NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10- Cemburu yang tidak diakui

Cemburu yang Tidak Diakui

Mona masih berdiri kaku di samping Wira. Suara musik klasik di ballroom hotel terdengar samar di telinganya setelah kalimat itu.

Tunangan lama saya.

Entah kenapa dadanya terasa aneh mendengarnya.

“Oh.”

Hanya itu jawaban yang bisa keluar dari bibirnya. Wira melirik sekilas.

“Kenapa?” tanya Wira.

“Tidak apa-apa.”

Mona segera memalingkan wajah dan mencoba tersenyum tipis, namun pikirannya mulai kacau. Sandra sangat cantik, elegan, berkelas, wanita seperti itulah yang pantas berdiri di sisi Wira Aditama, bukan dirinya. Seorang perempuan biasa dari keluarga sederhana yang bahkan sempat panik melihat harga dress tadi.

“Fokus,” ucap Wira tiba-tiba.

“Hah?”

“Kamu melamun.”

Mona langsung tersadar.

“Maaf, Pak.”

Wira tidak menjawab lagi, namun pria itu diam-diam memperhatikan perubahan ekspresi Mona sejak bertemu Sandra dan anehnya… ia tidak menyukainya.

 

Acara makan malam bisnis berlangsung cukup lancar. Mona duduk di samping Wira sambil mencatat beberapa poin penting kerja sama perusahaan.

Awalnya ia gugup, namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa menghadapi para pengusaha besar yang berbicara cepat dan serius. Bahkan beberapa kali Wira terlihat puas saat Mona mampu menjawab pertanyaan klien dengan tepat.

“Kamu hebat juga.”

Mona menoleh pelan pada pria di sampingnya.

“Apa?”

“Bahasa Inggris kamu bagus.”

Mona tertawa kecil.

“Pak Wira baru sadar?”

“Biasanya kamu terlalu banyak bicara hal tidak penting.”

Mona langsung mendelik kesal.

“Itu pujian atau hinaan?”

“Ambil saja sisi positifnya.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Mona tersenyum tulus dan tanpa sadar… Wira ikut tersenyum tipis melihatnya. Sayangnya, momen itu tidak berlangsung lama. Karena Sandra kembali muncul, wanita itu datang membawa dua gelas wine sambil duduk begitu saja di kursi kosong dekat Wira.

“Kamu masih suka minuman yang sama?” tanyanya santai.

“Sudah tidak.”

Sandra tertawa kecil.

“Kamu berubah.”

“Semua orang berubah.”

Nada suara Wira terdengar datar, Mona bisa merasakan ada sejarah panjang di antara mereka Dan semakin lama duduk di sana, ia merasa semakin tidak nyaman.

“Permisi,” ucap Mona pelan sambil berdiri. “Saya ke toilet sebentar.”

Wira mengangguk singkat, namun saat Mona berjalan menjauh…

Sandra tiba-tiba berkata pelan, “Dia lucu.”

Wira menatap dingin.

“Jangan mulai.”

“Aku hanya penasaran.” Sandra menyandarkan tubuhnya santai. “Kamu tidak pernah membawa wanita ke acara seperti ini sebelumnya.”

“Dia sekretaris saya.”

Sandra tersenyum tipis.

“Kamu yakin cuma itu?”

Tatapan Wira langsung berubah tajam, namun sebelum ia sempat menjawab… Sandra sudah lebih dulu berdiri.

“Tenang saja. Aku tidak tertarik merebut mantan sekretaris orang.”

Lalu wanita itu pergi dengan senyum penuh arti, sementara Wira mengembuskan napas pelan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… Ia mulai mempertanyakan perasaannya sendiri.

 

Di sisi lain, Mona berdiri di depan wastafel toilet wanita sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tidak tahu kenapa suasana hatinya buruk, harusnya ia tidak peduli.

Sandra bukan urusannya, masa lalu Wira juga bukan urusannya. Tapi tetap saja, hatinya terasa sesak.

“Bodoh,” gumamnya pelan.

“Ngapain juga dipikirin.”

“Mikirin siapa?”

Mona terkejut dan langsung menoleh, ternyata Sandra berdiri di belakangnya. Wanita itu tersenyum tipis sambil berjalan mendekat.

“Maaf kalau tadi aku terlalu blak-blakan.”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu takut sama aku?” tanya Sandra.

Mona menggeleng cepat.

“Tidak.”

Sandra tertawa kecil.

“Kamu jujur sekali. Aku suka.”

Mona bingung harus menjawab apa, lalu Sandra berdiri di sampingnya sambil memperbaiki lipstick.

“Kamu tahu?” katanya pelan. “Wira dulu sangat berbeda.”

Mona diam mendengarkan.

“Dia pernah sangat mencintai seseorang.”

Entah kenapa dada Mona terasa makin tidak nyaman.

“Tapi setelah hubungan kami berakhir…” Sandra tersenyum pahit. “Dia berubah jadi dingin seperti sekarang.”

Mona menatap Sandra perlahan.

“Kenapa kalian putus?” tanya Mona penasaran.

Sandra terdiam sesaat.

“Aku memilih karier di luar negeri.” Ia tertawa kecil. “Dan Wira terlalu keras kepala untuk mempertahankan seseorang.”

Suasana mendadak hening, lalu Sandra menoleh menatap Mona tajam namun lembut.

“Hati-hati kalau mulai menyukai dia.”

Jantung Mona langsung berdegup keras.

“Saya tidak—”

“Percaya deh,” potong Sandra pelan. “Mencintai Wira itu melelahkan.”

Setelah mengatakan itu, Sandra pergi meninggalkan Mona sendirian dan untuk beberapa saat, Mona hanya bisa diam mematung.

 

Acara selesai hampir pukul sebelas malam. Dalam perjalanan pulang, suasana di mobil terasa sunyi. Mona sibuk menatap jalanan kota dari balik jendela. Sementara Wira sesekali melirik ke arahnya.

“Kamu diam dari tadi.”

“Capek.”

“Bohong.”

Mona langsung menoleh. Wira masih fokus menatap jalan di depan, namun pria itu kembali bicara.

“Kamu kepikiran Sandra?” tanya Wira.

Mona tercekat.

“Tidak juga.”

“Kamu tidak pandai berbohong.”

Mona menggigit bibir pelan, lalu tanpa sadar bertanya,

“Pak Wira masih mencintainya?” tanya Mona.

Mobil mendadak hening, beberapa detik terasa begitu panjang.

Sampai akhirnya Wira menjawab pelan, “Itu bukan urusan kamu.”

Jawaban itu seperti pisau kecil yang menusuk hati Mona, ia langsung tersenyum tipis menutupi rasa kecewanya.

“Iya. Maaf.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan dan anehnya… Wira justru merasa bersalah melihat Mona tiba-tiba menjaga jarak seperti itu.

 

Mobil berhenti di depan rumah Mona, namun sebelum Mona turun… Wira memanggilnya.

“Mona.”

“Ya, Pak?” Mona memalingkan wajahnya menatap Wira kembali.

Pria itu menatapnya beberapa detik, lama, sangat lama. Seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya hanya satu kalimat yang keluar.

“Kamu cantik malam ini.”

Deg

Jantung Mona langsung terasa berhenti sesaat, sementara Wira segera memalingkan wajahnya seolah menyesali ucapan barusan.

“Besok jangan terlambat kerja.”

Mona masih membeku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Baik, Pak.”

Ia turun dari mobil dengan jantung berdebar tidak karuan dan malam itu… Untuk pertama kalinya… Mona sadar satu hal. Ia mulai jatuh cinta pada pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!