NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Ilusi Malam yang Menyesatkan

​Malam semakin larut, namun kegelapan di luar sana sama sekali tidak mampu menenangkan badai yang sedang berkecamuk di dalam benak Adrian. Di dalam kamar kerjanya yang berantakan di kediaman Adiwangsa, botol-botol wiski mahal tampak berserakan di atas lantai marmer. Bau alkohol yang tajam menyengat memenuhi udara, bercampur dengan aroma keputusasaan yang pekat.

​Adrian duduk tersungkur di lantai dengan punggung bersandar pada kaki ranjang. Dasi sutranya sudah ditarik lepas, kancing kemejanya terbuka setengah, menampilkan dadanya yang naik turun tak beraturan karena napas yang memburu. Matanya merah, sayu, dan basah. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Aruna—istri yang selama lima tahun ia sia-siakan dan kini diculik takdir dalam kecelakaan maut—selalu muncul.

​Senyuman manis Aruna saat menyambutnya pulang kantor, sentuhan lembut jemarinya yang selalu menyiapkan kopi hangat, hingga tatapan terluka wanita itu di hari terakhir mereka bertemu, terus berputar layaknya kaset rusak yang menyiksa batinnya. Adrian didera rasa bersalah yang teramat sangat. Kehilangan Aruna ternyata menghancurkan separuh jiwanya, menyisakan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh apa pun.

​"Aruna... maafkan aku... kembali, Aruna..." racau Adrian dengan suara parau. Ia kembali meneguk sisa wiski langsung dari botolnya, memeringkan kepala saat cairan perih itu membakar tenggorokannya, berharap rasa sakit fisik itu bisa mematikan rasa sakit di hatinya. Namun sia-sia. Alkohol justru membuat halusinasinya tentang Aruna semakin nyata.

​Di luar kamar, Bu Widya berjalan bolak-balik dengan cemas. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia bisa mendengar putranya yang terus meracaukan nama mantan istrinya yang sudah tiada. Hati Bu Widya mencelos melihat kondisi Adrian yang kian hari kian mengenaskan seperti mayat hidup. Bisnis Adiwangsa Logistik sedang diguncang badai karena boikot rahasia dari GBC, dan kini sang penerus tunggal justru hancur karena cinta yang terlambat disadari.

​Merasa tidak punya pilihan lain, Bu Widya mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Ia segera menghubungi Valerie. Hanya Valerie, wanita yang kini menjadi masa depan Adrian, yang mungkin bisa membujuk dan menyelamatkan putranya dari kehancuran tersebut.

​"Valerie... tolong ke sini sekarang, Nak. Adrian mabuk parah lagi di kamarnya. Ibu takut dia melakukan hal nekat. Ibu mohon, bujuk dia..." bisik Bu Widya penuh harap saat sambungan telepon terhubung.

​Ilusi di Ambang Kesadaran

​Tidak butuh waktu lama bagi Valerie untuk sampai di rumah keluarga Adiwangsa. Dengan langkah terburu-buru dan perasaan yang bercampur aduk antara cemas dan kesal, Valerie melangkah menuju kamar Adrian. Begitu membuka pintu, pemandangan kamar yang berantakan dan baunya yang menyengat langsung membuatnya meringis.

​Valerie mendekati sosok Adrian yang tergeletak lemas di sisi ranjang. "Adrian... astaga, apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri?" tanya Valerie sambil berlutut di depan pria itu, mencoba merebut botol wiski dari genggaman Adrian.

​Adrian perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya sangat kabur dan berbayang akibat pengaruh alkohol yang sangat tinggi. Di dalam benaknya yang sudah teracuni halusinasi, siluet tubuh Valerie, harum parfumnya, dan rambut panjangnya seketika mencair menjadi sosok wanita lain.

​"Aruna...?" gumam Adrian, matanya seketika berkilat penuh harapan dan kerinduan yang teramat sangat.

​Valerie tersentak mendengarnya, namun sebelum ia sempat memprotes, Adrian sudah lebih dulu mencengkeram kedua pundaknya dengan sangat kuat, menarik tubuh Valerie ke dalam pelukannya.

​"Aruna... kamu kembali! Kamu tidak mati, kan?! Aruna, maafkan aku... aku tahu kamu tidak akan pernah meninggalkanku! Aku tahu kamu sangat mencintaiku, Aruna!" racau Adrian dengan suara bergetar penuh air mata. Ia memeluk tubuh Valerie sangat erat, seolah takut jika melepasnya, sosok itu akan kembali lenyap.

​Valerie tertegun di dalam dekapan Adrian. Ada perasaan hina dan sakit hati yang luar biasa saat mengetahui dirinya hanya menjadi bayangan untuk wanita yang sudah meninggal. Namun, saat Valerie hendak memberontak dan berteriak menyadarkan Adrian, sentuhan pria itu seketika berubah menjadi sangat intens.

​Bergumul dalam Gairah Semu

​Adrian menangkup wajah Valerie dengan kedua tangannya yang terasa panas. Di bawah remang lampu kamar yang temaram, dalam pandangan Adrian, yang ada di hadapannya adalah wajah ayu Aruna yang sedang menatapnya penuh pengampunan. Tanpa menunggu lagi, Adrian langsung menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Valerie secara kasar dan penuh hasrat kerinduan yang lama dtertahan.

​Mmmhh...

​Ciuman itu mula-mula terasa kasar dan menuntut, sebuah ungkapan frustrasi dari seorang lelaki yang hampir gila karena kerinduan. Namun perlahan, ciuman Adrian berubah menjadi sangat dalam, panas, dan penuh gairah erotis yang membakar. Ia melumat bibir Valerie tanpa memberikan kesempatan untuk wanita itu bernapas.

​Valerie, yang sejak awal memang memiliki hasrat besar terhadap Adrian dan takut kehilangan pria itu, akhirnya mulai melunakkan tubuhnya. Rasa marahnya seketika padam, digantikan oleh gelombang gairah yang mulai menyergap dirinya. Valerie mulai membalas ciuman panas Adrian, mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.

​Adrian mengerang rendah di sela ciuman mereka. Sentuhan balasan dari Valerie seketika membuat darah lelaki Adrian berdesir liar. Dengan gerakan cepat yang terbakar nafsu, Adrian mengangkat tubuh Valerie dan membarikannya di atas kasur king size tersebut. Ia seketika merayap di atas tubuh Valerie, mengurung wanita itu di bawah kekuasaan tubuh tegapnya.

​Tangannya yang panas mulai bergerak liar, menarik paksa kancing kemeja putih Adrian sendiri hingga terlepas kabur, lalu beralih merobek sedikit gaun pendek berwarna merah merona yang dikenakan oleh Valerie. Kulit kedua lelaki dan wanita itu seketika bersentuhan, menyebarkan sensasi panas seperti api yang menyambar jerami kering.

​"Aruna... kamu milikku... hanya milikku..." bisik Adrian di sela remasan tangannya pada pinggul Valerie, terus menghujani leher dan selangka Valerie dengan ciuman dan gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah keobsesian.

​Valerie menjerit lembut sambil menengadahkan kepalanya, merasakan kenikmatan sensual yang luar biasa saat jemari Adrian menjelajahi setiap lekuk tubuhnya dengan liar. Meskipun hatinya menjerit karena Adrian terus memanggil nama Aruna, namun tubuh Valerie tidak bisa menolak penetrasi gairah yang sangat kuat yang ditawarkan oleh Adrian malam ini.

​Mereka berdua bergumul di atas kasur yang kini berantakan bersama selimut. Setiap gerakan Adrian terasa sangat menuntut dan penuh daya kejantanan tingkat tinggi, seolah-olah dia sedang berusaha mengikat jiwa "Aruna" untuk selamanya di atas kasur tersebut. Kamar itu penuh dengan suara deru napas yang memburu dan desahan panas yang saling bersahutan, menenggelamkan kedua insan tersebut ke dalam lembah erotis yang penuh tipu daya hingga fajar mulai menyingsing.

​Kenyataan Pahit di Pagi Hari

​Cahaya fajar berwarna jingga pucat perlahan menembus celah gorden, menerangi sudut-sudut kamar yang tampak luluh lantak akibat badai gairah semalam. Adrian perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat dan perih. Kepalanya berdenyut hebat, efek samping dari alkohol dosis tinggi yang ia tenggak habis-habisan.

​Ia mengerang pelan sambil memegang dahinya yang pening. Saat ia hendak menggerakkan tubuhnya, ia merasakan sebuah kehangatan di lengan kirinya. Adrian menoleh, dan seketika itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh sisa alkohol di dalam darahnya mendadak lenyap ditiup rasa syok yang luar biasa.

​Bukan Aruna.

​Yang berbaring di sampingnya, tertidur pulas dengan tubuh hanya tertutup sebagian selimut dan kulit yang penuh tanda merah, adalah Valerie.

​Adrian langsung bangkit duduk, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri sambil menartap Valerie dengan tatapan tidak percaya. Memori malam tadi seketika berputar cepat di benaknya. Ia ingat ciuman panas itu, remasan liar itu, dan bagaimana dia bercinta dengan penuh hasrat semalam. Namun, kenyataan bahwa wanita yang dia sentuh dengan penuh cinta adalah Valerie, membuat Adrian merasa sangat muak pada dirinya sendiri.

​Pergerakan Adrian rupanya mengusik tidur Valerie. Wanita itu mengerjap-erjapkan matanya, lalu seulas senyuman manis terukir di bibirnya saat melihat Adrian sudah terbangun di sampingnya. Valerie menggeser tubuhnya, mencoba memeluk pinggang Adrian dari belakang.

​"Pagi, Mas..." bisik Valerie dengan suara manja khas bangun tidur. "Semalam kamu luar biasa sekali. Sudah lama kita tidak seintim ini."

​Adrian menegang, ia melepaskan tangan Valerie dari pinggangnya dengan perlahan namun tegas, lalu duduk di tepi ranjang sambil menundukkan kepala, memijat pelipisnya yang kian bernyut parah.

​"Maafkan aku, Val... Semalam aku... aku benar-benar mabuk berat. Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan," kata Adrian, suaranya terdengar sangat datar, dingin, dan dipenuhi penyesalan. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Valerie karena rasa bersalah dan muak yang bercampur menjadi satu.

​Valerie merasakan perubahan sikap Adrian yang mendadak sedingin es tersebut. Senyuman di wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi terluka yang perlahan berubah menjadi kekerasan hati. Ia ikut bangkit duduk, menarik selimut untuk menutupi dadanya yang polos.

​"Sampai kapan, Mas?" tanya Valerie, suaranya mulai bergetar menahan amarah. "Sampai kapan kamu mau menghukum dirimu sendiri dan mengabaikan aku? Semalam kamu memelukku, menciumku, dan menyentuhku... tapi mulutmu tidak berhenti memanggil nama Aruna! Aku ini calon istrimu, Mas! Aku yang ada di sini, di sisimu!"

​Adrian terdim, kata-kata Valerie laksana pukulan telak yang menghantam harga dirinya.

​"Mas... lupakan Aruna. Wanita itu sudah meninggal, dia sudah tidak ada di dunia ini! Kenapa kamu sulit sekali melupakannya? Dia bahkan tidak setia padamu, dia pergi meninggalkanmu dengan kecelakaan itu!" seru Valerie lagi, mencoba mendoktrin pikiran Adrian agar melepaskan bayang-bayang masa lalu.

​"Benar... aku harus move on," batin Adrian di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sambil menatap lantai kamar dengan tatapan kosong. Aruna sudah meninggal. Jasadnya mungkin sudah hancur di dasar jurang sana. Kenapa aku masih saja sulit melupakannya? Mengapa bayangannya justru terasa semakin nyata dan mencekikku setiap hari? Aku harus melanjutkan hidupku. Bisnis Adiwangsa Logistik membutuhkanku, dan Valerie adalah wanita sah yang ada di sampingku sekarang.

​"Maafkan aku, Val. Aku janji... ini adalah yang terakhir kalinya," ucap Adrian akhirnya, menoleh ke arah Valerie dengan tatapan melemah, mencoba menerima takdir yang ada di depan matanya sekarang.

​Dendam Valerie yang Membakar

​Satu jam kemudian, Adrian sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa alkohol dan gairah semalam. Di dalam kamar yang sepi, Valerie berdiri di depan cermin besar sambil merapikan kembali gaun merahnya yang sedikit robek karena kelakuan liar Adrian semalam.

​Valerie menatap pantulan dirinya di cermin. Di atas kulit leher dan pundaknya, terdapat banyak tanda merah keunguan hasil bagaimana Adrian menyerahkan seluruh gairahnya semalam. Namun, bukannya merasa senang, hati Valerie seketika terasa sangat panas dan perih luar biasa.

​Setiap tanda merah ini dibuat oleh Adrian bukan untuk dirinya, melainkan untuk Aruna. Di atas ranjang tadi, Adrian tidak sedang bercinta dengan Valerie, melainkan sedang memadu kasih dengan hantu masa lalunya yang bernama Aruna.

​Valerie mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Kebencian yang amat sangat mendadak meluap di dalam dadanya, ditujukan pada satu nama yang telah merusak kebahagiaannya.

​"Aruna... kamu ini masih saja menghantui Adrian!" desis Valerie dengan suara rendah yang penuh dengan racun kemarahan, matanya menatap tajam pantulan dirinya sendiri di cermin dengan sinar keobsesian balas dendam yang sangat mengerikan.

​"Sekalipun kamu sudah mati, sekalipun kamu sudah terkubur di dasar tanah dan tidak ada lagi di dunia ini, kamu terus saja menjadi pesaing terberatku untuk mendapatkan hati Adrian seutuhnya! Mengapa kamu tidak pergi saja dengan tenang, Aruna?! Mengapa kamu harus menyisakan duka yang begitu dalam di hati Adrian hingga dia menjadikanku sebagai pelampiasan ilusimu?!"

​Valerie menarik napas panjang, menghapus sisa air mata kemarahan yang sempat jatuh di pipinya. Ia bersumpah di dalam hati, jika Aruna saja yang sudah mati bisa membuat Adrian hancur seperti ini, maka Valerie akan melakukan segala cara untuk menghapus nama Aruna dari silsilah ingatan Adrian, termasuk dengan mempercepat pernikahan mereka dan mengambil alih kekuasaan Adiwangsa Logistik demi kejayaan dirinya sendiri. Pertempuran atas takhta dan cinta Adiwangsa dimulai di atas puing-puing ilusi malam yang menyesatkan tersebut.

1
Ayudya
ayo Martin Pepet terus tunangan kecil kamu🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
ayo Kirana hancur Adrian secara berlahan🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
cie cie yg lagi cemburu
Katumbiri Lazuardi: biasa kalau cemburu begitu.. jual.mahal.. padahal bucin
total 1 replies
Ayudya
mampir kak
Katumbiri Lazuardi: jangan lupa j
ikuti ya kak,,
total 2 replies
Ayudya
Adrian jangan songong kamu.ntar lagi juga kamu akan hancur🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
panik ya🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ga sabar lihat Adrian dan jalannya hancur🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
semangat Aruna dan kamu harus balas semua rasa sakit yg mereka berikan ke kamu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
dasar manusia paknat kamu adrian.tqpi ya nikmati aja lah dulu masa masa kamu sekarang.kareba ntar lagi kamu dan gundik mu akan hancur di aruna🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ayo Aruna cari semua bukti atas kejahatan Adrian supaya kamu ga di pandang rendah lagi🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
buat Adrian Valeri nikmati lah masa jaya kalian tuk saat ini sebelum kalian jadi gembel🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Katumbiri Lazuardi: ma kasih atas komennya kak.. sehat selalu
total 1 replies
Ayudya
aruna jangan mau lagi di tindas.tunjukan bawah kamu bisa lebih badas dan tangguh 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Katumbiri Lazuardi: ya kak, nanti di bab selanjutnya.. jangan lupa like dan subcribe ya kak
total 1 replies
Jetva
Manusia klo terlalu angkuh + dengki => hidup namun mati.....upah dosa adalah maut....😔
Katumbiri Lazuardi: bener banget kak... jan lupa subcribe kak yah🙏🙏
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!