Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Bayangan
Arcelia berhenti melangkah meski hanya sesaat namun cukup singkat, hingga tidak menarik perhatian Serena maupun Noah.
Namun cukup lama untuk memastikan bahwa apa yang baru saja dilihatnya bukan ilusi. Sosok itu benar-benar ada. Seseorang berdiri di dekat paviliun tua sedang mengawasinya lalu menghilang.
"Auriel." bisiknya pelan.
"Aku juga melihatnya." jawab rubah kecil itu. Suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding biasanya. "Dan aku tidak menyukainya."
Arcelia menyipitkan mata paviliun yang dimaksud berada cukup jauh dari keramaian. Terletak di bagian terdalam taman. Dikelilingi pepohonan tinggi dan semak bunga yang tumbuh lebat. Tempat yang indah namun juga tempat yang sempurna untuk bersembunyi.
"Arcelia?" Suara Serena membuatnya kembali fokus.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa." jawab Arcelia tenang.
"Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu."
"Itu karena aku memang sedang berpikir."
"Noah juga selalu berpikir." kata Serena. "Itu sebabnya dia membosankan."
Noah yang berjalan di samping mereka menghela napas panjang. "Aku mulai menyesal datang ke festival ini."
"Kau mengatakan itu setiap kali aku mengalahkanmu dalam perdebatan."
"Itu karena kau tidak pernah mengikuti aturan logika."
"Tentu saja." Serena tersenyum bangga. "Logika memperlambat kemenangan."
Arcelia hampir tertawa, hubungan kedua orang itu benar-benar unik. Namun meskipun percakapan ringan terus berlangsung, sebagian pikirannya tetap tertuju pada paviliun tadi. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi. Dan instingnya jarang salah.
Taman musim semi istana memang pantas disebut sebagai salah satu keajaiban kekaisaran. Semakin jauh mereka berjalan, semakin indah pemandangannya.
Lampu-lampu kristal kecil tergantung di antara ranting pohon. Kolam-kolam kecil memantulkan cahaya bulan. Aroma bunga memenuhi udara. Para bangsawan tampak menikmati suasana.
Sebagian berjalan santai, sebagian bercakap-cakap dan sebagian lagi memanfaatkan kesempatan untuk membangun relasi.
Namun di balik semua keindahan itu Arcelia merasakan sesuatu yang ganjil. Semacam ketidaksesuaian, seolah ada noda hitam kecil di atas kain putih yang sempurna yang sulit dijelaskan tetapi terasa nyata.
Di sisi lain taman.
Putra Mahkota Elias Astrael sedang berjalan bersama Marcus. Setelah menghabiskan sebagian besar malam menyambut para tamu, akhirnya ia mendapatkan sedikit waktu untuk bernapas.
Marcus memperhatikan ekspresi tuannya. "Lelah?"
"Sedikit."
"Itu kemajuan."
"Maksudmu?"
"Biasanya Anda sangat lelah."
Putra Mahkota Elias menggeleng pelan, Marcus memang salah satu dari sedikit orang yang berani bercanda dengannya dan mungkin satu-satunya yang bisa lolos tanpa hukuman.
"Festival berjalan lancar." kata Marcus.
"Untuk saat ini." jawab Putra Mahkota Elias.
Sebagai Putra Mahkota, ia telah belajar satu hal. Jika sebuah acara besar terlihat terlalu sempurna biasanya ada sesuatu yang salah. Dan entah kenapa, malam ini ia memiliki firasat yang kurang baik.
Tidak jauh dari sana, Pangeran Kael Astrael berdiri sendirian di bawah pohon tua. Tidak seperti Putra Mahkota Elias yang terus dikelilingi orang-orang, Pangeran Kael lebih sering memilih menyendiri atau setidaknya terlihat menyendiri.
Karena sebenarnya ia sedang berpikir. Tentang Arcelia. Tentang rasa asing yang muncul setiap kali melihat gadis itu. Dan tentang suara samar yang terkadang terdengar di dalam benaknya sejak beberapa tahun terakhir.
Suara yang bukan miliknya. Suara yang berasal dari jiwa Raja Pertama Arkanel.
"Dia penting." bisik suara itu.
Pangeran Kael memejamkan mata. "Kenapa?"
Namun tidak ada jawaban hanya ada keheningan. Namun rasa tidak nyaman itu semakin kuat. Dan Pangeran Kael tidak menyukai sesuatu yang tidak bisa dipahaminya.
Sementara itu... Arcelia akhirnya menemukan alasan untuk menjauh dari kelompok besar. "Aku ingin melihat kolam di sana." katanya kepada Serena.
Serena menoleh. "Oh?" dan melihat kolam disana "Aku ikut."
"Tidak." jawab Noah cepat. "Kau akan membuat semua ikan kabur."
"Itu fitnah."
"Itu pengalaman."
Serena memelototinya, lalu menoleh kepada Arcelia. "Kau benar-benar mau pergi sendiri?"
"Aku tidak jauh."
Serena tampak ragu namun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan hilang."
"Aku akan berusaha."
Noah menahan senyum karena jawaban itu tidak terlalu meyakinkan. Begitu menjauh dari keramaian, langkah Arcelia sedikit berubah arah. Bukan menuju kolam, melainkan menuju paviliun tua yang dilihatnya sebelumnya.
Auriel muncul sebagian dari balik lipatan gaunnya. "Kita benar-benar melakukan ini."
"Aku hanya ingin melihat."
"Itu biasanya kalimat terakhir sebelum masalah besar terjadi."
"Kau terlalu dramatis." ucap Arcelia.
"Aku tinggal bersamamu cukup lama untuk menjadi realistis."
Arcelia mengabaikannya karena semakin dekat mereka ke paviliun, semakin sedikit orang yang terlihat. Suara musik dari istana perlahan memudar. Digantikan suara angin malam yang berhembus di antara dedaunan.
Dan saat itulah Auriel tiba-tiba berhenti. "Energinya lebih kuat." bisiknya.
Arcelia juga merasakannya bukan energi secara langsung. Melainkan perasaan tidak nyaman yang muncul tanpa alasan jelas. Seolah tubuhnya sedang memperingatkan sesuatu.
Paviliun tua itu akhirnya terlihat jelas. Bangunannya kecil terbuat dari batu putih yang mulai dimakan usia.
Tanaman rambat tumbuh di beberapa bagian. Dan di sekelilingnya berdiri pohon-pohon besar yang membuat tempat itu tampak terpisah dari dunia luar.
Tap..
Tap..
Tap..
Arcelia melangkah masuk, tidak ada siapa pun di dalam hanya meja batu tua dan beberapa kursi.
Namun saat ia hendak berbalik Auriel mendadak membeku, matanya melebar. "Arcelia." Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Apa?" tanya arcel
"Lihat meja itu." ujar Auriel sambil menunjuk arah meja yang ia maksud.
Arcelia menoleh, dan baru menyadari sesuatu. Di atas permukaan meja batu terdapat ukiran kecil. Sangat kecil hampir tidak terlihat. Namun simbol itu langsung membuat Auriel menegang.
Seekor ular yang melilit lingkaran hitam. "Simbol Black Serpent.“
Keheningan menyelimuti paviliun jantung Arcelia berdetak lebih cepat. Mereka menemukan jejak nyata bukan sekedar dugaan dan bukan firasat.
Black Serpent benar-benar pernah berada di tempat ini.bDan kemungkinan besar belum lama.
Auriel melompat ke atas meja mengendus udara. "Lima hari." katanya.
"Maksudmu?" tanya Arcelia.
"Jejak energinya sudah lima hari yang lalu dan aku masih bisa merasakannya."
Lima hari. Artinya simbol itu dibuat tepat sebelum festival dimulai. Seseorang sedang merencanakan sesuatu di istana. Pada acara terbesar kekaisaran dan itu bukan kebetulan.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang. Arcelia langsung berbalik refleksnya cepat. Jauh lebih cepat dibandingkan gadis bangsawan biasa.
Namun sosok yang muncul justru membuatnya terkejut. Karena yang berdiri di pintu masuk paviliun bukanlah musuh. Melainkan seseorang yang sama sekali tidak ia duga.
Rambut hitam, mata tajam dan mengenakan pakaian kebesaran keluarga kekaisaran.
Putra Mahkota Elias Astrael.
Pria itu tampak sama terkejutnya, untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Seolah tidak ada yang menyangka akan menemukan pihak lain di tempat terpencil seperti ini.
Lalu pandangan Putra Mahkota Elias bergerak turun perlahan dan berhenti tepat pada simbol ular yang masih berada di atas meja batu.
Ekspresinya langsung berubah menjadi dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu dengannya Arcelia melihat wajah seorang pewaris takhta yang sesungguhnya.
"Lady Arcelia." kata Putra Mahkota Elias pelan. Namun nada suaranya tidak lagi santai seperti saat berdansa. "Aku harap kau bisa menjelaskan kenapa kita menemukan simbol itu di sini."
Sementara di kejauhan... Dalam salah satu menara tua istana. Sepasang mata sedang mengamati paviliun tersebut dari jendela. Dan pemilik mata itu perlahan tersenyum.
Karena bidaknya telah bergerak, dan permainan sebenarnya... akhirnya dimulai.