NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Dika bangkit dari duduknya dengan sentakan kasar.

Kedua telapak tangannya bertumpu kuat di atas meja kerja, mencondongkan tubuhnya ke depan demi menantang dominasi pria paruh baya di hadapannya.

Rahangnya mengeras, tidak terima diintimidasi begitu saja di dalam ruang kekuasaannya sendiri.

"Kalau aku tidak mau dan meminta Luna tetap bekerja bagaimana? Dia sekretaris terbaikku, Mahendra. Kontrak kerjanya masih mengikat secara hukum di Pratama Group!" ucap Dika.

Mahendra tidak bergeming sedikit pun. Ia perlahan ikut berdiri, menegakkan tubuhnya yang tegap dan berwibawa.

Sorot matanya sedingin es, mengunci pandangan Dika tanpa secercah keraguan.

"Tapi dia istriku, Dika. Dan haknya sebagai istri berada penuh di bawah kendaliku," sahut Mahendra.

Kedua pasang mata pria berbeda generasi itu saling menatap tajam.

Ketegangan antara Mahendra dan Dika di ruang kerja mencapai puncaknya.

Atmosfer di sekitar mereka mendadak begitu pekat dan mencekam, membuat Luna yang berdiri di antara mereka hampir tidak berani untuk sekadar mengembuskan napas.

Namun, adu nyali itu tidak berlangsung lama. Mahendra yang kaya akan pengalaman langsung menggunakan kekuatan finansial dan hukumnya yang mutlak untuk mencetak kemenangan sepihak.

"Kamu ingin bicara soal kontrak hukum, Dika?" tanya Mahendra sambil menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan ancaman.

"Aku bisa membeli seluruh saham Pratama Group sore ini juga jika aku mau, atau menuntut perusahaanmu atas pasal eksploitasi jika kamu mempersulit istriku. Pilihannya ada di tanganmu. Menandatangani pengunduran dirinya secara terhormat, atau melihat bisnismu hancur perlahan."

Dika tertegun, urat di lehernya menegang. Ia tahu persis bahwa Mahendra Dirgantara tidak pernah menggertak sambal.

Kekuasaan sang titan bisnis itu terlalu gurita untuk dilawan oleh Pratama Group.

Melihat Dika yang mulai bungkam dan Mahendra yang siap mengeluarkan titah kasarnya lagi, Luna memberanikan diri melangkah maju.

Ia menyentuh lengan kekar Mahendra, menatap suaminya dengan pandangan memohon yang amat dalam.

"Mas, biarkan aku bekerja sampai dua bulan ini. Setelah itu, aku berjanji akan menjadi Nyonya Mahendra sepenuhnya," bujuk Luna.

"Biarkan aku menyelesaikan semua tanggung jawab dan proyek yang sudah terlanjur aku pegang di sini. Tolong, Mas..."

Mahendra menorehkan pandangannya ke bawah, menatap wajah cantik Luna yang tampak begitu tulus memohon. Keheningan merayap selama beberapa saat.

Mahendra menghela napas panjang, sebuah gestur langka yang menunjukkan bahwa benteng pertahanannya yang keras akhirnya bisa luruh hanya karena bujuk rayu istri kecilnya.

"Baiklah, Nyonya Mahendra," ucap Mahendra yang akhirnya luluh.

"Tapi hanya dua bulan. Dan mulai besok pagi, aku izinkan kamu tetap bekerja di sini. Tidak ada tawar-menawar lagi setelah itu."

Luna seketika mengembuskan napas lega dan menganggukkan kepalanya dengan binar mata penuh rasa terima kasih.

Mahendra kembali menggenggam erat jemari Luna, membalikkan badannya bersiap mengajak pulang istrinya. Namun, sebelum melangkah melewati ambang pintu, Mahendra menghentikan gerakannya sekilas.

Ia melirik tajam ke arah Dika yang masih menatap lekat ke arah Luna.

"Dan satu hal lagi, jangan menatap istriku seperti itu, Dika," tegur Mahendra dingin, penuh dengan nada posesif yang kentara.

Dika yang mendengar ancaman kekanak-kanakan itu mendadak tertawa kecil setelah pintu hampir tertutup.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa geli sekaligus takjub.

"Astaga.. Seorang Mahendra Dirgantara bisa cemburu buta seperti anak usia 25 tahun," gumam Dika sambil tersenyum tipis, menyadari bahwa sang Don Juan legendaris yang terkenal berhati batu itu kini telah benar-benar bertekuk lutut di bawah pesona sekretarisnya sendiri.

Sedan hitam mewah itu kembali membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan.

Di dalam mobil, keheningan sempat merayap selama beberapa saat, hanya ditemani oleh suara hembusan AC yang dingin.

Luna menyandarkan kepalanya ke kursi, menatap keluar jendela ke arah deretan gedung pencakar langit yang perlahan menjauh.

Pikirannya masih mencerna semua kejadian gila yang bertubi-tubi menimpanya sejak kemarin.

Mahendra fokus menyetir dengan satu tangan di atas kemudi, sementara tangan kirinya bergerak santai, meraih jemari Luna yang bertumpu di atas paha gadis itu.

Ia menggenggamnya erat, menyalurkan kehangatan yang seketika membuyarkan lamunan Luna.

Memasuki perjalanan pulang, atmosfer di dalam mobil perlahan berubah menjadi lebih serius.

Mahendra melirik sekilas ke arah istri kecilnya sebelum kembali menatap lurus ke jalanan depan.

Garis rahangnya yang tegas memancarkan kembali aura dominan seorang suami yang protektif.

Di dalam mobil, Mahendra menegaskan kembali aturan selama Luna bekerja dua bulan ke depan.

Pria paruh baya itu tidak ingin ada ruang sedikit pun bagi pria lain—termasuk Dika—untuk mengusik ketenangannya sebagai seorang suami.

"Dua bulan, Luna. Tidak lebih dari itu," ucap Mahendra memecah kesunyian, suaranya berat dan terdengar mutlak di dalam ruang mobil yang sempit. "Dan selama dua bulan ini, ada beberapa aturan yang harus kamu patuhi."

Luna menorehkan kepalanya cepat ke arah samping, menatap profil wajah matang suaminya dengan kening berkerut.

"Aturan apa, Mas?"

Mahendra mempererat genggaman tangannya pada jemari Luna.

"Pertama, aku tidak ingin kamu pulang larut malam. Jam lima sore kamu harus sudah selesai dengan semua urusan kantormu. Aku sendiri yang akan menjemputmu setiap hari."

"Tapi Mas, terkadang kalau ada deadline proyek, aku harus lembur—"

"Tidak ada lembur untuk Nyonya Mahendra Dirgantara," potong Mahendra cepat, tanpa menerima bantahan sedikit pun.

"Biarkan karyawan lain yang menyelesaikannya. Tugasmu hanya mengawasi di jam kerja resmi."

Luna menghela napas pendek, namun ia memilih untuk tidak mendebat pria berusia setengah abad di sampingnya ini.

Ia tahu betul, di balik sikap tenangnya, Mahendra menyimpan ketegasan yang tidak bisa diganggu gugat.

"Lalu, apa lagi Mas?" tanya Luna lirih.

Mahendra memutar setir dengan lihai, membawa mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perumahan elit.

Sorot matanya menajam saat melanjutkan kalimatnya.

"Kedua, aku melarang keras kamu pergi berdua saja dengan Dika untuk urusan dinas. Mau itu makan siang dengan klien, meninjau lokasi proyek, atau apa pun alasannya. Jika Dika harus pergi, dia harus membawa staf lain, atau aku yang akan mengirimkan pengawal untuk mendampingimu," tegas Mahendra.

Ia tidak ingin Luna berada di situasi yang memungkinkannya berdekatan dengan pria muda itu, terlebih setelah melihat bagaimana Dika menatap istrinya tadi di kantor.

Luna menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar untaian kata yang keluar dari mulut suaminya. Posesif. Kata itu mendadak terlintas di kepala Luna. Namun anehnya, alih-alih merasa terkekang, ada letupan hangat yang asing yang perlahan merayap di dalam dadanya.

Dilindungi secara mutlak oleh pria sekelas Mahendra Dirgantara memberikan rasa aman yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.

"Iya, Mas. Aku mengerti," jawab Luna sambil menganggukkan kepalanya pasrah.

Mahendra melirik Luna, dan seulas senyum kepuasan yang nyaris tak terlihat terukir di sudut bibirnya.

Ia mengangkat tangan Luna yang berada di genggamannya, lalu mengecup punggung tangan istrinya itu dengan lembut.

"Anak pintar," bisik Mahendra rendah, mempercepat laju mobilnya menuju rumah, siap membawa sang istri kembali ke dalam istananya di mana tidak akan ada satu pun badai luar yang bisa menyentuhnya lagi.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!