Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Tengah dan Gengsi
SREEEETTT!
Suara gesekan tajam gorden kain satin berwarna krem yang ditarik paksa terdengar begitu nyaring, memecah keheningan kamar Kayla yang semula remang-remang. Dalam sekejap, limpahan cahaya matahari pagi yang terik menerobos masuk tanpa permisi, menusuk langsung ke kelopak mata Kayla yang masih terpejam erat.
Kayla tersRuang Tengah dan Gengsi
SREEEETTT!
Suara gesekan tajam gorden kain satin berwarna krem yang ditarik paksa terdengar begitu nyaring, memecah keheningan kamar Kayla yang semula remang-remang. Dalam sekejap, limpahan cahaya matahari pagi yang terik menerobos masuk tanpa permisi, menusuk langsung ke kelopak mata Kayla yang masih terpejam erat.
Kayla tersentak bangun, menyipitkan matanya yang terasa sangat perih akibat silau yang mendadak.
"ARGHHH! Siapa sih?! Ini weekend ya, jangan ganggu gue!" teriak Kayla penuh emosi. Ia menarik selimut tebalnya dengan kasar hingga menutupi seluruh wajahnya, mencoba memblokir cahaya pagi yang mengacaukan waktu tidur berharganya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, suara ketukan ujung selop yang beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat ke sisi ranjangnya.
"Mikayla, hey, bangun! Jangan lupa hari ini hari pertama kamu ada les piano. Ini hari pertama kamu, jangan sampai telat" ucap Hesti tegas sembari berkacak pinggang di samping tempat tidur.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban selain dengusan kesal dari balik gulungan selimut, Hesti tidak kehilangan akal. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, ia menarik paksa selimut tebal yang menutupi tubuh Kayla hingga terlepas sepenuhnya.
"Hey, mandi sekarang! Atau air mandinya yang saya bawa dan guyur ke atas kasur ini, Kayla?" ancam Hesti, tidak main-main dengan ucapannya.
Kayla yang kini meringkuk kedinginan langsung mendudukkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Ia menatap Hesti dengan pandangan permusuhan yang kentara. "Iyaaa... nenek sihir, iyaaa! Ini gue mandi!" ucap Kayla sembari mengacak rambut panjangnya yang kusut dengan frustrasi.
Hesti hanya menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh panggilan ketus dari anak tirinya. "Bagus. Saya tunggu di bawah. Setengah jam lagi kamu sudah harus turun ke ruang makan dalam keadaan rapi. Jangan coba-coba mengulur waktu."
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Kayla langsung menyambar handuknya dengan gerakan menyentak dan melangkah lebar masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintunya dengan cukup keras hingga menimbulkan suara dentuman sebagai bentuk protes.
Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat dan terdengar gemericik air dari dalam, Hesti tidak langsung beranjak dari kamar anak tirinya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Kayla, hingga matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah tanaman hias mini di dalam wadah kaca terarium yang terletak manis di sudut meja belajar Kayla.
Hesti melangkah mendekat, mengusap permukaan kaca terarium itu dengan lembut. Seulas senyum tipis, manis, namun sarat akan tekad terukir di bibirnya yang dipulas lipstik tipis.
Kamu jadi saksi ya, kalau nanti Kayla pasti bakal luluh dan menerima saya sebagai ibu sambungnya, batin Hesti dengan keyakinan penuh sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar kamar.
Hesti berjalan turun ke lantai bawah menuju area dapur. Dengan cekatan, ia menyalakan kompor, menyiapkan segelas susu cokelat hangat kesukaan Kayla, serta memanggang beberapa lembar roti tawar yang kemudian diolesi selai strawberry merah segar.
"Kayla sudah bangun, Dek?" tanya Pak Hendra yang sudah duduk rapi di meja makan. Pria paruh baya itu tampak jauh lebih segar hari ini setelah keluar dari rumah sakit kemarin, sedang menikmati secangkir kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis.
Hesti meletakkan piring berisi roti bakar di atas meja, lalu tersenyum tipis. "Sudah, Mas. Meskipun ya... harus pakai adegan memaksa sedikit seperti biasa," jawab Hesti setengah bercanda.
Pak Hendra terkekeh pelan mendengar laporan istrinya. Ia kemudian meraih tangan Hesti yang berdiri di sampingnya, menggenggam jemari wanita itu dengan erat dan penuh rasa sayang.
"Dek, makasih banyak ya sudah mau bersabar merawat dan mendidik Kayla. Meskipun Mas tahu sendiri, sikap dan egonya dia itu masih sering banget bikin emosi naik turun," ucap Pak Hendra dengan tulus, matanya menatap Hesti dengan binar penuh rasa bersyukur.
Hesti membalas genggaman tangan suaminya dengan kelembutan yang hangat. "Gak apa-apa, Mas. Aku juga mau berterima kasih karena kamu sudah memercayakan cara asuh Kayla sepenuhnya sama aku. Meskipun cara mendidikku kadang terkesan sedikit keras dan kaku, tapi setidaknya... aku ingin bisa benar-benar menjalankan peran seorang ibu untuk Kayla. Ibu yang selalu ada buat dia, yang bisa menegur dan mengarahkan dia ke jalan yang benar kalau dia mulai salah melangkah."
Mendengar kalimat bijak dan penuh tanggung jawab dari mulut istrinya, Pak Hendra merasa hatinya membuncah hangat. Ia merasa sangat beruntung memiliki istri seperti Hesti—seorang wanita yang tidak hanya cantik secara fisik, tetapi juga memiliki ketegasan, kebaikan, dan kemantapan hati dalam mengurus rumah tangga mereka.
Di saat kemesraan sepasang suami istri itu tengah berlangsung di meja makan, Kayla baru saja melangkahkan kakinya menuruni anak tangga satu per satu. Namun, baru sampai di pertengahan tangga, langkah kaki Kayla mendadak terhenti seketika.
Matanya menatap lurus ke arah ruang makan, menyaksikan bagaimana Papihnya menggenggam erat tangan Hesti sembari saling melempar senyum penuh cinta.
Seketika itu juga, ada rasa sesak yang menghantam dada Kayla dengan telak. Sebuah rasa sedih dan cemburu yang teramat dalam merayap masuk ke celah hatinya.
Seharusnya yang duduk di sana, tertawa lepas dan bermanja-manja dengan Papih itu adalah Mommy... bukan perempuan itu, batin Kayla pilu. Bayangan masa lalu tentang keutuhan keluarganya sebelum badai perceraian melanda kembali melintas di benaknya, membuat hatinya terasa perih teriris-iris.
Hesti yang memiliki insting tajam mendadak menolehkan kepalanya ke arah tangga dan mendapati sosok Kayla yang tengah mematung menatap mereka dengan tatapan sendu yang langsung berubah menjadi ketus saat tertangkap basah. Hesti berpura-pura tidak melihat raut sedih itu dan langsung menawarkannya sarapan dengan nada santai.
"Kayla, cepat turun. Susu cokelat kamu keburu dingin nanti," panggil Hesti.
Kayla mengembuskan napas kasar, lalu melanjutkan langkahnya menuruni tangga dengan gontai. "Iya," jawab Kayla malas. Ia mendudukkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan Papihnya, lalu mulai menyantap roti selai buatan Hesti dengan gerakan perlahan tanpa gairah.
"Kayla, hari ini kami berdua yang akan mengantarkan kamu ke tempat les piano kamu ya," ucap Pak Hendra memecah keheningan meja makan.
Kayla mendongak dengan dahi berkerut tidak setuju. "Hah? Gak usah, deh. Kayak anak TK aja kemana-mana harus diantar-jemput. Ngomong aja alamat tempat lesnya di mana, Kayla bisa berangkat sendiri naik."
"Gak bisa dong, Kayla," sela Hesti cepat sebelum Pak Hendra sempat menjawab. "Nanti kalau dilepas sendiri, kamu bukannya ke tempat les malah mampir ke tempat lain. Lagipula, hari ini papih kamu kan sedang libur bekerja. Sekalian dia mau mengajak saya jalan-jalan setelah urusan les kamu selesai," tambah Hesti tenang namun menekan.
Kayla memutar bola matanya jengah, meletakkan sisa rotinya ke atas piring dengan sedikit kasar. "Terserah deh, terserah kalian mau apa. Lagian Papih kan baru aja keluar dari rumah sakit kemarin, harusnya di rumah aja istirahat, bukannya malah keluyuran," ketus Kayla, mencoba menyembunyikan rasa khawatirnya pada kondisi kesehatan sang ayah.
"Papih sudah gak apa-apa, Kayla. Badan Papih sudah segar banget hari ini setelah urusan teh kemarin," canda Pak Hendra sembari melirik tipis ke arah Kayla, membuat gadis itu seketika tersedak ludahnya sendiri karena merasa tersindir halus.
Perjalanan menuju tempat les piano akhirnya dilakukan menggunakan mobil pribadi milik Pak Hendra. Sepanjang perjalanan membelah jalanan kota yang cukup ramai, Kayla memilih untuk menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil di kursi belakang, menyumbat kedua telinganya menggunakan earphone tanpa memutar lagu apa pun.
Dari pantulan kaca spion tengah, Kayla berulang kali harus menyaksikan bagaimana Papihnya memperlakukan Hesti dengan sangat manis. Pak Hendra menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya sesekali mengelus lembut jemari Hesti yang diletakkan di atas tuas transmisi mobil. Senyuman lebar dan tawa lepas yang tulus berulang kali menghiasi wajah Papihnya—sesuatu yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah Kayla lihat selama tiga tahun terakhir sejak perceraian orang tuanya terjadi.
Dalam hati Kayla yang paling dalam, terbesit sedikit rasa bahagia yang hangat melihat ayahnya bisa kembali tersenyum sebahagia itu. Namun, sedetik kemudian, rasa sakit hati dan pengkhianatan atas nama ibunya langsung datang membelah rasa senang tersebut menjadi berkeping-keping.
Kenapa Papih bisa secepat itu melupakan Mommy? Kenapa harus perempuan ini yang membuat Papih bahagia? batin Kayla, menatap Hesti dengan pandangan yang kembali meredup penuh permusuhan.
Ia meremas tali tas ranselnya erat-erat, menancapkan tekad baru di dalam dadanya.
Kalau kayak begini terus keadaannya, gue bakal semakin susah buat bikin nenek sihir ini minggat dan pergi meninggalkan kehidupan gue sama Papih, batin Kayla bergejolak penuh dendam, bersiap menghadapi hari pertamanya di tempat les piano yang terasa seperti penjara baru baginya.