan tatapan mata yang dipenuhi kecemasan murni. "Tuan Batara memiliki watak yang sangat kejam jika menyangkut keselamatanku... aku tidak ingin orang-orang tidak bersalah itu harus kehilangan nyawa mereka hanya karena mencoba membantuku melakukan hal yang benar."
gx tega iikh kak liat sonyaa di sakitin trus ,,
ayoo laa kak sx aj jadiin si Sonya wonder woman ,,
atau kasih kekuatan dikit ,, buat nampol si thalita ,, 😒😒😒😒
terlanjur sakit dan kecewa
Hilang saja kau dr muka bumi ini