Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Presentasi Kematian
Sepatu hak tinggi merah marun itu melangkah keluar dari lift. Bunyi ketukannya menggema di sepanjang koridor lantai delapan, memecah kesibukan pagi di kantor.
Beberapa karyawan yang sedang berkumpul di pantri otomatis menghentikan obrolan mereka. Mata mereka terpaku pada sosok yang baru saja lewat.
Hira berjalan dengan dagu terangkat. Blus sutra hitamnya berpadu sempurna dengan rok pensil yang membalut tubuhnya. Tidak ada lagi Hira yang berjalan menunduk sambil memeluk map di dada.
Bagas, yang kebetulan sedang bersandar di meja resepsionis, nyaris menjatuhkan cangkir di tangannya. Matanya membulat sempurna melihat Hira berjalan mendekat.
Pria itu buru-buru menegakkan tubuh, menghalangi jalan Hira dengan senyum miring yang biasa ia gunakan.
"Wah, wah. Ada angin apa ini? Tumben sekali dandananmu... berani," sapa Bagas. Matanya tanpa malu-malu turun menatap kaki Hira. "Biar kutebak, mau tebar pesona ke klien baru?"
Hira menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus ke mata pria itu. Ekspresinya sama sekali tidak berubah. Datar dan sedingin es.
"Minggir," ucap Hira pelan.
Senyum Bagas sedikit goyah. Ia tidak terbiasa ditatap setajam itu oleh Hira. Biasanya, wanita itu akan menunduk atau mengalihkan pandangan dengan wajah memerah.
"Galak sekali pagi-pagi. Jangan kaku begitu, Hira. Nanti siang mau makan bareng? Aku—"
Hira memajukan tubuhnya satu langkah, memotong jarak di antara mereka. Bagas secara refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak ujung meja resepsionis.
"Aku bilang, minggir, Bagas. Atau kau mau aku membuat laporan resmi ke HRD tentang caramu menatap karyawan perempuan setiap pagi?" desis Hira, suaranya pelan namun terdengar sangat mengancam.
Bagas menelan ludah. Ia mengangkat kedua tangannya di udara dan segera bergeser ke samping.
Hira merapikan kerah blusnya dengan satu tangan, lalu kembali berjalan menuju ruang rapat tanpa menoleh lagi.
{Kau terlalu lembek selama ini, Hira. Tikus seperti dia hanya mengerti bahasa ancaman.}
Di dalam kepalanya, suara Hira yang asli hanya diam. Alter ego itu bisa merasakan sedikit kelegaan dari sosok asli Hira saat melihat Bagas ketakutan.
Hira mendorong pintu kaca ruang rapat. Di dalam, seluruh staf divisi pemasaran sudah duduk melingkar. Di ujung meja, Siska duduk dengan tangan bersedekap, mengetuk-ngetukkan ujung penanya ke atas meja.
Semua mata langsung tertuju pada Hira. Siska menghentikan ketukan penanya. Rahang manajer itu terlihat mengeras melihat penampilan bawahannya hari ini.
"Jam sembilan lebih dua menit," ucap Siska dengan suara melengking. "Kamu pikir ini kantor milik nenek moyangmu, Hira? Bisa datang berdandan seperti mau ke pesta dan terlambat masuk rapat?"
Hira menarik kursi kosong di seberang Siska. Ia duduk dengan punggung tegak dan menyilangkan kakinya dengan elegan.
"Maaf, Bu Siska. Ada sedikit halangan di koridor tadi," jawab Hira santai. Ia meletakkan laptopnya di atas meja dan mulai menyalakannya.
Siska mendengus keras. "Alasan. Cepat sambungkan ke proyektor. Saya tidak punya waktu seharian untuk melihat laporan berantakanmu."
Hira tidak membalas. Ia memasang kabel proyektor. Layar putih di depan ruangan langsung menyala.
[Laporan Evaluasi Kuartal Ketiga - Divisi Pemasaran]
Hira berdiri. Ia menatap satu per satu rekan kerjanya, lalu mengunci pandangannya pada Siska.
"Baik, mari kita mulai. Seperti yang Ibu Siska minta, ini adalah rekapitulasi data selama tiga bulan terakhir," ucap Hira dengan suara jernih dan tegas.
Ia menekan tombol pemindah slide. Layar menampilkan grafik batang yang menurun tajam di bulan kedua.
"Secara keseluruhan, angka penjualan kita menurun dua puluh persen dari target," lanjut Hira.
Siska langsung menggebrak meja. Beberapa staf terlonjak kaget di kursi mereka.
"Itu karena kinerjamu lambat, Hira! Proyek kampanye digital yang kamu pegang bulan lalu gagal total! Dan sekarang kamu berani menampilkan kegagalanmu di depan semua orang?!" bentak Siska. Matanya berkilat penuh kemenangan.
Bagas, yang baru saja masuk dan duduk di kursi belakang, ikut tersenyum meremehkan.
Hira memiringkan kepalanya sedikit. Seringai tipis yang mematikan perlahan muncul di bibirnya.
"Menarik sekali Ibu menyebutkan soal kampanye digital bulan lalu," ucap Hira. Jarinya kembali menekan tombol.
Slide berganti. Layar kini menampilkan sebuah tabel rincian anggaran yang sangat detail.
Siska menyipitkan matanya. Detik berikutnya, wajah manajer itu berubah pucat pasi.
[Rincian Alokasi Dana Kampanye Digital - Vendor A: Rp 150.000.000 (Tidak Sesuai Standar Kualitas)]
"Berdasarkan data yang saya kumpulkan," suara Hira memecah keheningan yang tiba-tiba menyergap ruangan itu. "Kegagalan kampanye bukan terletak pada kinerja tim. Melainkan pada kualitas vendor yang kita gunakan."
Hira menatap lurus ke arah Siska.
"Vendor A ini dipilih langsung oleh Ibu Siska, menolak tiga rekomendasi vendor lain yang jauh lebih murah dan berkualitas. Dan kebetulan sekali, pemilik Vendor A memiliki nama belakang yang sama dengan Ibu."
Ruang rapat seketika sunyi senyap. Karyawan lain saling berpandangan dengan mata membelalak.
"Tutup mulutmu!" teriak Siska. Ia berdiri dari kursinya. Jari telunjuknya bergetar menunjuk wajah Hira. "Kamu memalsukan data ini! Berani-beraninya kamu memfitnah atasanmu!"
"Data ini ditarik langsung dari sistem keuangan pusat, Bu," balas Hira dengan ketenangan absolut. "Tidak ada yang dipalsukan. Angka tidak bisa berbohong."
Hira berjalan pelan memutari meja, mendekati kursi Siska. Ketukan sepatu hak tingginya terdengar seperti palu hakim yang sedang mengetuk vonis.
"Selain itu, jika kita melihat slide berikutnya..." Hira menunjuk layar tanpa menoleh. "...laporan absensi dan pencapaian target individual menunjukkan bahwa saudara Bagas gagal mencapai target selama tiga bulan berturut-turut, namun tetap mendapat bonus kuartalan dari Ibu."
Bagas langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia menunduk dalam-dalam saat rekan-rekan di sebelahnya menatapnya dengan tajam.
Siska menggertakkan giginya. Napas wanita itu memburu. "Kamu... kamu benar-benar sudah gila, Hira. Saya pastikan kamu dipecat hari ini juga! Keluar dari ruangan ini sekarang!"
Hira berhenti melangkah tepat di samping Siska. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam mata manajernya yang sedang dilanda kepanikan.
"Ibu tidak punya wewenang untuk memecat saya lagi," bisik Hira pelan, memastikan hanya Siska yang bisa mendengar nada suaranya yang mengerikan.
Siska mengerutkan dahi, matanya bergerak liar. "Apa maksudmu?"
Hira kembali berdiri tegak. Ia merapikan ujung roknya dengan santai.
"Sepuluh menit sebelum rapat ini dimulai, saya sudah mengirimkan salinan laporan ini, lengkap dengan bukti transfer vendor, langsung ke email Pak Direktur Utama dan divisi audit internal," ucap Hira dengan suara lantang agar seluruh ruangan mendengarnya.
Kaki Siska lemas. Ia jatuh terduduk di kursinya. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar.
{Satu pion tumbang. Mudah sekali.}
Hira berjalan kembali ke mejanya, mencabut kabel laptop, dan menutup layarnya dengan satu gerakan mulus.
"Jika tidak ada yang ingin dibahas lagi, saya undur diri. Selamat pagi," ucap Hira.
Ia melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan kekacauan dan bisik-bisik yang mulai meledak di belakangnya.
Begitu pintu kaca tertutup, Hira menghela napas panjang. Senyum puas terukir di wajahnya. Langkah pertamanya membuahkan hasil yang sangat manis.
Namun, baru saja ia mengambil tiga langkah menjauh dari ruang rapat, ponsel di dalam tasnya bergetar panjang.
Hira merogoh tasnya dan menarik keluar ponsel tersebut. Layar itu menyala, menampilkan sebuah pesan masuk.
Hira memicingkan matanya membaca nama pengirim di layar. Langkah kakinya terhenti seketika.
[Pesan Masuk: Bu Anita (Direktur)]
[Bu Anita: Hira, datang ke ruangan saya sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan tentang pekerjaanmu... dan suamimu.]
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪