Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Sebuah Firasat
Keesokan harinya....
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasa Ferdi dan Belva sudah siap-siap untuk jogging bersama. Keduanya jogging hanya di kawasan komplek perumahan mereka saja. Setelah mengelilingi komplek, Belva pun melihat penjual lontong.
“Pa, ada lontong tuh kita jajan dulu yuk!” ajak Belva.
“Boleh.”
Keduanya pun memesan lontong dan makan di sana. “Sayang, bagaimana dengan usaha kamu?” tanya Papa Ferdi.
“Lumayan Pa, saat ini Belva sedang menambah kualitas produk Belva karena Belva ingin semua yang membeli produk Belva itu puas dan tidak ada keluhan sama sekali,” sahut Belva antusias.
Belva memang selalu antusias jika sudah ditanya perihal usahanya. Sudah lama Bella tertarik dalam dunia skincare dan baru setahun yang lalu, Belva membuat skincare dengan nama brand sendiri. Belva meminta izin kepada Papanya untuk membuat brand sendiri dan membuat skincare sendiri tentu saja Ferdi mendukung dan mengizinkan anaknya untuk membuat usaha.
Ferdi memberikan dukungan penuh, bahkan dia membayar dokter kecantikan dari Korea untuk membantu Belva dalam membuat produk skincarenya. Saat ini baru teman-teman sekolahnya saja yang memakai skincare milik Belva karena memang Belva belum memasarkannya secara umum. Belva ingin membuat produk yang sangat bagus dan tidak membahayakan para konsumennya nanti.
“Pokoknya kamu harus semangat, Papa ingin kamu menjadi anak yang sukses. Supaya jika suatu saat nanti Papa pergi meninggalkan kamu, kamu sudah mandiri dan bisa menghidupi diri kamu sendiri,” ucap Papa Ferdi.
“Papa jangan bicara seperti itu terus, Belva yakin Papa akan sehat terus sampai nanti melihat Belva menikah,” sahut Belva.
“Jangan lupa, kalau kamu butuh apa pun kamu hubungi saja Pak Irawan dia akan membantu kamu dan menjaga kamu,” ucap Papa Ferdi.
“Iya, Pa.”
Hanya Ferdi yang tahu akan usaha putrinya itu, sedangkan Venny sama sekali tidak mengetahuinya. Belva memang sengaja tidak memberitahukan kepada Mamanya karena entah kenapa dia merasakan firasat tidak enak. Setelah selesai makan lontong, keduanya pun memutuskan untuk pulang.
“Pa, Belva izin mau ke pabrik dulu ya, mau lihat proses pembuatan skincare Belva,” seru Belva.
“Boleh Papa temani?” tawar Papa Ferdi.
“Boleh dong, Pa. Justru Belva bakalan sangat bahagia sekali jika Papa ikut ke pabrik,” sahut Belva.
Keduanya mandi dan bersiap-siap, sementara itu Venny sudah pergi entah ke mana. Ferdi seakan sudah tidak memperdulikan Venny mau ke mana pun dia pergi, Ferdi tidak pernah nanya. Setelah siap, keduanya pergi ke pabrik diantar oleh supir.
“Papa yakin, produk kamu beberapa tahun ke depan akan meledak di pasaran,” seru Papa Ferdi.
“Aamiin, semoga saja,” sahut Belva.
Setelah melihat proses produksi, keduanya pun memutuskan untuk pulang. “Papa antar kamu pulang dulu, habis itu Papa mau ke kantor ada yang harus Papa urus karena besok ‘kan Papa ada perjalanan bisnis ke luar negeri,” seru Papa Ferdi.
“Berapa lama Papa pergi?” tanya Giska.
“Hanya tiga hari, mau minta oleh-oleh apa?” seru Papa Ferdi.
“Gak ada, Papa kembali saja dengan selamat itu sudah membuat Belva bahagia,” sahut Belva.
Ferdi tersenyum lalu memeluk putrinya itu. “Kamu memang anak kebanggaan Papa,” ucap Papa Ferdi.
Mobil Ferdi berhenti di lampu merah, seketika Belva melotot saat melihat Mamanya baru saja keluar dari sebuah restoran. Ferdi mengikuti arah pandang Belva, dan Ferdi terdiam sejenak lalu memalingkan wajahnya. Belva mengerutkan keningnya, dia bingung kenapa Papanya terlihat biasa-biasa saja melihat semua itu.
“Kenapa Papa tidak keluar dari mobil dan marahin Mama?” tanya Belva.
“Buat apa? Kalau Papa keluar, itu hanya akan membuat Papa malu,” sahut Papa Ferdi dengan santainya.
“Apa Papa sudah tahu sebelumnya?” tanya Belva penasaran.
Ferdi menatap Belva lalu menyunggingkan senyuman. “Sudah sejak lama Papa tahu, dan pria itu adalah mantannya. Mungkin sekarang mereka sudah balikan,” sahut Papa Ferdi.
“Kalau Papa sudah tahu sejak lama, kenapa Papa tidak marah? Kenapa Papa masih menerima Mama?” tanya Belva.
“Papa selama ini mempertahankan pernikahan alasannya hanya kamu, Nak. Papa tidak mau kamu menjadi anak yang broken home akibat perceraian Mama dan Papa,” sahut Papa Ferdi.
“Tapi, apa Papa tidak sakit hati melihat semua itu? Belva saja sampai sakit melihat Mama dengan pria lain,” seru Belva.
“Sudah biasa Nak, dari dulu Mama kamu memang tidak pernah mencintai Papa jadi biarkan saja dia mencari kesenangannya sendiri,” sahut Papa Ferdi.
Air mata Belva menetes tapi dengan cepat Ferdi mengusap air matanya. “Jangan menangis, Papa tidak apa-apa kok karena untuk saat ini dan seterusnya Papa hanya mikirin kamu saja, masalah dia mau menikah lagi dengan siapa pun Papa sudah tidak peduli. Hanya kamu yang jadi penyemangat Papa, kehilangan istri Papa akan baik-baik saja tapi jika Papa kehilangan kamu, Papa yakin Papa bisa gila,” ucap Papa Ferdi.
Tangisan Belva semakin deras, dia memeluk Papanya dengan sangat erat. “Kenapa Papa bisa sekuat ini? Padahal Papa punya segalanya bahkan harta Papa banyak, Mama sudah mengkhianati Papa tapi Papa masih bisa sabar,” seru Belva tidak habis pikir.
“Kalau itu biarlah jadi urusan Papa, kamu tidak perlu tahu apa alasan Papa masih bertahan dengan Mama kamu. Mama kamu sudah sejak lama mengkhianati Papa, semenjak kamu berusia 2 tahun,” sahut Papa Ferdi.
Belva sampai terkejut mendengar ucapan Papanya. Selama itu Venny sudah menyakiti Papanya dan selama itu pula Papanya diam dan tidak bertindak sedikit pun. “Mama kamu mengincar harta kekayaan Papa dan Papa yakin jika dia sudah mendapatkan harta Papa, maka dia akan membuang Papa,” seru Papa Ferdi.
Belva melepaskan pelukannya. “Maksud Papa apa?” tanya Belva.
“Sejak dulu, Mama kamu selalu minta surat wasiat padahal Papa masih sehat wal'afiat. Papa sudah bisa menduga, jika Mama kamu ingin segera menyingkirkan Papa jika dia sudah mendapatkan surat wasiat dari Papa. Makanya Papa membuat surat wasiat dan tadi malam Papa sudah menyerahkannya kepada Mama kamu,” jelas Papa Ferdi.
“kok Papa dengan mudah memberikannya kepada Mama? Kalau harta Papa habis bagaimana?” tanya Belva panik.
“Tenang sayang, Papa bukan orang bodoh. Papa hanya menyisipkan tiga puluh persen saja kekayaan Papa, sisanya Papa sudah berikan kepada Pak Irawan untuk menyimpannya. Tujuh puluh persen sisa kekayaan Papa semuanya untuk kamu dan karena kamu belum berusia 21 tahun makan hak kuasanya masih dipegang Pak Irawan. Biarkan Mama mu bahagia dengan surat wasiat itu yang penting kamu jangan sampai bilang masalah ini karena seluruh kekayaan Papa itu hanya untuk kamu,” jelas Papa Ferdi.
Belva sudah mulai mengerti sekarang, Ferdi memang pintar dan dia sudah menyiapkan semua kemungkinan terburuk. Entah kenapa akhir-akhir ini Ferdi merasa gelisah, dia sangat takut kehilangan dan berpisah dengan putrinya. Ferdi berharap, itu bukan firasat buruk dan hanya perasaan dia saja.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva