"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iblis Berwajah Rupawan
*
*
*
"Dia ... Dia kesini?"
Bisik Andreas nyaris tak terdengar. Kalah dengan gemuruh hebat didadanya sendiri.
"Risa? Dia perempuan yang pertama kali menelponmu saat di Rumah Sakit kan Mas?"
Andreas menggeleng pelan.
"Aku yakin itu dia!" ucap Isana, yang membuat Andreas terhenyak.
Dengan sisa keberanian, yang Isana punya. Ia membalikkan badan. Punggungnya tegak, dengan sorot mata tajam bagai bilah logam.
Reflek Andreas menahan tangan Isana, perasaan takut dan cemas membuat wajahnya pucat pasi seketika.
"Isa ... Jangan Isa. Kamu jangan keluar ..."
Rasa sakit yang sejak tadi melumpuhkan Isana, mendadak berubah menjadi kemarahan yang dingin dan tajam. Ia menyusut sudut matanya dengan gerakan kasar. Berjalan menuju pintu.
"Isa, jangan keluar!" Andreas masih saja mencoba, menahan.
Namun sebisa mungkin Isana menepis tangan Andreas yang mencekal lengannya. "Lepas! Jangan coba-coba menyentuhku, sebelum semuanya jelas. Siapa Risa? Mau apa dia sampai mencarimu kemari?"
Andreas tertegun, pertanyaan Isana meruntuhkan keberaniannya menatap mata wanita itu.
Isana membuka pintu kamar dengan sentakan kasar. Menyibak tirai gorden abu-abu dengan gerakan terburu-buru. Tanpa menoleh pada Andreas, secepatnya ia menuju teras.
Di teras itu, dibawah cahaya keemasan langit senja, Serang. Berdiri wanita yang kecantikannya begitu beracun. Mengenakan pakaian kantor dengan make up flawles yang begitu kontras dan mencolok untuk suasana perkampungan pesantren ini.
Risa, perempuan itu melengkungkan bibirnya. Membentuk senyuman, yang sarat akan kemenangan. Sengaja ia tujukan untuk Isana.
"Selamat Sore, Mbak ..." ucapnya dengan suara selembut mungkin, namun dibaliknya terdapat keangkuhan.
Andreas muncul, berdiri dibelakang Isana. Rembesan keringat dingin nampak jelas didahinya.
"Kamu gila Risa! Cepat pergi dari sini!" pekiknya.
Perempuan bernama Risa, tidak tersinggung. Justru ia kembali menyunggingkan senyum. "Maaf, saya kemari bukan untuk menunjukkan kegilaan saya."
Ummi Iffa, mendekati Isana. Memeluk Gahzhi lebih erat digendongannya. "Dia siapa Sa? Kenapa dia malah di usir sama Andreas?"
Isana tidak menjawab, tatapannya masih saja nanar pada wanita itu. "Apa yang kamu cari, sampai kamu jauh-jauh kemari?"
Risa mengangkat sudut bibirnya, sembari mengangkat map berwarna biru, yang sejak tadi terselip dijemari lentiknya.
"Pak Andreas, maaf ganggu waktu libur. Berkas tender yang kemarin ternyata ada yang harus ditandatangani hari ini. Karna itu saya, jauh-jauh kemari." Ucapnya tanpa menggeser senyuman.
Andreas terdiam, drama apa yang dimainkan Risa. Berkas tender? Berkas tender apa? Dia bukan Fahmi, sekertaris Andreas. Dia adalah Marketing Manager, yang sering ikut meeting, presentasi klien, dan acara perusahaan. Bukan mengurusi berkas tender!
"Mbak Isana, jangan salah paham ya. Saya memang sering satu tim sama Pak Andreas, saya kemari sebagai profesionalitas."
Isana maju satu langkah, tatapan yang tadi tajam berubah menjadi tatapan menelisik. Ia yakin sekali, angin sore yang membawa aroma parfum dari wanita itu, sama dengan yang ia hirup dari tubuh suaminya saat di rumah sakit.
"Pak Andreas, ada beberapa laporan yang harus kita bahas. Rasanya tidak mungkin jika kita bicarakan disini." Ujar Risa, dengan berani menatap Andreas.
Andreas menelan ludah, pikirannya kosong sepersekian detik.
"Maaf, Mbak Isana. Apa boleh, saya membicarakan project ini berdua saja dengan Pak Andreas?" Suara Risa terdengar sopan, namun begitu berbisa.
Isana menoleh pada Andreas, meski kecurigaannya masih belum hilang, namun ia mencoba untuk memahami situasinya.
Tanpa memberi jawaban, Isana melangkah masuk kedalam rumah bersama Ummi Iffa.
Andreas seketika menuruni anak tangga teras, dengan gerakan cepat melewati Risa. "Kita bicara dimobil, Risa!"
Wanita itu menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, dengan senyum samar sarat akan kemenangan. Melangkah satu-satu, mengikuti langkah lebar Andreas.
Isana menoleh sekali lagi, ekor matanya masih menelisik gerak gerik keduanya.
"Siapa perempuan itu, Sa?" Kahfi bertanya.
"Dia, rekan satu tim Mas Andreas di kantor." Isana menjawab ragu-ragu. Karna hatinya memang merasa ragu. Apa benar yang dikatakan Risa, apa benar mereka sebatas rekan kerja?
Mulut Isana kembali terkatup rapat, namun hatinya justru berbicara banyak.
"Pantesan kamu jarang bisa kemari, Sa. Suami kamu sibuk. Sampe didatangi kemari ..." Ummi Iffa menimpali.
Abah yang sedari tadi mengamati, tidak banyak bicara. Ia duduk dikursi dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Isana hanya diam dengan situasi yang membuatnya terus bertanya-tanya dalam hati.
"Kalau masih lelah, kamu istirahat saja dulu Sa..." Imbuh Ummi. "Sana, kamu kekamar ... Wajah kamu pucat banget, dan tubuh kamu sepertinya masih lemah. Nanti Ummi, buatkan bubur dan wedang jahe buat kamu."
Isana mengangguk, "Iya Ummi, terimakasih."
Kelelahan yang mendera, ditambah dengan kondisi yang belum pulih pasca melahirkan menjadikan Isana tidak banyak bicara. Suaranya tertahan, namun justru terasa begitu menyesakkan. Isana kembali ke kamar.
Sementara itu,
Di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah. Andreas dan Risa, berada dijok penumpang.
"Apa-apaan Risa? Kenapa kamu berani mengikuti aku kemari?!" Ucap Andreas tidak bisa menahan, ketika pintu mobil ditutup oleh Risa.
"Santai saja An, kenapa kamu tegang sekali ..." sahut Risa disertai tawa kecil di ujung kalimatnya.
"Ini tidak lucu Risa, Ini bukan lelucon!!!"
Namun Risa justru, menaruh kepalanya dipundak Andreas. Sontak membuat pria itu menghindar, mendorong kepala Risa untuk segera menjauh.
Risa tersenyum, namun lebih tepatnya sedang mengejek Andreas. "Kamu punya reflek penolakan sekarang? Kenapa kemarin-kemarin tidak?"
Andreas mengacak rambutnya sendiri, "Aku mohon Risa, aku tidak mau keluarga ku hancur. Aku tidak mau Isana tahu tentang kita."
"Sudahlah An, aku tahu ... Aku tahu kamu tidak cuma memikirkan soal keluargamu. Atau istri lusuh mu itu. Tapi kamu juga takut karir kamu terancam, kan?!"
"Jangan sebut Isana, seperti itu! Dia istriku!" Andreas membentak.
Setiap kali Risa berbicara buruk tentang Isana, Andreas selalu tidak terima.
"Oke, oke ... dia istrimu. Tapi aku,—" Risa menunjuk dirinya sendiri, ".... Aku orang yang paling bisa mengerti dirimu. Aku sudah bilang padamu An. Aku bisa menahan sampai waktu berpihak pada kita, tapi aku tidak pernah bisa, kalau semuanya berakhir."
Andreas menutup wajahnya dengan dua tangan, dia ingin berteriak menghentikan Risa, tapi suaranya tertahan pada tenggorokan yang kering kerontang.
"Ingat An ... Kamu sendiri yang mempersilahkan aku masuk, aku tidak pernah memaksa kamu!"
Ucapan Risa yang terdengar seperti peringatan, menusuk kepala Andreas dengan begitu tajam. Risa benar, dia yang sudah mempersilahkan, mempersilahkan iblis masuk dalam bentuk wanita dengan wajah rupawan.
"Jangan salahkan aku, jika aku tidak bisa menghentikan semuanya!" lanjut Risa.
Andreas mengusap wajahnya, kasar. Wangi vanila yang selama ini begitu melenakan, kini berganti dengan aroma yang memuakkan. Bahkan kini ia menahan nafas, sebisa mungkin tidak hanyut dalam gelombang sensasi segar dari aroma tersebut.
"Pak Setyo tahu semuanya Ris, aku terancam dipecat. Aku akan kehilangan semuanya, jika aku terus bersama kamu!"
Risa menggenggam tangan Andreas, mengecupnya pelan, disertai senyum yang mematikan akal.
"Aku sudah tahu itu, dan aku sudah punya cara untuk menghindarinya ..." ucap nya ringan.
Membuat Andreas terkesiap, sekaligus bertanya-tanya. Cara apa yang dibicarakan Risa?
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍