Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Da Xie Ingin Berperangggg
Setelah menunggu sekitar 30 menit lamanya, yang bahkan Ni Xao sudah pergi dari sana karena ada pekerjaan lain. Akhirnya Da Xie bisa melihat kedatangan Panglima Sun dari pintu masuk lapangan pelatihan.
Bagaimana Da Xie bisa tahu kalau itu Panglima Sun? Tentu saja Da Xie tahu, lihat saja pria itu, dia benar-benar mencolok dengan baju zirah yang lengkap seolah sedang berada di medan pertempuran.
Da Xie mendekati Panglima Sun. Pria itu langsung menyadari keberadaan Da Xie dan membungkuk memberi hormat ketika Da Xie berada dihadapannya. "Salam kepada Maharani Agung. Saya dengar anda mencari saya, kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk anda?"
Da Xie cukup kagum dengan Panglima tersebut. Meskipun dia sudah cukup tua, tetapi tingkah lakunya benar-benar menunjukkan wibawanya sebagai seorang Panglima.
"Ehem... Jadi Panglima Sun. Aku sudah memikirkannya dari lama, bagaimana kalau kekaisaran kita melakukan perang?" Ucap Da Xie tanpa basa-basi.
"Kekaisaran kita bisa saja melakukan perang. Tetapi, itu membutuhkan persiapan yang cukup lama. Kalau boleh tahu, kenapa Maharani Agung tiba-tiba menginginkan peperangan?"
"Susah untuk menjelaskannya... Pokoknya tiga hari lagi kabar kalau kekaisaran Zhang kita mengadakan perang dengan kekaisaran tetangga harus sampai ke telingaku. Paham?"
Panglima Sun mengernyitkan dahinya. Ini adalah permintaan yang sungguh aneh. Tentu saja Panglima Sun tidak bisa menerimanya begitu saja walaupun perintah ini dari Maharani Agung sendiri. Bukan hanya karena ini begitu tiba-tiba, tetapi juga karena alasan dibalik perintah ini yang tidak jelas.
"Tetapi Maharani Agung, kita tidak bisa melakukan perang begitu saja. Harus ada motivasi jelas dibaliknya, lalu kita juga harus memikirkan resiko serta persiapan–"
Ucapan Panglima Sun segera dipotong oleh Da Xie, "Tenang saja Panglima. Aku memberikan perintah ini juga demi kebaikan kekaisaran kita. Tidak perlu banyak persiapan, aku yakin pasukan prajurit kekaisaran Zhang juga pasti siap untuk melakukan peperangan ini."
"Bagaimana kalau kita kalah? Itu tentu akan merugikan kita." Tanya Panglima Sun serius.
"Sudah tidak usah dipikirkan, kalau kalah maka kita bisa mencoba lagi. Ada pepatah mengatakan, Kekalahan bukanlah akhir." Da Xie menjawab dengan enteng.
"Maharani Agung, ini adalah masalah penting, anda tidak seharusnya melakukan perang tanpa memikirkan resikonya–"
"Stt... Lakukan saja Panglima. Ini adalah perintah yang harus kau turuti."
Da Xie mengakhiri percakapan diantara mereka berdua secara sepihak. Ia lalu berjalan keluar dengan santainya tanpa mempedulikan raut wajah Panglima Sun yang terlihat bingung sekaligus ingin protes.
'Hmm... Tinggal menunggu hasilnya saja.' Batin Da Xie.
...****************...
3 Hari Kemudian...
Da Xie berada diruang kerjanya seperti biasa, masih dengan dokumen yang menumpuk dan tangan yang kurus kering karena kebanyakan menulis.
"Hoamm..."
Da Xie menguap ketika mengerjakan salah satu dokumennya. Sama seperti biasanya, Da Xie kurang tidur dan istirahat membuat tubuhnya jadi sangat kelelahan dan mengantuk.
Srett...
Satu dokumen telah selesai, Da Xie mengambil dokumen lainnya yang harus dikerjakan. Tetapi, matanya langsung melotot lebar begitu tahu apa isi dokumen selanjutnya.
Isi dokumen tersebut, ternyata mengenai laporan peperangan yang ditulis oleh Panglima Sun. Seketika itu juga Da Xie menjadi bersemangat dan membaca laporan itu dengan tidak sabaran.
Namun, Da Xie menjadi lesu ketika membaca sampai akhir. Isinya ternyata tidak seperti apa yang ia pikirkan. Laporan tersebut hanya menceritakan tentang pasukan kekaisaran Zhang yang sudah memulai peperangan dengan salah kekaisaran kecil.
Ini tentu saja membuat Da Xie kesal. Kalau berperang nya dengan kekaisaran yang kecil, maka kemungkinannya adalah kekaisaran Zhang yang akan memenangkan peperangan tersebut.
Da Xie tidak mau itu, ia kan inginnya kekaisaran Zhang yang kalah perang. Maka, dengan cepat Da Xie menulis sebuah surat pada selembar kertas.
Setelah selesai menulis beberapa patah kata, Da Xie segera memanggil dayangnya, "Dayang!! Cepat kemari!!" Teriak Da Xie.
Dayang Ya yang kebetulan lewat dan mendengar teriakan Da Xie segera menghampirinya. "Apa ada sesuatu yang Maharani Agung butuhkan?"
"Ini, kirimkan surat ini kepada Menteri Song. Dan ucapkan kepada menteri agar memberikan surat ini kepada kolega dari kekaisaran lain ketika melakukan ekspor impor barang."
Da Xie memberikan surat tersebut kepada Dayang Ya yang dengan sigap mengambil dan pergi untuk melakukan perintah Da Xie.
"Nah... Sekarang barulah bisa disebut perang. Xixixi..." Gumam Da Xie sembari terkekeh sendirian seperti orang gila.
...****************...
Di suatu kekaisaran yang aman dan damai. Hiduplah seorang kaisar dan permaisurinya. Meskipun mereka sudah berusia lanjut dan mempunyai seorang anak perempuan, mereka tetap bisa bermesraan layaknya saat waktu muda dulu.
Mereka berdua duduk disalah satu gazebo taman yang dikelilingi bunga-bunga, sembari bercanda riang bersama.
"Sayangku... Ayo makan ini dulu." Sang permaisuri dengan lembut menyodorkan sesendok daging ikan kepada kaisarnya.
"Terimakasih sayangku, hm... Enak sekali ikan ini. Aku bertanya-tanya siapa yah yang memasak ikan seenak ini." Sang kaisar melirik permaisuri.
Si permaisuri terlihat tersipu malu, "Sebenarnya, ini aku yang membuatnya. Apa kau suka, Sayang?"
"Wah... Aku tak menyangka kalau sayangku ini bisa memasak. Ini enak, tetapi akan lebih enak lagi kalau bisa mencicipi dirimu." Goda sang kaisar.
"Sayang... A–Apa kau serius?" Wajah si permaisuri semakin memerah.
"Tentu sayang." Kaisar menarik dagu sang permaisuri menghadapnya. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah permaisuri, membuat mereka berdua bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Sayang..." Ketika bibir mereka hampir bersentuhan. Sesuatu terjadi...
"IBUU!!!!" Teriakan melengking dari seorang wanita terdengar. Seketika itu juga keduanya menjauhkan diri dengan wajah memerah dan bertingkah seolah tak terjadi apapun diantara keduanya.
"A–Ehem... Ada apa kau berteriak begitu Li Xiya? Kau adalah perempuan, seharusnya kau lebih memperhatikan tata krama mu." Permaisuri berbicara kepadanya dengan nada yang dibuat sesantai mungkin.
"Sudahlah ibu, tidak perlu membahas hal yang tidak penting begitu. Aku punya sesuatu yang lebih penting." Wanita itu –Li Xiya segera berbicara dengan suara yang mendesak.
"Memangnya apa yang lebih penting dari ucapan ibumu?" Kaisar ikut menimpali.
Li Xiya merogoh sesuatu dari balik kantong bajunya. Itu adalah sebuah kertas. Ia lalu memberikan kertas itu untuk dilihat oleh kaisar dan permaisuri.
"Huh? Siapa yang menulis kertas ini?" Kaosar bertanya dengan nada bingung.
Li Xiya lalu menjelaskan, "Kertas ini diberikan oleh menteri ekspor impor kekaisaran. Dia bilang itu adalah salam hangat dari kekaisaran Zhang yang sempat bertransaksi dengan kita, tetapi isinya ini jelas bukan salam hangat!!"
Apa yang dikatakan Li Xiya memang benar. Surat itu memang bukan berisi salam hangat. Jika kalian ingin tahu apa isi surat itu, maka ini dia:
'Bodoh'
Itu memang cuma satu kata saja. Tapi jelas-jelas bagi Li Xiya yang sangat menjunjung harga diri dan kehormatan, ini telah membuat dirinya tersinggung.
Kaisar dan Permaisuri mencoba menenangkan Li Xiya.
"Tenang saja Li-er. Pasti kekaisaran itu salah mengirimkan surat. Tidak semua hal hanya dilihat dari satu sisi saja." Ucap Permaisuri.
"Benar apa kata ibumu. Mungkin saja orang dari kekaisaran tetangga itu salah memasukkan surat. Tidak perlu marah karena hal kecil seperti ini." Kaisar menimpali.
Meskipun sudah diceramahi oleh kedua orang tuanya, Li Xiya tetap tidak terima akan hal itu. "Tidak bisa begini, aku tetap merasa kalau mereka sengaja mengirimkan surat ini untuk menghina kekaisaran kita!!"
"Baiklah Li-er, jadi kau maunya bagaimana?"
Li Xiya terlihat memikirkan ucapan ibunya itu sejenak. Ia lalu berkata, "tolong izinkan aku untuk pergi ke kekaisaran itu dan membela kehormatan kekaisaran kita, Permaisuri."
Permaisuri diam seketika. Anaknya ini kalau sudah memanggil dirinya dengan gelar, maka itu artinya permintaannya ini benar-benar serius dan mau tak mau harus dituruti atau dia akan merajuk semingguan penuh.
Kaisar menghela nafas. Sebenarnya darimana sifat bebal Li Xiya berasal sih. Benar-benar membuatnya repot. Untung ini anaknya sendiri...
"Ya sudah... Lakukan seperti apa yang kau mau, putriku."