Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatiran berlebih
Dengan tangan gemetar, Raffa membuka laci meja di samping ranjang.
Ia mengambil botol obat yang sudah lama tidak disentuhnya. Beberapa detik ia hanya memandang botol itu.
Lalu menelan satu butir obat dengan segelas air.
Ia memejamkan mata, berusaha menenangkan diri.
Pelan-pelan efek obat mulai bekerja, denyut kepalanya berangsur mereda.
Napasnya kembali teratur.
Meski rasa sakit di hatinya tetap tidak berkurang sedikit pun.
Dalam kondisi setengah sadar, satu nama masih memenuhi pikirannya.
Shintia.
Wanita yang baru dikenalnya beberapa minggu lalu. Wanita yang tanpa sadar berhasil menempati tempat khusus di hatinya.
Dan wanita yang kini membencinya tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa pun.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raffa tertidur dengan air mata yang diam-diam mengalir di sudut matanya.
***
Keesokan paginya, di keluarga Shintia.
Gadis itu duduk termenung di atas ranjang, belum mau keluar bahkan ia malas untuk keluar. Ponsel di atas nakas ia ambil, hatinya sakit.
Mata yang seharusnya tak boleh menangis, pagi itu akhirnya pecah... Ia menatap foto laki-laki yang hanya dua hari berhasil membuatnya merasa di cintai, namun foto itu di dampingi seorang wanita yang ternyata kekasih kakaknya.
"Wanita ini! Dasar wanita murahan!"
Shintia menggenggam ponselnya erat-erat, ia teringat kakaknya Andreas, ia paham betul... Andreas pasti sakit hati bahkan trauma.
Dan di saat itu juga, Shintia baru sadar, meninggalkan kakaknya sendiri di rumahnya adalah hal salah... Ia paham, Andreas pasti akan mabuk dan berbuat yang tidak-tidak jika dirinya patah hati, terlebih ia pernah di tinggal oleh tunangannya pergi selamanya yang bahkan tak akan kembali akibat kecelakaan yang di alami kakaknya bersama tunangannya.
"kakak..."
Shintia segera menyeka air matanya, ia turun dari tempat tidurnya, dan segera keluar mencari sang mamah. Ia berniat pergi ke rumah kakaknya pagi itu juga...
"mah... Mamah!" serunya dari lantai atas, berlari turun hingga sang mamah yang tengah berada di ruang makan menoleh cepat.
"ada apa, Shintia?" tanya sang mamah, ketika Shintia sudah di lantai bawah.
"kamu itu kenapa Shintia, pagi-pagi teriak-teriak?" imbuh sang ayah bertanya.
Shintia mendekat, "mamah, Ayah... Kayaknya nanti jam delapan aku ke rumah kakak,"
"ngapain?" tanya sang mamah.
Shintia menggigit bibirnya, ia tidak mau membuat mamahnya khawatir. Bagaimanapun caranya ia harus beralasan...
"aku mau ambil barang yang ketinggalan, mah. Boleh kan?"
"iya boleh, cuma ayah kamu kan mau dinas pagi ini, ayah tidak bisa antar kamu."
"iya Shintia, ayah harus berangkat pagi ini."
Shintia duduk mengambil segelas susu yang di sajikan sang mamah, "iya gak apa-apa, mah... Nanti aku bisa bareng Tari, dia kan bisa nyetir santai aja mamah."
Sang mamah menghela nafas, "terserah kamu, asal hati-hati Shintia."
...
Waktu berlalu, Shintia siap untuk pergi ke rumah Andreas, Tari sahabatnya sudah menunggu di ruang tamu.
Dengan segera ia turun setelah siap semuanya.
"Ayok Tar, kita berangkat."
Shintia segera menghampiri mamahnya yang sedang merapikan beberapa piring di meja makan.
"Mah, aku berangkat dulu ya."
Sang mamah menoleh lalu mengangguk.
"Iya. Hati-hati di jalan."
Shintia memeluk mamahnya sebentar.
"Nanti kalau sudah sampai aku kabarin."
"Jangan lupa makan."
"Iya, Mah."
Ayahnya yang sudah mengenakan pakaian dinas hanya tersenyum dari ruang tamu.
"Hati-hati, Nak."
"Iya, Yah."
Tak lama kemudian Shintia berjalan keluar bersama Tari.
Mobil milik Tari segera meninggalkan halaman rumah.
Di perjalanan, Shintia sedikit terdiam... Tari meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada jalanan.
"tumben anteng?" tanyanya
Shintia menoleh, ia menghela nafas. "gak apa-apa Tar, cuma capek ajah kepikiran cowok itu."
"ya ampun, masih mikirin laki-laki yang omdo itu, ngapain sih... Udah deh, masih banyak laki-laki baik di luar sana, Shintia."
"iya, aku tau cerewet. Tapi ini tu beda Tar... Ck... Bingung juga aku jelasinnya ke kamu."
Tari menoleh seketika, lalu kembali fokus. "isz kamu ini, cerewet-cerewet gini yang paling setia ama kamu ye."
Shintia tertawa, "iya iya... Paham,"
"hmmm... Kamu itu."
Lama di perjalanan, akhirnya mobil Tari memasuki kawasan perumahan di mana Andreas tinggal, sampai di halaman rumah' Shintia segera turun bahkan belum sampai Tari mematikan mesin mobil.
Shintia segera berjalan, dan mengetuk pintu ketika sampai di depan pintu rumah Andreas.
Tari menyusulnya.
Tak lama Andreas membukakan pintu. Wajahnya segar tak ada pucat, tak ada bau alkohol, tak ada mata sembab... Bahkan Andreas nampak rapih memakai jas kantor,
"Shintia? Ngapain pagi-pagi datang?"
Shintia lega, tiba-tiba bingung mau bicara apa. "em... Aku cuma mau ketemu kakak, Alhamdulillah kakak keliatannya seger,"
Ungkapnya akhirnya.
"maksud kamu gimana? ini kakak mau ke kantor loh, kakak gak bisa temani kalian..."
"buru-buru ya kak?"
"ini udah siang, Shintia..."
Shintia tersenyum, "em ya udah deh, kalau gitu... Tadinya aku khawatir sama kakak, kakak paham kan maksudku..."
"oh, iya-iya kakak paham. Tenang kakak udah gak kaya dulu Shintia. Kakak udah rela kok kalau akhirnya ya... Mungkin gak sesuai keinginan kakak."
Shintia mengangguk.
Andreas melangkah keluar, "ini... Kalian mau di rumah kakak, atau mau gimana? Kakak soalnya gak bisa temani kalian... "
"em... Kita pergi aja kak, soalnya aku ada perlu sama Shintia," sahut Tari akhirnya.
"oh, ya udah... kalian hati-hati ya, maaf kakak harus berangkat."
"siap kak, " jawab Shintia.
Andreas mengunci pintu lantas ia melangkah menuju mobilnya.
Sementara... Shintia sedikit terdiam menatap punggung kakaknya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Tari mengejutkannya, dengan menepuk bahu, "Shin... Ayok."
"ah... Iya, ayok..."
"ini, kita jadinya kemana dong?" tanya Tari.
Shintia menggeleng, wajahnya kembali murung. "enggak tahu,"
"kamu kenapa si? Kakak kamu baik-baik aja noh. O iya, kayaknya aku perlu bawa kamu pergi nih, kita makan oke ...."
Shintia menoleh pada Tari, "kamu tiap aku gini, pasti ngajak aku makan... lama-lama aku gemuk kalau nurutin kamu,"
"dari pada aku lihat wajahmu kusut kayak koran gak kepake, mending aku lihat kamu gemuk, Shintia."
"i,ih apaan si, Tari... Mending kusut aku tu, dari pada gemuk."
Tari tak banyak bicara lalu menarik tangan Shintia, membukakan pintu mobil, " udah masuk, bawel kamu tu."
di dalam mobil Shintia mendengus kesal namun senang, memiliki sahabat seperti Tari yang selalu menjadi penghibur dimanapun dan saat kondisi apapun.
***
Sementara di hotel permata.
Raffa marah pada Aswin, juga pada tim nya yang tahu kabar berita itu namun tak segera memberi tahukan padanya.
Raffa tertabrak.? 🥲🥲
di tunggu updatenya ya author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuuu🥰🤗💪
tapi syg nya Shintia terlanjur marah 🥲🥲
kira² Andreas bakal cerita ke Raffa gk yaa??
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyyy quuu 🤗🥰💪
pasti Shintia salah paham🥲
duhhh kapan Raffa sadar akan berita itu yaaa
duhhh gmn nnt reaksi nya Raffa jika tahu yaaa
takutnya Shintia kecewa 🥲🥲
fuhhh Sella...
kasihan Andreas punya pacar kyak Sella
kira² Andreas bakal kasih tau Shintia gk yaaa??
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗