NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEKNIK INTELIJEN DEMI CINTA

Malam itu, Eng Sok yang sering tidur saat syuting malam tidak tidur saat jam istirahat. Asisten Toian Hoan curiga. Tapi alasan “Sepi job jadi kebanyakan tidur” dari Eng Sok membuat dia maklum.

Ia membuka laptop. Jari-jarinya menari di atas keyboard. Browsing. Mencari tahu siapa Lim Hong Guan.

Bukan karena patah hati. Bukan karena cemburu. Tapi karena rasa penasaran — yang sejak muda sudah menjadi kebiasaannya sebagai pangeran alkemis militer. Kenali musuh sebelum bertemu di medan perang. Dia sudah siap kehilangan kalo memang Ah Guan ternyata lebih baik dari dia. 

Bukan hanya profil publik Ah Guan yang dicari. Tapi jejak digital yang tidak banyak orang sadari. Termasuk dari profil mantan-mantan Ah Guan.

---

Dua jam kemudian, Eng Sok bersandar di kursi. Matanya tidak berkedip.

Lim Hong Guan. Usia 29. Aktor. Model. Artis blasteran. Tinggi 183 cm.

Punya banyak mantan.

Alasan putusnya macam-macam:

· Cewek gak kuat cemburu

· Pengen cari yang bukan artis

· Beda visi masa depan

· Orang tua tidak restu

Hubungan paling lama? Setahun.

Bahkan tidak sedikit yang mengaku hamil lalu menggugurkan kandungan. Tidak ada yang sampai menikah.

“Ya mending gua dong!”, serunya kesal sampai didengarkan orang… 

Tapi ini lokasi syuting. Dia dikira ngafalin naskah.

Eng Sok tetap santai. Ada ketakutan bahwa Ah Chio sudah intim dengan Ah Guan. Awalnya hatinya sakit. Tapi bayangan dayang dan istrinya di masa lalu membuat dia dingin. Cuek.

Dia sudah duda, sejarah mencatat satu kali. Padahal dua kali, dia tahu itu. Kenapa menuntut Ah Chio perawan?

Zaman dia dulu aja, banyak pangeran menikah dengan orang bukan perawan karena banyak cerita. Perang, politik, kesepakatan antar kerajaan. Kadang tidak ada pilihan. Bahkan yang paling klise: cinta membutakan mata pangeran dari status gadis-janda.

Tapi Eng Sok merasa ada sesuatu. Ya, sesuatu yang tidak beres saat Ah Guan melewati dia malam itu.

---

Di lokasi syuting, Eng Sok mengamati.

Lim Hong Guan ramah dengan semua pemain wanita. Tapi ramah yang berbeda. Bukan ramah kolega kerja. Tapi ramah yang menggoda. Senyumnya sedikit miring. Matanya terlalu lama menatap.

Eng Sok tahu — karena dia juga pria.

Dan dia duda. Sudah punya pengalaman. Sementara Lim Hong Guan tidak pernah menikah.

"Kalo ketahuan Ah Chio, dia bilang itu cuma teman," bisik Eng Sok melihat adegan itu. Tangannya mengepal saat membuntuti pasangan itu

Setidaknya itu pola hubungan  Ah Guan dan Ah Chio di syuting malam itu.

Besok syuting lagi siang — karena perlu latar siang. Eng Sok pulang.

---

Di parkiran lokasi syuting, Eng Sok melihat Ah Chio berdiri di pintu mobil.

Menangis.

Diam-diam. Karena cemburu. Walaupun Ah Guan bilang itu wajar. Padahal gak wajar. Hati Ah Chio mengatakan itu gak wajar tapi Ah Guan dengan kata-kata dia membuat Ah Chio merasa itu wajar.

Eng Sok mengamati kanan dan kiri. Lokasi sepi. Tidak ada kru. Tidak ada penggemar. Hanya Ah Chio — di luar mobil, kepalanya menunduk di pintu. Enggan buka pintu.

Ia mendekat. Menyapanya lembut.

"Chio."

Ah Chio menoleh. Matanya merah. Buru-buru menyeka pipi.

"Ko..." suaranya serak.

"Ke mana Ah Guan?"

Eng Sok bertanya — tenang. Seolah-olah tidak punya rencana. Tidak ada rasa. Hanya teman yang menanyakan kabar.

"Pulang, Koh. Rumah dia jauh."

Ah Chio masih sesenggukan. Tangannya gemetar.

Eng Sok melihat — tidak tega.

"Ya udah, kita mampir minimarket depan yuk. Ngeteh sebentar." Ia tersenyum tipis. "Gak capek kamu?"

Ah Chio mengangguk.

---

Di minimarket, mereka duduk di teras. Meja plastik. Dua gelas teh manis. Harga lima ribu.

Ah Chio diam. Eng Sok juga diam.

Tidak ada yang bicara. Hanya suara klakson dari jalan raya dan suara mesin pendingin minimarket yang berdengung.

Sioh Bu melayang di samping Eng Sok — menyeringai.

"Trik kotor!", kata Sioh Bu.

Eng sok menjawab — dalam hati.

"Kata pepatah Romawi, semua adil dalam perang dan cinta. Itu aku baca di novel barat pinjeman perpus. Gini-gini aku update soal sastra.", senyumnya keji ke arah Sioh Bu yang ketakutan.

Sioh Bu geleng-geleng kepala. Tapi tidak protes. Hatinya takut.

---

“Ah Chio, lu pusing?”, tanya Eng Sok. Ah Chio mengangguk. “Gua anter ke apartemen mau? Mobil tinggal aja. Besok gua jemput. Kita kan temen”, tanya Eng Sok. Ah Chio mengangguk. Ia mengira bahwa Eng Sok hanya menganggap dia teman. Apalagi dua bulan lalu…. Padahal dia salah. Eng Sok diam karena sedang menyiapkan istana baginya. Eng Sok orang kuno, tidak terlalu suka buru-buru tapi kalo kepepet gini, serangan mendadak pun dilepas.

Mereka berjalan ke rumah Ah Me. Buka pintu, ambil motor. Lalu naik motor berdua. Ah Chio memeluk pinggang Eng Sok. Ia rindu. Tapi dia merasa Eng Sok tidak mencintai dirinya. Eng Sok menikmati pelukan itu. Sengaja pura-pura mengerem agar mereka mendekat.

Di apartemen, Eng Sok mengantar Ah Chio ke kamar. Lalu Ah Chio secara insting memasukkan Eng Sok ke kamar. OB awalnya sudah meloncat tapi ingat klarifikasi dokter, dia merasa itu pasti berujung klarifikasi Dokter “tidak ada apa-apanya”. Kadang fans curiga Eng Sok suka pada sesama pria. Karena lebih dekat dengan kawan pria dari pada wanita. 

Mereka duduk di sofa. 

"Ko..." Ah Chio bicara pertama kali setelah satu jam.

"Hmm?"

"Aku... aku bingung."

Eng Sok tidak bertanya. Tidak memaksa. Dia hanya menunggu.

"Kadang dia baik. Kadang dia... jauh. Aku tidak tahu dia sedang apa.", kata Ah Chio

Eng Sok menghela napas. Tapi dia tahu. Bicara pada wanita yang kena jebak cinta saat ini percuma. Dia pasti lebih percaya Ah Guan.

Dia tahu dan menurut analisis dia atas sikap Ah Guan:

Lim Hong Guan mulai bosan. Karena Ah Chio bukan orang yang mudah dimasukkan ke kamar begitu saja. Eng Sok sendiri merasakan hal itu. Kalo tidak karena kelelahan dan efek obat — adegan kamar viral itu tidak akan terjadi.

Sejak itu, Ah Guan mendekati Ah Chio.

Tapi dia salah target.

Ah Chio tidak mudah didekati. Tidak mudah dimiliki. Tidak mudah dimanipulasi.

Dan Lim Hong Guan — tidak terbiasa dengan penolakan. Kelihatannya Ah Guan ingin mendapatkan malam indah bersama Ah Chio. Tapi dari sikap Ah Chio, kejadian belum terjadi. 

Eng Sok pamit. Ia pulang. Mandi. Tidur di sofa. Sampai Ah Me geleng-geleng paginya.

---

Paginya dia bangun, makan, tidur. Lupa mandi. Tau-tau sudah jam 8 dan dia mandi, naik motor ke tempat Ah Chio. Ah Chio senang dibonceng Eng Sok. Apalagi Eng Sok sengaja mengurangi rambutnya dengan modus lupa nguncir. Ah Chio senang mengelus rambut Eng Sok. Lembut dan wangi. Gitu katanya.

Mereka sampai di lokasi syuting. Kontan Ah Guan kaget karena Ah Chio bareng Eng Sok. Tapi, Eng Sok dengan tatapan polos ‘membalas dendam’. 

“Gak ada apa-apa, loh Ah Guan. Kemarin gua liat dia sakit di pinggir mobil. Gua jajanin teh. Gua anterin ke apartemen. Gua temenin dua jam…. Itu doang! Sama kayak lu ke Ah Lin kemarin. Ramah”, jawab Eng Sok dengan mata polos dan innocent.

Hati Ah Guan panas. Tapi logis.

Syuting adegan cinta. Adegan di taman — latar pohon sakura buatan, tapi kelopak bunga asli dari toko properti.

Ah Chio berdiri di depan Eng Sok. Naskah: mereka berdua adalah mantan kekasih yang bertemu kembali setelah bertahun-tahun. Ada rasa. Ada penyesalan. Ada keinginan untuk kembali.

Toian Hok memberi arahan.

"Action!"

Ah Chio menatap Eng Sok — baper.

Matanya basah. Bibirnya bergetar. Bukan akting.

Eng Sok — tidak perlu akting. Dia hanya menatap balik. Diam. Tidak bicara.

Toian Hok tidak menyuruh mereka bicara. Biarkan kamera menangkap rasa.

Eng Sok improvisasi. Dia memetik bunga dan menyelipkan di telinga Ah Chio. Ah Chio yang baper bersandar di pundak Eng Sok. 

Toian Hok senang. “Masukin aja!”. Tim visual setuju karena nambah baper penggemar.

Satu take. Selesai.

---

"Gak bisa gitu dong!”, seru Ah Guan kesal.

“Duh, Baba Ah Guan! Jangan cemburu lah. Kita artis. Ini Akting!”, kata Ah Chio agak membalas dendam melihat Ah Guan dengan Ah Lin.

Eng Sok tidak bereaksi. Ia hanya minum air.

---

Tiba-tiba — tim make up mendekat. Bukan Ah Oan. Tapi tim dari "Hoe Lian" — perusahaan kosmetik natural yang mengontrak Eng Sok sebagai brand ambassador sekaligus penyokong film ini.

"Halo, Pak Sioh Bu," kata supervisor make up — wanita muda, rambut pendek, ceria. "Ini produk khusus untuk Bapak. Warna sesuai pesanan Bapak."

Ia membuka kotak kayu kecil. Di dalamnya — lipstik. Bukan lipstik biasa. Warna merah gelap — dengan ukiran naga di tutupnya. Shade baru terinspirasi dari lipstik racikan Eng Sok.

"Untuk Sioh Bu," katanya. "Cocok dengan karakter Bapak di film."

Eng Sok menerima. Tersenyum tipis.

"Hoe Lian tidak main-main”, bisik Eng Sok.

 Ia live dan sengaja memanggil Ah Chio. Dia mencoba lipstik itu. Lalu mengoperkan ke Ah Chio yang… langsung memakainya. Ah Chio merasa adegan itu biasa. Saat Ah Guan datang selesai live. “Open minded lah, Lu sama Ah Lin kan gini?”, kata Ah Chio santai. Ah Chio akhirnya tau dari sikap Ah Guan kalo ada yang ga beres dengan Ah Lin. Ah Chio merasa dibodohi. Tapi tetap diam. Ga ada bukti fisik, pikir Ah Chio.

Ah Chio dengan sengaja minta lipstik itu ke Eng Sok. Tapi Eng Sok pura-pura polos. “Kalo mau ini aja. Gua bikin sendiri. Baru kepake dua kali”, kata Eng Sok.

---

Lim Hong Guan melihat dan mulutnya kebuka ketutup. Tapi dia kemarin malam memberikan lipstik dia yang baru dipakai sekali ke Ah Lin dan itu membuat Ah Chio menangis.

Wajahnya Ah Guan panas.

Ia mendekati Eng Sok.

"Sioh Bu, ayo kita latihan adegan pertarungan."

Eng Sok mengangguk. "Baik."

---

Adegan pertarungan — mereka berdua. Di naskah: Eng Sok (pangeran sesat) dan Lim Hong Guan (pangeran baik) bertarung memperebutkan Ah Chio.

Toian Hok sudah memberi arahan: koreografi sudah disiapkan. Jangan keluar dari jalur.

Tapi Lim Hong Guan punya background silat. Bukan silat pertunjukan. Silat sungguhan.

"Action!"

Mereka bergerak.

Cepat. Keras. Tidak seperti latihan.

Lim Hong Guan menyerang — serius. Tendangan. Pukulan. Tangkisan. Eng Sok mengimbangi — dengan tenang, tanpa ekspresi.

Toian Hok tidak berkedip. Kameraman tidak berani matikan kamera.

Tapi Eng Sok membaca Lim Hong Guan. Tiap pukulan, gerakan, dan teknik.

“Jurusnya hanya untuk tanding di perguruan. Bukan untuk perang sungguhan. Cuma cukup bawa barongsai”, batin Eng Sok.

Eng Sok — yang sudah puluhan tahun di medan perang — tidak perlu berpikir. Tangannya bergerak sendiri.

Satu pukulan. Dua pukulan. Tiga pukulan — mengenai perut Lim Hong Guan. Tapi di kamera tidak tampak apapun.

Lim Hong Guan mundur. Terbatuk. Tidak kena? Kena. Tapi kamera tidak menangkap — karena sudutnya tertutup tubuh Eng Sok. Ah Guan juga tidak merasa karena pukulan Eng Sok merusak tidak di tempat tapi setelah beberapa saat terkena serangan. Jurus khusus intelijen.

Toian Hok tidak komentar. "Cut. Lanjut."

Di layar, Lim Hong Guan tampak menang. Tapi ia merasakan nyeri begitu mendarat dari Eng Sok. Dan ia tidak yakin dan tidak ada bukti kalau diserang.

---

Sore hari. Lim Hong Guan emosi.

Ia menghubungi pacar gelapnya — seorang artis figuran yang masih tergila-gila padanya. Tidak perlu dirayu. Tidak perlu dimanja. Mudah dimainkan. Untuk menambah stamina dan oksitosin.

Mereka bertemu di ruang rias belakang. Pintu setengah tertutup.

Berbisik. Tersenyum. Saling memegang tangan. Saling memeluk.

Eng Sok melihat — dari kejauhan.

Ia merekam. Pakai HP. Kamera depan — pura-pura selfie. Tapi lensa mengarah ke ruang rias. Dia ambil video sambil pura-pura selfie. Lengan Tng Sa membuat orang susah melihat gambar apa di layar. Dia mengambil video sampai puas. Sampai adegan seru sepasang pengkhianat itu. Tanpa emosi, sudah biasa dia lakukan saat di militer dulu.

"Teknik intelijen masih sama," bisiknya dalam hati. "Walaupun beda alat."

Sioh Bu melayang di samping — mengacungkan jempol.

---

Syuting selesai jam 6 sore, ada beberapa kamera macet dan harus sewa kamera lain. Adegan Eng Sok selesai, tapi karena kerusakan itu, Ah Chio dan Ah Guan jadi pulang lebih awal.

Lim Hong Guan buru-buru pulang. "Ada urusan keluarga," katanya. Tidak ada yang bertanya.

Eng Sok mendekati Ah Chio. Di tangannya — satu botol minyak Sam Hok Liong. Edisi terbatas. Kemasan kaca, ukiran naga botol kosong. Bukan habis. Isinya dipindah Eng Sok ke botol lain.

"Ah Guan, gua pulang sama Ah Chio, girlfriend lu!" panggil Eng Sok. Suaranya tenang — tidak berlebihan. Polos.

"Gua ada titip minyak Sam Hok Liong. Buat live besok sama gua pake.", 

Lim Hong Guan mengangguk. "Iya, Sioh Bu."

Ia masuk mobil. Melajukan pergi.

---

Eng Sok dan Ah Chio berjalan ke arah motor.

Mobil Lim Hong Guan berhenti di tikungan. Ia melihat ke spion.

Eng Sok memeluk pinggang Ah Chio.

Bukan pelukan erat. Pelukan biasa — seperti membantu Ah Chio naik ke motor. Tapi dari kejauhan — terlihat mesra.

Eng Sok menoleh ke arah mobil. Tersenyum miring.

Senyum yang sama saat ia memerankan Leng Tiat.

Lim Hong Guan emosi. Tangannya mengepal setir. Mobilnya melaju — terlalu kencang.

Eng Sok tidak bereaksi.

Ah Chio sudah merasa itu. Tapi ia sakit hati. Sakit karena Eng Sok menunjukkan video keseruan 3 menit Ah Lin dan Ah Guan. Ia hanya duduk di boncengan, memegang bahu Eng Sok.

"Ko, besok syuting jam berapa?"

"Sepuluh pagi sampe senja"

"Oke."

Motor melaju. Lambat. Tidak terburu-buru. Ah Chio tersenyum memeluk Eng Sok.

“Semoga kali ini Eng Sok melakukan ini karena …”, pikir Ah Chio.

---

BERSAMBUNG

---

Lim Hong Guan punya banyak mantan.

Eng Sok tidak cemburu. Tapi tidak percaya.

Dia merekam. Dia menyimpan. Dia menunggu.

"Semua adil dalam perang dan cinta."

💐🪷

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!