NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Awal mula Penyesalan

Devan dan Theo di barisan belakang bersorak paling keras, melompati kursi karena kegirangan. "Itu sahabat kami! Aruna Prawijaya, kawan!" teriak Devan tanpa peduli dilihat oleh mahasiswa lainnya.

​Acara resmi berakhir, namun semua orang masih berkumpul di aula untuk berfoto. Aruna berdiri di antara Devan dan Theo, mencoba memaksakan senyum kecil untuk kamera. Ayah dan ibunya sedang berbicara dengan ayah Baskara di sisi lain ruangan. Saat itulah, sebuah jeritan penuh kebencian memecah suasana.

​"Penipu! Kamu hanya penipu, Aruna!"

​Michelle berlari seperti kesetanan. Matanya merah, wajahnya penuh amarah karena kegagalannya lulus dan kenyataan bahwa Aruna jauh di atasnya. Sebelum ada yang sempat bereaksi, Michelle melompat dan dengan kekuatan penuh menekan telapak tangannya tepat ke bagian dada kiri Aruna titik di mana luka biru itu dulu berada.

​Bruk!

​Aruna jatuh tersungkur. Wajahnya dalam sekejap berubah menjadi seputih kertas. Ia mencengkeram dadanya, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Napasnya terputus-putus.

​"Aruna!" Devan berteriak, menangkap tubuh Aruna sebelum menghantam lantai.

​Michelle tertawa histeris saat petugas keamanan menyeretnya. Ia mengangkat sebuah botol obat yang sempat ia rebut dari saku jubah Aruna saat terjadi benturan. "Ini yang kamu cari, kan? Dasar lemah! Kamu akan mati sebentar lagi! Rasakan itu!" Michelle melempar botol pil itu ke sudut ruangan yang jauh.

​Aruna kehilangan kesadaran seketika. Kepalanya terkulai di lengan Devan. Theo panik, menepuk-nepuk pipi Aruna. "Aruna! Bangun! Jangan bercanda, Aruna!"

​Orang tua Aruna yang berada di kejauhan belum menyadari keributan di lantai bawah karena terhalang kerumunan. Namun, Baskara adalah orang pertama yang melompati meja dosen. Ia berlari secepat kilat, mendorong kerumunan mahasiswa.

​"Minggir! Beri dia ruang!" bentak Baskara. Suaranya yang biasanya dingin kini bergetar ketakutan.

​Beberapa staf medis universitas yang berjaga segera datang membawa tabung oksigen kecil. Mereka memasangkan masker ke wajah Aruna, namun mata gadis itu tetap terpejam rapat. Nadi di lehernya terasa sangat lemah dan tidak beraturan.

​"Cepat panggil ambulans! Bawa ke Rumah Sakit St. Mary sekarang!" perintah salah satu petugas medis.

​Baskara tidak menunggu ambulans datang. Ia berlutut di samping Aruna, wajahnya dipenuhi penyesalan yang amat sangat. Saat petugas medis melonggarkan kancing jubah dan kemeja Aruna untuk memberikan ruang napas, semua orang yang berdiri di dekat sana tersentak mundur karena ngeri.

​Di dada kiri Aruna, tepat di atas jantungnya, terlihat memar membiru yang sangat gelap, kontras dengan kulitnya yang pucat. Itu adalah jejak luka kronis yang diperparah oleh tekanan kuat dari tangan Michelle tadi.

​"Ya Tuhan... luka apa ini?" bisik Theo gemetar.

​Baskara terpaku. Ia teringat ucapannya di tahun pertama, "Apa kamu hamil? Jangan-jangan kamu berbuat macam-macam." Ia juga teringat saat ia menyenggol Aruna di tempat parkir. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya seperti godam. Tanpa memedulikan jas mahalnya yang mulai terkena keringat dingin Aruna, Baskara mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.

​"Aruna, bertahanlah... tolong bertahanlah," gumam Baskara dengan suara serak, hampir menangis.

​Ia berlari keluar gedung sambil menggendong Aruna, melewati kerumunan mahasiswa yang kini hanya bisa terdiam melihat dosen paling kejam di kampus itu menggendong mahasiswi yang paling sering ia hina dengan wajah yang hancur oleh kesedihan. Di belakangnya, Deon dan Ratna baru menyadari apa yang terjadi dan mulai berteriak histeris, namun Baskara sudah mencapai pintu keluar, membawa tubuh dingin Aruna menuju pertarungan antara hidup dan mati.

Rumah sakit malam itu terasa sangat mencekam. Aroma obat-obatan yang tajam menusuk indra penciuman, namun tak ada yang lebih tajam daripada rasa bersalah yang kini menghujam jantung Baskara.

​Di depan ruang ICU, Devan dan Theo duduk bersimpuh di lantai koridor, menutupi wajah mereka dengan tangan. Isak tangis mereka pecah, tak lagi peduli dengan imej laki-laki tangguh yang biasa mereka tunjukkan. Mereka tahu seberapa keras Aruna berjuang melawan rasa sakit itu sendirian selama bertahun-tahun, dan kenyataan bahwa mereka gagal melindunginya di hari bahagia ini membuat mereka hancur.

​Baskara berdiri kaku di depan jendela kaca besar yang membatasi ruang perawatan. Ia tidak menangis. Matanya kering, namun pupilnya bergetar hebat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi menggendong tubuh dingin Aruna, tangan yang sama yang dulu pernah melempar sampah ke arahnya, tangan yang sama yang dulu menyenggolnya hingga terluka.

​Di dalam sana, tim dokter bergerak cepat. Baskara melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana jarum suntik masuk ke tubuh Aruna berulang kali untuk menstabilkan detak jantungnya yang nyaris hilang. Setiap kali alat pacu jantung bekerja, tubuh Aruna tersentak kecil, membuat Baskara harus mencengkeram pegangan besi di depannya hingga buku-buku jarinya memutih.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!