Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Utusan dari Kerajaan Utara
Ketenangan Aequoria tidak bertahan lama.
Tiga minggu setelah penobatan Nana, kabar datang dari utara. Seorang utusan dari Kerajaan Aquilae — kerajaan Siren di Utara yang terkenal dengan kekuatan militernya — meminta izin untuk bertemu dengan Ratu Aequoria.
Nana menerima permintaan itu. Sebagai ratu baru, ia tidak bisa menolak tanpa menimbulkan konflik diplomatik.
"Kerajaan Aquilae?" tanya Nana pada Jeno di pagi hari, saat mereka bersiap menyambut tamu. "Apa yang mereka inginkan?"
"Tidak ada yang tahu," jawab Jeno. Wajahnya tegang — lebih tegang dari biasanya. "Tapi reputasi mereka tidak bagus. Mereka suka... mengambil alih kerajaan kecil dengan cara halus."
"Aequoria tidak kecil."
"Dulu tidak. Tapi setelah sepuluh tahun di bawah Aramis... kita lemah, Nana. Dan kerajaan lain tahu itu."
Nana menarik napas panjang. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — bukan takut, tapi waspada.
"Kita akan lihat apa yang mereka inginkan."
Utusan itu datang dengan rombongan besar — dua puluh Siren berseragam perak, dengan trisula berkilau di tangan. Di depan rombongan, seorang Siren laki-laki berenang dengan anggun.
Pangeran Kael.
Ia tampan. Rambut pirang platinumnya mengambang di air seperti cahaya bulan. Matanya biru es — dingin, tajam, dan menilai. Tubuhnya kekar, dengan sisik berwarna biru muda yang berkilau di setiap gerakannya.
Nana menyambutnya di ruang singgasana. Jeno berdiri di sampingnya, tangan di gagang trisula — siap sedia.
"Ratu Nanara," kata Kael dengan suara halus. Ia membungkuk — sopan, tapi tidak terlalu dalam. "Aku Pangeran Kael dari Kerajaan Aquilae. Atas nama ayahku, Raja Aldric, aku datang untuk menjalin hubungan diplomatik antara kerajaan kita."
"Selamat datang di Aequoria, Pangeran Kael," jawab Nana. Suaranya masih serak, tapi tegas. "Apa yang membuat kerajaan Utara tertarik pada kerajaan Selatan?"
Kael tersenyum — senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Kami mendengar tentang kemenanganmu melawan Ratu Aramis. Tentang bagaimana kau mengorbankan suaramu di Lembah Bisu. Tentang bagaimana kau membebaskan para Siren yang membatu."
Ia berenang mendekat. Jeno menegang.
"Cerita-cerita itu sampai ke Utara, Yang Mulia. Ayahku... kagum."
"Ayahmu kagum?"
"Sangat. Dan karena itu, ia mengirimku dengan sebuah... tawaran."
Nana mengangkat alis. "Tawaran?"
Kael berenang lebih dekat. Sekarang jaraknya hanya dua meter dari singgasana. Jeno sudah siap melompat kapan saja.
"Lamaran pernikahan," kata Kael. Senyumnya melebar. "Aku ingin meminang Yang Mulia untuk menyatukan Utara dan Selatan."
Keheningan memenuhi ruang singgasana.
Para penasihat saling berpandangan. Lira membeku di sudut ruangan. Zara — mantan Siren Hitam yang kini menjadi Kepala Intelijen — menyipitkan matanya.
Dan Jeno? Jeno membeku.
Tangannya di gagang trisula memutih. Wajahnya berubah menjadi batu. Matanya yang biru pucat berubah gelap — seperti laut sebelum badai.
Nana merasakan ketegangan itu. Ia menatap Kael lurus ke mata.
"Pangeran Kael," katanya pelan. "Kita baru pertama kali bertemu. Kau belum mengenalku. Aku belum mengenalmu. Dan kau sudah melamarku?"
"Pernikahan kerajaan tidak selalu tentang cinta, Yang Mulia," jawab Kael. "Ini tentang politik. Tentang kekuatan. Tentang melindungi kerajaan masing-masing."
Ia berenang lebih dekat — satu meter dari singgasana.
"Kau butuh sekutu, Yang Mulia. Aequoria lemah setelah sepuluh tahun di bawah tirani Aramis. Kerajaan Utara bisa melindungimu. Tapi perlindungan itu... butuh imbalan."
Nana menatap Kael lama.
"Aku akan memikirkannya," katanya akhirnya.
Kael tersenyum. "Tentu, Yang Mulia. Aku akan menunggu."
Malam itu, Nana tidak bisa tidur.
Ia berenang mondar-mandir di taman laut — di samping mawar biru yang mulai pulih setelah pertempuran. Bunga-bunga itu masih layu, tapi beberapa kuncup baru mulai muncul.
"Kau tidak bisa tidur?"
Nana menoleh. Jeno berdiri di pintu taman, wajahnya teduh tapi matanya gelisah.
"Kau juga," jawab Nana.
Jeno berenang mendekat. Ia duduk di samping Nana, di atas batu karang yang berlumut.
"Kau akan menerima lamarannya?" tanyanya. Suaranya datar — terlalu datar.
"Apa kau ingin aku menerimanya?"
Jeno terdiam.
"Itu bukan pertanyaan yang adil," katanya akhirnya.
"Kenapa?"
"Karena apa pun yang aku jawab... akan membuatku terlihat egois."
Nana menatapnya. "Katakan saja."
Jeno menarik napas panjang.
"Aku tidak ingin kau menerimanya," katanya. Suaranya gemetar sedikit — hanya sedikit, tapi Nana mendengarnya. "Aku tidak suka caranya menatapmu. Aku tidak suka caranya bicara padamu. Aku tidak suka... dia."
"Karena kau cemburu?"
"Karena aku mencintaimu."
Diam.
Mawar biru di samping mereka berdenyut lembut — seperti jantung yang berdetak.
"Jeno," kata Nana pelan. "Aku tidak akan menerima lamarannya."
Jeno menatapnya. "Tapi kau bilang kau akan memikirkannya—"
"Aku bilang itu di depan umum. Untuk menjaga wajahnya. Tapi di sini, di antara kita berdua..."
Nana meraih tangan Jeno.
"...aku sudah punya jawabannya sejak awal."
Jeno tidak bisa berkata apa-apa.
Ia hanya menggenggam balik tangan Nana — erat — dan tidak melepaskannya.