NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Sang Pengacara

Suatu sore yang berangin, saat salju pertama mulai turun dan mengubur jejak musim gugur, Indri duduk di depan laptopnya. Jemarinya melayang di atas keyboard. Ia telah mencoba membuang semua warisan Hisoka, semua petunjuk yang bisa menyeretnya kembali ke dalam lumpur. Namun, brankas rahasia Hisoka di bank Swiss, yang kuncinya ia kira telah ia buang, terus memanggilnya. Itu bukan kunci fisik, melainkan serangkaian kode akses yang ia hafal di luar kepala—sebuah hadiah terakhir dari Hisoka yang tidak bisa ia tolak.

Ia menghela napas, menyerah pada tarikan takdir. Baiklah, Hisoka. Mari kita lihat apa lagi yang kau sembunyikan.

Dengan gerakan cepat dan terprogram, Indri membuka portal daring menuju brankas itu. Ini adalah sistem yang dirancang untuk konglomerat kelas atas, dilengkapi enkripsi berlapis dan keamanan biometrik. Namun, Indri, si femme fatale yang terlatih dalam seni meretas, bukan tandingan Hisoka yang sudah meninggal. Ia menerobos setiap firewall, memecahkan setiap kode, satu per satu, hingga pintu virtual itu terbuka.

Cahaya biru dingin dari layar laptop menyinari wajah Indri yang tegang. Ia menemukan apa yang ia harapkan: dokumen keuangan, file kontrak, dan beberapa aset tersembunyi. Namun, di antara semua itu, terselip sebuah folder dengan nama sederhana, "Jaringan." Indri mengklik folder itu.

Matanya menyipit saat ia membaca isinya. Bukan hanya daftar nama seperti yang Hisoka berikan sebelumnya, tetapi detail transaksi yang jauh lebih mendalam. Bukti transfer dana, tanggal, rekening tujuan, dan nama-nama yang terkait. Ini bukan sekadar suap atau korupsi biasa. Ini adalah pencucian uang berskala internasional, sebuah jaringan yang jauh lebih luas dari sindikat perdagangan manusia yang ia pikir telah ia bongkar.

Dan kemudian, ia melihatnya lagi. Sebuah nama yang membuat darahnya terasa dingin, lebih dingin dari salju yang menumpuk di luar jendelanya.

Firma Hukum Prawira.

Firma hukum keluarga Ardika. Mereka bukan hanya terlibat dalam skandal perdagangan manusia. Mereka adalah salah satu pilar keuangan sindikat itu, memfasilitasi aliran dana gelap, mencuci miliaran rupiah untuk kejahatan-kejahatan Ren dan kroni-kroninya. Ardika, yang selalu tampak seperti pion yang dimanipulasi, ternyata adalah pelindung utama, seorang arsitek kejahatan yang tersembunyi di balik jubah pengacara terhormat.

Kepalanya terasa berdenyut. Indri menutup mata sesaat, mencoba mencerna informasi baru ini. Semua yang ia alami, semua penderitaan, ternyata berakar pada Ardika. Pria yang mengaku mencintainya, yang pernah ia percaya, yang mencoba membawanya pergi. Dialah inti dari semua ini. Dialah yang melindungi kejahatan ayahnya, dan kejahatan seluruh sindikat. Rasa jijik yang mendalam muncul di hatinya, bercampur dengan kemarahan yang membara.

Namun, di balik jijik itu, ada kepuasan dingin yang merayap. Aku punya kendali. Dengan bukti ini, ia bisa menjatuhkan seluruh keluarga Ardika. Ia bisa menghancurkan reputasi mereka, mencabut akar kekuasaan mereka. Ini bukan lagi sekadar memenjarakan Ardika; ini adalah melenyapkan mereka dari sejarah, seperti yang pernah ia sumpahkan.

Indri menatap layar laptopnya, melihat tumpukan dokumen digital itu. Ini adalah senjata mematikan di tangannya, sebuah bom waktu yang bisa ia ledakkan kapan saja. Tapi konsekuensinya? Jika ia menggunakan ini, ia akan kembali ke Jakarta. Kembali ke permainan itu. Kembali menjadi Indri yang penuh dendam. Dan kali ini, ia akan memburu seekor serigala yang bersembunyi di balik topeng domba.

Beberapa hari kemudian, Indri telah membuat keputusannya. Kedamaian tidak akan pernah datang jika ia terus berlari. Jakarta memanggilnya kembali, bukan lagi sebagai medan perang, melainkan sebagai tempat di mana keadilan harus ditegakkan sepenuhnya. Ia memesan tiket penerbangan ke Jakarta, kembali ke sarang buaya itu. Kali ini, ia tidak akan membawa dirinya sebagai mangsa, tetapi sebagai pemburu yang lebih cerdik dan lebih berbahaya.

Ia menutup laptopnya, menyimpan hard drive itu ke dalam tas tangannya. Suara angin dingin berdesir di luar jendela, seolah berbisik tentang bahaya yang menantinya.

Di hari keberangkatannya, Indri duduk di kafe bandara, menunggu panggilan penerbangannya. Ia menyesap kopi, tatapannya kosong menembus jendela kaca yang sibuk. Beberapa bulan telah mengubah dirinya. Ia kini lebih tenang, lebih terkendali, namun juga lebih dingin. Tidak ada keraguan di matanya. Hanya tekad yang membara.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di saku. Sebuah notifikasi email. Dari alamat email yang tidak dikenal. Indri mengerutkan kening. Ia membukanya.

Isi email itu sederhana. Hanya sebuah gambar. Sebuah tiket pesawat. Atas nama: Indri Izanami. Destinasi: sebuah pulau terpencil di Indonesia bagian timur, tempat yang nyaris tak berpenghuni. Dan yang paling mengerikan, tanggal penerbangan itu sama persis dengan penerbangannya.

Indri merasa jantungnya mencelos. Tangannya gemetar, hampir menjatuhkan ponselnya. Tiket itu... itu bukan tiket yang ia pesan. Itu tiket lain. Sebuah jebakan.

Ia melihat nama pengirim email itu. Sebuah nama yang membuatnya membeku, darahnya terasa dingin. Ardika Prawira.

Di bagian bawah email, ada sebuah pesan singkat yang menusuk.

"Selamat datang di permainanku, Indri. Aku tahu kau akan kembali."

*

Indri menatap tiket pesawat di layar ponselnya, darahnya terasa mendingin. Sebuah jebakan. Ardika. Pria itu tahu ia akan kembali. Dan ia telah menyiapkan rencana yang mengerikan. Pulau terpencil di Indonesia Timur. Tempat yang dijanjikan sebagai pelarian, kini terasa seperti sangkar. Pesan singkat dari nomor tak dikenal itu berkedip di layar, sebuah konfirmasi yang dingin. "Selamat datang di permainanku, Indri. Aku tahu kau akan kembali."

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Kopi di tangannya terasa pahit, entah karena rasanya atau karena rasa pahit yang kembali menggenang di lidahnya. Ia harus bersikap tenang. Ardika menginginkan Indri yang rapuh, yang membutuhkan perlindungannya. Ia tidak akan mendapatkan itu. Indri Izanami yang asli tidak akan pernah kembali tunduk pada Ardika. Tapi untuk saat ini, ia harus memainkannya.

Pertemuan di bandara hari itu terasa seperti sandiwara yang sempurna. Indri memasang senyum termanisnya, matanya berbinar seolah-olah ia benar-benar merindukan Ardika. Ia membiarkan Ardika menggenggam tangannya, memeluknya erat, seolah tidak ada dendam, tidak ada pengkhianatan yang pernah terjadi di antara mereka.

"Indri, kau benar-benar kembali," bisik Ardika, suaranya bergetar. Matanya menatap Indri dengan intensitas yang sama, penuh dengan keposesifan yang menyakitkan. "Aku tidak percaya ini. Aku pikir kau tidak akan pernah kembali."

Indri membalas senyumnya, mencoba menahan rasa mual yang naik ke tenggorokannya. Ia membiarkan dirinya terlihat sedikit terbuai, sedikit terpesona oleh perhatian Ardika. "Aku... aku merindukanmu juga, Ardika. Aku pikir... aku butuh tempat yang aman." Ia sengaja menekankan kata 'aman', berharap Ardika menangkapnya sebagai keinginan untuk dilindungi, bukan sebagai peringatan terselubung.

"Tentu saja," sahut Ardika cepat, senyumnya melebar, jelas menangkap apa yang ingin didengarnya. "Dan aku akan memberimu keamanan itu. Hanya aku. Kita akan pergi jauh dari sini. Ke tempat di mana tidak ada yang bisa mengganggu kita lagi."

Mereka berjalan melewati kerumunan, lengan Ardika merangkul Indri dengan posesif. Indri membiarkannya, membiarkan setiap sentuhan, setiap tatapan, menenggelamkan dirinya dalam peran. Ia merasa seperti aktris yang sedang memenangkan piala Oscar, memainkan peran terpenting dalam hidupnya. Teruslah berakting, Indri. Semakin ia percaya, semakin dalam ia akan jatuh.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!