Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat Licik Ummi Dasyim
Sudah 2 minggu berlalu dari acara mancing di laut, hubungan keduannya terpantau makin dekat. Sejak saat itu, sesuatu yang lembut namun pasti mulai tumbuh dan mekar di antara Langit dan Dinara. Bukan lagi sekadar rasa hormat atau rasa terima kasih semata, melainkan benih kenyamanan yang perlahan tumbuh menjadi rasa percaya yang mendalam.
Hubungan mereka tak lagi kaku seperti dulu, Langit membuktikan bahwa menjadi dekat dengannya tidaklah menyesakkan, melainkan terasa seperti menemukan rumah yang selama ini hilang. Ia tidak pernah berlebihan, tidak pernah melontarkan kata-kata manis yang kosong makna, apalagi bersikap genit yang membuat Dinara merasa risih. Segala perhatiannya mengalir begitu wajar, seperti matahari yang terbit di timur. Hangat dan menentramkan.
Langit memang berbeda. Ia adalah tipe lelaki yang percaya bahwa menjaga seseorang bukanlah dengan kata-kata, melainkan dengan kehadiran dan tindakan nyata. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar meninggi, pesan singkat darinya pasti sudah masuk ke ponsel Dinara. Bukan pesan yang berisi puisi-puisi indah atau rayuan yang membuat pipi merona karena malu, melainkan pertanyaan sederhana namun menembus hingga ke sudut hati yang paling dalam.
"Pagi, Mbak Dinara. Semalam tidurnya nyenyak? Jangan lupa sarapan sebelum berangkat kerja ya. Angin pagi ini lumayan dingin, pakai jaket yang tebal sedikit biar tidak masuk angin di jalan."
Atau sesekali di sela waktu istirahatnya ia mengirim chat.
"Sudah makan siang? Jangan menunda-nunda kalau perut sudah lapar. Kerjaan banyak tidak akan terasa berat kalau badan dan hatimu dijaga baik-baik."
Sederhana. Sangat sederhana. Namun bagi Dinara, pesan-pesan itu jauh lebih berharga daripada seribu janji manis yang dulu pernah didengarnya. Dulu, saat bersama Mas Tri, makan atau tidak, istirahat atau lelah, seolah menjadi urusan pribadinya sendiri. Jarang sekal ia diingatkan untuk menjaga dirinya sendiri.
Saat Dinara kembali dari ruang rapat koordinasi yang cukup melelahkan, di mana ia harus membahas detail pemesanan bahan, menghitung anggaran, dan menyelaraskan jadwal, ia tertegun kaku tepat di depan mejanya sendiri.
Di sana terhampar kotak-kotak makanan yang rapi, tersusun cantik dengan aroma yang semerbak menggugah selera. Bukan sekadar nasi lauk biasa, melainkan hidangan yang disiapkan dengan penuh selera. Ada ikan kakap asam manis yang segar, tumisan sayuran renyah, hingga puding buah yang tampak menggoda sebagai penutup. Semuanya terbungkus bersih, dan di atasnya terselip secarik kertas kecil bertuliskan tangan Langit: "Semoga menambah semangatmu bekerja hari ini. Nikmatilah."
Dinara benar-benar terdiam. Lidahnya terasa kelu dan tak sanggup menyuarakan sepatah kata pun selain rasa haru yang menggelora di dada. Matanya menatap bungkusan makanan itu lekat-lekat, merasakan betapa besarnya perhatian yang terselip di sana.
Mas Ferdi yang sejak tadi masuk ke ruangan dan melihat pemandangan itu, hanya bisa tersenyum lebar. Ia tahu persis siapa dalang di balik keajaiban makanan yang selalu ada di meja Dinara belakangan ini. Dengan langkah santai, Mas Ferdi menghampiri, menepuk pelan bahu Dinara yang masih mematung.
"Acieee.... dikirimin makanan sama yayang rupanya. Aku mencium aroma layar yang mulai terkembang luas nih di hati Mbak Dinara. Semangatmu jadi bertambah sepuluh kali lipat rasanya, kan?" ledek Mas Ferdi sambil tertawa renyah, matanya berbinar jenaka.
Wajah Dinara yang sedingin es karena kelelahan rapat, seketika berubah semerah kelopak bunga mawar di pagi hari. Rasa malupun menjalar lembut di hatinya, namun ia tak bisa menyembunyikan lengkungan senyum yang merekah lebar. Bohong besar jika ia mengaku tidak senang, tidak tersanjung, atau tidak merasa istimewa.
Dulu saat masih menjadi Nyonya Tri Bayu yang "dihormati" namun seringkali dilupakan keberadaannya, jika ia ingin menikmati makanan yang enak, ia harus merengek meminta pada suaminya. Itupun baru akan terwujud jika Mas Tri sedang berbaik hati atau saat gaji bulanan baru saja cair.
Kini, tanpa Dinara harus memelas memohon, Langit seolah memiliki intuisi yang terhubung langsung dengan kebutuhan jiwa dan raga Dinara. Tanpa diminta, ia memberi. Tanpa disuruh, ia menjaga.
"Masya Allah, Mas Langit ini benar-benar ada saja kelakuannya," gumam Dinara pelan, lebih kepada dirinya sendiri sambil menyentuh kotak makanan itu dengan lembut. Lalu ia menoleh pada Mas Ferdi, mengajak berbagi agar rasa bahagia ini makin lengkap.
"Ayo dimakan bareng sama aku, Mas Ferdi. Porsinya banyak sekali ini, aku nggak sanggup menghabiskan sendirian. Sisanya nanti mau aku antarkan ke dapur untuk dibagi ke Mbak Nina dan Mela juga. "
Mas Ferdi mengambil satu kotak, mengangguk setuju sambil masih menyunggingkan senyum pengertian. Ia tahu betapa berartinya kehadiran lelaki bernama Langit itu bagi rekannya ini.
"Jangan lupa ucapkan terima kasih yang paling indah dan tulus sama calon imam penjaga hatimu ini. Biar makin rajin mengirimkan semangat lewat makanan enak begini setiap hari," celetuk Mas Ferdi lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius namun tetap menyiratkan canda hangat.
Dinara yang sedang membuka tutup kotak makanannya, seketika mendongak kaget. Matanya membulat, melotot manja pada Mas Ferdi yang tertawa puas melihat reaksinya.
"Sembarangan aja kalau ngomong, Mas Ferdi! Apa sih, 'calon imam' segala. Masih jauh lho pembahasannya kearah situ," sergah Dinara, berusaha menyembunyikan gejolak bahagia yang makin kencang berdegup di dadanya.
"Ha ha ha! Iya, iya, yang penting hati senang dan perut kenyang! Itu yang utama!" Mas Ferdi tertawa lebar, lalu pergi meninggalkan Dinara yang kini sibuk menyembunyikan wajah meronanya di balik ponselnya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena perasaan yang meluap-luap, Dinara mengetik pesan balasan untuk Langit. Pesan yang lahir langsung dari kedalaman hatinya yang paling tulus.
Pesan dari Dinara:
"Mas Langit... terima kasih banyak, Mas. Makanannya sangat banyak dan terlihat begitu lezat . Kamu benar-benar tidak pernah lupa untuk membuatku merasa diperhatikan. Padahal kamu sendiri pasti sibuk sekali mengurus pasar dan kapal-kapalmu setiap harinya.
Semoga Allah selalu memelihara kebaikanmu. Semoga lelahmu menjadi lillah, dan kebaikanmu berlipat ganda. Aamiin. "
Tak perlu waktu lama bagi Langit untuk membalas. Tak sampai lima menit, notifikasi itu masuk, membawa hangat yang menembus layar kaca.
Balasan Langit:
"Sama-sama, Dinara. Mendengar kata-katamu itu jauh lebih nikmat rasanya daripada segala hidangan lezat di dunia ini. Sungguh, aku tidak melakukan ini karena ingin dipuji atau ingin dipandang baik. Aku melakukannya karena aku benar-benar menginginkannya. Melihatmu tersenyum lega, melihatmu kuat dan bahagia itu adalah keuntungan terbesarku.
Istirahatlah sebentar jika lelah. Nanti sore, kabari aku saat akan pulang ya. Biar aku pastikan perjalananmu pulang juga dalam perlindungan-Nya. "
Dinara membaca pesan itu berulang kali. Membayangkan wajah Langit yang teduh, tatapannya yang jujur, dan senyumnya yang sederhana namun meyakinkan. Lelaki itu benar-benar berbeda dunia dengan siapa pun yang pernah ia kenal sebelumnya.
Langit adalah lelaki yang tidak berjanji untuk memberikan bintang dan bulan yang tak terjangkau, tapi lelaki yang memastikan ia memiliki cahaya yang cukup untuk menerangi langkahnya setiap hari.
******
Namun di tempat yang berbeda, jauh di sana di balik kemewahan yang semu, kebahagiaan yang perlahan terjalin itu menjadi duri tajam bagi seseorang.
Haura. Wanita yang mengira dirinya paling menang dalam segala hal itu kini sedang menatap layar komputernya dengan mata yang menyala penuh rasa iri dan dendam yang membara. Di hadapannya terbuka halaman media sosial Resto Kembang Desa Cabang Durian Lima.
Sudah sebulan Selaya Resto Cabang Durian Lima berjalan tertatih-tatih, jauh dari target. Ia diminta mengevaluasi cabang baru itu yang perkembangannya terasa lambat.
Haura lelah harus lembur dengan beban perutnya yang semakin membesar. Namun ia harus tetap bekerja, karena beban hutang orang tuanya semakin menjerat lehernya, ditambah hubungan rumah tangganya yang semakin dingin dan penuh pertengkaran dengan Mas Tri yang mulai tak sanggup lagi menutupi rasa kecewanya.
Saat sedang membandingkan strategi pemasaran kedua restoran itu, matanya menangkap sebuah unggahan dokumentasi yang ditayangkan beberapa bulan lalu. Di sana, ada Dinara yang tersenyum cerah dan segar, sedang berbincang hangat dengan Langit. Lelaki yang dulu ia tolak dengan penghinaan.
"Jadi kalian berdua saling mengenal.rupanya?" desis Haura pelan, tangannya meremas meja erat-erat, kuku-kukunya hampir menancap ke permukaan kayu halus itu.
Otak liciknya langsung berputar. Ia merasa menemukan celah sempurna untuk melenyapkan dua masalah sekaligus: menenggelamkan reputasi Resto Kembang Desa, sekaligus meremukkan harga diri Dinara sampai ke dasar tanah lagi. Dan ia yakin, ia merasa yakin seribu persen, bahwa Langit pasti akan membantunya jika ia meminta. Bagaimanapun juga, bukankah dulu lelaki itu pernah memohon cintanya? Bukankah lelaki itu dulu pernah mengaguminya?
"Aku akan minta bantuan Mas Langit untuk mempermalukan Dinara. Aku tau Mas Langit pasti masih ada rasa padaku," batin Haura dengan angkuh yang membuta. "Pasti dia masih menganggapku spesial. Kalau aku memintanya berhenti memasok kebutuhan Kembang Desa demi aku, dia pasti mau melakukannya. Dia pasti mau menolongku."
Senyum miring nan jahat merekah di bibirnya yang berlipstik semu pink. Ia tidak sadar, bahwa rasa cinta yang tulus itu tumbuh subur di atas rasa hormat, dan mati serta musnah oleh penghinaan dan kesombongan seperti yang pernah ia lakukan dulu.
Langit memang lelaki yang pemaaf, tapi bukan lelaki yang bodoh untuk memihak kejahatan demi wanita yang telah menginjak-injak kehormatannya dan kini sedang berusaha menghancurkan wanita yang kini menjadi segalanya baginya.
Di ujung sana, Langit sedang menunggu kabar dari Dinara dengan sabar dan penuh cinta, tanpa tahu bahwa bahaya sedang merangkak mendekat. Namun jika pun ia tahu, Langit tidak akan gentar. Justru ia akan berdiri lebih tegap lagi menjadi benteng tak tertembus bagi Dinara. Sebab baginya, Dinara bukan sekadar wanita biasa, melainkan amanah terindah yang harus dijaga mati-matian dari segala kejahatan dunia, termasuk dari kebusukan hati wanita bernama Haura itu.
Haura, yang begitu percaya diri akan kemenangannya, ia baru saja membuat keputusan terbesar yang akan menghancurkan hidupnya sendiri. Sebab Langit bukan lagi laki-laki polos yang dulu ia kenal. Dan Dinara bukan lagi wanita yang akan diam saja ditindas tanpa pembela. Mereka berdua kini menjadi kekuatan baru yang tak tergoyahkan.
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.
Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰